
"Katakan siapa sebenarnya gadis itu, Ar ?" ulang William saat putranya itu tak kunjung mengatakan apapun perihal Sofia.
"Sudah ku bilang dia asistenku Pa dan bukankah itu aku harus membelanya ?" sahut Aril, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika Sofia adalah anak angkat musuh lama ayahnya itu karena pria itu pasti akan semakin membencinya.
"Dia hanya seorang asisten tak seharusnya kamu bersikap seperti itu Ar, ingat kamu sudah memiliki calon istri dan aku tidak mau kamu menyakiti perasaannya." tegas William.
"Aku tahu Pa." sahut Aril yang enggan memperpanjangnya lagi.
"Bukankah kalian ada meeting penting sekarang ?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja, akhir-akhir ini sepertinya ada yang sengaja ingin bermain-main dengan perusahaan kita. Waspadalah Ar, berpikirlah sebelum melakukan tindakan apapun itu. Dalam dunia bisnis kita takkan tahu siapa kawan dan siapa lawan." ucap William menasihati.
"Semoga semua ini bukan Marco lagi dalangnya, beberapa tahun ini hidupku cukup tenang setelah dia tak lagi muncul dan mengganggu bisnis kita." imbuhnya lagi seraya beranjak dari ruangan putranya tersebut.
"Tentu saja, bisnis gelapnya benar-benar sudah hancur." timpal James yang nampak berjalan beriringan dengan pria itu.
"Tunggu Pa !!" ucap Aril hingga menghentikan langkah ayahnya beserta calon ayah mertuanya itu.
"Apa ada masalah lagi ?" tanya William seraya menaikkan sebelah alisnya menatap putranya itu.
"Apa yang kalian maksud pria itu adalah tuan Marco Anderson ?" tanya Aril ingin tahu lebih jauh perihal ayah angkat Sofia itu.
"Tentu saja, bukankah sebelumnya Papa pernah bercerita padamu ?" sahut William.
"Aku mendengar kabar jika beliau telah meninggal." sahut Aril kemudian yang sontak membuat William dan James nampak saling bertatapan.
"Darimana kamu mendengar berita itu Ar, katakan pada Papa ?" ucap William yang sepertinya belum percaya.
"Aku mencari tahu semua rival bisnis Papa terdahulu untuk mempelajari sepak terjang mereka, bukankah Papa menyuruhku untuk waspada ?" sahut Aril sedikit berdusta.
"Dan kau mendapatkan keberadaannya ?" tanya William penasaran.
"Hm, dia seorang pria renta yang sakit-sakitan dan pada akhirnya meninggal dunia karena tak memiliki biaya untuk berobat." sahut Aril lantas menunjukkan sebuah makam di mana tertera nama Marco di sana.
"Kamu tahu di mana dia dulu tingga,l Ar ?" kali ini James ikut menimpali.
"Hanya sebuah rumah sewaan kecil di pinggiran kota, paman." sahut Aril.
"Sendirian ?" tanya James lagi.
"Tentu saja, paman." sahut Aril lagi-lagi berdusta, ia tak ingin mereka tahu jika Sofia adalah anak angkat pria itu jika tidak maka gadis itu akan semakin di bencinya.
"Akhirnya dia telah mendapatkan karma atas perbuatannya." timpal William kemudian.
Sedangkan James nampak diam terpaku, padahal ia berharap jika Marco masih hidup dan pria itulah yang telah menculik putrinya hingga ia memiliki secercah harapan untuk menemukannya.
"Baiklah, semua sudah berlalu. Ayo James sepertinya kita terlambat meeting." ucap William lantas segera mengajak James untuk segera meninggalkan ruangan putranya tersebut.
Setelah kepergian mereka Aril kembali menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursi kerjanya, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi lantas memejamkan matanya.
"Di mana kamu, Sofia ?" gumamnya.
Beberapa hari kemudian tak terasa sudah satu minggu Sofia berada di perkebunan milik wanita tua bibi dari Adams itu.
"Adams kamu datang kemari ?" ucapnya saat melihat sebuah mobil berhenti di depan pekarangan rumah yang ia tumpangi itu dan nampak seorang pria keluar dari mobilnya dengan menenteng beberapa plastik belanjaan di tangannya.
"Aku membawakanmu beberapa makanan." ucap pria itu seraya menyerahkan barang bawaannya itu.
"Kamu tidak perlu repot-repot, di sini sudah banyak makanan dan kamu lihat aku dan bibi sedang menanam kentang dan beberapa sayuran." sahut Sofia seraya menunjukkan hamparan ladang di hadapannya itu yang sebagian sudah ia tanami dan sebagiannya baru ia cabut rumputnya.
