The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~86



Sofia yang tiba-tiba di tanya kabarnya oleh Aril nampak tercengang, namun setelah itu ia kembali bersikap seperti biasa.


"Seperti yang kamu lihat." sahutnya singkat lantas mengalihkan pandangannya ke ponsel di tangannya tersebut.


"Kamu terlihat lebih matang dan juga cantik." tukas Aril dan itu membuat Sofia langsung berdehem kecil, kenapa hatinya jadi berbunga-bunga mendengar pujian pria itu.


"Ehm, apa sudah tidak ada yang akan di bahas? karena aku harus kembali." ucapnya kemudian.


"Masih banyak yang harus kita bahas, Sofia." sahut Aril seraya menatap gadis itu.


"Tentang ?" balas Sofia menatap balik.


Kini pandangan keduanya nampak bertemu dan terlihat sekali sama-sama menahan rindu, namun sebuah ego dan juga kesalahpaham seperti menjadi tembok pemisah di antara mereka.


"Kita, aku dan kamu." sahut Aril yang sontak membuat Sofia langsung mengalihkan pandangannya.


"Sepertinya sudah tak ada lagi yang perlu di bahas." timpalnya sembari beranjak dari duduknya namun Aril segera menahan tangannya.


"Kenapa kamu tiba-tiba menghilang selama tiga tahun ini? bahkan paman James sedikitpun tak memiliki belas kasih padaku untuk memberitahukan keberadaanmu. Apa kamu tahu selama ini aku seperti hidup tanpa arah, aku benar-benar kehilanganmu Sofia." ucap Aril dan itu membuat Sofia langsung menatap pria itu.


Benarkah apa yang di katakan olehnya? entah ia harus percaya atau tidak dan ia pun benar-benar tak mengetahui kabar pria itu selama tiga tahun ini.


"Kenapa ?" ucapnya kemudian.


"Kenapa? karena aku mencintaimu Sofia, apa perkataanku tiga tahun yang lalu kurang jelas dan hingga sekarang pun perasaan itu tak pernah berubah." tegas Aril namun sepertinya Sofia belum percaya begitu saja.


"Lalu bagaimana dengan Helena ?" tanyanya memastikan.


"Hubunganku dengannya sudah berakhir 7 tahun yang lalu sejak dia pergi ke Paris." terang Aril.


"Tapi George bilang kalian menjalin hubungan kembali karena menurutnya cinta pertama akan selalu memiliki ruang di hati." terang Sofia dan itu membuat Aril nampak mengernyit.


"Kau bertemu dengannya ?" ucapnya ingin tahu.


Sofia mengangguk kecil. "Hm, dia memintaku untuk menjauhimu." sahutnya kemudian.


"Dan kau melakukannya? kenapa tidak memberitahukan padaku jika George pernah menemuimu ?" Aril langsung memegang kedua bahu gadis di hadapannya itu.


"Untuk apa? lagipula terlalu banyak kebetulan yang membuatku berasumsi jika kamu dan Helena kembali bersama bahkan kamu masih menyimpan semua kenangan kalian dulu, di Apartemenmu, di kantormu bahkan di kampus." balas Sofia.


Aril nampak menghela napas panjangnya. "Maafkan aku, tapi aku sudah membakar semuanya malam itu sebelum menghadiri pesta penyambutanmu." sahut Aril dan sontak membuat Sofia tercengang saat mendengarnya.


"Tapi kalian datang bersama waktu itu." tukasnya kemudian.


"Mobil Helena mogok di tengah jalan dan aku tidak mungkin meninggalkannya seorang diri, malam terlalu berbahaya buat wanita bukan dan aku meminta maaf harusnya waktu itu aku menyuruh Mike saja yang mengantarnya hingga membuatmu takkan salah paham lebih jauh." terang Aril.


"Tapi...." Sofia tak tahu harus berbicara apa saat ini.


"Aku...." Sofia menjeda perkataannya saat ponselnya berdering nyaring dan nampak nama Adams tertera di sana, namun saat gadis itu ingin menjawabnya Aril langsung merebut ponselnya lalu mematikan panggilan tersebut.


"A-apa yang kamu...." Sofia belum menyelesaikan perkataannya namun tiba-tiba Aril sudah membungkam bibirnya, m3lum4tnya dengan lembut hingga menimbulkan desir aneh dari keduanya.


