
"Syukurlah kau sudah datang." Nyonya Margaret yang melihat kedatangan putranya malam itu nampak sangat senang.
"Kenapa Mommy tiba-tiba menyuruhku pulang ?" protes Daniel yang terlihat mendorong koper pakaiannya masuk ke dalam rumahnya.
"Mommy sudah memutuskan kamu bekerja di kantor pusat saja." sahut wanita itu dan tentu saja itu membuat Daniel nampak tak percaya.
"Benarkah ?" ucapnya namun dengan mengulas senyumnya, beberapa bulan ini ibunya itu memang sengaja menyuruhnya untuk bekerja di luar kota agar ia tak bertemu lagi dengan Sofia.
Ngomong-ngomong bagaimana kabar gadis itu, apa dia baik-baik saja? rasanya ia sangat merindukannya.
"Hm, oh ya buruan bersiap-siap kita harus segera ke rumahnya tante Anne !!" perintah ibunya itu lagi.
"Lebih baik Mommy dan Daddy saja yang datang, aku masih sangat lelah." tolak Daniel, dari pada ia menghadiri acara yang sangat membosankan itu lebih baik ia pergi menemui Sofia.
"Jadi kamu tidak mau pergi? kalau begitu kamu kembali saja ke kantor cabang." nyonya Margaret langsung murka.
"Astaga Mommy, aku baru saja sampai masa harus kembali lagi ?" protes Daniel dengan kesal, karena ibunya itu selalu saja mengancamnya.
"Jadi ?" ucap nyonya Margaret menatap tegas putranya tersebut.
"Baiklah, aku mandi dulu. Lagipula sepenting apa pesta itu hingga aku juga harus hadir." gerutu Daniel.
"Putri pertama keluarga Collins yang hilang belasan tahun lalu kini telah di temukan dan malam ini mereka mengadakan acara penyambutan gadis itu." terang nyonya Margaret.
"Benarkah ?" Daniel nampak tercengang mendengar cerita ibunya tersebut.
"Hm dan Mommy berencana menjodohkan mu dengannya tapi terserah kamu menyukai yang mana, Jeslin atau Jessica Mommy tidak keberatan." sahut nyonya Margaret dan sontak membuat Daniel nampak melebarkan matanya tak percaya dengan ide gila ibunya itu.
"Mommy tidak bisa seenaknya begitu ?" protesnya kemudian.
"Terserah kamu jika masih ingin tetap tinggal di sini." tegas Nyonya Margaret lantas segera berlalu meninggalkan putranya tersebut.
"Selalu saja mengancam." gerutu Daniel seraya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sementara itu di tempat lain Sofia yang masih berada di dalam kamarnya terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang membalut tubuh rampingnya, namun gadis itu nampak gelisah saat mendapati kabar jika Adams dan Aril tadi sore berkelahi hingga babak belur.
"Wajahmu sangat parah Dams." ucapnya saat melakukan panggilan video dengan pria itu.
"Jangan khawatir Sofia, ayahku seorang dokter jika kamu lupa. Paling tidak aku sudah membalas rasa kesalmu pada pria itu." terang Adams dari ujung telepon.
"Baiklah, lain kali jangan lakukan itu lagi dan segera bersiap-siaplah karena acaranya sebentar lagi akan di mulai." tukas Sofia.
Sementara itu di lantai bawah yang di gunakan oleh kedua orang tuanya menggelar pesta kini tamu nampak mulai berdatangan.
"Di mana Sofia, An? aku ingin bertemu dengannya." ucap Merry saat baru datang dengan membawa bingkisan di tangannya itu.
"Dia masih di kamarnya, sebentar lagi pasti turun." sahut Anne lalu wanita itu nampak mengedarkan pandangannya.
"Tentu saja dengan siapa lagi, Jose masih berada di luar negeri dan belum bisa pulang karena ada ujian. Semen Aril entah di mana dia sejak sore sudah pergi." terang Merry.
"Baiklah, semoga Aril bisa datang nanti." timpal Anne yang memang sangat menyayangi pemuda itu dan telah menganggapnya sudah seperti putranya sendiri karena sejak bayi ia juga ikut andil mengasuhnya.
