
Siang itu Sofia yang sedang makan siang di sebuah Cafe dekat kantornya nampak tak sengaja bertemu dengan Jose.
"Sofia ?" panggil pria itu saat Sofia baru masuk bersama Hannah.
"Selamat siang tuan muda Jose." sapa Hannah kepada pemuda itu yang langsung membuat Sofia nampak menatap heran.
"Hai Hannah." sahut Jose membalas sapaan sekretaris sang kakak tersebut.
"Kalian saling kenal ?" Sofia yang penasaran langsung menatap mereka bergantian.
"Beliau tuan muda Jose adik CEO kita, Sofia." terang Hannah dan tentu saja itu membuat Sofia nampak tercengang, dunia begitu sempit pikirnya.
"Astaga, apa yang ku lakukan kemarin padanya ?" gumamnya saat mengingat ia telah mengatai pemuda itu seorang kriminal.
"Sofia, aku senang melihatmu kembali." Jose beralih menatap ke arah Sofia.
"I-iya." Sofia langsung mengangguk kecil dengan wajah tak enak hati setelah mengetahui siapa pemuda itu sebenarnya.
"Masalah kemarin aku minta maaf padamu, tuan muda Jose." imbuhnya lagi.
"Astaga Sofia, kita berteman jadi bagaimana mungkin kamu memanggilku seperti itu. Cukup Jose, hanya Jose okey ?" timpal Jose yang langsung membuat Sofia nampak lega, pemuda di hadapannya benar-benar berbeda 180 derajat dengan sang kakak.
"Baiklah, Jose." sahut Sofia kemudian.
"Apa kamu mau makan, biar aku yang traktir." ajak Jose kemudian.
"Aku akan makan bersama Hannah saja, Jose. Terima kasih atas tawarannya." tolak Sofia dengan halus.
Hannah nampak menatap Jose sejenak, kemudian wanita itu membuka suaranya. "Sepertinya aku akan makan di kantor saja, Sofia. Lebih baik kamu temani saja tuan muda Jose makan siang." ucapnya lantas segera berlalu dari sana sebelum gadis itu membalas perkataannya.
Sofia yang tak mengerti dengan perubahan sikap wanita itu langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian gadis itu menurut saja saat Jose menarik tangannya lalu membawanya duduk di sebuah meja tak jauh dari sana.
"Kamu mau pesan apa Sofia? kalau aku ingin makan mie." ucap Jose seraya melihat buku menu di hadapannya itu.
"Baiklah, sepertinya itu juga enak. Aku lama sekali tidak makan itu karena mendiang ayahku suka melarangku memakannya katanya kurang begitu sehat." timpal Sofia, wajahnya nampak sendu saat mengingat ayahnya tersebut.
"Aku turut berduka cita, Sofia." ucap Jose memberikan semangat dengan menggenggam tangan gadis itu.
"Terima kasih." Sofia kembali mengulas senyumnya, lantas segera menarik tangannya dari genggaman pria itu.
"Ngomong-ngomong aku minta maaf soal kemarin, Jose. Aku tidak tahu jika kamu...." imbuhnya lagi namun langsung di sela oleh pemuda yang sedang duduk di hadapannya tersebut.
"Sudah lupakan Sofia, aku tahu kamu gadis baik-baik jadi bersikap waspada itu sudah seharusnya." timpal Jose memberikan pujian.
Selanjutnya mereka nampak asyik berbincang sembari menunggu pesanannya datang, sama-sama memiliki sifat yang periang membuat keduanya terlihat sangat cocok dan cepat akrab.
"Astaga ini enak sekali, Sofia." ucap Jose saat semangkuk mienya telah datang lantas segera menyantapnya tak peduli asapnya masih mengepul.
Sofia yang melihat itu langsung tergelak, lalu gadis itu juga tak sabar untuk segera menyantapnya. Namun belum sampai masuk ke dalam mulutnya tiba-tiba seseorang berdehem nyaring hingga membuatnya langsung menoleh.
"Tu-tuan Aril ?" ucapnya dengan wajah terkejut saat melihat CEOnya itu.
"Hai, kak. Kau di sini juga ?" Jose juga ikut menyapa dengan mulut penuh makanan, namun sang kakak hanya menatapnya datar lantas pria itu beralih menatap ke arah Sofia.
"Tapi ini sangat enak, apa kamu mau juga? bagaimana jika ku pesankan ?" ucap Sofia menawari CEOnya itu sembari mengangkat mangkuknya.
