The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~53



"Pesankan saya makan siang seperti biasanya dan bawa ke ruangan saya !!" perintah Aril seraya menatap tajam Sofia, setelahnya pria itu segera berlalu meninggalkan Cafetaria tersebut.


"A-apa ?" Sofia nampak tak percaya dengan kelakuan pria itu.


"Bukankah sudah ke sini kenapa tidak makan di sini sekalian ?" gerutunya kemudian.


"Asal kamu tahu Sofia, ini untuk pertama kalinya beliau datang ke sini." timpal Hannah dengan wajah masih tak percaya.


"Benarkah ?"


"Tentu saja, sekelas CEO mana minat makan di sini Sofia." Adam langsung ikut menimpali.


"Tapi makanan di sini tak kalah enak dengan makanan hotel bintang lima." tukas Sofia.


"Tapi ini bukan tentang tempatnya Sofia tapi selera beliau yang terlalu tinggi." timpal Adams lagi.


"Tipe wanita yang di sukainya juga bukan sembarangan, jauh sebelum bertunangan dengan nona Jessica tuan CEO juga telah memilki seorang kekasih dan kamu tahu siapa wanita itu? nona muda putri dari pemilik perusahaan fashion terbesar di negara ini." terang Hannah dan itu membuat Sofia nampak terdiam.


"Baiklah, aku harus segera memesankan makanan untuk beliau." Sofia segera beranjak dari duduknya.


"Tapi makananmu belum habis, Sofia." Adam langsung mengingatkan saat melihat makanan gadis itu yang masih utuh.


"Tidak apa-apa, aku takut CEO marah karena terlalu lama menunggu." sahut Sofia, lantas bergegas pergi dari sana.


Setelah menunggu beberapa saat makanan yang ia pesan dari hotel bintang lima telah datang dan ia segera menyiapkannya.


"Sofia, tunggu !!" Adam terlihat menghampiri meja gadis itu.


"Apa yang kau lakukan di sini, Adam ?" Sofia nampak mengernyit melihat kedatangan pria itu, mengingat ruangan mereka yang berbeda lantai.


"Aku membawakanmu ini, makanlah setelah pekerjaanmu selesai." Adam meletakkan bungkusan makanan di atas meja dan itu membuat Sofia nampak terharu.


"Astaga Adam, kamu tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku bisa memesan beberapa kudapan di pantry jika lapar." ucapnya tak enak hati.


"Tidak apa-apa Sofia, kamu harus jaga kesehatan karena aku tidak ingin kamu sakit." timpal Adams dengan mengulas senyum tulusnya.


"Baiklah, terima kasih." sahut Sofia dan bersamaan itu pintu ruangan CEOnya itu nampak di buka dari dalam.


"Kenapa kamu lama sekali ?" ucap Aril dengan wajah sedikit kesal menatap Sofia.


"CEO." sapa Adam.


"Baiklah, aku harus kembali bekerja Sofia." imbuhnya menatap Sofia, lantas segera berlalu pergi dari sana.


Setelah Adam pergi, Sofia segera mengambil nampan di atas mejanya. "Aku sudah menyiapkan makananmu." ucap Sofia menunjukkan makanan di atas nampan yang sedang ia bawa itu.


Aril nampak melirik bungkusan di atas meja gadis itu, lalu pria itu kembali masuk ke dalam ruangannya. "Cepatlah, aku sudah lapar !!" ucapnya kemudian.


Setelah masuk ke dalam ruangan tersebut, Sofia segera menyiapkan makanannya di atas meja. "Silakan, apa ada lagi ?" ucapnya sebelum bersiap meninggalkan ruangan CEOnya itu.


"Duduklah, temani saya makan !!" perintah Aril kemudian seraya menarik kursi untuk pria itu duduki.


Sedangkan Sofia masih terdiam di tempatnya, apa ia tidak salah dengar tadi? menemaninya makan?


"Tapi ini hanya satu porsi, lagipula aku sudah makan." ucap Sofia saat melihat beberapa menu makanan di atas meja yang memang ia pesankan hanya untuk satu orang.


"Jadi kamu menolak tawaranku dan lebih memilih makanan yang di berikan oleh Adam ?" cibir Aril dan sontak membuat Sofia menggelengkan kepalanya cepat.


"Tentu saja tidak." Sofia segera meraih garpu di atas piring pria itu dan menyisakan sebuah sendok di sana.


