The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~49



Huekkk


Malam itu Sofia yang baru masuk ke dalam Apartemen Aril langsung berlari dengan tubuh sempoyongan ke dalam kamar mandi.


Setelah memuntahkan isi perutnya gadis itu nampak keluar dengan pakaian yang telah basah kuyup. "Aku mengantuk sekali bisakah aku tidur." racaunya lantas merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu dan tak berapa lama terdengar dengkuran halus nafasnya.


Sementara Aril hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat pakaian gadis itu yang basah membuat Aril berinisiatif untuk menggantinya.


Namun sebelumnya pria itu nampak diam menatapnya. "Hanya menggantikannya baju tidak lebih, lagipula aku mana mungkin membiarkan karyawanku sendiri sakit karena pakaian yang basah. Benar-benar ceroboh." gumamnya, lantas segera melepaskan satu persatu kancing baju milik gadis itu.


Setelah terbuka semua Aril nampak menelan ludahnya saat matanya tak sengaja ke arah gundukan indah yang terlihat mengintip dari balik branya tersebut, sepertinya ukurannya sangat pas dengan tangannya.


"Sial !!" umpatnya.


Bagaimana bisa ia berpikiran kotor di saat seperti ini, meski usianya sudah menginjak 26 tahun tapi tak seharusnya ia membayangkan apa yang bukan menjadi miliknya.


Lantas pandangannya jatuh ke arah pinggang gadis itu yang nampak sebuah tanda lahir di sana.


"Ini ?" gumamnya seraya memiringkan tubuh gadis itu agar bisa melihatnya lebih jelas, entah kenapa ia seperti pernah melihat itu sebelumnya.


"Aunty, itu apa ?" ucap Aril kala itu saat melihat pakaian baby Jeslin yang sedikit tersingkap ke atas hingga memperlihatkan tanda lahir di pinggangnya.


"Itu tanda lahir, sayang." sahut Anne.


"Apa bisa hilang ?"


"Tidak, sayang."


"Tapi meski begitu kamu akan tetap cantik, baby Jeslin." ucap aril lagi dan sontak membuat bayi dua tahun itu tersenyum lebar hingga memperlihatkan lesung di kedua pipinya.


Mengingat peristiwa masa kecilnya itu Aril nampak menghela napasnya pelan, entah berada di mana kakak dari Jessica itu saat ini. Seandainya gadis itu masih ada mungkin dialah yang akan menjadi tunangannya.


Seorang gadis berambut emas, memiliki lesung di kedua pipinya dan juga tanda lahir di tubuhnya.


Deg!!


Menyadari kesamaan Jeslin kecil dengan gadis di hadapannya itu kini membuat Aril sedikit tercengang, bagaimana bisa mereka memiliki ciri-ciri yang sama?


Tak ingin menduga-duga Aril segera mengganti pakaian yang basah gadis itu dengan kemeja miliknya, karena mungkin saja itu hanya kebetulan semata.


Lalu saat melihat rok span yang di pakai gadis itu juga terlihat basah mau tak mau Aril harus melepaskannya.


"Sayangnya kau bukan milikku, jika tidak...." gumamnya lantas enggan melanjutkan perkataannya.


Setelah itu Aril segera memasukkan pakaiannya yang kotor itu ke dalam mesin cuci, melihat gadis itu gelisah karena kedinginan membuat Aril nampak mendesah kasar.


Tidak mungkin ia meninggalkannya tidur seorang diri di atas sofa semalaman, lantas tanpa berpikir panjang pria itu segera mengangkat tubuhnya lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Merebahkannya di atas ranjangnya, lalu segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Saat melihat pipi memar gadis itu, Aril nampak mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya dan sontak membuat Sofia yang sedang tertidur pun langsung meringis kesakitan.


"Apa sesakit itu ?" gumamnya, lalu pria itu berlalu keluar dari kamarnya dan tak berapa lama kembali masuk dengan sebuah salep di tangannya lantas mengolesnya secara perlahan ke pipinya.


...----------------...


Pagi itu Sofia yang baru selesai membersihkan dirinya kembali mengenakan kemeja milik CEOnya itu, lantas gadis itu segera keluar dari kamar pria itu.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang ?" ucapnya mengingat hukuman yang ia terima karena telah melanggar aturan sebagai seorang asisten pribadi dengan sengaja meminum alkohol.


"Duduklah, habiskan sarapanmu !!" perintah Aril yang kini nampak duduk di meja makan.


Sofia segera berjalan mendekatinya dan wajahnya langsung terkejut ketika melihat dua porsi omelet sudah terhidang di sana.


"Si-siapa yang membuatnya ?" ucapnya ingin tahu.


