The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~69



Sore itu Sofia kembali mengerjapkan matanya setelah seharian tak sadarkan diri akibat obat penenang yang di berikan oleh dokter.


Gadis itu nampak menatap langit-langit rumah sakit sembari mengingat kejadian demi kejadian sebelum ia berada di rumah sakit tersebut dan tak terasa butiran kristal nampak mengalir dari sudut matanya.


"Sayang, kau sudah bangun Nak." Suara lembut Anne langsung membuat gadis itu menoleh ke sampingnya dan nampak seorang wanita sedang tersenyum padanya.


Seorang wanita yang selama ini ingin sekali ia peluk namun nyalinya terlalu kecil hingga membuatnya hanya bisa menatapnya dari kejauhan menahan rindu.


"Mama." lirih Sofia menatap wanita itu, bolehkah ia memanggilnya dengan sebutan itu?


"Iya sayang, ini mama Nak." Anne nampak menggenggam tangan putrinya yang masih di perban itu.


"Mama." panggil Sofia lagi, sungguh ia ingin memanggilnya sebanyak yang ia mau. Sejak kecil ia begitu merindukan sosok seorang ibu dan kini akhirnya wanita yang ia harapkan ada di hadapannya.


"Iya sayang, putriku. Mommy merindukanmu sayang, sangat merindukanmu." Anne langsung memeluk anak gadisnya itu, akhirnya kerinduannya selamat 18 tahun kini terobati juga.


Sungguh ia sangat miris melihat keadaan gadis itu, tubuhnya sangat ringkih dan juga tak terawat. "Apa Marco memperlakukanmu dengan baik selama ini ?" ucap Anne ingin tahu.


"Hm, ayah sangat menyayangiku. Ayah tidak pernah marah padaku bahkan ayah selalu membuatku tersenyum setiap saat. Tapi, sekarang ayah sudah tak ada sungguh aku sangat merindukannya." sahut Sofia yang masih berada dalam pelukan sang ibu, gadis itu nampak terisak mengingat kenangan bersama ayah angkatnya tersebut.


Sementara James yang sedang bersandar di balik dinding nampak terpukul saat diam-diam mendengarkan cerita putrinya itu, rupanya pesan yang di tulis oleh Marco benar adanya.


Pria itu adalah pemenangnya, pria itu telah sukses mengambil seluruh hati putrinya dan tak menyisakan sedikitpun untuknya, tapi James takkan menyerah. Waktunya masih sangat panjang untuk merebut hati gadis itu kembali dan ia akan berusaha keras untuk itu.


Namun saat ini ia takkan menampakkan dirinya untuk sementara waktu sampai putrinya itu merasa lebih tenang, mengingat perbuatannya selama ini pasti meninggalkan luka yang sangat dalam baginya.


"Syukurlah jika tuan Marco menyayangimu sayang, Mommy percaya padanya jika dia takkan menyakitimu. Karena sejak pertama kali melihatmu dia mengatakan sudah jatuh cinta padamu." ucap Anne, ia berusaha membuat gadis itu senyaman mungkin dengannya.


"Benarkah? sayang sekali kalian dulu tak bisa bersama padahal ayah begitu mencintaimu." timpal Sofia dan itu membuat James yang masih diam-diam menguping pembicaraan mereka nampak melebarkan matanya.


Untung saja yang bicara seperti itu adalah putrinya sendiri jika orang lain mungkin ia sudah menghajarnya habis-habisan. "Kau tidak tahu saja bagaimana perjuanganku dulu untuk mendapatkan ibumu." gumamnya, jauh dalam lubuk hatinya ia bersyukur karena Marco telah tiada, jika tidak putrinya itu pasti akan menjodohkan ibunya kembali dengan pria itu.


"Aku sangat menghormati tuan Marco karena dahulu kami berteman baik, tapi sebuah perasaan itu datangnya dari hati dan tidak bisa di paksa sayang. Seperti halnya kamu, jika suatu saat mama memintamu untuk menikah dengan pria yang tidak kamu cintai kamu pasti tidak mau kan? begitu juga dengan mommy dahulu sayang, tapi percayalah Mommy sedikit pun tak pernah membenci tuan Marco." terang Anne memberikan nasihat.


