
Pagi itu seperti biasanya Sofia datang ke apartemen Aril untuk membangunkan pria itu, karena datang kepagian gadis itu memutuskan untuk membuat sarapan dahulu.
Kemudian Sofia segera membersihkan dirinya lantas mengganti pakaian kerjanya di toilet, tidak mungkin kan ia bekerja dalam keadaan bau asap dapur.
Setelah memastikan penampilannya rapi dan wangi, Sofia segera mengetuk beberapa kali pintu kamar Aril, karena tak kunjung mendapatkan sahutan dari dalam gadis itu lantas membuka pintunya.
Dan benar saja pria itu masih terlelap di atas ranjangnya, kemudian Sofia berjalan mendekatinya untuk membangunkannya. "Selamat pagi tuan Aril, bangunlah." ucapnya seraya menggoyang lengannya beberapa kali.
Ia takkan membuka selimutnya lagi seperti kemarin karena tak ingin melihat pemandangan yang membuat pikirannya mendadak kotor, meskipun ia akui tubuh tegap pria itu begitu sempurna di matanya.
"Tuan Aril, bangunlah !!" teriak Sofia lagi saat pria itu hanya menggerakkan tubuhnya pelan lantas kembali mendengkur halus.
"Astaga, ayo bangunlah jangan tidur lagi. Makanya kalau tidur jangan suka telat." Sofia kembali menggoyang lengannya dan kali ini sedikit kencang hingga membuat tangannya tiba-tiba di tarik dan terjatuh ke atas ranjang atasannya tersebut.
Sofia langsung menelan ludahnya saat tubuhnya sudah di kungkung oleh pria itu. "Astaga, posisi apa ini ?" gumamnya dalam hati.
Dada telanjang pria itu kini benar-benar berada tepat di atasnya, ingin rasanya Sofia mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya lalu mengusapnya dengan lembut tapi gadis itu masih berpikiran waras.
Ia bukanlah wanita murahan yang dengan gampangnya akan melempar tubuhnya ke atas ranjang seorang pria, baik itu pria tampan maupun mapan seperti bosnya itu sekalipun.
Kini pandangan keduanya nampak terkunci beberapa saat lalu Aril mendekatkan wajahnya lantas saat bibir keduanya hampir bersentuhan, tiba-tiba isi perjanjian surat kontrak kerja itu kembali terngiang-ngiang di kepala pria itu.
"Sial !!" umpat Aril dalam hati.
"Kenapa kau berisik sekali ?" ucapnya dengan suara seraknya lantas segera menjauh dari tubuh wanita itu.
"Siapa suruh kamu tidak bangun-bangun." balas Sofia yang juga beranjak dari ranjang tersebut, lagi-lagi jantungnya berdetak tak karuan.
"Kau membangunkan ku seperti membangunkan seorang kriminal saja." gerutu Aril lagi sembari melangkah menuju kamar mandi lantas menutup pintunya sedikit kasar.
"Hampir saja." gumam Sofia, beruntung ia telah membuat surat perjanjian kontrak kerja itu sebelumnya. Jika tidak entah apa yang sudah terjadi dengan mereka, karena ia sendiri pun selalu tak berkutik saat berada dekat pria itu.
Setelah itu Sofia segera merapikan tempat tidurnya, lantas menyiapkan pakaian kerjanya lalu ia menunggunya di meja makan.
Hingga 40 menit kemudian sosok bosnya itu tak kunjung keluar dari kamarnya, padahal satu jam lagi ada meeting penting.
Lantas Sofia segera mengetuk pintunya namun hingga beberapa kali ketukan tak ada sahutan dari pria itu. "Apa dia tidur lagi ?" gumamnya.
Kemudian Sofia kembali mengetuknya sedikit lebih keras. "Masuk !!" Terdengar teriakan dari dalam hingga membuat Sofia langsung membukanya, mungkin saja CEOnya itu sedang membutuhkan bantuannya.
"Aarrgghh, dasar mesum." teriak Sofia saat melihat pria itu yang sedang akan berganti pakaian nampak hanya mengenakan ****** ******** saja.
Kemudian Sofia segera keluar dan menutup pintunya kembali. "Dasar pria gila, apa dia sedikitpun tak mempunyai rasa malu." gerutunya dengan kesal.
Sementara Aril tanpa perasaan berdosa nampak tergelak, entah kenapa bisa menggoda gadis itu sangat menyenangkan baginya.
