
"Sofia, kemarilah ada pesan Adams untukmu !!" teriak sang bibi saat Sofia sedang berada di kamarnya.
"Sofia !!" teriak Bibi lagi dengan kencang saat gadis itu tak kunjung datang.
"Iya Bi aku datang." Sofia yang sepertinya baru selesai membersihkan dirinya nampak berjalan terburu-buru, ia baru saja membantu wanita itu membersihkan rumahnya yang teramat sangat kotor.
Sejak kematian suami dan anaknya wanita itu tak pernah mengurus rumahnya dan membiarkannya berantakan begitu saja hingga membuat Sofia selalu ketakutan setiap hendak tidur karena banyaknya tikus yang berkeliaran di sana.
"Ada apa bibi memanggilku ?" ucapnya lagi.
"Ada pesan dari Adams untukmu, apa kamu tidak membawa ponsel ?" tanya wanita itu dan Sofia langsung menggeleng.
Ia telah menjual ponselnya sebelum datang kesini hingga kini tak memiliki barang apapun yang berharga.
"Adams mengatakan belum bisa datang kesini karena pergerakannya sedang di awasi." terang sang bibi dan sontak membuat Sofia nampak terkejut.
"Di awasi ?" gumamnya, apa mantan CEOnya itu yang mengawasinya. Semoga pria itu tidak dalam bahaya mengingat bagaimana usahanya dalam melindunginya bahkan sampai rela mempertaruhkan hubungan pertemanannya.
"Apa kamu melakukan sebuah kejahatan hingga bersembunyi di sini ?" ucap Bibi menyelidik.
Sofia kembali menggeleng. "Itu tidak benar Bi." sahutnya meyakinkan.
"Semoga saja ucapanmu bisa di percaya, aku tidak mau kamu memanfaatkan kebaikan Adams dan berujung mencelakainya. Jika itu sampai terjadi maka aku akan mengusirmu dari sini, mengerti !!" tegas Bibi dan itu membuat Sofia langsung mengangguk kecil.
"Itu tidak akan terjadi, Bi." ucapnya kemudian.
"Oh ya apa tanganmu sudah sembuh? masih banyak rumput yang belum di cabut, bukankah kita harus secepatnya menanam sebelum musim dingin tiba? jika tidak kita akan mati kelaparan." ucap wanita itu lagi, entah kenapa Sofia merasa makin hari wanita itu makin tak menyukainya.
"Aku akan segera mencabutnya Bi." ucapnya kemudian, lantas segera berlalu menuju pekarangan rumahnya itu tak peduli terik matahari terasa menyengat.
Perutnya juga rasanya sangat perih, karena sedari tadi ia hanya minum air putih. Sebenarnya ia ingin sekali kembali ke kota namun ia bingung harus tinggal di mana karena biaya sewa rumah lumayan mahal.
Mencari pekerjaan pun cukup sulit dengan pendidikannya yang rendah. "Semoga aku kuat, ayah." ucapnya lantas segera memakai sarung tangan untuk menutupi perban di tangannya dan mulai mencabut rumput yang masih tersisa setengah halaman itu.
Sementara itu di tempat lain, James nampak berada di kantornya. Semalam pria itu tidak pulang karena tak ingin sang istri melihat keadaannya yang sedang kacau.
"Sayang, kau baik-baik saja ?" ucap Anne saat baru masuk ke dalam ruangan suaminya itu, dahinya sedikit mengernyit saat melihat penampilan pria itu yang sangat berantakan.
Kemejanya masih sama seperti yang di pakainya kemarin, rambutnya nampak acak-acakan dan tercium bau alkohol yang menyengat dari tubuhnya.
"Kamu mabuk ?" tanyanya dengan wajah tak percaya.
"Tidak, aku hanya sedikit minum." sahut James yang nampak salah tingkah, ia tak menyangka istrinya itu akan datang ke kantornya.
Padahal semalam ia beralasan sedang banyak pekerjaan pada wanita itu hingga tak bisa pulang mengingat jarak kantor dan rumahnya lumayan jauh.
"Sayang katakan apa yang terjadi, tak biasanya kamu seperti ini? apa semalam kamu minum dengan seseorang ?" Anne yang tak menyangka suaminya kembali mengkonsumsi alkohol setelah bertahun-tahun berhenti nampak memicing pada pria itu lantas segera memeriksa setiap sudut ruangan yang ada di sana.
