
"Kenapa kakak diam? apa kakak menyukainya ?" desak Jessica dengan wajah penasarannya.
"Pulanglah Jes, aku ada pertemuan bisnis siang ini !!" Aril langsung mengalihkan pembicaraan lalu pria itu segera bangkit dari duduknya.
"Tapi kakak belum menjawab pertanyaanku ?" Jessica langsung mengejar langkah pria itu.
"Apa yang harus ku jawab Jessy? aku menyukainya karena kinerjanya yang bagus dan cekatan maka dari itu aku menjadikannya sebagai asisten pribadiku." Aril nampak berbalik badan menatap gadis di hadapannya itu.
"Hanya itukan? Ku harap kamu hanya menyukainya karena kinerjanya bukan karena yang lain, jujur aku lebih setuju jika kamu kembali pada cinta pertamamu daripada mengenalkan wanita baru lagi padaku. Paling tidak aku sudah mengenal Helena sejak kecil." timpal Jessica kemudian.
"Itu omong kosong Jessy, baiklah sekarang pergilah !!" Aril nampak berlalu menuju pintu apartemennya lantas segera membuka pintunya dengan lebar berharap gadis itu bergegas pergi dari sana.
"Aku akan menghubungi Helena agar segera pulang karena ku rasa dia juga masih sendiri saat ini." tegas Jessica lantas berlalu pergi meninggalkan Apartemen tersebut.
Melihat kepergian gadis itu Aril nampak menghela napasnya dengan kasar, kemudian segera menutup pintu apartemennya.
Di tempat lain, nyonya Margaret terlihat datang ke kediaman Anne.
"Sayang, bersiaplah bukankah kita akan pergi makan siang !!" perintah James pada sang istri.
"Sayang, Margaret ingin datang ke sini. Bisakah kita makan siang di rumah saja ?" timpal Anne sembari menatap suaminya itu.
"Kenapa wanita itu ingin datang ke sini? apa belum cukup hari-hari kalian bertemu ?" James terlihat kesal, hari libur seperti ini harusnya ia gunakan untuk berkumpul bersama keluarganya terutama sang istri wanita yang paling ia cintai itu.
"Katanya ada hal penting, sayang. Kenapa kamu tiba-tiba ngambek seperti itu hm ?" Anne langsung mendekati pria itu lantas mengulurkan tangannya untuk mengusap rahangnya yang di penuhi oleh bulu-bulu tipis itu.
"Baiklah, sepertinya seharian ini kau lebih suka menghabiskan waktumu di kamar bersamaku." timpal James menggoda istrinya itu dan bersamaan itu seorang pelayan nampak datang.
"Nyonya besar, Nyonya Margaret sudah menunggu anda di ruang tamu." ucap pelayan tersebut.
"Baiklah, Margaret sudah datang aku harus menemuinya." Anne segera menjauh dari suaminya itu lalu bergegas pergi.
"Tunggu sayang, aku juga ingin menemuinya. Aku ingin tahu apa yang sedang wanita itu inginkan, bisa-bisanya di saat libur seperti ini masih saja mengganggu kita." timpal James sembari mengikuti langkah sang istri.
"Pantas saja tuan Jenner lebih banyak bermain wanita di luar sana karena istrinya lebih sibuk dengan urusan temannya daripada suaminya sendiri." gerutu James mengutarakan kekesalannya.
"Astaga sayang diamlah, bagaimana jika Margaret mendengar ucapanmu ?" tegur Anne seraya menghentikan langkahnya lantas menatap sang suami dengan sedikit kesal.
Setelah memastikan suaminya tak lagi menggerutu, Anne kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. "Hai Margaret, apa yang membuatmu datang di hari libur seperti ini ?" sapanya seraya mencium pipi kanan dan kiri wanita itu.
"Ada hal penting yang ingin ku katakan padamu, An." timpal wanita itu dan bersamaan itu James nampak datang dengan berdehem kecil.
"Selamat siang, nyonya Margaret." sapa pria itu.
"Selamat siang tuan James, sebelumnya saya minta maaf karena anda harus menyaksikan kejadian waktu itu. Tapi saya melakukannya sebagai seorang ibu yang ingin melindungi masa depan putranya." terang wanita itu.
"Jadi ada hal penting apa yang membuat anda datang kemari, nyonya Margaret. Ku rasa hari libur waktunya kita berkumpul bersama keluarga bukan ?" ucap James yang sontak mendapatkan selaan dari sang istri.
"Sayang, Margaret pasti memiliki alasan penting untuk di bicarakan." ucapnya membela sahabatnya itu, suaminya memang benar-benar tak bisa berbasa-basi sedikitpun atau hanya sekedar menjaga perasaan orang lain.
