
"Aku tidak mau." tolak Sofia saat CEOnya itu menawarkan pekerjaan sebagai asisten pribadinya.
"Itu bukan sebuah penawaran tapi sudah menjadi keputusanku, kecuali kamu bisa membayar denda satu tahun gaji sesuai kontrak kerja itu." tegas Ariel kemudian, lantas beranjak dari duduknya dan berlalu menuju meja kerjanya.
"Kau !!" Sofia langsung mengejar pria itu dan....
Brukkk
Sofia tiba-tiba menabrak punggung Ariel saat pria itu berhenti mendadak.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar menjadi asisten pribadiku." ucapnya setelah berbalik badan, pria itu nampak tersenyum miring menatap gadis itu.
"Siapa bilang? aku tetap tidak mau." keukeh Sofia seraya melangkah mundur, bisa-bisanya ia menabrak punggung kekar pria itu hingga membuat dahinya kesakitan.
"Baiklah, kalau begitu kau bisa membayar dendanya dan setelah itu silakan pergi dari sini." ucap Ariel tanpa perasaan yang kini telah duduk di kursi kerjanya.
"Apa kau ingin memerasku? aku mana punya uang sebanyak itu." protes Sofia lagi bahkan untuk membayar uang sewa rumahnya pun ia belum mampu dan kemungkinan minggu ini ia akan di usir oleh sang pemilik rumah.
"Astaga, kenapa hidupku sesial ini ?" imbuhnya dalam hati, ingin sekali ia menyerah menjalani semuanya. Tapi bukankah hidup akan tetap berjalan meski apapun keadaannya.
"Gaji personal asisten sebesar sepuluh kali lipat dari gajimu sekarang, jika kau ingin tahu." ucap Ariel seraya menatap layar monitornya tersebut yang sontak membuat Sofia melebarkan matanya dan Ariel yang diam-diam meliriknya nampak mengangkat sudut bibirnya.
Ia tahu gadis itu sedang membutuhkan uang saat ini untuk membayar sewa rumahnya.
"Se-sepuluh kali lipat ?" ulang Sofia tak percaya, sebuah nilai yang sangat besar menurutnya dan mungkin sebelumnya ia belum pernah memilki uang sebanyak itu.
"Tunggu...." Sofia langsung menatap curiga pria itu, sebenarnya pekerjaan apa yang akan di berikan padanya hingga ia akan mendapatkan gaji sebesar itu.
"Asisten pribadi? itu berarti menemani dia kemana pun termasuk teman tidurnya juga? Tidak-tidak, aku tidak akan pernah menjual kehormatanku apalagi pada pria macam dia." Sofia langsung menggelengkan kepalanya, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada setelah berspekulasi dengan pikirannya sendiri dan itu tak luput dari pengawasan Aril.
"Jangan berpikiran macam-macam, kamu bukan tipeku. Kamu cukup membantu menyiapkan keperluan pribadiku saja." ucap Aril kemudian dan itu membuat Sofia langsung menelan ludahnya, apa pria itu bisa membaca isi pikirannya?
Namun gadis itu juga merasa lega, karena ia bukan termasuk tipe pria itu. Tapi ia harus tetap waspada karena pria itu pernah mencuri ciuman pertamanya dan bisa saja di kemudian hari dia akan mencuri yang lainnya.
"Dan membangunkanku saat pagi hari." imbuh Ariel lagi yang langsung membuat Sofia melotot menatapnya.
"Mem-membangunkanmu ?" ulangnya untuk memastikan jika pendengarannya tidak bermasalah.
"Tentu saja, selama ini Mike yang selalu membangunkanku. Hanya saja dia tidak bisa membuat sarapan yang enak hingga membuatku sering melewatkan sarapan pagi dan itu membuat kesehatanku akhir-akhir ini terganggu." terang Aril kemudian.
"Benarkah? astaga, kamu tidak boleh melewatkan sarapan pagimu." timpal Sofia dengan nada perhatian dan itu membuat Aril nampak menahan senyumnya.
"Lagipula bukankah kamu masih mempunyai seorang ibu, kenapa tidak memintanya untuk membuatkanmu sarapan ?" imbuhnya kemudian.
"Aku tinggal sendiri di Apartemen." sahut Aril yang langsung membuat Sofia mengangguk kecil, namun tiba-tiba gadis itu memindai pria itu.
"Apa dia sengaja tinggal sendiri agar bisa bebas membawa seorang wanita ke Apartemennya? ah tidak, itu bukan urusanku." gumamnya kemudian.