"Kekasihmu itu sangat rajin, kau harus bersyukur memilikinya." sang bibi yang baru datang tiba-tiba ikut menimpali.
"Kami hanya berteman, Bi." Sofia langsung menyangkalnya, sungguh ia tak enak hati dengan pria yang sedang berdiri di sampingnya itu.
"Kalau begitu jadilah kekasihnya, kalian sangat serasi." timpal bibi lagi dan itu membuat Adams nampak salah tingkah.
"Aku membawa banyak buah untukmu Bi, ayo bukalah !!" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Kemudian mereka segera masuk ke dalam rumah tersebut dan membuka barang-barang yang di bawah oleh pria itu, saat memperhatikan Sofia membongkar belanjaannya tiba-tiba Adams tak sengaja melihat kedua tangan gadis itu yang nampak memerah.
Lalu tanpa berpikir panjang pria itu langsung menarik tangannya lalu melihatnya. "Astaga Sofia, tanganmu kenapa ?" tanyanya saat melihat tangan Sofia yang nampak melepuh.
"Aku baik-baik saja, Dams." Sofia segera menarik tangannya kembali, sungguh ia tak ingin melihat pria itu mengkhawatirkannya dan pada akhirnya ia akan menjadi bebannya.
"Baik-baik saja bagaimana? itu luka yang sangat parah Sof." Adams kembali menarik tangan gadis itu lalu memeriksanya.
"Aku akan membawamu ke kota untuk berobat." ucapnya kemudian.
"Tidak perlu Dams, aku baik-baik saja." tolak Sofia.
"Jika di biarkan itu akan infeksi Sofia, tolong kali ini dengarkan aku." tegas Adams dan itu langsung membuat Sofia terdiam.
Setelahnya pria itu segera membawa Sofia pergi ke kota, jarak kota dan pedesaan yang hanya memakan waktu satu jam membuat mereka cepat sampai dan Adams segera mengecek tangan gadis itu ke sebuah rumah sakit yang ada di sana.
"Bisakah kita tidak ke rumah sakit ini ?" ucap Sofia saat mobil Adams berhenti di sebuah rumah sakit milik James Collins, pria kejam yang membuat hidupnya tak tenang.
"Ayahku dokter di sini Sofia dan aku lebih mempercayainya untuk memeriksamu, kamu jangan khawatir tuan James hampir tak pernah datang kesini." terang Adams yang rupanya bukan pria sembarangan pikir Sofia.
"Baiklah." Akhirnya Sofia menyetujui.
Kemudian mereka segera masuk ke sebuah ruangan kepala rumah sakit dan nampak seorang pria paruh baya menyambut kedatangannya. "Hai Nak, apa dia gadis yang kamu ceritakan waktu itu ?" ucapnya menatap putranya dan Sofia bergantian.
Sofia yang masih tertegun dengan jabatan pria itu nampak diam terpaku, rupanya ayahnya Adams kepala rumah sakit di sana dan pasti mengenal baik sang pemiliknya pikir Sofia.
"Iya pa, tolong periksa lukanya sepertinya sangat parah. Aku tidak menyangka bibi menyuruhnya untuk bekerja di ladangnya." terang Adams.
"Bibi tidak bersalah, aku yang mau sendiri." sela Sofia dan itu membuat sang dokter nampak mengulas senyumnya.
"Sepertinya kamu terlalu bekerja keras, lukamu harus di perban jika tidak akan infeksi nanti." ucap dokter itu lantas segera mengobati kedua telapak tangan Sofia.
"Apa adikku itu baik padamu ?" ucap dokter itu kemudian.
"Hm, sangat baik." sahut Sofia.
"Dia wanita yang sangat keras kepala syukurlah jika kalian cocok." timpal sang dokter.
Setelah berbincang beberapa saat Adams dan Sofia segera meninggalkan ruangan itu. "Aku tidak menyangka jika ayahmu kepala rumah sakit di sini." ucap Sofia sembari melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit tersebut.
"Hm, begitulah." sahut Adams dan tiba-tiba langkah Sofia terhenti saat melihat seorang pria sedang berjalan ke arahnya.
Deg!!
"CEO ?" ucapnya dan bersamaan itu Aril juga nampak menatapnya.
"Sofia ?" ucapnya tak percaya saat melihat gadis yang beberapa hari ini ia cari kini kembali muncul di hadapannya.