Sofia yang kini kembali duduk di meja makan nampak tak berhenti menggerutu kesal, lalu pandangannya jatuh pada sebuah paper bag tak jauh dari hadapannya tersebut.
Paper bag berwarna merah dengan pita warna senada itu terlihat sangat cantik, karena penasaran Sofia segera mengintip isinya.
"Lo-lolipop ?" ucapnya tak percaya saat melihat lolipop sebanyak itu di dalam sana, lolipop yang sama seperti miliknya kemarin yang di berikan oleh Jose.
"Kamu yang buat ?" ucap Aril seraya menatap semangkuk salad di atas meja, lantas pria itu menarik kursi lalu segera mendudukinya.
"Hm, semoga kamu suka." sahut Sofia sembari menatap semangkuk salad dengan potongan telur di atasnya itu.
"Bagaimana rasanya ?" ucapnya lagi dengan wajah penasaran.
"Biasa saja." sahut Aril di tengah kunyahannya dan itu membuat Sofia nampak mencebikkan bibirnya.
Paling tidak, tidak bisakah pria itu sedikit berterima kasih atas usahanya itu gumamnya dalam hati.
Beberapa saat kemudian Aril telah menghabiskan sarapannya lantas pria itu segera beranjak. "Bersiaplah kita berangkat sekarang !!" ucapnya kemudian.
"Oh ya ambil paper bag itu lalu buang saja di tempat sampah !!" perintahnya lagi seraya menatap paper bag di atas meja tersebut.
"Di-di buang ?" Sofia langsung melotot tak percaya, satu lolipop di buang saja ia sangat menyesal apalagi itu satu paper bag yang berisi puluhan lolipop.
"Hm." sahut Aril yang sedang mengenakan sepatunya.
"Ti-tidak bisakah ini ku simpan saja, sayang sekali kalau di buang." ucapnya dengan nada memohon.
"Terserah kamu saja." sahut Aril lantas segera beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi yang di ikuti oleh gadis itu di belakangnya.
"Astaga, aku mimpi apa semalam dapat lolipop segini banyaknya." gumam Sofia sepanjang melangkah menuju lift.
Aril yang mendengar suara samar-samar gadis itu nampak mengangkat sudut bibirnya, namun saat menyadarinya pria itu kembali bersikap datar seperti biasanya.
Sesampainya di basemant Aril tiba-tiba mendapatkan sebuah telepon. "Masuklah ke dalam mobil dahulu !!" perintahnya pada Sofia.
Setelahnya pria itu nampak mengangkat teleponnya sembari menjauh dari sana.
"Selamat pagi, tuan Mike." sapa Sofia pada pria yang telah menunggunya tersebut.
"Selamat pagi nona Sofia, sepertinya anda sangat senang hari ini." timpal Mike seraya melirik paper bag di tangan gadis itu.
"Tentu saja, aku baru saja mendapatkan makanan favoritku." Sofia langsung menunjukkan paper bag di tangannya tersebut.
"Sepertinya semalaman tuan Aril kurang tidur karena menunggu pesanan itu yang di datangkan langsung dari Jerman." timpal Mike dan sontak membuat Sofia yang hendak masuk ke dalam mobilnya langsung urung gadis itu lakukan.
"Be-benarkah? lalu jika jauh-jauh beli di sana lalu kenapa akan di buang? apa kekasih tuan Aril tak menyukainya ?" tanya Sofia penasaran.
"Tuan Aril tidak pernah membuang makanan atau barang apapun nona, kecuali dalam keadaan sangat emosi dan beliau tidak memiliki kekasih saat ini." ucap Mike dan itu membuat Sofia nampak tercengang.
"Silakan masuk nona, sepertinya tuan Aril sudah selesai menelepon." imbuh Mike saat melihat tuannya itu melangkah ke arah mobilnya.
Sofia yang kini telah duduk di kursinya nampak mengulas senyumnya. "Jadi apa benar jika lolipop ini sebenarnya buatku? kenapa dia gengsi sekali untuk mengatakannya? Lagipula sudah seharusnya kan dia mengganti lolipop yang sudah di buangnya kemarin ?" gumamnya seraya menatap paper bag di pangkuannya tersebut.
"Dasar pria kulkas pantas saja tak memilki kekasih, lagipula wanita mana yang mau sama dia. Selain sikapnya yang sangat dingin, setiap perkataan yang keluar dari bibirnya itu juga seperti cabai." gumamnya memperolok CEOnya tersebut.