"Itu benar tuan James, anda pasti akan terkejut saat mendengarnya." tukas nyonya Margaret menimpali.
"Jadi hal penting apa itu, Margaret ?" Sepertinya Anne mulai tak sabar mendengarkan informasi yang wanita itu bawa.
"Baiklah, apa kamu tahu siapa yang menemuiku di hotel pagi ini ?" ucap Margaret memulai pembicaraannya dan itu membuat Anne nampak mengedikkan bahunya, karena sebenarnya ia malas ikut campur urusan orang lain.
"Aril, calon menantu kesayanganmu itu." imbuh wanita itu dan tentu saja membuat James yang sedang membaca koran seketika mengangkat wajahnya untuk menatap wanita yang sedang duduk di hadapannya tersebut.
"Aril? untuk apa dia menemui anda? apa ada masalah dengan kerja sama kita ?" timpal pria itu ingin tahu, mengingat mereka telah menjalin hubungan kerja sama selama bertahun-tahun.
"Bukan masalah itu tuan James, dia datang menemuiku karena ingin membela gadis murahan itu." terang nyonya Margaret menjelaskan.
"Maksudmu apa Margaret, aku tidak mengerti." Anne yang sedari tadi mendengarkan kini ikut menimpali.
"Rupanya gadis yang bernama Sofia itu sekarang menjadi asisten pribadi Aril dan Aril mengancamku jika sampai mengganggu gadis itu lagi maka dia siap pasang badan untuknya, aku jadi curiga kenapa Aril begitu membelanya jangan-jangan mereka telah menjalin hubungan diam-diam di belakang kalian." ucap nyonya Margaret hingga membuat Anne langsung terkejut, apalagi James yang kini terlihat penuh amarah di wajahnya.
"Itu tidak mungkin, Margaret." Anne masih belum percaya, ia masih yakin gadis yang bernama Sofia itu sangat polos dan tidak mungkin melakukan hal seperti yang wanita itu tuduhkan.
"Kau harus berhati-hati An, jangan sampai gadis murahan itu merebut Aril dari Jessica." ucap Margaret lagi.
"Baiklah, aku hanya ingin memperingatkan hal itu dan sekarang aku harus pergi karena sopirku masih menungguku di luar." imbuhnya seraya beranjak dari duduknya.
Bersamaan itu nampak Jessica yang baru datang langsung bergabung dengan mereka. "Hai tante Margaret." sapanya pada sahabat ibunya itu.
"Hai sayang." Margaret langsung mencium pipi kiri dan kanan gadis itu.
"Baiklah, tante harus pergi." ucapnya kemudian.
Setelah Margaret pulang, James nampak menatap ke arah putrinya tersebut. "Dari mana kamu, Jessy ?" tanyanya kemudian.
"Dari Apartemen kak Aril." sahut Jessica jujur.
"Nak, Mommy ingin tahu apa benar gadis yang bernama Sofia itu telah menjadi asisten pribadi Aril ?" timpal Anne kemudian.
"Hm, jadi kalian sudah tahu ?" Jessica nampak menatap kedua orang tuanya itu bergantian.
"Dan kau membiarkannya ?" tuding James mulai emosi.
"Sayang, tenangkan dirimu." Anne yang sebelumnya duduk berseberangan dengan pria itu kini langsung mendekatinya lalu duduk di sisinya.
"Dia hanya asistennya dan tidak lebih, Dad." timpal Jessica dan itu membuat sang ayah semakin murka karena putrinya itu menanggapinya dengan cuek.
"Bagaimana jika mereka benar-benar dekat ?" ucap pria itu.
"Aku tidak tahu Dad, jika itu terjadi mungkin itu sudah takdir mereka." sahut Jessica dengan entengnya dan tentu saja itu membuat sang ayah langsung menatapnya tajam.
"Jessica !!" hardiknya dengan meninggikan suaranya hingga membuat sang putri maupun istrinya berjingkat kaget, karena baru kali ini pria itu mengeluarkan kemarahannya.
"Kenapa Dad? kenapa Daddy selalu memaksakan kehendak padaku? lagipula memang kenapa jika aku dan kak Aril tidak menikah, apa itu masalah buat Daddy? apa pria kaya hanya kak Aril seorang? Daddy jangan khawatir aku akan mencarikanmu pria yang lebih kaya di luar sana." sahut Jessica mengeluarkan isi hatinya dengan berapi-api yang langsung membuat sang ayah nampak mengangkat tangannya untuk menampar gadis itu namun sang istri segera menahannya.