The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~57



"Kamu pikir pernikahan itu sebuah mainan? tidak, aku tidak mau menikah denganmu." tolak Sofia saat CEOnya itu tiba-tiba melamarnya, ia berharap pria itu hanya bercanda dengan ucapannya.


Lagipula siapa dirinya hingga tiba-tiba di lamar oleh putra pengusaha kaya raya di negeri ini, sungguh dunia sedang mempermainkannya saat ini.


Di lihat dari sisi manapun itu tak mungkin, ia dan pria itu bagai langit dan bumi. Keluarganya juga pasti tidak akan setuju, apalagi pria itu telah di jodohkan dengan gadis lain yang sederajat.


"Baiklah, mungkin kamu butuh waktu untuk berpikir dan akan ku berikan waktu sebanyak yang kamu inginkan tapi ingat aku hanya menerima jawaban ya bukan tidak." timpal Aril di tengah menikmati makan siangnya itu.


Sofia langsung meletakkan sendok di atas piringnya hingga meninggalkan bunyi dentingan sedikit keras di sana. "Kenapa kamu pemaksa sekali? lihatlah siapa aku !!" ucapnya dengan nada serius.


"Tentu saja, aku melihatmu." Aril menatap lekat gadis di hadapan itu.


"Lalu masalahnya di mana ?" imbuhnya lagi dan itu membuat Sofia nampak geram.


"Aku miskin dan yatim piatu, apa kamu yakin keluargamu mau menerimaku jika tahu keadaanku ?" ucapnya dengan tegas.


"Aku yang akan menikah bukan keluargaku dan aku yakin keputusanku tidak akan salah." sahut Aril seperti tanpa beban.


"Tapi...."


"Aku kaya dan bisa segalanya jadi kamu jangan khawatir hidup bersamaku." potong pria itu.


"Tapi kita tak sederajat, keluargamu pasti akan malu mendapatkan menantu miskin sepertiku." Sofia langsung merendah, bukankah itu memang kenyataannya.


"Sudah ku bilang aku kaya, jadi aku akan membuatmu menjadi kaya juga." tegas Aril yang mulai tak sabar menghadapi gadis keras kepala di hadapannya itu.


Sementara Sofia nampak diam tak membalas, gadis itu terlihat lelah dengan perdebatan ini. Ia hanya ingin hidup tenang, tidak bisakah pria itu tak mengganggunya dengan memberikan harapan-harapan indah yang berujung pada kehancuran.


Meskipun ia menyukainya tapi sebisa mungkin akan menyembunyikan rasa itu demi kebaikan semua orang.


"Aku hanya butuh kepastianmu, masalah keluargaku itu akan menjadi urusanku." ucapnya meyakinkan.


"Memang kepastian apa yang kamu inginkan? bukankah kamu tahu dari dulu aku membencimu dan sampai sekarang pun tetap sama." sahut Sofia.


Mendengar ucapan gadis itu Aril nampak menatapnya dengan lekat. "Lihatlah aku dan katakan jika kamu benar-benar membenciku !!" ucapnya kemudian.


"Tentu saja aku membencimu." sahut Sofia seraya mengalihkan pandangannya, sungguh ia tak tahan di tatap sedemikian dalam oleh pria itu.


"Jika berbicara dengan seseorang biasakan melihat wajahnya." Aril nampak gemas menatapnya, ia tahu gadis itu sedang menyembunyikan perasaannya.


"Tidak baik menatap tunangan orang lain." sahut Sofia beralibi.


"Aku dan Jessica sudah sepakat untuk menentang perjodohan ini jadi jangan khawatirkan hal itu." terang Aril.


"Lalu kamu akan memberitahukan hubungan kita pada orang tua kalian ?" tanya Sofia dengan nada mencibir.


"Tentu saja, ku harap Jessica juga sudah menemukan seseorang yang dia cintai meskipun aku kurang yakin. Dia masih terlalu kecil untuk melakukan itu dan aku harus benar-benar menyeleksi siapa pemuda itu." sahut Aril bernada posesif dan entah kenapa Sofia mendadak iri dengan perhatian pria itu pada Jessica.


"Sepertinya kamu sangat menyayanginya, kenapa kalian tidak berusaha untuk saling membuka hati saja ?" ucapnya kemudian.


"Apa kamu sedang cemburu, hm ?" Aril nampak menatap gemas gadis yang baru saja ia akui menjadi kekasihnya itu.


"Tidak." Sofia langsung menggeleng cepat.


