
Pagi itu Ariel nampak datang ke kantor cabangnya karena harus menghadiri meeting tahunan dengan para petinggi perusahaannya.
"Selamat pagi tuan CEO." sapa sang direktur saat pria itu baru turun dari mobilnya.
"Selamat pagi." timpal Ariel lalu beralih menatap para karyawan yang sedang menyambut kedatangannya.
"Mereka sangat antusias ingin mendengarkan pidato akhir tahun anda, tuan." timpal sang direktur yang menjadi kepercayaan Aril Selama ini untuk menggantikannya memimpin perusahaan tersebut.
"Hm." Ariel nampak mengangguk kecil.
"Astaga CEO kita benar-benar tampan ya." ucap Lucy saat mengintip dari balik pilar bersama teman-temannya.
"Beruntung sekali yang menjadi pasangannya." timpal yang lain menanggapi.
"Tentu saja gadis itu nona Jessica, mereka sama-sama berasal dari keluarga kaya raya." ucap Lucy, lalu gadis itu mengedarkan pandangannya mencari sosok Sofia yang belum ia lihat sejak tadi.
Sofia memang benar-benar aneh, di saat semua karyawan wanita mengagumi CEOnya sahabatnya itu justru tak begitu peduli.
"Terima kasih atas sambutannya dan terima kasih juga atas kerja keras kalian selama ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya perusahaan akan selalu memberikan reward bagi karyawan yang berprestasi." ucap Ariel dan langsung mendapatkan tepuk tangan meriah dari para karyawannya.
Saat semua sudah kembali tenang namun sebuah tepuk tangan masih terdengar nyaring hingga membuat semua karyawan langsung menoleh ke sumber suara.
"Apa yang sedang gadis itu lakukan ?" ucap nona Brigitta dengan geram saat melihat Sofia nampak melangkah menuju podium sembari bertepuk tangan.
"Anda sangat hebat sekali tuan CEO hingga semua karyawan sangat mengagumimu." ucap Sofia dengan lantang hingga membuat semua mata tertuju padanya termasuk Ariel yang nampak terkejut di buatnya.
"Security cepat usir gadis itu dari sana !!" perintah nona Brigitta, berani sekali office girl baru itu mencari muka di hadapan CEOnya.
Harusnya ia tadi mengurungnya saja dari pada harus mempermaukan divisinya yang selama ini terkenal dengan kedisiplinannya hingga setiap tahun selalu mendapatkan reward.
"Sofia, ayo pergi dari sini !!" tiga orang security segera memegangi kedua tangannya untuk membawanya pergi dari sana.
"Lepaskan, apa kalian ingin menutupi perbuatan semena-mena yang di lakukan perusahaan ini ?" teriak Sofia lagi-lagi dengan lantang.
Ia tak peduli setelah ini akan di pecat sekalipun karena ia memang berencana akan berhenti bekerja setelah mengetahui jika CEO perusahaannya adalah seorang pria yang selama ini selalu membuat hidupnya sulit.
Namun sebelum itu ia harus mengungkap kebenaran jika aturan yang mereka buat sangat melanggar undang-undang pekerja yang selama ini berlaku di negaranya.
Seorang pekerja yang harusnya mendapatkan perlindungan baik itu dalam bidang kesehatan maupun kesejahteraan.
"Lepaskan dia !!" perintah Ariel saat melihat Sofia di usir paksa oleh beberapa securitynya.
"Saya memohon maaf atas kelancangan bawahan saya, tuan. Biarkan saya yang membimbingnya atau mungkin saya akan memecatnya langsung." ucap nona Brigitta yang tiba-tiba maju ke depan, sebagai atasan gadis itu tentu saja ia harus bertanggung jawab.
"Sofia, segera meminta maaf pada CEO dan semua petinggi perusahaan ini !!" perintahnya kemudian pada Sofia.
"Meminta maaf pada mereka? apa itu tidak terbalik nona Brigitta? harusnya mereka yang meminta maaf karena telah membuat kebijakan yang semena-mena dan sangat merugikan karyawan terutama tuan CEO yang sangat terhormat itu." tegas Sofia tak menyerah.
"Kau !!" nona Brigitta nampak geram dan ingin rasanya ia menjambak rambut keemasan gadis itu lalu membawanya menyingkir dari sini.
"Hentikan !!" teriak Ariel saat melihat karyawannya itu saling berdebat.
Karena ini menyangkut nama baik perusahaan, ia harus segera meluruskannya mengingat berita miring akan sangat cepat sekali beredar di kalayak umum dan itu pasti akan merugikannya.
"Ck, anda yang telah membuat kebijakan itu lalu kenapa bertanya lagi padaku tuan CEO atau anda memang sudah lupa dengan kebijakan yang anda buat sendiri ?" ucap Sofia dengan menatap sinis atasannya tersebut.
