The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~74



Saat baru sampai Aril dan Sofia nampak saling berpandangan namun gadis itu segera membuang mukanya, meskipun pria itu datang tidak hanya dengan mantan kekasihnya melainkan beramai-ramai dengan teman-temannya yang lain namun tetap saja membuatnya kesal.


Bagaimana pun juga di antara mereka pernah ada cinta dan kemungkinan besar perasaan itu akan kembali terjadi seiringnya kebersamaan mereka yang semakin intens atau jangan-jangan mereka pun sebenarnya telah menjalin hubungan tanpa sepengetahuannya, pikir Sofia.


"Eh bukankah dia putri pertama keluarga Collins yang hilang itu ?" ucap Helena saat tak sengaja melihat ke arah Sofia yang duduk di meja tak jauh dari mereka, hingga membuat beberapa relasi bisnisnya langsung ikut memperhatikannya.


"Benarkah, jadi gadis itu adalah seorang anak kecil yang telah hilang belasan tahun itu ?" timpal salah satu dari mereka.


"Tunggu, bukankah itu gadis lumpur waktu itu ?" George sahabat Aril sekaligus saudara sepupu Helena yang juga berada di sana nampak terkejut menatap ke arah Sofia.


"Dia putri paman James." timpal Aril membenarkan.


"Oh ya ?" George nampak tak percaya namun setelahnya pria itu terlihat tersenyum miring, entah apa yang sedang di pikirkannya.


"Dia benar-benar cantik." puji yang lainnya menimpali.


"Tapi sepertinya Adams lah yang menjadi pemenangnya." timpal Helena kemudian.


Aril nampak diam mendengarkan celetukan teman-temannya itu dan sesekali melirik ke arah Sofia yang terlihat asyik bercengkerama dengan Adams.


"Benarkah mereka telah menjalin hubungan ?" gumamnya dalam hati.


Setelah menyelesaikan makan malamnya Sofia segera meminta Adams untuk mengantarnya pulang, berlama-lama di sana hanya akan membuat moodnya berantakan.


"Hai Dams, apa tidak ingin bergabung bersama kami ?" panggil George saat mereka melewati mejanya.


"Tidak, terima kasih. Sepertinya kalian sedang sibuk." timpal Adams lantas segera membawa Sofia keluar dari restoran tersebut, sementara Aril hanya melirik kepergian mereka.


"Beruntung sekali dia hanya seorang karyawan biasa tapi mampu menggandeng putri CEO." timpal salah satu relasi bisnis pria itu dan itu membuat George nampak tersenyum sinis.


"Kenapa kamu tidak ikut gabung dengan mereka Dams? aku bisa pulang dengan sopirku." ucap Sofia saat pria itu mengantarnya ke parkiran mobilnya.


"Tidak Sofia, aku hanya karyawan biasa tidak seperti mereka putra dan putri seorang pengusaha. Lagipula mereka sedang membahas bisnis jadi aku tak ada kepentingan di sana." sahut Adams bersikap merendah.


"Kau seorang putra dokter kepala rumah sakit, Adams." Sofia langsung membesarkan hati pria itu.


"Dan kau adalah putri dari bosnya ayahku." celetuk Adams dan itu membuat Sofia nampak menggeleng kecil.


"Aku anak ayahku, ayah Marco." ucapnya kemudian.


"Aku mengerti Sofia, tapi kenyataan tetaplah kenyataan ku harap kau bisa sedikit membuka hati dan pikiranmu untuk melihat kenyataan yang ada." Adams memberikan nasihat, karena ia tahu gadis itu belum sepenuhnya menerima keluarga kandungnya tersebut terutama sang ayah.


"Hm, terima kasih. Baiklah sudah malam aku harus segera pulang, aku tidak ingin Mommy mengkhawatirkan keadaanku." sahut Sofia lantas segera masuk ke dalam mobilnya.


Adams nampak menatap kepergian Sofia dengan wajah datarnya, meskipun ia menyukai gadis itu namun saat ini ia lebih memilih untuk memendam perasaannya dalam-dalam. Bagaimana pun mereka sangatlah berbeda, gadis itu seorang putri kaya raya sedangkan ia hanya seorang anak angkat di keluarganya.


Keesokan harinya.....