Tak berapa lama kemudian nyonya Margaret dan sang suami beserta satu-satunya putranya itu nampak datang, wanita itu terlihat membawa beberapa paper bag di tangannya.
"Hai An, aku sangat merindukanmu." ucap nyonya Margaret seraya memberikan pelukan hangat pada sahabatnya itu.
Namun Anne yang mengingat bagaimana perlakuan wanita itu pada sang putri, membuatnya sangat kesal. Tapi sangat tak elok jika ia menunjukkan sikapnya tersebut di depan khalayak ramai hanya demi kekesalannya dan tanpa berpikir untuk menjaga nama baik keluarga besarnya.
"Jadi di mana Jeslin, An? Lihatlah aku membawakannya banyak pakaian bermerk dari Paris untuknya." ucap nyonya Margaret seraya mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis yang sedari tadi ia cari namun hanya nampak Jessica di sana.
"Putriku masih bersiap-siap, sebentar lagi dia akan turun dan ku harap kamu tidak perlu repot-repot membawakannya sesuatu." timpal Anne.
"Sudah kamu tenang saja, aku membawakan untuk Jessica juga. Mereka sudah ku anggap seperti putriku sendiri, An. Bahkan aku berharap salah satu dari mereka bisa menjadi menantuku nanti, benar begitu sayang ?" ucap nyonya Margaret lantas meminta persetujuan pada sang putra yang berdiri tak jauh darinya itu.
Daniel nampak tersenyum tipis menanggapi perkataan sang ibu meskipun sebenarnya pemuda itu terlihat risih dengan sikap wanita itu dan Anne yang melihat itu nampak tersenyum kecil.
Daniel pria yang baik di matanya karena ia mengenalnya sejak kanak-kanak, pemuda itu mempunyai sikap yang ramah dan sopan pada siapapun berbeda sekali dengan sang ibu.
"Aku menyerahkan semuanya pada mereka, siapa pun yang anak-anakku sukai maka kami sebagai orang tuanya akan mendukung asal pemuda itu orang yang baik." timpal Anne menanggapi dan itu membuat nyonya Margaret semakin bersemangat karena tak ada lagi perjodohan di antara Aril dan kedua putri sahabatnya itu.
"Tuh dengerin Dan, tante Anne saja sudah memberikan lampu hijau padamu untuk mendekati salah satu dari putrinya." imbuhnya lagi sembari menatap putranya tersebut dan pemuda itu nampak menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi perkataan sang ibu.
Jujur hingga saat ini hanya Sofia gadis yang ia sukai dan ingin rasanya ia cepat-cepat pergi dari pesta ini untuk menemui gadis itu, namun ia sebenarnya juga penasaran dengan sosok Jeslin putri pertama keluarga Collins tersebut yang hilang belasan tahun lalu.
Beberapa saat kemudian Aril nampak datang bersama George dan juga mantan kekasihnya itu, wanita itu terlihat bergelayut manja di lengan Aril hingga menjadi perhatian para tamu undangan yang hadir.
Mereka semua nampak mengabdikan momen tersebut dengan ponselnya karena sudah lama sekali pemuda yang selalu menjadi sorotan di kotanya tersebut tidak menggandeng seorang wanita, meskipun kali ini wanita yang bersamanya itu wanita yang sama dengan beberapa tahun yang lalu.
"Astaga Merry, lihatlah putramu !! sepertinya tak lama lagi kamu akan mendapatkan seorang menantu." timpal nyonya Margaret yang nampak semakin senang karena saingan putranya untuk mendapatkan salah satu gadis di keluar Collins berkurang satu.
Merry hanya menanggapinya dengan senyuman tipis, sejujurnya ia lebih menyukai jika yang menjadi menantunya adalah Sofia atau pun Jeslin.
"Hallo tante, bagaimana kabarnya ?" Helena langsung memeluk Merry lantas mencium kedua pipi kanan dan kirinya.
"Tante baik-baik saja." sahut Merry.
Sementara Aril nampak mengedarkan pandangannya mencari sosok Sofia namun gadis itu tak kunjung terlihat.
"Anne, apa putrimu belum siap ?" tanya nyonya Margaret dengan tak sabar.
"Baiklah aku akan segera memanggilnya." Anne segera berlalu menaiki anak tangga, entah ada apa dengan putrinya itu karena tak kunjung turun.