The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~75



Pagi itu Sofia nampak menatap gedung pencakar langit di hadapannya itu, dahulu ia pernah masuk ke sana dan semenjak itu kesulitan hidup mulai ia alami dan semoga saja kedatangannya untuk kedua kalinya kesini bisa merubah semua yang tidak baik menjadi baik.


"Ayo sayang." ajak James saat putrinya itu nampak enggan melangkah.


"Semua akan baik-baik saja, percaya pada Daddy." imbuhnya lagi seraya menggenggam tangan gadis itu lantas membawanya masuk ke dalam universitas tersebut.


Sepanjang Sofia melangkah nampak menjadi perhatian para mahasiswa di sana terutama mahasiswa seangkatannya atau para senior yang mengenalnya dulu.


"Bukankah itu gadis lumpur yang pernah di usir dari kampus ini ?" bisik salah satu mahasiswa di sana.


"Benar, tapi kenapa dia di gandeng begitu mesra oleh pimpinan ?" timpal yang lainnya.


"Jangan bilang mereka memiliki hubungan spesial ?"


"Semacam sugar baby ?"


"Bisa jadi atau lebih tepatnya wanita simpanan."


"Ehm, siapa wanita simpanan yang kalian maksud ?" tiba-tiba seorang gadis cantik yang sepertinya baru datang ikut bergabung dengan mereka.


"Rebeca, dari mana saja kamu? lihatlah Pimpinan kedua menggandeng gadis lumpur waktu itu dan sepertinya dia akan kembali kuliah di sini." terang salah satu temannya yang sontak membuat gadis itu melotot tak percaya.


"Kau serius ?" timpalnya.


"Sepertinya kita akan di kumpulkan di aula, ayo cepatlah !!" mereka segera berlalu pergi menuju aula kampusnya saat mendengar informasi di mikrofon.


Sesampainya di aula sudah banyak mahasiswa yang berkumpul di sana dan Rebeca beserta teman-temannya langsung mencari tempat duduk. "Ayo coba kita dengarkan apa yang bisa di lakukan oleh gadis lumpur itu? jika dia terbukti simpanan pimpinan maka kita harus membongkar kedoknya dan melemparnya kembali keluar dari sini." ucap Rebeca.


"Dia bukan simpanan Daddy." celetuk Jessica tiba-tiba yang tanpa mereka sadari gadis itu rupanya duduk tak jauh dari sana.


"Jessica, kau di sini juga ?" Rebeca langsung bersikap akrab dengan gadis itu, karena sebelumnya mereka memang berteman meski Jessica masih duduk di bangku Junior.


"Jadi siapa sebenarnya gadis lumpur itu Jessy? bukankah dahulu ayahmu pernah mengusirnya dari sini ?" Rebeca terlihat sangat penasaran.


"Lebih baik dengarkan saja apa yang di katakan oleh ayahku dan ku harap kalian tidak akan terkejut setelah ini." timpal Jessica lantas kembali membenarkan posisinya menghadap ke arah depan.


Rebeca yang penasaran nampak kesal, selama ini ia telah menjadi primadona di kampus ini. Namun saat melihat perubahan diri Sofia, gadis itu mendadak tak percaya diri karena di matanya Sofia lebih cantik dengan wajah campuran Amerika dan Asia.


"Baiklah terima kasih banyak kalian sudah berkumpul di sini, saya harap kalian mempunyai liburan musim panas yang menyenangkan hingga bisa kembali belajar dengan semangat." ucap James memberikan sambutannya hingga membuat para mahasiswanya bertepuk tangan dengan meriah.


"Di semester ini saya juga ingin memperkenalkan seseorang yang mungkin sebagian dari kalian sudah mengenalnya dan dia adalah Jeslin Sofia Collins putri pertama saya." terang James seraya memanggil putrinya itu naik ke podium dan itu membuat Rebeca maupun teman-temannya nampak melotot tak percaya.


"Pu-putrinya ?" ucapnya kemudian.


"Dan ku harap kalian berhati-hatilah dia memiliki sikap yang kejam seperti Daddy." timpal Jessica seraya menoleh ke belakang di mana Rebeca dan teman-temannya duduk di sana.


"Apa Daddy pernah berbohong ?" tanya balik Jessica.


"Ten-tentu saja tidak, Jessy." sahut gadis itu lantas terdiam di tempatnya.


Rebeca yang belum menerima kenyataan itu nampak mengepalkan tangannya, selama ini ia yang berkuasa di kampus tersebut setelah angkatan tuan muda SG lulus dan kini ia tak rela jika posisinya akan di geser oleh gadis itu.


