
"Tante, sesuai yang aku bicarakan di telepon tadi pagi. Aku tidak ingin banyak basa-basi, jadi kedatanganku ke sini hanya ingin menanyakan ada masalah apa tante dengan asisten pribadiku ?" tegas Aril saat bertemu dengan nyonya Margaret, ibu dari Daniel sahabatnya itu.
"Asisten pribadimu? aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan, Ar." nyonya Margaret terlihat tak paham dengan arah pembicaraan pemuda di hadapannya tersebut.
"Sofia adalah asisten pribadiku, kenapa tante menamparnya dengan begitu keras? apa tante tahu perbuatan tante termasuk tindakan kriminal dan jika mau gadis itu bisa melaporkan tante pada pihak berwajib." terang Aril yang tentu saja membuat wanita paruh baya itu nampak menelan ludahnya.
"I-itu tidak mungkin Ar, lagipula gadis itu yang bersalah. Dia selalu menggoda putraku, dia juga berani mengajaknya ke hotel. Belum lagi dia tak segan memanfaatkan uang putraku hingga membuat tagihan kartunya membengkak." ujar nyonya Margaret dengan nada kesal.
"Berapa yang di habiskan Daniel untuk Sofia, tante? apa segini cukup ?" timpal Aril seraya menuliskan beberapa nominal di atas cek kosong, lantas segera memberikannya pada wanita itu.
"Astaga Ar, bu-bukan ini maksud tante." nyonya Margaret nampak tak enak hati sendiri, baginya uang hanya sebagai alasannya saja karena sesungguhnya ia tidak suka jika putranya menjalin hubungan dengan gadis yang tak sederajat.
"Jadi tante merasa masih kurang ?" Aril kembali mengambil cek kosongnya lalu menuliskan beberapa nominal lagi di sana, namun tiba-tiba di tahan oleh wanita itu.
"Bukan itu maksud tante, Ar." ucapnya lagi.
"Lalu ?" Aril nampak menatap tajam ke arah wanita itu dan tentu saja itu membuat nyonya Margaret langsung ketakutan, karena perusahaan Smith adalah investor terbesar di perusahaannya yang berkecimpung di perhotelan.
"Ar, kamu tahu sendirikan dengan gadis itu. Dia begitu tak pantas bersanding dengan putraku satu-satunya, sebagai seorang ibu tentu saja tante ingin yang terbaik untuk Daniel." terang wanita itu memberikan sebuah alasannya.
"Dengan menuduhnya mereka berhubungan? jika benar apa tante memiliki bukti-bukti? bagaimana jika Daniel sendiri yang ternyata mengejar-ngejar Sofia ?" cecar Aril dan tentu saja itu membuat nyonya Margaret langsung terdiam, selama ini ia hanya melihat kebersamaan mereka tanpa tahu hubungan yang sebenarnya mereka jalin.
Ketidaksukaannya terhadap gadis itu telah membuatnya buta mata dan hati hingga menguburkan kenyataan yang ada, padahal sudah beberapa kali putranya itu mengaku jika hubungan di antara mereka hanya murni sebuah pertemanan.
"Tapi tetap saja dia selalu mendekati Daniel, lagipula apa tidak salah kamu merekrutnya menjadi asisten pribadimu Ar ?" timpal nyonya Margaret membela diri.
"Tante tidak perlu mengajariku, aku tahu apa yang terbaik menurutku jadi ku harap tante tidak lagi mengganggu Sofia. Jika tidak, maka tante akan berhadapan langsung denganku !!" tegas Aril dengan wajah seriusnya, kemudian segera berlalu dari sana.
Sementara nyonya Margaret nampak mengepalkan tangannya melihat kepergian pemuda itu. "Dasar wanita j4l4ng, rupanya tidak hanya putraku saja yang coba kamu rayu bahkan pewaris keluar Smith pun juga." gumamnya dengan kesal.
"Aku harus segera memberitahukan Anne masalah ini, jika tidak maka calon menantunya bisa-bisa akan di rebut oleh j4l4ng itu." imbuhnya lagi.
