The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Part~40



Pagi itu Sofia nampak mematut penampilannya di depan cermin, uang memang bisa membuat penampilan seseorang berubah. Ia yang sebelumnya memilki wajah tak pernah di rawat kini terlihat lebih segar dan cantik.


Sepertinya ia harus banyak-banyak berterima pada Daniel yang telah membantunya merubah penampilannya dan tentu saja ia akan mentraktir pria itu ketika mendapatkan gaji pertamanya nanti.


Setelah memastikan dirinya telah siap, Sofia segera berangkat menuju Apartemen CEOnya itu karena harus membangunkan pria manja tersebut.


"Ka-kamu? apa yang kau lakukan di sini ?" Sofia langsung berjingkat kaget saat melihat Mike sudah menunggunya di depan rumah.


Mike yang melihat perubahan pada penampilan gadis itu nampak sedikit terpaku.


"Nona Sofia, tuan muda Aril memerintahkan saya untuk menjemput anda. Karena anda pasti belum mengetahui unit apartemen beliau." terangnya kemudian.


"Oh baiklah, aku memang belum tahu." timpal Sofia sembari berjalan mendekat.


Setelah gadis itu masuk ke dalam mobilnya, pria itu segera melajukan kendaraannya meninggalkan tempat tersebut.


"Apa pria itu maksudku tuan Aril sudah bangun, tuan Mike ?" tanya Sofia kemudian.


Mike yang sedang fokus mengemudi nampak melirik gadis itu dari kaca spion depannya. "Belum nona, karena mulai hari ini itu menjadi tugas anda." sahutnya kemudian.


"Kenapa harus orang lain yang membangunkannya, apa dia tidak bisa bangun sendiri? dasar manja." gerutu Sofia dengan pelan namun masih terdengar di telinga Mike, lantas pria itu nampak menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, Sofia telah sampai di sebuah tower mewah di tengah kota yang nampak menjulang tinggi tersebut.


"Silakan, nona. Unit tuan muda ada di lantai paling atas. Saya rasa anda sudah memiliki paswordnya, bukan ?" ucap Mike setelah membuka pintu mobil untuk gadis itu.


"Ka-kamu tidak ikut masuk ?" tanya Sofia kemudian.


"Saya tidak pernah masuk ke dalam, nona." sahut Mike dan sontak membuat Sofia melebarkan matanya.


"Bukankah kamu yang sebelumnya membangunkannya ?" tanyanya penasaran.


"Memang benar nona, tapi saya membangunkannya melalalui sambungan telepon." sahut pria itu yang langsung membuat Sofia menghela napasnya kesal.


"Baiklah." ucapnya lantas segera berlalu menuju lift.


Setelah pintu lift terbuka, Sofia segera melangkahkan kakinya keluar lantas mencari unit milik CEOnya tersebut. Tak banyak unit di sana jadi membuatnya mudah untuk menemukan unit milik pria itu.


Setelah menekan beberapa angka, pintu langsung terbuka dan gadis itu segera masuk. Saat pertama kali melihat pemandangan di dalam Apartemen itu, Sofia begitu takjub. Selain sangat bersih dan rapi, barang-barang di sana juga kelihatan mahal semua.


"Fokus Sofia, segera bangunkan pria manja itu dan buatkan sarapan paginya." gumamnya mengingatkan dirinya sendiri.


Kemudian gadis itu nampak menatap dua pintu kamar yang entah berada di kamar mana pria itu saat ini, lantas ia segera mengetuk salah satunya lalu membukanya.


Hanya terlihat sebuah ranjang kosong yang masih sangat rapi, sepertinya kamar tamu. Kemudian Sofia segera beralih ke pintu satunya lagi.


Mengetuknya beberapa kali lalu memberanikan diri untuk membukanya, semoga saja pria itu masih tidur dan bukan sedang berganti pakaian dengan bertelanjang dada seperti di film-film yang biasa ia tonton.


"Astaga Sofia, kamu sedang mikir apa sih." Sofia langsung menggetok kepalanya sendiri karena telah memikirkan hal yang tidak-tidak.


Setelah pintu terbuka, Sofia nampak melihat sebuah kamar yang sangat luas bahkan dua kali lebih luas dari kamar sebelumnya dan masih terlihat remang-remang.


Kemudian gadis itu memberanikan diri untuk melangkah mendekati ranjang yang ada di sana dan benar saja CEOnya itu masih tertidur pulas.