"Astaga Sofia, kamu cari mati saja." ucap Lucy yang masih mengintip dari balik pilar, gadis itu nampak panik sendiri saat melihat tingkah sahabatnya itu.
Meskipun ia setuju dengan protes gadis itu karena selama ini ia dan teman-temannya juga sangat di rugikan oleh aturan yang di buat oleh nona Brigitta yang selalu mengatas namakan sang CEO hingga membuat mereka hanya bisa diam menerima.
"Aku tidak mengerti maksudmu, nona Sofia Anderson." ucap Aril dengan menatap tegas gadis pemberani di hadapannya itu.
Sofia nampak sinis rupanya pria itu masih mengingat nama lengkapnya. "Sepertinya CEO kita ini sangat pelupa sekali ya atau mungkin karena menjadikan kantor ini bukan prioritasnya jadi sampai mengabaikan hak-hak karyawannya." timpalnya dengan nada mengejek menatap CEOnya tersebut.
"Sofia, jaga bicaramu !!" teriak nona Brigitta lagi dengan lantang, jika bukan di hadapan CEOnya ia sudah menghajar gadis itu. Namun Ariel langsung mengangkat tangannya agar wanita itu diam.
"Mengabaikan hak-hak yang bagaimana, nona Sofia ?" ucapnya seraya menatap lekat gadis itu, sepertinya pria itu mulai mencium ketidakberesan yang terjadi di perusahaannya tersebut.
"Jangan dengarkan Sofia tuan, gadis ini hanya ingin mencari muka terhadap anda. Pergilah dari sini Sofia sebelum security mengusirmu dengan kasar." timpal nona Brigitta kemudian.
"Siapa yang memberikanmu hak untuk mengusir karyawan saya dari sini, nona Brigitta ?" tegas Ariel yang langsung membuat wanita itu nampak menelan ludahnya.
"Maafkan saya, tuan." ucapnya dengan raut wajah menyesal sekaligus geram.
Kemudian Ariel kembali menatap ke arah Sofia. "Katakan hak-hak apa yang tidak pernah di berikan oleh perusahaan saya ?" tanyanya kemudian.
"Jadi kamu mau tahu? baiklah, pertama kamu mengabaikan hak kesehatan karyawan. Ketika karyawan sakit kamu memaksanya untuk tetap bekerja karena jika meminta ijin maka akan mendapatkan potongan gaji, lalu saat karyawan di rawat di rumah sakit kamu sama sekali tak menjaminnya dengan asuransi kesehatan. Aku yang hanya bekerja sebagai office girl di sini sebagian besar gajiku habis hanya karena potongan-potongan itu." Terang Sofia dengan lantang hingga membuat Ariel nampak tercengang.
Begitu juga dengan nona Brigitta dan juga beberapa karyawan dari departemen keuangan mereka langsung pucat pasi.
"Jadi mulai detik ini aku putuskan untuk berhenti dari perusahaan yang tega bersikap semena-mena pada karyawannya." terang Sofia seraya mengambil name tagnya lantas melemparkannya ke arah CEOnya tersebut.
Setelahnya gadis itu segera melangkah pergi dari sana, rasanya sangat puas sekali ia bisa mempermalukan pria itu di hadapan semua karyawannya. Seakan dendamnya di masa lalu terbalaskan.
"Siapa yang menyuruhmu pergi dari sini ?" ucap Ariel tiba-tiba yang langsung menghentikan langkah Sofia.
Kemudian gadis itu kembali berbaik badan. "Aku sendiri yang ingin pergi, lagipula siapa yang akan betah bekerja dengan atasan sepertimu." ucapnya kemudian.
"Mike, berikan surat perjanjian kerja pada nona Sofia barang kali dia lupa isinya !!" perintah Ariel kemudian pada sang asisten.
Mike nampak membuka tasnya lantas mengambil selembar kertas lalu menyerahkannya pada Sofia. "Silakan di baca kembali, nona." ucapnya kemudian.
"I-ini? tidak, ini tidak mungkin." Sofia langsung melebarkan matanya saat membaca surat perjanjian kerja tersebut, di mana tidak akan ada satu karyawan pun yang boleh resign kecuali atas izin sang pimpinan perusahaan jika tidak ia akan membayar denda yang sangat besar.
"I-ini apa-apaan ?" protesnya pada CEOnya tersebut, karena ia masih sangat ingat perjanjian kontrak kerjanya dahulu.
"Tunggu di ruangan saya !!" perintah Aril kemudian lantas pria itu beralih menatap ke arah nona Brigitta dan beberapa karyawan dari departemen keuangan yang kini nampak mulai khawatir.
"Kalian semua saya tunggu di ruang meeting sekarang juga !!" perintahnya dengan rahang mengeras, kemudian pria itu segera berlalu dari sana.