The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~59



Pagi itu Aril nampak emosi saat baru saja melihat surat pengunduran diri Sofia, kemudian pria itu segera memerintahkan Mike untuk mencarinya. Karena pagi ini ia ada meeting penting yang tak dapat di wakilkan mengingat kondisi sang ayah yang kurang sehat.


"Mike, apa ada informasi tentang Sofia ?" tanyanya pada sang asisten saat baru keluar dari tempat meeting.


"Saya sudah mencarinya tuan, tapi kata pemilik rumah nona Sofia sudah meninggalkan rumahnya pagi-pagi sekali. Dia juga membawa seluruh pakaiannya dan menyisakan sedikit pakaian milik ayahnya untuk di bagikan pada para tunawisma." terang Mike.


"Apa kamu juga sudah mengeceknya ke kampus ?" tanya Ariel lagi.


"Sudah tuan, nona Sofia telah mengirim email ke kampus jika akan keluar dari universitas." sahut Mike lagi.


Aril nampak mendesah kasar, apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu? apa ini semua karenanya atau ada faktor lain? ia tidak memaksa jika memang Sofia tak menyukainya, karena ia hanya ingin melihat gadis itu baik-baik saja.


Saat hendak masuk ke dalam ruangannya, Aril mendatangi meja kerja sekretarisnya itu. "Hannah, apa belum ada kabar dari Sofia ?" tanyanya kemudian.


"Belum tuan, ponsel Sofia tidak bisa di hubungi sampai sekarang." sahut Hannah.


Aril kembali mendesah kasar, kemudian tiba-tiba ia mengingat salah satu tempat yang mungkin di kunjungi oleh gadis itu.


"Aku tahu di mana dia berada Mike, semoga dia masih ada di sana." ucapnya kemudian.


Lalu pria itu urung masuk ke dalam ruangannya dan segera berlalu pergi dari sana, sesampainya di parkiran mobilnya Aril segera membuka pintunya namun seseorang nampak memanggil namanya hingga membuatnya langsung menoleh.


"Helena ?" lirihnya saat seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai melangkah mendekatinya.


Wanita itu nampak tersenyum manis menatapnya namun tidak dengan Aril, pria itu terlihat diam terpaku di tempatnya. Sosok wanita yang berusaha ia lupakan dari beberapa tahun lalu kini tiba-tiba muncul di hadapannya.


Wanita yang pernah memiliki sepenuh hatinya, namun karena sebuah kesalahan yang di lakukan wanita itu membuatnya mencoba mengubur masa lalunya dalam-dalam.


"Kau !!" ucapnya kemudian.


"Apa kamu terkejut melihatku di sini? aku memang sengaja ingin memberikanmu sebuah kejutan. Sungguh aku sangat merindukanmu, Ar." timpal wanita bernama Helena itu dan segera memeluk pria yang pernah menjadi kekasihnya tersebut.


Tidak, mereka belum putus karena selama ini mereka lose kontak dan belum ada pernyataan putus dari bibir keduanya.


Aril yang tiba-tiba di peluk langsung menjauhkan tubuh wanita itu. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini ?" ucapnya setelah itu.


"Kenapa? apa kamu tidak senang melihatku datang? aku datang untukmu, Ar. Kuliahku sudah selesai dan aku janji tidak akan pernah meninggalkan mu lagi." tukas wanita itu yang nampak sedikit terkejut dengan reaksi pria itu yang berubah dingin, tapi itu tak masalah baginya karena memang hampir 4 tahun mereka terpisah dan tanpa kontak sama sekali.


Ia akan mulai memperbaiki kembali hubungan mereka yang sempat terputus karena kesalahannya dan ia menyesal karena itu.


"Hubungan kita sudah lama berakhir Helena, jadi lebih baik jalani saja hidup masing-masing." tegas Aril dan sontak membuat Helena menggeleng cepat.


"Tidak, kita tidak pernah putus. Bagiku sampai sekarang kamu adalah kekasihku." Helena langsung mendekat dan tiba-tiba mencium bibir pria itu.


Semoga saja setelah itu mereka kembali berbaikan, karena dahulu setiap kali bertengkar hanya ciuman yang mampu membuat mereka kembali akur.


Namun tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang mengawasinya. "Sudah sampai nona, apa anda tidak jadi turun ?" tanya sang sopir taksi pada Sofia yang sepertinya enggan turun dari mobilnya, gadis itu nampak tercengang melihat ke arah jendela sampingnya.


