
"Tuan, maafkan saya karena belum dapat menemukan keberadaan nona Jeslin." ucap Mike pagi itu, sudah beberapa hari ini pria itu mencari keberadaan nona mudanya itu namun tak kunjung ketemu.
"Aku tidak peduli Mike, bagaimana pun caranya kamu harus segera menemukan putriku. Kerahkan semua orang-orangmu untuk mencarinya di setiap sudut kota ini. Aku yakin putriku belum pergi jauh karena dia tak memilki uang." tegas James.
"Baik, tuan." Mike mengangguk kecil lantas segera berlalu untuk memulai lagi pencariannya.
"Tak bisa di andalkan." gerutu James setelah kepergian asistennya itu, pria itu nampak berjalan mondar mandir di ruangannya lantas tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
"Aril? ya dia pasti tahu di mana putriku berada." gumamnya lantas segera pergi meninggalkan ruangannya tersebut.
Mengemudikan mobilnya seorang diri kemudian menghentikannya tepat di depan kantor milik William.
"Selamat pagi, tuan James." sapa beberapa karyawan menyambut kedatangannya.
"Apa tuan muda ada ?" ucapnya kemudian.
"Ada tuan, kebetulan tuan besar dan nyonya juga berada di sini." sahut sang resepsionis dengan sangat ramah.
"Benarkah? baiklah, terima kasih." timpal James lantas segera berlalu ke arah lift, kebetulan sekali mereka sedang berkumpul dan ia akan menyampaikan kabar gembira ini dan mereka pasti akan sangat senang saat mendengarnya. Mengingat ia dan William selama ini telah berusaha bersama-sama mencari keberadaan putrinya itu.
Hampir lima tahun mereka mencari keberadaan Jeslin sejak di nyatakan menghilang, tak hanya tenaga tapi juga materi yang terkuras. Namun karena tak kunjung menemukannya akhirnya mereka memutuskan untuk menghentikan pencarian.
"James, kau di sini ?" ucap William saat melihat James baru masuk ke dalam ruangannya.
"Selamat pagi, paman." sapa Aril yang juga nampak berada di sana dan James hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.
"Selamat pagi kakak ipar." ucap James menyapa Merry yang sedang duduk di samping sang suami.
"Pagi, James. Apa yang terjadi, tak biasanya kamu datang sepagi ini ?" timpal wanita itu.
"Aku membawa kabar baik untuk kalian." terang James seraya melangkah mendekat.
"Duduklah dahulu, ngomong-ngomong kabar baik apa yang kamu bawa? apa ada proyek besar yang sedang kamu incar, James ?" timpal William seraya memerintahkan pria itu untuk duduk di sofa seberangnya.
James nampak menghempaskan bobot tubuhnya di sana, lantas pria itu mulai membuka suaranya. "Aku sudah menemukan putriku yang selama ini hilang, Jeslin ternyata masih hidup." ucapnya yang sontak membuat William dan sang istri nampak terkejut namun binar bahagia langsung terpancar dari wajah mereka.
Begitu juga dengan Aril, pria itu juga ikut senang. Ia penasaran seperti apa wajah bocah kecil yang dahulu begitu ia sayangi itu. Tiba-tiba detak jantungnya berdenyut lebih cepat, ada apa ini? apa ini sebuah tanda kerinduannya yang selama ini ia nantikan?
"Kamu serius, James? katakan di mana dia sekarang? di mana putri kita ?" William nampak tak sabar, namun raut wajah James seketika di penuhi kesedihan.
"Apa Jeslin baik-baik saja ?" Merry ikut menimpali saat menangkap sesuatu yang tak beres di wajah pria itu.
Kemudian James langsung menceritakan semuanya pada mereka dan sontak membuat Aril terkejut di buatnya. "Ja-jadi Sofia adalah Jeslin ?" ucapnya tak percaya.
William dan Merry terlihat begitu syok di tempat duduknya, terutama William bagaimana pun juga pria itu ikut andil menyakiti gadis itu.