"Ayo sayang, perkenalkan dirimu." ucap James pada Sofia.


Sofia nampak menghela napasnya sejenak kemudian melangkah mendekati sang ayah, mendekatkan bibirnya pada mikrofon lantas mulai membuka suaranya.


"Selamat pagi semua, perkenalkan saya Jeslin Sofia Collins dan saya lebih suka jika kalian memanggilku Sofia. Sebelumnya saya pernah belajar di sini sebagai mahasiswa penerima beasiswa namun karena suatu hal saya di keluarkan dari sini." ucap Sofia dengan jujur dan itu membuat James nampak melebarkan matanya, ia tak menyangka putrinya itu akan berterus terang seperti itu.


Apa itu sebuah bentuk balas dendam yang di tujukan padanya? tapi itu tak masalah bagi James dan ia mengapresiasi keberanian gadis itu.


"Saya bersyukur dahulu pernah masuk ke sini hingga mengetahui bagaimana keadaan di kampus ini yang sebenarnya tak pernah di ketahui oleh para pimpinan, maupun dewan pembina dan juga para pengajar." ucap Sofia dan sontak menjadi perbincangan para petinggi kampus tersebut serta para mahasiswa.


Saat salah satu dewan pembina hendak beranjak dari duduknya untuk menginterupsinya, namun James langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan.


"Tapi tuan, sepertinya putri anda akan membuat citra buruk pada kampus ini." ucap dewan pembina tersebut.


"Lebih baik kita dengarkan saja putriku bicara, aku percaya padanya." tegas James.


"Aku pernah mendapatkan bullyan di kampus ini hanya karena waktu itu aku adalah mahasiswa penerima beasiswa, apa kalian pernah menyadari bagaimana perasaanku waktu itu? aku marah dan juga sedih tapi tak satupun dari kalian memiliki belas kasih." ucap Sofia seraya menatap satu persatu mahasiswa yang dulu pernah ikut membulinya tersebut.


"Oleh karena itu, mulai hari ini aku mengecam pembullian dalam bentuk apapun itu dan jika sampai di temukan kalian melakukan itu maka aku tak segan menyuarakan suaraku untuk mengeluarkan kalian dari kampus ini tak peduli seberapa kaya keluarga kalian semua." imbuh Sofia lagi dan langsung mendapatkan tepuk tangan meriah dari para mahasiswa yang hadir.


"Dan untuk para petinggi kampus ini saya mohon buka mata kalian, jangan karena ingin melindungi citra kampus ini maka kalian membiarkan perbuatan sewenang-wenang terjadi dan mulai hari ini aku takkan membiarkan itu terjadi." imbuh Sofia dengan menatap berani para petinggi kampus tersebut dan ia kembali mendapatkan tepuk tangan dari para mahasiswa.


James yang menatap keberanian sang putri nampak sangat bangga, putrinya itu benar-benar mirip seperti dirinya.


"Dan mulai hari ini pun aku ingin kampus ini juga menggratiskan semua peralatan sekolah kepada para mahasiswa penerima beasiswa, karena mereka semua belum tentu bisa menjangkau harga seragam yang lumayan mahal bagi kantong mereka." ucap Sofia lagi yang langsung di sela oleh salah satu dewan pembina.


"Kami menggratiskan semuanya." ucapnya dengan tegas.


"Tapi dua tahun lalu aku harus membelinya bahkan aku harus kerja siang dan malam untuk mendapatkannya." terang Sofia dan itu membuat James sontak menatap geram para bawahannya tersebut.


"Setelah ini berkumpul di tempat meeting semua !!" perintah James lantas segera berlalu meninggalkan aula tersebut hingga membuat para petinggi kampus itu nampak menelan ludahnya.


"Benar-benar seperti Daddy." gumam Jessica dari tempat duduknya, gadis itu nampak enggan beranjak meski aula mulai kosong.


"Ayo, bukankah kamu ada kelas pagi ?" ucap Sofia seraya mengulurkan tangannya pada adiknya itu, namun saat gadis itu masih bergeming di tempat duduknya Sofia langsung menarik tangannya lalu menggenggamnya kemudian segera mengajaknya pergi dari sana.


"Rajinlah belajar Jessy, agar Daddy bangga padamu." ucap Sofia sepanjang mereka melangkah dan Jessica nampak menarik sudut bibirnya saat melihat tangannya yang berada dalam genggaman kakaknya itu.