The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~42



"Jadi kamu masih seorang mahasiswa ?" Hannah nampak terkejut saat mendengar cerita Sofia perihal pendidikannya, ia tak habis pikir entah kenapa Aril merekut seorang karyawan yang bahkan statusnya masih seorang mahasiswa dan belum memiliki pengalaman sama sekali.


"Hm, tapi aku akan berusaha bekerja dengan baik Hannah." timpal Sofia dengan semangatnya yang selalu menggebu-gebu dan itu membuat Hannah nampak mengulas senyumnya.


"Tentu saja, karena tuan Aril tidak menyukai sebuah kesalahan." ucapnya mengingatkan, lantas wanita itu menatap gadis cantik di sebelahnya tersebut.


Semoga saja gadis polos itu dan atasannya tersebut tak memiliki hubungan spesial selain hanya rekan kerja.


"Sofia, aku boleh bertanya sesuatu ?" tanyanya kemudian.


"Hm, tentu saja." sahut Sofia yang langsung mengalihkan pandangannya dari layar monitornya, di hari pertamanya bekerja sudah cukup banyak pekerjaan yang di berikan oleh CEOnya itu.


Beruntung ia seorang mahasiswa yang berprestasi di kampusnya hingga membuatnya mudah mengerti saat Hannah mengajarinya.


"Apa kamu tahu, jika tuan Aril sudah memilki tunangan ?" tanya Hannah ingin tahu, ia berharap gadis itu tak menaruh hati pada sang atasan.


"Hm, aku tahu." Sofia langsung mengangguk kecil.


"Kamu jangan khawatir Hannah, seandainya di dunia ini hanya ada tuan Aril saja aku lebih baik memilih untuk menjomblo seumur hidup." terang Sofia, ia sangat paham sekali apa yang sedang di khawatirkan oleh wanita itu dan sontak membuat Hannah langsung terkekeh.


"Lebih baik seperti itu Sofia, kita hanya orang biasa bahkan untuk bermimpi mendapatkan pasangan orang kaya sekali pun itu tidak mungkin." timpal Hannah dan bersamaan itu nampak seseorang berdehem hingga membuat keduanya langsung menoleh.


Sepertinya mereka terlalu asyik bercengkerama hingga tak menyadari kini Aril sudah berada di hadapan kubikelnya.


"Tu-tuan Aril." Hannah langsung beranjak dari duduknya.


"Apa semua berkas yang ku minta sudah kamu siapkan ?" tanya Aril menatap ke arah Sofia.


"Sudah." sahut Sofia.


"Baiklah, bersiaplah sebentar lagi kita berangkat meeting !!" perintah Aril kemudian.


"Apa aku ikut juga ?" tanya Sofia namun langsung mendapatkan tatapan tajam dari pria itu hingga membuat gadis itu langsung meralat ucapannya.


"Maksud saya apa saya harus ikut juga, tuan ?" ucapnya mengulangi perkataannya kembali, sepertinya mulai hari ini ia harus membiasakan diri untuk memanggil pria itu dengan sebutan 'tuan' karena seharusnya memang seperti itu sejak awal.


"Tentu saja, kamu asisten saya jika lupa." timpal Aril lantas segera berlalu dari sana.


Sofia yang di tinggal begitu saja, segera meraih tumpukan berkas yang telah ia siapkan sebelumnya kemudian ia bergegas mengejarnya.


"Semangat, Sofia." ucap Hannah saat gadis itu berlalu pergi yang langsung membuat Sofia mengangkat ibu jarinya jika ia baik-baik saja.


Sesampainya di lobby perusahaannya nampak Mike sudah menunggu mereka. "Selamat siang tuan." sapanya seraya membuka pintu mobil untuk Aril.


"Hm." Aril hanya mengangguk kecil lantas segera masuk ke dalam mobilnya.


Begitu juga dengan Sofia yang juga bergegas membuka pintu depan lantas segera masuk.


"Hai tuan Mike." sapa Sofia setelah Mike mulai mengemudikan mobilnya.


"Ya, nona Sofia." sahut Mike membalas sapaan gadis yang sedang duduk di sebelahnya itu.


Setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara mereka, karena Sofia pun menyadari jika CEOnya itu tak menyukai suara berisik apalagi itu suaranya.


Beberapa saat kemudian mobil mereka berhenti di sebuah cafe dan Aril segera berlalu keluar dari mobilnya.


"Tunggulah di sini biar aku dan Mike yang akan masuk." ucap Aril, lantas segera meninggalkan Sofia di dalam mobilnya tanpa alasan yang jelas.


"Hai bro ?" sapa seorang pria saat Aril baru masuk ke dalam Cafe tersebut.