"Hm." Sofia mengangguk mengerti, ia sudah beranjak dewasa dan ia cukup mengerti hal itu namun untuk memaafkan ayah kandungnya saat ini rasanya masih sangat sulit.


Lalu gadis itu nampak mengedarkan pandangannya dan tak menemukan siapa pun di sana kecuali ibunya tersebut.


"Sayang, boleh Mommy bertanya sesuatu ?" ucap Anne kemudian.


"Apa kamu tahu sebelumnya jika tuan Marco bukan ayah kandungmu ?" tanya Anne ingin tahu.


"Hm, sebelum ayah meninggal dan mendaftarkan ku di universitas SG." sahut Sofia dan itu membuat James yang masih diam-diam mendengarkan nampak terkejut.


"Jadi kamu tahu siapa kami waktu itu ?" tanya Anne lagi.


Sofia nampak terdiam. "Ayah tidak sempat mengatakan semuanya, tapi setelah ayah tiada aku menemukan foto Mommy di bawah bantal milik ayah dan sejak saat itu aku berpikir jika wanita dalam foto itu adalah ibuku hanya saja aku tak mempunyai keberanian untuk mengatakannya padamu." terangnya kemudian dan itu membuat Anne nampak merasa bersalah.


Wanita itu bisa merasakan bagaimana perasaan gadis itu sebelumnya saat ketika beberapa kali mereka bertemu, begitu juga dengan James. Lagi-lagi pria itu merasa terpukul dengan pengakuan putrinya tersebut.


Jadi selama ini putrinya itu mengetahui jika ia adalah ayah kandungnya, seorang ayah yang tega menyakitinya setiap kali bertemu.


"Maafkan ayah, Nak. Maafkan ayah." lirih James yang nampak masih bersandar di balik dinding, tak terasa butiran kristal jatuh dari sudut matanya.


"Maafkan Mommy dan Daddy, sayang. Kami janji mulai sekarang akan membuatmu selalu bahagia dan takkan membiarkan mu merasakan penderitaan lagi." ucap Anne kemudian.


"Tapi aku belum bisa memaafkannya." timpal Sofia lirih, mengingat bagaimana ayah kandungnya itu telah menyakitinya sedemikian rupa selama ini.


"Daddy sangat sayang padamu, Nak. Tolong maafkan dia, selama ini Daddy mu berbuat seperti itu karena harus menjalankan tugasnya." bujuk Anne namun putrinya itu enggan menanggapi, mungkin gadis itu masih butuh waktu untuk memaafkan ayahnya tersebut.


"Apa kamu ingin bertemu dengan adikmu? Jessica pasti akan sangat senang saat melihatmu." ucap Anne mengalihkan pembicaraan agar putrinya tak kembali tertekan.


"Ku rasa dia akan terkejut dan pasti tidak akan menyangka jika aku adalah kakaknya." timpal Sofia yang nampak mulai bisa tersenyum.


"Dia gadis yang manja tapi mama yakin dia gadis yang baik." ujar Anne.


"Hm, aku ingin melihat reaksinya saat melihatku." ucap Sofia.


"Baiklah, mama akan pulang untuk menjemputnya." sahut Anne, namun wajah putrinya itu langsung berubah sendu.


"Ini rumah sakit milik ayahmu, Nak. Kamu akan aman berada di sini dan ada beberapa penjaga yang menjagamu di luar, jika perlu sesuatu kamu bisa memanggil mereka atau perawat." terang Anne dan itu membuat Sofia sedikit lega.


Setelah sang putri merasa lebih baik, Anne segera meninggalkan ruangannya tersebut dan kini tinggallah gadis itu seorang diri.


Sofia nampak masih tak percaya jika kini telah berkumpul dengan keluarganya lagi. "Ayah, kamu juga pasti bahagiakan melihatku saat ini? kamu akan tetap menjadi ayah terbaik bagiku." gumamnya seraya menatap langit-langit kamarnya dan bersamaan itu pintu ruangannya di ketuk dari luar dan tak berapa lama seseorang nampak masuk hingga membuat Sofia langsung menoleh.


"Ka-kau ?" lirihnya saat melihat Aril melangkah mendekatinya dengan membawa buket bunga di tangannya.