The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~84



Tiga tahun kemudian.....


Daddy adalah ayah yang baik Jessy, tanggung jawabnya sebagai seorang ayah sekaligus suami membuatnya harus bekerja keras tak peduli betapa lelah tubuhnya. Jika Daddy pulang dalam keadaan diam, kamu tetaplah tersenyum karena senyum putrinya adalah penawar segala lelahnya yang kita takkan pernah tahu apa yang dia alami di luar sana.


Dia bersikap tegas bukan karena tak menyayangimu namun itu adalah bentuk kasih sayangnya untuk melindungimu dari dunia luar yang kejam, semoga kepergianku bisa membuatmu lebih memahami Daddy. Jadilah gadis penurut dan tetaplah tersenyum meskipun kadang hatimu menolak.


Jessica nampak mengulas senyumnya saat kembali membaca sebuah pucuk surat yang tinggalkan oleh sang kakak tiga tahun yang lalu, kemudian gadis itu segera melipatnya lalu memasukkannya ke dalam nakas.


"Sayang, apa kamu sudah siap ?" ucap James setelah membuka pintu kamar putrinya tersebut.


"Tentu saja, Dad." Jessica segera beranjak dari tepi ranjangnya.


"Kamu tahu, sebenarnya Daddy sangat keberatan jika kamu pergi." ucap James seraya menarik tangan putrinya itu untuk mendekat padanya, kini hubungan keduanya nampak lebih hangat dari sebelumnya.


"Aku juga ingin mandiri seperti kak Sofia, Dad. Lagipula menjadi designer adalah impianku sejak dulu dan hanya kota Paris yang mampu mewujudkannya." mohon Jessica, mengingat Paris adalah pusat mode dunia dan ia ingin belajar di sana. Seperti halnya Helena, wanita itu kini sangat sukses menjadi seorang designer dan ia ingin sepertinya.


"Ya mau bagaimana lagi jika kamu memaksa, meski setelah ini Daddy dan Mommy akan merasakan kesepian." James nampak mencubit gemas hidung mancung putrinya tersebut, sudah waktunya ia membiarkan gadis 22 tahun itu mengetahui dunia luar dan ia yakin putrinya itu mampu menjaga dirinya dengan baik berkat didikannya selama ini.


"Kalian bisa membuatkan adik untuk kami jika mau." seloroh Jessica kemudian.


"Tidak-tidak, itu terlalu beresiko untuk Mommy mu. Lagipula Daddy sudah sangat pantas di panggil kakek." timpal James.


Kemudian mereka segera keluar kamarnya dengan sebuah koper yang telah siap untuk gadis itu bawa. "Baiklah, bukankah Daddy bisa membujuk kak Sofia untuk pulang ?" saran Jessica mengingat sang kakak telah menyelesaikan kuliahnya setahun yang lalu namun kakaknya itu justru lebih memilih menikmati pekerjaannya di sana.


"Semoga saja kakakmu mau." sahut James.


Sementara itu di belahan bumi lain Sofia nampak sibuk membersihkan apartemennya karena hari-hari biasanya ia harus bekerja di perusahaannya yang ia rintis bersama Adams.


Adams sosok pria yang begitu baik di matanya, ia tak menyangka beberapa bulan setelah kepergiannya pria itu menyusulnya ke Belanda setelah mendapatkan informasi tentang ayah kandungnya.


Adams yang sedari kecil hidup di panti asuhan dan berakhir di adopsi oleh ayah angkatnya tentu saja sangat senang saat mengetahui kabar itu. Namun rupanya ayah kandungnya telah meninggal beberapa tahun silam dan meninggalkan sebuah perusahaan kecil yang sedang di ujung kebangkrutan.


Bersama Sofia, Adams kembali membangun perusahaan ayahnya hingga kini bisa bangkit lagi.


"Tidak bisakah kau tidak membuatnya menangis ?" tegur Sofia saat mendengar suara tangisan bayi hingga membuatnya yang sedang menyusun pakaian di kamarnya langsung keluar.


"Sepertinya dia sedang haus Sofia." timpal Adams yang terlihat bingung.


"Astaga ayah macam apa kamu itu, bukankah kamu tinggal membuatkannya susu jika haus." Sofia segera menggendong bayi mungil tersebut hingga kini nampak tenang dalam dekapannya.


"Aku takut meninggalkannya sendirian." timpal Adams yang kini nampak beranjak dari duduknya lantas menuju dapur untuk membuatkan susu bayinya itu.


"Ku harap Irene sabar memiliki suami sepertimu." cibir Sofia sedikit kesal, karena setiap kali istri pria itu pergi kuliah Adams selalu memintanya untuk membantu menjaga putrinya yang baru lahir tersebut.