Tak ingin berdebat Sofia segera menarik kursi depan pria itu lantas menghempaskan bobot tubuhnya di sana dan mulai memakan sarapannya.


"Enak, apa kamu yang membuatnya ?" ucapnya berkomentar.


"Hm." Aril mengangguk kecil.


"Makanlah dan jangan banyak bicara !!" timpal Aril lagi yang langsung membuat Sofia tak lagi bertanya.


Di tengah kunyahannya Aril nampak mencuri pandang ke arah pipi gadis di hadapannya itu yang terlihat semakin lebam.


"Siapa yang melakukannya ?" ucapnya setelah menyelesaikan sarapannya itu, mengambil tisu lantas segera mengelap bibirnya.


"Melakukan apa ?" Sofia yang sedari tadi fokus dengan makanannya langsung mengangkat wajahnya menatap pria di hadapannya itu.


"Siapa yang menamparmu ?" ulang Aril lagi.


"I-ini? bukan siapa-siapa hanya kesalahpahaman saja." timpal Sofia, lagipula ini masalah pribadinya dan orang lain tak berhak ikut campur.


"Jadi kamu tidak mau mengatakan siapa yang melakukannya ?" ulang Ariel lagi.


"Itu tidak penting, terima kasih sudah mengkhawatirkan ku." sahut Sofia dengan mengulas senyum lebarnya hingga nampak memperlihatkan kedua lesung pipinya dan sejenak membuat Aril yang sedang menatapnya sedikit terpaku.


"Aku tidak sedang mengkhawatirkan mu." ucap pria itu yang terlihat salah tingkah, lantas segera beranjak dari duduknya dan berlalu pergi dari sana.


Tak berapa lama pria itu kembali dengan membawa kotak P3K, meletakkannya di atas meja makan lalu mengambil sebuah salep dari sana.


"Aku bisa melakukannya sendiri." tolak Sofia saat pria itu hendak mengulurkan jarinya ke arah pipinya.


"Diamlah !!" perintah Aril.


Pria itu nampak menarik kursi di sebelah gadis itu lalu ia duduk di sana, kini keduanya saling berhadapan dan Aril mulai mengoles salep tersebut ke pipi Sofia yang memar dengan perlahan.


Sofia yang merasa begitu di perhatikan nampak terharu, meskipun setiap perkataan yang muncul dari bibir pria itu selalu membuatnya kesal namun perbuatannya mampu sedikit meluluhkan hatinya.


Dan entah siapa yang memulai duluan kini pandangan keduanya nampak bertemu, kemudian tanpa sadar saling mendekatkan wajahnya lalu pertemuan bibir hangat keduanya pun tak bisa di elakkan lagi.


Namun kali ini bukan atas dasar kemauan sebelah pihak tapi keduanya terlihat sangat menginginkan dan berlarut dalam ciuman lembut yang memabukkan itu.


Ciuman yang sukses membuat setiap aliran darah mereka berdesir hebat dan detak jantung pun mulai tak karuan, puas saling m3lum4t kini keduanya pun nampak membuka bibirnya agar ciumannya semakin dalam.


Setelah merasa pasokan udara di paru-paru menipis, mereka langsung melepaskan panggutannya. Keduanya terlihat salah tingkah setelah menyadari perbuatan yang baru saja mereka lakukannya.


Kemudian Aril segera beranjak dari duduknya. "Aku akan mengembalikan ini." ucapnya seraya membawa kotak P3Knya pergi.


Sementara Sofia masih terpaku di kursinya, sepertinya gadis itu nampak syok dengan kejadian yang baru saja terjadi. Tak ada yang salah dari mereka karena keduanya sama-sama menginginkannya.


"Aku akan pergi, kamu beristirahat saja di kamar." ucap Aril tiba-tiba saat baru datang, pria itu terlihat rapi dan nampak kunci mobil di tangannya.


"A-aku, pulang saja." timpal Sofia seraya beranjak dari duduknya.


"Hukumanmu masih berlaku, jika kamu lupa." tegas Ariel dengan menatap gadis itu, pandangannya kembali datar seakan di antara mereka tak terjadi sesuatu sebelumnya.


Lantas pria itu segera berlalu pergi meninggalkan Apartemennya tersebut.


Melajukan mobilnya dengan kencang, lalu menghentikannya di sebuah hotel bintang lima tak jauh di hadapannya itu.


Pria itu terlihat melepaskan kaca mata ribennya lalu segera keluar dari sana.


"Nak Aril, suatu kehormatan sekali kamu mau datang ke hotel kami." ucap nyonya Margaret dengan tersenyum lebar menyambut kedatangan tuan muda Smith itu.