Di tempat lain Sofia yang bosan nampak berinisiatif merapikan apartemen CEOnya itu, meski sebelumnya telah rapi namun ada beberapa barang yang menurutnya kurang pas dengan tempatnya.
Saat sedang membersihkan lemari kaca yang biasa pria itu gunakan untuk menyimpan minuman, nampak tak ada lagi bingkai foto yang waktu itu ia lihat.
Sebuah bingkai di mana CEOnya itu sedang bersama seorang wanita cantik. "Apa wanita itu kekasihnya ?" gumamnya kemudian.
"A-apa yang sedang kau lakukan di Apartemen tunanganku? dan pakaian itu ?" Jessica sangat terkejut dengan pakaian yang di kenakan oleh gadis itu, sebuah kemeja milik Aril nampak melekat di tubuhnya.
Kini berbagai pertanyaan mulai muncul di benaknya. "Apa kau telah tidur dengan tunanganku ?" tudingnya to the point.
"Tidak, itu tidak benar Jessy. Kau hanya salah paham." Sofia langsung memberikan penjelasan.
"Aku pikir kamu gadis yang berbeda dan bisa menjaga kehormatanmu dengan baik, tapi rupanya kamu sama saja seperti yang lain. Murahan !!" cibir Jessy dan bersamaan itu Aril nampak datang bersama Mike.
"Jessy, apa yang kamu lakukan di sini ?" ucap Aril dengan pandangan datar menatap gadis itu.
"Kak Aril lebih baik kau jelaskan semuanya padaku !!" Jessica nampak menyimpan amarah di wajahnya, ia memang membiarkan tunangannya itu mencari cinta sejatinya tapi tidak dengan wanita yang rela melemparkan tubuhnya ke atas ranjangnya sebelum memiliki ikatan yang sah.
Sungguh Jessica merasa terhina, ia pikir pria itu akan mendapatkan gadis yang memiliki level di atasnya namun pada kenyataannya sangat menyakitinya.
"Sepertinya aku harus pergi." Sofia segera berlalu pergi, karena ia tak ingin semakin terlibat dengan urusan orang-orang kaya itu.
"Siapa yang menyuruhmu pergi ?" saat Aril hendak menahan kepergiannya Jessica langsung menghentikannya.
"Pergilah, dasar wanita murahan !!" umpat Jessica yang langsung membuat Aril menatapnya tajam.
"Mike, antar Sofia pulang !!" perintahnya pada sang asisten, karena mana mungkin ia membiarkan gadis itu naik kereta dengan pakaian seperti itu.
Setelah Sofia pergi, Aril segera masuk ke dalam Apartemennya. "Kenapa tidak menghubungiku dahulu sebelum datang ?" ucapnya seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut Apartemennya yang terlihat lebih tertata rapi dan tanpa sadar sudut bibirnya nampak terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman tipis.
"Kenapa aku harus menghubungimu? apa kamu takut ketahuan jika telah menyimpan seorang wanita di sini ?" cibir Jessica dengan kesal.
"Dia asisten pribadiku." sahut Aril seraya menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa.
"Asisten pribadi? tapi kenapa dia memakai pakaian kakak? apa semalam kalian tidur bersama ?" cecar Jessica ingin tahu.
Mereka memang tidur bersama semalam namun hanya tidur dan tidak lebih, pikir Aril. "Semalam aku menemukannya sedang mabuk di bar, karena aku tak tahu di rumahnya jadi terpaksa ku bawa ke sini. Pakaiannya terkena muntahannya jadi mana mungkin aku membiarkannya tidur di sini tanpa pakaian." terangnya yang langsung membuat Jessica mengangguk mengerti, lagipula mana mungkin pria di hadapannya itu melakukan hal rendah sesuai apa yang ia pikirkan.
"Ngomong-ngomong dia benar-benar asisten pribadi kakakkan? maksudku kamu tak mungkin mencintainya bukan ?" timpal Jessica kemudian dan itu membuat Aril nampak terdiam.
Menyelami bagaimana perasaannya pada gadis itu, karena dia bukan tipe pria yang suka bermain dengan perasaan. Jika ia mencintainya maka ia akan memperjuangkannya.