"Kenapa kau menatapku seperti itu ?" ucap Ariel saat gadis itu menatapnya dengan pandangan menyelidik.
"Tidak ada, baiklah aku setuju menjadi asistenmu tapi dengan satu syarat." sahut Sofia dan sontak membuat seorang Ariel kembali mengangkat sudut bibirnya namun saat menyadarinya pria itu langsung berdehem kecil.
"Katakan !!" ucapnya kemudian.
"Jadi kau menyetujui syarat yang akan ku ajukan ?" ucap Sofia memastikan.
"Tentu saja karena aku pasti akan terkejut jika kamu tak memberikan sebuah syarat." sahut Ariel menanggapinya.
"Sudah ku bilang kamu bukan tipeku." sela Aril.
"Aku hanya bersikap waspada saja karena dulu kamu pernah melakukannya." terang Sofia.
"Waktu itu aku hanya sedikit minum." sela Aril beralasan.
"Sama saja, jadi tulis syarat yang ku berikan baru aku akan menandatanganinya." ucap Sofia seraya meletakkan dokumen tersebut ke hadapan pria itu.
"Tentu saja." Aril langsung mengambilnya lalu segera menulis persyaratan yang di inginkan oleh gadis itu.
Setelah memastikan tidak ada yang memberatkannya, Sofia segera menandatanganinya dan kini gadis itu telah resmi menjadi asisten pribadi pria itu.
"Baiklah, bawa salinan dokumen itu. Kamu bisa mempelajarinya dan besok pagi kamu sudah harus mulai bekerja !!" perintah Aril kemudian.
"Hm, tentu saja." Sofia segera mengambil salinan dokumen tersebut lantas segera meninggalkan ruangan CEOnya itu, namun baru beberapa langkah pria itu kembali memanggilnya.
"Sofia, aku sudah mentransfer kekurangan gajimu bulan ini." ucap pria itu yang sontak membuat Sofia berbalik badan.
"Da-darimana kamu mengetahui nomor rekeningku ?" tanyanya, karena setahunya ia belum memberikan nomor rekeningnya pada kantornya tersebut.
"Itu perkara mudah." timpal Aril dengan entengnya yang tentu saja membuat Sofia langsung memicing.
"Jadi kau telah memata-mataiku ?" protesnya tak terima.
"Bukankah itu sudah sewajarnya? karena aku tidak ingin memilki personal asisten dengan riwayat seorang kriminal." tegas Aril dengan alasan yang menurutnya sangat logis.
Sofia nampak menghela napasnya sejenak, kemudian ia melihat ponselnya saat mendengar pesan masuk dan matanya langsung terbelalak ketika melihat nominal uang yang tertera di layar monitornya tersebut.
"I-ini melebihi gajiku." ucapnya kemudian.
"Itu separuh gajimu ku bayar di muka, pergilah berbelanja untuk membeli keperluanmu. Aku tidak ingin memiliki personal asisten yang tak mampu mengimbangi penampilanku !!" perintah Aril kemudian.
"Kau !!" Sofia langsung bersungut-sungut, apa penampilannya selama ini kurang bagus? Namun saat melihat dirinya sendiri ia baru menyadari jika ia hanya seorang gadis yang berpenampilan sangat sederhana.
"Baiklah." ucapnya lantas segera meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah pintu ruangannya di tutup rapat, Aril langsung tersenyum puas namun saat menyadarinya lagi-lagi pria itu berdehem lantas kembali bersikap serius menghadap layar komputernya tersebut.
Entah ada apa dengan dirinya akhir-akhir ini, pria itu pun tak mengerti.
"Sofia, apa yang kamu lakukan di sini ?" ucap Daniel tiba-tiba saat melihat Sofia nampak bingung melihat beberapa toko di sebuah mall, gadis itu memang jarang sekali pergi berbelanja karena untuk makan pun ia masih kekurangan.
"Daniel ?" tukas Sofia sedikit terkejut melihat pria itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Sofia ?" tanya Daniel kemudian.
"Ceritanya panjang, jika kamu ingin tahu." sahut Sofia.
"Tentu saja aku ingin tahu Sofia, baiklah kamu bisa bercerita sambil kita menikmati kopi di sana." Daniel langsung menarik pergelangan tangan gadis itu lantas membawanya menuju sebuah cafe yang ada di mall tersebut.
"Tapi Dan...."
"Aku yang akan mentraktirkmu, Sofia." potong Daniel yang terus saja menggandeng gadis itu dan tanpa mereka sadari nampak beberapa pria berjas sedang mengawasinya dari kejauhan.