
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan barang-barangku ?" teriak Ariel saat baru keluar dari kamarnya, pria itu terlihat sangat marah saat melihat Sofia memegang sebuah bingkai di tangannya.
"A-aku hanya ingin merapikannya saja." ucap Sofia beralasan, namun pria itu segera mengambil bingkai tersebut lantas kembali memasukkannya ke dalam lemari kacanya.
"Lain kali jangan pernah menyentuh barang-barang pribadiku." tegas Aril memperingatkan.
"Maafkan aku." timpal Sofia lalu segera menjauh dari sana.
Aril nampak menghela napasnya sejenak. "Aku belum belanja bahan makanan, mungkin nanti sore setelah kita pulang kerja bisa mampir dahulu ke swalayan" ucapnya kemudian.
"Bagaimana jika aku membuatkan mu kopi saja ?" tawar Sofia saat melihat ke arah tempat kopi yang berjejer rapi.
"Tidak perlu, aku ada meeting penting pagi ini." tolak Aril seraya mengambil sepatunya lantas segera memakainya.
"Sabar Sofia." gumam Sofia setelah beberapa saat menghadapi pria itu, karena ke depannya pasti akan menjadi makanannya sehari-hari.
Beberapa saat kemudian mereka telah berada di basemant Apartemennya. "Aku naik kereta saja." ucap Sofia, rasanya tidak mungkin jika mereka akan berada dalam satu mobil. Bisa-bisa ia tidak akan dapat bernapas karena sikap pria itu yang selalu mengintimidasinya.
"Masuk, apa kamu ingin membuang-buang waktuku !!" perintah Aril tak ingin di bantah.
"Baiklah, aku duduk di depan saja." Sofia segera membuka pintu depan dan langsung menghempaskan bobot tubuhnya di sebelah Mike.
Aril nampak menggelengkan kepalanya lantas masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi penumpang.
"Hai, tuan Mike." sapa Sofia saat Mike baru duduk di balik kemudinya.
"Ya. Nona Sofia." sahut Mike membalas sapaan asisten pribadi atasannya tersebut.
"Kau sangat rapi sekali tuan Mike, pasti istrimu sangat rajin dan peduli akan penampilanmu." puji Sofia setelah mobil mereka mulai melaju dan Aril yang mendengar itu kembali geleng-geleng kepala.
"Saya belum menikah, nona." sahut Mike membalas yang langsung membuat Sofia nampak terkejut.
Pria berusia tiga puluh tahunan itu terlihat lumayan tampan serta matang pasti banyak wanita yang mengejarnya di luaran sana dan itu membuat Sofia kembali penasaran dengan kehidupannya.
"Kau sangat tampan tuan Mike, apa tidak ada wanita yang mengejarmu ?" ucapnya ingin tahu.
"Saya hanya ingin fokus bekerja, nona." sahut Mike yang terlihat kaku saat menjawabnya karena pandangan sang CEO yang mengintimidasi dari balik kaca spion depannya.
"Sepertinya hidupmu sangat hampa tuan Mike, bagaimana jika weekend nanti kita pergi hangout dan akan ku kenalkan dengan sahabat...." ucapan Sofia langsung terjeda saat Aril tiba-tiba berdehem nyaring.
Ehmmm
"Tidak bisakah jika kau tak mengganggunya? ini di jalanan bukan di tempat tongkronganmu yang tidak bermutu itu." tegur pria itu yang langsung membuat Sofia seketika terdiam.
Ingin rasanya ia melempar pria itu ke planet pluto, karena memang CEOnya yang kaku dan sedingin es itu lebih pantas hidup dan tinggal di sana.
Setelah mendapatkan teguran kini Sofia tak lagi membuka suaranya, orang-orang kaya memang sangat pelit berbicara gumamnya. Mungkin sepatah kata saja sangat berharga bagi mereka imbuhnya lagi dengan kesal.
Beberapa saat kemudian mobil yang membawa mereka telah sampai di sebuah gedung yang lebih besar dan megah dari kantornya sebelumnya.