"Tentu saja dia sangat mencintaiku dan kamu tenang saja sebentar lagi istriku lulus, setelah itu dia akan fokus dengan bayinya dan ku harap kamu tak merindukan putriku nanti." timpal Adams.


"Tentu saja aku pasti akan merindukannya." tukas Sofia seraya menatap bayi mungil dalam gendongannya tersebut.


"Kenapa kamu tidak segera menikah saja Sofia, di luar sana banyak sekali pria yang menginginkan mu dan kamu tinggal pilih salah satu dari mereka." saran Adams dan sontak membuat gadis itu melotot menatapnya.


"Kamu pikir menikah segampang itu ?" protesnya.


Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral dan ia ingin melakukannya hanya sekali seumur hidupnya dengan pria yang benar-benar ia cintai tentunya.


Sofia nampak tersenyum sinis saat mengingat hingga kini perasaannya masih tetap sama seperti dulu, mencintai seorang pria yang entah kini bagaimana kabarnya. Apa pria itu telah menikah atau justru masih sendiri seperti dirinya.


Selama ini gadis itu benar-benar tak ingin tahu kabar pria itu, bahkan ia melarang keluarganya untuk menceritakan apapun tentangnya namun usahanya tetap sia-sia karena perasaan itu tak pernah hilang dari hatinya.


"Sayang, kapan kamu pulang? Daddy dan Mommy sangat kesepian setelah di tinggal adikmu pergi ke Paris."


Sofia nampak menghela napasnya saat membaca pesan singkat yang di kirim oleh ayahnya tersebut, apa ia sudah siap untuk kembali pulang? apa ia juga sudah siap ketika mengetahui pria yang masih ia cintai itu telah memiliki kekasih atau bahkan telah bersanding dengan wanita lain?


"Sebentar lagi Dad, aku janji."


Sofia langsung membalas pesan ayahnya tersebut, tentu saja ia akan pulang namun ia harus menyiapkan hatinya terlebih dulu.


"Apa balasan putri kita sayang ?" Anne yang baru datang dengan secangkir teh di tangannya itu nampak penasaran dengan pesan yang di terima oleh sang suami di ponselnya tersebut.


"Jawaban yang sama." sahut James lantas menghela napasnya lelah, karena putrinya itu selalu berjanji untuk segera pulang namun hingga satu tahun setelah lulus kuliah gadis itu tak kunjung kembali.


"Minumlah ini akan sedikit menenangkanmu." Anne nampak mengulurkan secangkir teh hangat pada suaminya itu.


"Sepertinya kita harus melakukan sesuatu dan aku yakin kali ini dia pasti akan benar-benar pulang." timpal Anne dan sontak membuat suaminya itu mengernyit tak mengerti.


"Benarkah ?" ucapnya kemudian.


"Tentu saja." Anne nampak tersenyum penuh arti, entah apa yang sedang wanita itu rencanakan.


Sementara itu di tempat lain nampak seorang pria sedang melempar beberapa berkas di atas mejanya saat meeting sedang berlangsung.


"Sebenarnya, apa kerja kalian selama ini? bisa-bisanya perusahaan kita yang lebih besar di kalahkan oleh perusahaan kecil yang baru merintis ?" ucap pria itu dengan menatap nyalang para karyawannya tersebut.


"Perusahaan itu membanting harga pasaran tuan dan tentu saja kami tidak berani bersaing karena itu sangat beresiko." terang salah satu karyawannya.


"Kalian benar-benar tidak becus bekerja." ucap pria itu lantas segera berlalu dari ruangan tersebut.


Setelah kepergian CEOnya itu, para karyawan tersebut nampak bernapas dengan lega. Atasan itu benar-benar membuat mereka tertekan karena sejak dua tahun terakhir sedikit pun tak ada senyum di wajah pria itu.


Bahkan emosi CEOnya itu akan menjadi-jadi jika menemukan sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan bahkan takkan segan-segan untuk langsung memecatnya.


"Ku harap tuan Aril memberikan kita kesempatan lagi." ucap salah satu dari mereka.


Ya CEOnya itu adalah seorang tuan muda Smith yang saat ini telah menggantikan kedudukan sang ayah di perusahaannya.


"Apa kau tak punya mata ?" ucap Aril saat seseorang tak sengaja menabraknya di lobby kantornya.


"Maaf tuan saya tidak sengaja." ucap pria tersebut.


"Tunggu, ku rasa kamu bukan karyawan sini bukan ?" tanya Aril seraya memindai pria tersebut.


"Benar tuan saya utusan perusahaan A&S untuk mengajukan tender di proyek baru anda." terang pria tersebut.


"A&S ?" ulang Aril, bukankah itu sebuah perusahaan kecil yang baru saja mengalahkannya? apa pemilik perusahaan itu sedang menghinanya?


"Sial !!" umpatnya dalam hati.