"Harusnya aku menyadarinya dari awal, jika Sofia adalah Jeslin kecilku. Mereka memiliki ciri-ciri yang sama warna rambutnya, matanya bahkan tanda lahir di tubuhnya." timpal Aril yang langsung membuat James menatapnya.
"Tanda lahir? bagaimana kamu bisa tahu tanda lahir di tubuh putriku ?" ucapnya dengan nada yang sepertinya tak terima saat mendapati pria lain telah mengetahui hal tersembunyi di tubuh putrinya itu.
Aril yang tak sengaja mengatakan apa yang dia ketahui nampak mengumpat dalam hati, apalagi ketika melihat ketiga orang dewasa di hadapannya itu sedang menuntut penjelasan darinya.
"Waktu itu Sofia sedang mabuk dan dia mengotori pakaiannya, karena aku tidak ingin ranjangku kotor jadi terpaksa aku menggantikannya pakaian dan saat itu aku melihat tanda lahir di tubuhnya." terangnya dengan jujur.
"Jadi kalian telah tidur bersama ?" kali ini giliran William yang menimpali dengan tatapan tajam ke arah putranya itu.
"Ka-kami hanya tidur bersama tapi tidak melakukan apapun Pa, lagipula aku tidak mungkin sekurang ajar itu." Aril langsung membela diri.
Merry nampak tersenyum. "Harusnya kalian tidur bersama dan segera berikan kami cucu." celetuknya kemudian.
"Sayang, mereka belum menikah." timpal William mengingatkan.
"Baiklah, jika Jeslin sudah di temukan kalian harus segera menikah. Kamu setujukan sayang? aku tahu kamu juga menyukainya. Takdir benar-benar telah membuat skenarionya sendiri dan lihatlah, jika jodoh sejauh apapun mereka terpisah pada akhirnya akan bertemu juga." ucap Merry yang membuat James maupun William mengangguk setuju.
Sementara Aril nampak tenggelam dalam lamunannya mengingat gadis itu telah memilih pria lain sebagai kekasihnya, harusnya waktu itu ia benar-benar menidurinya saja dan menjadikan gadis itu miliknya seutuhnya hingga takkan ada pria lain yang berani mendekatinya.
"Jadi apa kamu tahu di mana keberadaan Sofia saat ini, Ar ?" ucap James yang langsung membuyarkan lamunan pemuda itu.
Aril menggelengkan kepalanya. "Sepertinya Adams yang mengetahui keberadaannya saat ini." ucapnya kemudian.
"Adams? kau yakin ?" timpal William memastikan, kemudian pria itu segera menghubungi sang sekretaris.
"Hannah, panggil Adams ke ruanganku ku sekarang juga !!" perintahnya.
Sementara itu di tempat lain, Sofia yang akan bersiap-siap bekerja di kebunnya nampak terkejut saat melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahnya.
Tak ingin keberadaannya di ketahui oleh orang lain, Sofia segera berlalu pergi namun tiba-tiba bibi memanggilnya. "Mau kemana Sofia? sambutlah tamuku dan buatkan minuman untuk mereka." ucap Bibi hingga mengurungkan langkah Sofia yang hendak pergi dan mau tak mau kini gadis itu menemani wanita tua itu menyambut tamunya.
Entah kenapa ia merasa tak asing dengan mobil mewah di hadapannya itu dan saat sang pemilik mobil keluar dari kendaraannya Sofia langsung melebarkan matanya.
"Nyonya Margaret." gumamnya, kenapa dunia ini sempit sekali? apa yang wanita kaya itu lakukan di sini dan apa hubungan wanita itu dengan Bibi tua yang menampungnya?
"Kau !!" nyonya Margaret langsung melepaskan kacamata riben yang bertengger di hidung mancungnya tersebut saat melihat keberadaan Sofia, kemudian wanita itu segera melangkah mendekat untuk memastikan penglihatannya.
"Bukankah kau gadis miskin tak tahu diri itu? apa yang kau lakukan di rumah kakakku ?" imbuhnya lagi dengan wajah siap menerkamnya.