"I-ini di mana ?" ucapnya sembari melongo menatap gedung pencakar langit di hadapannya tersebut.
"Apa kau tidak bisa jika tidak banyak bertanya ?" tegur Aril seraya melepas sefty beltnya, lantas pria itu segera berlalu keluar dari dalam mobilnya.
Sofia yang melihat itu pun bergegas keluar juga lalu mempercepat langkahnya mengekori langkah panjang pria tersebut.
"Selamat pagi tuan Ariel." sapa beberapa karyawan saat pria itu datang.
"Hm, kembali bekerja ke ruangan masing-masing !!" ucapnya singkat namun sukses membuat semua karyawannya bergegas kembali ke ruangannya.
"Tidak bisakah dia sedikit ramah, mereka semua itu manusia bukan monster." gerutu Sofia yang sejak tadi mengekor di belakang pria itu dan Aril yang mendengar gerutuan gadis itu langsung berhenti mendadak hingga membuat Sofia lagi-lagi menabrak punggungnya yang kekar itu.
"Astaga, maaf aku tidak sengaja." Sofia segera menjauh dengan wajah memerahnya, ah sial gumamnya.
"Sudah ku bilang jangan banyak bicara." ucap Aril setelah berbalik badan menatap gadis tersebut, setelah itu pria itu kembali melangkah menuju lift. Menekan angka 30 dan pintu lift kembali tertutup.
Ting
Setelah beberapa menit kini mereka telah sampai di lantai teratas gedung tersebut. "Selamat pagi tuan Aril, ini jadwal anda hari ini." ucap seorang wanita saat menyambut kedatangan pria itu.
"Berikan saja padanya, mulai hari ini dia yang mengurus semua jadwal pribadiku !!" perintah Aril seraya menatap ke arah Sofia, setelah itu pria tersebut segera berlalu masuk ke dalam ruangannya.
"Hai aku Hannah, sekretaris tuan Aril sebelumnya." wanita itu langsung memperkenalkan dirinya.
"Sofia." Sofia langsung menyambut jabat tangan wanita itu.
"Sementara waktu, ini akan menjadi mejamu saat tuan Aril berkantor di sini." ucap Hannah dengan ramah.
"I-iya, memang sebelumnya siapa yang menempati? apa asisten pria itu maksudku tuan Aril juga ?" tanya Sofia penasaran karena di sana nampak ada dua meja.
"Tadinya di tempati oleh sekretarisnya tuan William, karena beliau sudah resign jadi sementara waktu aku yang akan menggantikannya." terang Hannah dan sontak membuat Sofia menelan ludahnya, ia hampir saja lupa dengan sosok pria yang pernah ikut andil dalam mengeluarkannya dari kampusnya dahulu. Sosok pria yang sangat tegas dan sedikit menakutkan baginya itu.
"Tu-tuan William ?" ucapnya kemudian.
"Hm, tuan William. Tuan besar pemilik perusahaan ini sekaligus ayah dari tuan Aril, hanya saja hari ini beliau sedikit terlambat karena harus menjemput putra keduanya yang baru pulang dari luar negeri." terang Hannah.
"Syukurlah, semoga beliau tidak hadir hari ini." gumam Sofia yang langsung membuat Hannah seketika menatapnya.
"Kamu pasti gugup ya, tenang saja meskipun beliau sangat tegas tapi sebenarnya sangat baik apabila nyonya Merry istrinya suka sekali membawakan kami kue buatannya saat datang ke kantor." timpal Hannah, namun itu tak membuat Sofia merasa lebih baik.
Wanita itu belum tahu saja jika mereka memiliki masa lalu yang kurang baik dan ia masih tak habis pikir kenapa juga Aril justru mengangkatnya sebagai asisten pribadinya, apa itu bentuk salah satu upaya pria itu untuk terus membully dan mempermalukannya?
Sungguh Sofia tidak mengerti dan ia hanya mengikuti alur hidupnya yang entah seperti apa pada akhirnya, karena saat ini yang ia punya hanya harga dirinya yang akan selalu ia junjung tinggi bagaimana pun orang lain mencoba untuk merendahkannya.