Bukannya menjawab Aril justru mengambil mangkuk di tangan gadis itu lantas kembali meletakkannya di atas meja.
"Ayo ikut !!" ucapnya seraya menarik pergelangan tangannya hingga membuat Sofia mau tak mau beranjak dari duduknya.
Sedangkan Jose yang di tinggal begitu saja nampak melotot. "Kak, mau kamu bawa kemana Sofia ?" teriaknya kemudian.
Sementara Sofia yang kini di paksa masuk ke dalam mobil pria itu nampak duduk dengan wajah kesalnya.
"Kamu mau ngapain ?" ucapnya saat Aril yang telah duduk di balik kemudinya tiba-tiba mendekatkan badannya hingga kini menyisakan beberapa senti di antara mereka dan itu membuat Sofia tiba-tiba kesulitan bernapas.
"Aku tidak ingin mengambil risiko." ucap Aril seraya menarik sefty belt di kursi gadis itu lantas segera memasangkannya.
Sedangkan Sofia yang sudah berpikiran negatif duluan nampak menggigit bibir bawahnya sembari menggerutu menyalahkan pikirannya yang tiba-tiba kotor.
Lagipula mana mungkin CEOnya itu akan menciumnya, toh ia bukan tipe wanita yang di sukai pria itu dan ia juga berharap pria itu takkan melakukannya.
Aril yang melihat gadis itu tak berhenti menggigit bibirnya nampak berdecak pelan. "Hentikan menggigit bibirmu seperti itu !!" perintahnya kemudian yang langsung membuat Sofia menoleh padanya.
"Memang apa masalah? aku akan menggigit bibirku sesuka hatiku." ucapnya dengan kesal karena pria itu telah menggagalkan makan siangnya.
Lantas Sofia kembali menggigit bibir bawahnya dengan maksud untuk memperlihatkan pada pria itu jika ia takkan bisa di perintah begitu saja.
Namun itu justru membuat Aril langsung melepaskan sefty belt miliknya lantas segera menarik tengkuk gadis itu dan m3lum4t bibirnya dengan rakus.
Sofia yang di serang tiba-tiba tentu saja langsung melebarkan matanya, namun ciuman pria itu yang begitu mendominasi membuatnya tak bisa melawan.
Apalagi kini jantungnya mulai berdetak tak karuan saat pria itu semakin dalam menciumnya, m3lum4tnya dan menyesap lidahnya yang membuat gadis itu seperti di bawa ke nirwana.
Pertukaran saliva itu terus terjadi seakan pria itu enggan mengakhirinya, namun ketika melihat gadis itu mulai kehabisan napasnya Aril segera mengakhirinya lalu melepaskan panggutannya. Namun tiba-tiba....
Plak
Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi prianya hingga kini nampak kemerahan.
"Apa yang sedang kau lakukan padaku tuan Aril? kamu pikir aku gadis yang bisa kau permainkan begitu saja ?" protes Sofia dengan menatap tajam pria itu.
Aril yang tak bisa mengendalikan dirinya nampak mengusap wajahnya dengan kasar, entah kenapa baru kali ini ia begitu emosi pada seorang gadis.
"Aku benar-benar sangat membencimu." ucap Sofia kemudian, lantas segera melepaskan sefty beltnya dan berlalu keluar dari mobil tersebut meninggalkan CEOnya itu yang nampak menatap datar kepergiannya.
Di tinggal begitu saja, Aril langsung memukul stir mobilnya. Kemudian pria itu segera keluar dari mobilnya lantas mengejar gadis itu yang terlihat sedang menyeberang jalan menuju kantornya yang berada tak jauh dari sana.
Beberapa saat kemudian jam istirahat pun telah usai dan Aril tak melihat Sofia berada di kubikelnya, entah berada di mana gadis itu saat ini.
Di tempat lain, Sofia yang sedang berada di belakang perusahaan tersebut nampak duduk bersandar di dinding. Wajahnya terlihat murung karena lagi-lagi ia tak dapat melawan saat untuk kedua kalinya ia di sentuh oleh pria yang sama.
Meski ia gadis miskin namun tak seharusnya seorang pria bisa begitu saja menyentuhnya, apalagi pria itu telah bertunangan dengan wanita lain.
"Sepertinya aku tak bisa bekerja di sini lagi." ucapnya lantas segera beranjak dari duduknya dan kembali masuk ke dalam kantornya tersebut.