"Percuma juga tampan jika kelakuannya minus." gerutunya, entahlah hingga saat ini ia masih sangat kesal dengan pria itu. Namun ia juga sedang membutuhkan pekerjaan saat ini.


Tak ingin membuang waktu Sofia segera membuka tirai dinding kaca kamar tersebut hingga kini nampak lebih terang.


Kemudian gadis itu segera berlalu menuju lemari yang berada tak jauh dari sana untuk menyiapkan pakaian kerja pria itu sesuai yang tertera dalam job desk pekerjaannya.


Setelah pakaian kerjanya telah siap, kini Sofia nampak menuju sebuah laci di mana pria itu menyimpan pakaian dalamnya.


"Astaga, haruskah aku menyiapkan ini juga." gerutunya seraya mengambil ****** ***** milik pria itu, menatapnya sejenak lantas melemparnya ke atas meja.


Setelahnya Sofia segera membangunkan CEOnya tersebut yang nampak masih tertidur pulas tak peduli ia sedari tadi membuat kegaduhan di dalam kamarnya.


Sofia nampak mengulurkan tangannya untuk menggoyang lengan pria itu. "Hei, bangunlah !!" teriaknya sedikit nyaring.


Karena tak kunjung bangun setelah beberapa kali menggoyang lengan pria itu, Sofia mencoba untuk menarik selimutnya siapa tahu bisa langsung bangun.


"Astaga, kenapa kamu mesum sekali !!" teriaknya saat melihat pria itu sedang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer yang sangat pendek.


Mendengar teriakan seseorang, Aril segera mengerjapkan matanya dan pria itu pun juga nampak sama terkejutnya saat melihat keberadaan Sofia di dalam kamarnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku ?" ucapnya seraya bangun dari tidurnya, rambutnya nampak acak-acakan namun sedikitpun tak mengurangi ketampanannya.


"Apa kamu lupa jika sebelumnya telah menyuruhku untuk membangunkanmu ?" ucap Sofia sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Aril nampak menghela napas panjangnya, rasanya sangat aneh saat melihat keberadaan orang asing di Apartemennya tersebut. Karena memang sebelumnya belum pernah ada seorang wanita asing yang datang kecuali Jessica atau sang ibu.


Kemudian pria itu kembali menatap Sofia. "Apa yang kamu lakukan ?" ucapnya saat melihat gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Segera pakai pakaianmu, kamu benar-benar telah mengotori mataku yang suci ini." teriak Sofia dan itu membuat Aril langsung menatap penampilannya sendiri.


Detik selanjutnya pria itu nampak mengangkat sudut bibirnya, apa benar gadis di hadapannya sepolos itu?


Ehm


Aril langsung berdehem lalu segera beranjak dari ranjangnya, Sofia yang mengira pria itu sudah memakai pakaiannya langsung membuka matanya namun justru ia melihat pria itu sudah berdiri di hadapannya dengan masih bertelanjang dada.


"Aaarrgghh, apa yang kamu lakukan ?" teriak Sofia, lantas segera berlari keluar dari kamar pria itu.


"Dasar pria gila." gerutu Sofia kemudian.


Setelah itu Sofia segera berlalu menuju dapurnya, lebih baik ia segera membuatkan pria itu sarapan. Namun ia sama sekali tak menemukan bahan makanan di sana.


"Apa dia serius menyuruhku untuk menyiapkan makanan? sedangkan di sini tak ada apapun yang bisa ku masak." gerutu Sofia seraya mengecek lemari pendingin yang terlihat kosong.


Kemudian gadis itu beralih menatap lemari kaca sebelahnya, nampak beberapa botol wiskey terpajang di setiap raknya dan saat melihat rak bagian bawah ia melihat sebuah bingkai foto yang jatuh terbalik.


Kemudian Sofia segera membuka lemari kaca tersebut untuk membenarkan kembali posisi bingkai foto itu, karena rupanya kebersihan dan kerapian Apartemen tersebut juga menjadi tanggung jawabnya maupun CEOnya itu.


"Siapa wanita itu, apa kekasihnya ?" gumamnya saat melihat foto Aril bersama seorang wanita dalam bingkai tersebut, namun tiba-tiba.....


"Apa yang sedang kamu lakukan dengan barang-barangku ?" teriak Ariel saat baru keluar dari kamarnya, pria itu terlihat sangat marah saat melihat Sofia memegang sebuah bingkai di tangannya.