The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~54



"U-untuk apa kamu ingin tahu tentang keluargaku ?" tanya balik Sofia.


"Aku hanya ingin memastikan jika asisten pribadiku bukan berasal dari keluarga seorang kriminal." sahut Ariel yang langsung membuat Sofia melebarkan matanya.


"Tentu saja tidak." ucapnya meyakinkan, ayahnya adalah pria terbaik di dunia ini.


"Jadi ?" Aril menghentikan kunyahannya lantas menatap gadis di hadapannya itu dengan serius.


"Ayah pria yang sangat pemberani dan juga baik hati, dia seorang ayah yang hebat bagiku." ucap Sofia membanggakan ayahnya, sepanjang hidupnya pria itu tak pernah berlaku buruk padanya.


"Lalu ibumu ?" tanya Aril lagi, sepertinya pria itu ingin tahu lebih jauh tentang gadis itu.


"Ibu ?" Sofia langsung terdiam.


"Sejak kecil aku tidak tahu di mana ibuku, bagaimana rupanya bahkan suaranya. Aku tidak tahu." imbuhnya lagi dengan mata berkaca-kaca dan itu membuat Aril tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan gadis itu.


"Dia meninggalkan mu ?" ucapnya kemudian.


Sofia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu." ucapnya sembari menunduk menahan kesedihan, ia tidak mungkin menceritakan kecurigaannya selama ini pada pria itu karena ia sadar mereka bukan orang yang sedang dekat.


Menyadari Sofia tak ingin bercerita banyak tentang kehidupan pribadinya, Aril tak lagi bertanya. Selanjutnya mereka nampak fokus menghabiskan makanannya.


Beberapa saat kemudian setelah Sofia keluar dari ruangannya, Aril segera memanggil Mike.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan ?" ucap pria itu saat baru datang.


"Mike, aku ingin mencari tahu tentang Sofia. Siapa dia dan keluarganya." ujar Aril.


"Baik tuan, secepatnya saya akan mencari tahu." sahut Mike.


Keesokan harinya.....


"Sofia, tunggu !!" teriak Adam saat Sofia baru datang pagi itu.


"Hai." Sofia langsung mengulas senyumnya saat pria itu sedikit berlari ke arahnya.


"Bagaimana tidurmu sepertinya sangat nyenyak ?" ucap Adam sembari mereka melangkah masuk ke dalam lobby kantornya.


"Semalam tidurku sangat nyenyak." sahut Sofia.


"Benarkah? sayangnya aku kurang bisa tidur semalam." timpal Adam hingga membuat Sofia menghentikan langkahnya lalu menatap pria itu.


"Benarkah, kenapa bisa? apa kamu sedang kurang enak badan ?" Sofia terlihat sangat khawatir, begitulah gadis itu yang selalu mengkhawatirkan orang-orang yang ia anggap baik padanya.


"Apa kau mengkhawatirkan ku, Sofia ?" Adam nampak menatap lekat gadis cantik di hadapannya itu.


"Tentu saja." sahut Sofia.


"Jadi katakan kenapa kamu tidak bisa tidur semalam? jika kurang sehat kamu bisa minta izin untuk tidak masuk kerja hari ini." imbuhnya lagi penuh perhatian dan tentu saja itu membuat Adam merasa sangat senang.


"Bagaimana jika aku tidak bisa tidur karena memikirkan mu ?" timpalnya kemudian.


"A-apa ?" Sofia nampak terkejut dengan perkataan pria itu dan bersamaan itu seseorang tiba-tiba menyela mereka.


"Tiga menit lagi batas check lock berakhir, apa kalian berdua ingin absen hari ini ?" ucap Aril menatap tegas ke arah mereka berdua.


"CEO ?" Sofia dan Adam langsung terkejut dengan keberadaan CEOnya yang tiba-tiba itu, entah sejak kapan pria itu ada di sana.


"Baik CEO terima kasih telah mengingatkan, kami akan segera melakukan absensi sekarang." ucap Adam.


"Ayo Sofia !!" imbuhnya lagi seraya mengajak gadis itu untuk segera pergi.


"Pergilah dahulu, saya ada perlu dengan personal asisten saya." sela Aril dengan menekankan kata-katanya.


"Baik CEO." Adam langsung mengangguk patuh.


"Sampai ketemu nanti siang, Sofia." ucapnya menatap ke arah Sofia lantas segera berlalu dari sana.


"Ikut saya !!" ucap Aril seraya melangkah menuju lift.


"Tidak perlu." sahut Aril.


"Tapi...." Sofia enggan melangkahkan kakinya, absensi begitu penting karena jika terlambat maka gajinya akan terpotong.