Kemudian ia mengambil potongan daging lalu segera memakannya, jika tahu seperti ini ia akan memesan dua porsi makanan.


"Kamu tidak akan kenyang jika hanya makan itu, makanlah ini !!" Aril nampak mengulurkan satu sendok mashed potato ke depan bibir gadis itu dan tentu saja itu membuat Sofia langsung melotot.


Apa ia sedang bermimpi? bagaimana mungkin CEOnya itu mau menyuapinya apalagi menggunakan sendok yang sama dengan pria itu gunakan.


"Buka mulutmu !!" perintah pria itu dengan tak sabar hingga membuat Sofia mau tak mau segera membuka mulutnya.


"Bagaimana rasanya? yang jelas rasanya lebih nikmat dari makanan pemberian Adam." ucap Aril yang kembali makan dengan sendok yang sama dan itu membuat Sofia nampak menatapnya bingung, ada apa dengan CEOnya itu ?


"Kenapa diam? apa kamu tidak suka menggunakan sendok yang sama denganku? bahkan sebelumnya kita pernah bertukar saliva juga." imbuh pria itu lagi dan sontak membuat Sofia langsung tersedak, tidak bisakah jika CEOnya itu tak berterus terang seperti itu?


"Pelan-pelan, aku tidak akan menghabiskan makanan ini." ucapnya lagi seraya mengulurkan segelas air pada gadis itu dan lagi-lagi gelas yang sama dengan miliknya.


"Sepertinya aku sudah kenyang, bukankah aku tadi sudah makan di kantin." ucap Sofia beralasan, sungguh ia takut nyaman dan berharap lebih dari pria itu jika seperti ini terus karena secara tidak langsung mereka seperti pasangan kekasih.


"Bahkan kau sedikitpun belum menyentuh makananmu." timpal Aril bernada sindiran.


"Astaga, darimana dia tahu ?" gumam Sofia lalu mengedarkan pandangannya dan seketika matanya membola saat melihat sebuah layar besar yang terpatri di dinding di mana rekaman cctv setiap ruangan di kantor tersebut nampak di sana.


Pantas saja pria itu tadi mengetahui keberadaannya di kantin dan juga kedatangan Adam ke mejanya, sungguh kini ia merasa seperti sedang di pantau.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan tuan CEO? kau bukanlah kekasihku apalagi orang terdekatku tapi kenapa sikapmu seolah-olah aku lebih dari itu ?" Sofia nampak bertanya-tanya dalam hati.


Dan kini gadis itu hanya menurut saat CEOnya menyuruhnya untuk menghabiskan makanan tersebut bersamanya bahkan pria itu juga tak segan memberikan makanan lain dari sendoknya itu.


"Lain kali jangan pernah menerima makanan apapun yang di berikan oleh Adam, bahkan para pria di luaran sana." ucap Aril di tengah kunyahannya.


"Kenapa tidak boleh, bukankah menolak rezeki itu tidak baik. Lagipula aku tidak minta tapi dia yang ingin memberikannya sendiri." sahut Sofia dan langsung membuat Aril meletakkan sendoknya di atas piringnya dengan sedikit kasar hingga membuat Sofia nampak menelan ludahnya.


"Kamu pikir pria itu memberimu sesuatu dengan ikhlas? dia pasti memiliki niat tersembunyi dan bagaimana jika niatnya buruk? kamu sendiri yang akan rugi jadi lain kali lebih berhati-hatilah !!" tegas Aril dengan menatap gadis di hadapannya itu.


"Kamu juga memberikanku makanan, apa itu berarti...."


"Aku bosmu jika kamu lupa dan sebagai atasan yang baik tentu saja aku tidak ingin karyawanku sakit." sela Aril kemudian dan itu membuat Sofia nampak kecewa, rupanya pria itu hanya menganggapnya sebagai karyawan biasa setelah semua yang terjadi di antara mereka.


Memang apa yang ia harapkan dari semua ini? ia harus cukup tahu diri dan tak boleh terbawa perasaan dengan perhatian pria yang telah memiliki tunangan itu.


"Sofia, ceritakan tentang keluargamu aku ingin mendengarnya !!" ucap Aril tiba-tiba yang langsung membawa gadis itu kembali sadar dari lamunannya sesaat.


"Ke-keluargaku ?" ulang Sofia lagi.


"Hm, ceritakan semuanya aku ingin tahu !!"