"Kamu tidak mungkin tiba-tiba mabuk jika tak ada yang menemanimu, katakan siapa dia? apa pria itu juga membawa seorang wanita ke dalam ruangan ini ?" cecar Anne lagi, meskipun suaminya sudah berumur namun masih banyak sekali wanita-wanita di luar sana yang berusaha menggodanya.
"Sayang, hentikan. Aku tidak mungkin melakukan itu." James langsung menarik tangan istrinya itu hingga kini mereka nampak saling berhadapan.
"Semalam aku minum sendiri di sini, kamu bisa mengecek CCTV jika tak percaya dan ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu." terangnya kemudian.
"Apa ?" timpal Anne yang sepertinya masih kesal dengan pria itu.
"Duduklah dahulu !!" James segera membawa istrinya itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya tersebut.
"Apa sangat penting? apa ini ada hubungannya dengan kamu banyak minum semalam ?" Anne tiba-tiba menatap curiga suaminya itu, karena tak biasanya pria itu mabuk meski ada masalah pekerjaan yang berat sekalipun.
Suaminya telah berjanji akan selalu hidup sehat dan menjaga kebugaran tubuhnya agar bisa menemaninya hingga tua nanti.
"Katakan hal penting apa yang membuatmu tidak pulang semalam dan berakhir seperti ini, kamu sedang tidak menghamili seorang wanita dan dia mintamu bertanggung jawabkan ?" tuding Anne yang tak sabar melihat suaminya itu membuka bibirnya, karena pria itu nampak berpikir keras sebelum berbicara dan itu yang membuatnya curiga.
"Astaga sayang, aku mana mungkin melakukan itu." James terlihat kesal saat di tuding macam-macam oleh istrinya itu.
"Lalu apa ?" Anne sedikit memelankan suaranya, wajahnya nampak lega saat pria itu tak melakukan hal yang ia tuduhkan. Ini pasti gara-gara ia sering menonton drama hingga kecurigaannya terbawa sampai kehidupan nyata.
"Bukalah !!" Marco nampak memberikan wanita itu sebuah album milik Sofia putrinya.
"Ini apa ?" ucapnya lalu segera membukanya.
"Jeslin ?" ucapnya lagi dengan wajah terkejut saat melihat foto-foto putrinya bernama Marco.
"Ja-jadi benar putri kita di bawa oleh Marco ?" imbuhnya lagi setelah membuka halaman demi halaman album foto tersebut.
Dari putrinya kecil sampai tumbuh remaja nampak tersusun rapi di sana dan tiba-tiba pandangan Anne melebar saat melihat halaman terakhir di mana nampak foto seorang gadis bersama Marco.
"Gadis ini ?" ucapnya lalu kembali membuka halaman lain untuk mencocokkan kemiripan wajahnya.
"Ja-jadi dia putri kita sayang? dia Jeslin. Gadis yang beberapa kali kita ketemu itu adalah putri kita ?" ucapnya dan seketika ia mengingat bagaimana perlakuan sang sahabat yang telah menyakiti putrinya itu.
"Tidak, bagaimana mungkin aku tak mengenalinya. Margaret telah begitu banyak menyakitinya dan aku hanya diam saja saat itu. Jeslin sayangku maafkan mama, Nak." Anne nampak menyalahkan dirinya sendiri, terlihat air matanya mulai mengalir deras membasahi pipinya.
"Sayang di mana gadis itu saat ini? tolong bawa dia padaku." mohon Anne kemudian.
"Tentu saja, tentu saja aku akan membawakannya untukmu sayang. Maafkan aku yang tak bisa melindunginya." sahut James sembari memeluk istrinya itu dan lagi-lagi tanpa mereka sadari Jessica nampak berdiri di ambang pintu.
Gadis itu yang sebelumnya di minta sang ayah untuk mulai membantunya di perusahaan nampak datang namun justru pemandangan lain yang ia dapatkan.
Harusnya ia senang karena saudaranya itu telah di temukan dan perjodohannya dengan Aril akan batal, namun ia tiba-tiba sedih. Bagaimana jika mereka akan lebih menyayangi kakak perempuannya itu daripada dirinya dan itu membuat air matanya mulai memenuhi pelupuknya.
Tak ingin kedua orang tuanya melihatnya, ia kembali menutup pintu dan segera berlalu pergi dari sana.