"Rupanya kamu sama saja dengan pria-pria di luaran sana." gumam Sofia menahan sesak di dadanya saat melihat Aril berciuman dengan seorang wanita.


"Aku pikir kamu benar-benar menyukaiku, tapi nyatanya kamu tak pernah berubah. Kamu masih sama seperti dahulu yang selalu menyakitiku." gumam Sofia, tak terasa air matanya nampak jatuh membasahi pipinya.


"Ayah, apa yang harus ku lakukan ?" gumamnya lagi sembari terisak, ia benar-benar tak tahu arah tujuannya saat ini.


Seorang pria yang berusaha menawarkan pundaknya untuk bersandar kini telah berpaling darinya dan janjinya yang belum terlaksana pun telah di ingkari sebelum memulai.


Kini ia benar-benar sendirian, bertemankan sepi menghadapi dunia yang tak lelah mempermainkan takdir hidupnya.


Sementara itu di sisi lain Aril langsung mendorong tubuh Helena saat wanita itu tiba-tiba lancang menciumnya. "Apa yang sedang kamu lakukan, Helena ?" ucapnya dengan mengeraskan rahangnya.


"Kenapa? apa kamu tidak merindukan ciumanku? dulu kamu selalu mengatakan jika aku pandai sekali berciuman dan kamu menyukai itu." tukas Helena mengingatkan, bagaimana dulu pria itu pernah memujanya.


Namun sifat dingin dan sedikitnya waktu yang pria itu miliki untuknya, membuatnya tergoda untuk bermain api dengan sahabatnya sendiri, Daniel.


Daniel adalah tipe pria yang sangat friendly juga perhatian dan itu yang membuat Helena merasa nyaman saat bersamanya, namun kedekatan mereka terlalu cepat di endus oleh kekasihnya itu hingga membuatnya menyesal karena telah mencoba bermain hati.


Seandainya di suruh memilih tentu saja ia lebih memilih Aril, meskipun keluarganya juga berasal dari kalangan atas tapi bisa menjalin hubungan dengan putra keluarga Smith adalah sebuah kebanggaan tersendiri.


"Hubungan kita sudah berlalu Helena, mengertilah !!" tegas Aril mengingatkan.


"Apa kamu lupa di antara kita belum ada kata putus maupun perpisahan ?" tukas Helena tak terima.


"Baiklah jika memang kamu menginginkan kepastian, mulai hari ini kita putus dan anggap saja ciuman yang kamu lakukan barusan sebagai tanda perpisahan." tegas Aril.


"Tidak, aku tidak mau Ar. Ku mohon beri aku kesempatan sekali lagi, aku minta maaf padamu karena telah meninggalkan mu dulu tapi percayalah aku dan Daniel tidak ada hubungan apapun hingga sekarang." mohon Helena penuh penyesalan.


"Pulanglah, aku sedang banyak pekerjaan !!" perintah Aril tak ingin di bantah.


"Baiklah, tapi aku takkan pernah berhenti mengunjungimu." sahut Helena, kemudian segera berlalu dari sana.


Melihat kepergian mantan kekasihnya itu Aril nampak menghela napasnya, setelah itu ia masuk ke dalam mobilnya.


"Kita pergi ke makam ayahnya Sofia, Mike. Semoga ada petunjuk di sana !!" perintahnya pada sang asisten.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan kini mereka tiba di sebuah pemakaman yang berada di pinggiran kota, kemudian Aril segera turun dan bergegas menuju makam yang ia maksud.


Sesampainya di sana ia melihat banyak buket bunga yang masih terlihat segar. "Mike, bisa kamu periksa CCTV di sini !!" perintahnya kemudian.


Mike segera berlalu menuju ke pos penjaga dan meminta rekaman CCTV hari itu untuk melihat siapa saja yang datang ke sana.


"Daniel ?" Aril langsung mengernyit saat melihat Sofia dan sahabatnya itu juga berada di makam yang sama satu jam yang lalu.


"Daniel pasti tahu kemana Sofia pergi, ayo Mike kita harus bertanya padanya." ucapnya lantas segera meninggalkan makam itu.


Aril terlihat begitu frustrasi, sungguh ia tak ingin kehilangan gadis itu. Meskipun baru mengenalnya tapi entah kenapa perasaannya tumbuh begitu kuat seakan sebelumnya mereka pernah saling dekat.


"Siapa kamu sebenarnya, Sofia? kenapa kamu membuatku seperti ini ?"