"George, bagaimana kabarmu ?" balas Aril saat melihat sahabat lamanya tersebut, mereka nampak berpelukan sejenak setelah sekian lama tak berjumpa.


"Seperti yang kau lihat, lalu bagaimana kabarmu ?" balas pria itu sembari mereka kembali duduk di kursinya.


"Seperti biasa mengurus pekerjaan yang tak ada habisnya." timpal Aril kemudian.


"Oh ya Ar, ini beberapa klien bisnis yang ku ceritakan padamu sebelumnya." George langsung mengenalkan dua pria yang bersamanya sejak tadi.


Selanjutnya mereka nampak asyik membahas bisnis yang rencananya akan mereka kerjakan bersama-sama hingga tak terasa satu jam pun berlalu dan sepertinya Aril pun telah melupakan keberadaan Sofia yang masih menunggunya di dalam mobilnya.


"Jika memang aku tak boleh ikut meeting lalu untuk apa aku di ajak kesini ?" gerutu Sofia setelah satu jam lebih menunggu CEOnya itu.


Karena mulai bosan, gadis itu nampak keluar dari dalam mobilnya lantas berjalan-jalan di sekitar sana. Namun....


Brukkk


Tiba-tiba seseorang menabraknya hingga membuat Sofia hampir jatuh tapi sebuah lengan kekar langsung meraih pinggangnya.


"Maaf aku sedang terburu-buru, apa kamu baik-baik saja ?" ucap seorang pria setelah membantu Sofia yang hampir jatuh karena tak sengaja ia tabrak.


Sofia segera menjauhkan tubuhnya. "Hm, lain kali berhati-hatilah jalanan ini bukan milikmu saja." ucapnya mengingatkan.


"Baiklah, oh ya perkenalkan aku Jose Smith. Kebetulan aku baru datang dari Jerman dan aku tidak menyangka tempat ini sudah sangat ramai padahal baru beberapa tahun ku tinggal." ucap pria bernama Jose itu seraya mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.


Sofia nampak menatap sejenak pemuda di hadapannya tersebut, pemuda yang sepertinya seumuran dengannya itu memilki nama belakang yang sama dengan CEOnya tersebut.


Namun ia kembali meyakinkan dirinya jika di dunia ini banyak sekali yang mempunyai nama sama dan mungkin nama belakang mereka hanya kebetulan saja. Lagipula pemuda di hadapannya ini terlihat lebih ramah, bukan seperti CEOnya yang dingin dan menyebalkan itu.


"Sofia." ucapnya membalas uluran tangan pemuda itu.


"Nama yang cantik, secantik dirimu." puji Jose kemudian.


"Sepertinya kau perayu ulung." cibir Sofia kemudian.


"Benarkah? tapi tanpa merayu pun beberapa gadis sudah berusaha menggodaku." balas Jose menyombongkan dirinya.


"Dan lihatlah mereka, aku tidak berbohongkan ?" imbuhnya lagi seraya menunjuk ke arah beberapa gadis yang sedang mencuri-curi pandang padanya.


Sofia nampak geleng-geleng kepala, sepertinya pemuda asing di hadapannya itu adalah seorang playboy.


"Aku mempunyai sesuatu buatmu." Jose nampak mengambil sesuatu dari dalam sweaternya, sebuah permen lolipop dan langsung pemuda itu berikan pada gadis itu.


"Aku membawanya dari Jerman, ambillah sebagai tanda pertemanan kita." ucapnya kemudian.


"Aku belum mengatakan setuju untuk berteman denganmu." balas Sofia yang enggan mengambil permen di tangan pemuda itu meskipun lolipop adalah permen kesukaannya.


"Aku memaksa dan entah kenapa aku merasa kamu gadis yang baik." Jose langsung menarik pergelangan tangan Sofia lantas meletakkan lolipop tersebut di atas telapak tangannya.


"Tapi aku merasa kamu bukan orang baik." timpal Sofia kemudian.


"Apa wajahku terlihat seperti kriminal ?" Jose langsung menatap Sofia dengan serius dan entah kenapa gadis itu tiba-tiba saja ingin tertawa.


"Aku bercanda." ucapnya menanggapi, tak apalah ia menerima pemuda asing itu sebagai temannya. Selain mereka yang seumuran, Sofia juga sedang butuh teman bicara sembari menunggu bosnya yang tak berperasaan itu.


Karena bisa-bisanya ia di tinggal hampir dua jam lamanya dan hingga kini pria itu pun tak kunjung terlihat batang hidungnya.


Sementara itu Aril yang baru selesai dengan meetingnya, nampak bersiap-siap untuk pergi dari sana.


"Ar, ada salam dari Helena." ucap George yang sontak membuat Aril yang hendak pergi langsung menatap ke arahnya.