Entah sadar atau tidak Sofia juga membalas ciuman pria itu, m3r3m4s lengan kemejanya dengan sedikit kuat seiring ciuman mereka yang semakin dalam.


Kini keduanya nampak terlena dalam pertukaran saliva yang mampu melebur ego dan salah paham yang terjadi selama ini.


Beberapa saat kemudian saat keduanya merasakan pasokan udara di paru-paru mulai menipis mereka segera mengakhiri ciuman tersebut, Aril yang melihat bibir gadis itu basah karena ulahnya segera mengusapnya dengan lembut lantas membawanya ke dalam pelukannya.


"Tolong jangan pernah tinggalkan aku lagi." ucapnya kemudian.


"Apa benar cinta pertama akan selalu memiliki ruang di hati ?" tanya Sofia kemudian hingga membuat Aril langsung melepaskan pelukannya lantas menatap gadis itu.


"Siapa yang mengatakan itu ?" ucapnya ingin tahu.


"George." balas Sofia karena ia pun merasakan hal yang sama, karena pria di hadapannya kini adalah cinta pertamanya dan sejauh apapun ia pergi rasa itu tak pernah menghilang.


"Aku tidak tahu Sofia, tapi aku sudah tak merasakan apapun itu pada Helena sejak lama dan apa kamu percaya entah kenapa sejak pertama melihatmu, kamu seperti sosok yang sudah lama mengisi ruang hatiku dan ku rasa aku sudah jatuh cinta padamu saat kamu masih kanak-kanak." terang Aril namun Sofia langsung mencebik.


"Rayuanmu itu tidak akan mempan padaku tuan CEO." ucapnya lantas berlalu menjauh namun bukan Aril yang tak mampu membuat gadis itu kembali dalam pelukannya.


Pria itu langsung menarik tangannya hingga menabrak dada bidangnya lantas ia kembali m3lum4t bibir gadis itu lalu membawanya ke sofa yang ada di ruang meeting tersebut.


Masih dengan bibir yang saling bertaut Aril menjatuhkan tubuh Sofia di atas sana lalu segera mengungkungnya, memperdalam ciumannya hingga membuat gadis itu mendesah tertahan.


Puas bermain-main dengan di bibirnya, Aril menurunkan ciumannya ke lehernya. Menyusuri kulitnya yang putih lantas memberikan beberapa gigitan kecil di sana yang membuat Sofia semakin tak tahan untuk tidak mendesah.


Apalagi saat merasakan sebelah tangan pria itu telah menelusup masuk ke dalam kemejanya, menaikkan br4 yang ia kenakan lantas memainkan gundukan kenyal miliknya yang kini nampak bebas tanpa penutup di dalam pakaiannya tersebut.


Merasa belum puas Aril langsung melepaskan satu persatu kancing kemeja gadis itu sembari kembali m3lum4t bibirnya, lalu saat menatap dada gadis itu yang kini tanpa sedikitpun benang yang menutupinya membuat matanya menggelap lantas segera m3lum4t puncaknya bergantian.


Sebagai seorang pria dewasa tentu Aril memiliki gairah yang menggebu-gebu apalagi dengan gadis yang ia cintai itu, ia benar-benar tak tahan untuk segera menjadikannya miliknya.


Sofia yang merasakan gairahnya mulai naik akibat perlakuan Aril nampak m3r3m4s rambut pria itu seakan memintanya untuk semakin dalam m3lum4t puncak bentuk keseksiannya tersebut.


Tubuh gadis itu bergerak kesana kemari seiring sentuhan demi sentuhan yang pria itu lakukan hingga tiba-tiba kesadarannya mulai kembali ketika merasakan tangan pria itu nampak mengusap miliknya yang paling berharga di bawah sana dari balik celana d4l4m yang masih ia kenakan.


Kemudian Sofia segera mendorong kepala pria itu dari atas dadanya. "Tolong jangan lakukan itu." mohonnya seraya kembali merapikan kemejanya.


Aril yang masih mengungkung tubuhnya pun nampak menatapnya dengan penuh gairah. "Menikahlah dengan ku Sofia, aku ingin melakukan lebih dari itu." mohonnya dengan wajah memerah menahan gairahnya.


.


Akhirnya The Missing Sofia sudah hampir di penghujung cerita ya guys dan beberapa bab lagi akan tamat, jika ada yang berminat untuk membaca cerita Jessica silakan mampir di novel saya yang baru dengan judul TERJERAT PESONA HOT DUDA terima kasih 🙏