"Tapi matamu mengatakan semuanya." ledek Aril.


"Aku sudah menganggap Jessy seperti adikku sendiri, kami besar dan bermain bersama jadi mana mungkin aku menyukainya." terang Aril meyakinkan.


"Lalu kenapa kamu menyukaiku? tak ada yang spesial dari diriku bahkan aku banyak kekurangannya." timpal Sofia merendahkan dirinya.


"Cinta tak butuh alasan, lagipula apa kamu lupa aku pria kaya jadi apapun yang kamu inginkan pasti akan ku berikan." sahut Aril dengan kesombongannya.


"Tidak, terima kasih banyak. Tapi aku masih mampu memenuhi kebutuhanku sendiri." tukas Sofia kemudian.


Meskipun ia miskin tapi pantang baginya meminta-minta, sedari kecil sang ayah telah mengajarinya untuk berdiri di kaki sendiri bagaimana pun keadaannya.


"Ayah, aku merindukanmu." gumamnya dalam hati.


Rasanya sudah lama sekali ia tak mengunjungi makam sang ayah dan sepertinya akhir pekan ini ia akan mengunjunginya.


"Bisakah kita kembali ke kantor sekarang." ucapnya kemudian, di saat mengingat sang ayah ia akan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Dengan begitu kesedihanya akan kerinduan pada pria itu sedikit berkurang.


Aril mendesah pelan, rupanya tak semudah bayangannya menaklukkan gadis di hadapannya itu. Jika gadis lain pasti akan menyukai semua kemewahan yang ia tawarkan tapi tidak dengannya dan itu yang membuatnya kagum.


"Baiklah kita kembali ke kantor." ucapnya lantas segera beranjak dari sana, masih banyak waktu untuk meluluhkan hatinya.


Sesampainya di kantornya Sofia kembali sibuk dengan pekerjaannya hingga sore hari, lalu saat hendak pulang tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya.


"Jika mau pulang Mike sudah menunggumu di bawah, hati-hati di jalan dan aku menunggu jawabanmu secepatnya. Aku akan sangat senang jika kamu mengatakan ya."


Sofia nampak menghela napasnya sejenak, setelah itu segera meninggalkan kubikelnya tersebut. Saat berada di lobby ia melihat Mike sudah bersandar di badan mobilnya, sepertinya pria itu sedang menunggunya atas perintah sang atasan.


Tak ingin menjadi bahan pembicaraan oleh seantero karyawan di kantornya, Sofia memilih menghindari pria itu kemudian berlalu menuju pintu belakang.


"Akhirnya." gumamnya setelah berhasil keluar dari area kantornya tersebut, kemudian Sofia menyusuri jalanan menuju stasiun yang berada tak jauh dari sana.


Namun tiba-tiba sebuah mobil memotong jalannya dan berhenti tepat di hadapannya, tak lama kemudian keluarlah seorang pria dengan pandangan datar dan tegas menatapnya.


"Rupanya peringatanku tak pernah kau hiraukan." ucap pria itu.


"Tu-tuan." Sofia nampak terkejut dengan kehadiran James yang tiba-tiba.


"Sebutkan berapa yang kau inginkan tapi segera jauhi tuan muda SG !!" tegas James kemudian.


"Aku tidak pernah mendekatinya dan aku tidak menginginkan apapun itu." terang Sofia menatap pria itu.


Entah kenapa James merasa ada yang aneh saat menatap gadis itu, gadis yang memiliki mata yang sama dengan sang istri dan seketika ia mengingat putri kecilnya yang hilang. Apa ini hanya sebuah kebetulan semata?


"Tapi dia menginginkanmu dan ku harap kamu cukup sadar diri jika Aril telah bertunangan. Jadi, pergilah sejauh mungkin dan aku akan membiayai seluruh kebutuhanmu !!" perintahnya kemudian.


"Terima kasih tuan atas tawarannya, tapi saya masih mampu membiayai hidup saya sendiri dan tanpa anda suruh pun saya akan pergi sejauh mungkin." tegas Sofia, lantas segera berlalu dari sana.


Dan tak terasa air matanya nampak mengalir deras sepanjang jalan, entah kenapa sudut hatinya terasa sakit sekali saat melihat pria itu menatapnya dengan penuh ketidaksukaan.


Keesokan harinya.....


"Apa? mengundurkan diri ?" Aril nampak mengepalkan tangannya saat Hannah memberikan surat pengunduran diri Sofia.