"Sayang, mulai hari ini kamu sudah bisa masuk kuliah." ucap James pagi itu dan tentu saja itu membuat Sofia nampak girang, gadis itu langsung tersenyum lebar namun saat menyadarinya ia segera bersikap seperti biasanya.


"Terima kasih." ucapnya dengan sedikit kaku dan itu membuat Anne nampak mengulas senyumnya saat berpandangan dengan sang suami, bagaimana pun juga putrinya itu perlu waktu untuk bisa menerima sang ayah dan mereka mengerti akan hal itu.


"Daddy juga telah membuatkanmu beberapa kartu dan kamu bisa memakainya sesuka hatimu." ucap James lagi seraya memberikan beberapa kartu debit maupun kartu kredit pada putrinya itu.


"Sepertinya aku tidak memerlukan ini semua, aku sudah makan kenyang di rumah dan ada sopir juga yang akan mengantarku kemana pun." tolak Sofia yang tak biasa bersikap boros.


"Tapi kamu juga harus memilikinya sayang, karena adikmu pun juga memilikinya." timpal Anne kemudian.


"Baiklah, tapi bolehkah aku meminta sesuatu lagi ?" mohon Sofia seraya menatap ibu dan ayahnya itu bergantian.


"Tentu saja apapun itu." sahut James dan Jessica yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka nampak diam-diam cemburu, selama ini ayahnya tak pernah bersikap sehangat itu padanya namun saat dengan kakaknya itu tatapan sang ayah begitu lembut.


"Bolehkah sepulang kuliah aku bekerja di kantor? kerja apapun itu tak masalah bagiku." ucap Sofia dan tentu saja membuat James nampak tersenyum lebar, benar dugaannya putrinya itu bisa ia andalkan.


Sebab dalam diri gadis itu mengalir darahnya yang pekerja keras dan pantang menyerah, sepertinya dalam lubuk hatinya terdalam ia harus berterima kasih pada Marco karena telah mendidik gadis itu menjadi seorang gadis yang kuat.


"Tentu saja sayang, Daddy justru senang jika kamu ingin banyak belajar di kantor." timpalnya menyetujui, lantas pandangannya beralih ke arah Jessica yang duduk di sebelah ibunya tersebut.


"Contohlah kakakmu Jess, dia terlihat semangat sekali untuk belajar di kantor. Selagi masih muda gunakan waktumu sebaik mungkin jangan main saja yang kamu pikirkan." ucapnya menegur putri keduanya itu yang selama ini teramat di manja oleh sang istri.


"Hm, nanti ku usahakan sepulang kuliah." sahut Jessica di tengah kunyahannya dan itu membuat Sofia nampak mengulas senyum menatap adiknya tersebut.


Setelah menyelesaikan sarapan paginya Sofia segera bersiap-siap untuk pergi ke kampusnya, di lihatnya seragam kuliah yang seperti pernah ia pakai dahulu.


Rasanya cukup aneh kembali kuliah di kampus tersebut, banyak kenangan buruk di sana dan itu membuatnya sedikit trauma mengingat bagaimana semua teman-teman kuliahnya membullynya hanya karena ingin mendapatkan perhatian dari seorang tuan muda SG.


Mengingat pria itu membuat Sofia nampak menatap jendela kamarnya, jatuh cinta memang terasa begitu mendebarkan namun saat mengetahui pria yang ia cintai lebih menyukai gadis lain membuatnya patah hati meskipun belum sempat memulainya.


"Sayang, apa kamu sudah siap ?" ucap Anne seraya membuka pintu kamar putrinya tersebut dan sontak membuyarkan lamunan Sofia, gadis itu nampak terpaku dengan seragam di tangannya.


"Kenapa belum di pakai ?" tanya Anne dan ia melihat kecemasan di wajah gadis itu.


"Ingat kata Daddy, kamu datang ke sana bukan sebagai mahasiswa penerima beasiswa, tapi sebagai pemegang saham dan sekecil apapun suaramu di sana akan di perhitungkan oleh dewan pembina." nasihat Anne kemudian yang langsung membuat Sofia seakan mendapatkan secercah semangat dan ia akan memastikan jika kampusnya itu akan bebas dari pembulian apapun jenisnya.