"Ini kantor bukan tempat kencan, jika kamu ingin kencan dengannya kalian bisa melakukannya di luar kantor ini." tegas Ariel saat asistennya itu seakan tak ingin berpisah dengan pria itu barang sedetikpun dan itu membuatnya tiba-tiba sangat kesal.


"Bu-bukan seperti itu." Sofia segera mengejar saat CEOnya itu berlalu begitu saja meninggalkannya.


"A-aku hanya ingin melakukan absensi bukan berkencan dengan Adam." ucapnya setelah mereka masuk ke dalam lift.


"Sudah ku bilang jangan pernah mendekati pria itu lagi." tegas Aril.


"Aku tidak pernah mendekatinya."


"Tapi kamu menanggapi setiap perkataannya." cibir Aril yang langsung membuat Sofia menatapnya.


"Kamu tidak berhak untuk melarangku dekat dengan siapapun, selama itu tidak mengganggu pekerjaanku." protesnya dengan menaikkan sedikit suaranya bahwa ia ingin memberitahukan pada pria itu jika kehidupan pribadinya tak bisa di kendalikan begitu saja, namun itu justru membuat seorang Ariel mengeraskan rahangnya.


Kemudian mendorong pelan tubuh gadis itu hingga menabrak dinding belakangnya dan segera mengurungnya di sana.


"You are mine, kamu milikku dan kamu tidak boleh dekat dengan lelaki manapun jika tidak aku akan menghancurkannya." ucapnya penuh penekanan lantas segera m3lum4t bibir gadis itu dengan rakus.


Keadaan lift yang kosong membuat pria itu dengan leluasa meluapkan kekesalannya, mencengkeram kedua tangan gadis itu di atas kepalanya dengan erat hingga membuatnya lebih leluasa memperdalam ciumannya.


Ting


Tiba-tiba pintu lift terbuka dan sontak membuat pria itu melepaskan panggutannya dan kembali bersikap seperti semula seakan tak terjadi sesuatu sebelumnya.


"Tuan CEO." sapa beberapa petinggi perusahaan saat melihat putra pemilik perusahaannya tersebut.


"Masuklah !!" perintah Aril seraya melangkah mundur memberikan ruang untuk para bawahannya tersebut dan sontak di ikuti oleh Sofia yang terlihat sedikit berantakan.


Kini lift kembali tertutup dengan beberapa orang di dalamnya, Aril yang melirik Sofia dari ekor matanya nampak tersenyum puas setelah berhasil membuat bibir gadis itu sedikit bengkak.


Kemudian pria itu tiba-tiba menggenggam tangannya hingga membuat Sofia langsung melotot ke arahnya, apa pria itu tidak menyadari sedang ada banyak orang di dalam lift tersebut.


Melihat gerakan protes gadis itu justru membuat Aril semakin memperat genggamannya hingga kini tubuh keduanya nampak saling merapat.


"Diamlah, jika tidak ingin mereka melihat kita seperti ini." lirih Ariel yang tentu saja membuat Sofia seketika terdiam, akan sangat bahaya jika kedekatan di antara menjadi gosip seantero kantor bahkan kota ini.


Ting


Pintu lift kembali terbuka dan mereka segera sekeluar begitu juga dengan Aril maupun Sofia.


"Selamat pagi tuan, CEO." sapa Hannah saat melihat kedatangan CEOnya itu bersama dengan Sofia.


"Pagi Hannah." sahut Aril lalu segera masuk ke dalam ruangannya tersebut.


Hannah yang jarang sekali sapaannya di balas oleh pria itu nampak terpaku di tempatnya. "Astaga Sofia, apa CEO sedang berbahagia hari ini? lihatlah beliau membalas sapaanku." ucapnya dengan antusias.


"Entahlah, aku tidak tahu Hannah." Sofia nampak menghempaskan bobot tubuhnya di kursi kerjanya, sungguh ia masih tak mengerti dengan sikap CEOnya itu yang akhir-akhir ini semakin aneh padanya.


"Selamat pagi, tuan Mike." sapa Hannah saat melihat Mike yang baru saja datang, namun pria itu justru nampak menatap ke arah Sofia sejenak.


"Pagi Hannah, apa tuan Aril ada di dalam ?" ucapnya beralih menatap ke arah wanita itu.


"Beliau baru saja datang." sahut Hannah.


"Baiklah, aku akan segera menemuinya." ucap Mike kemudian segera berlalu masuk ke dalem ruangan sang CEO.


"Hai, Mike. Apa ada informasi penting yang ingin kau sampaikan ?" tanya Aril to the point saat melihat asistennya itu baru masuk.


"Tentu saja tuan, ini perihal nona Sofia." sahut Mike dan itu membuat Aril sangat tertarik.


"Katakan Mike, aku ingin mendengarnya !!"