
"Tuan muda, anda baik-baik saja ?" ulang sang dosen saat Aril tak kunjung menanggapinya.
"Hm, aku baik-baik saja." sahut Aril kemudian.
"Apa anda ingin ruangan itu di bersihkan? saya akan memerintahkan OB untuk melakukannya." ucap sang dosen yang sontak membuat Aril menatapnya tajam.
"Jangan lakukan apapun pada ruangan itu !!" perintahnya dengan tegas.
"I-iya tentu saja tuan, baiklah kalau begitu saya permisi." Dosen tersebut segera berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Sejak kepergian putra pemilik kampus itu beberapa tahun silam, ruangan tersebut memang di kosongkan dan tak ada satupun orang yang berani masuk ke dalam.
Sementara itu Sofia yang masih duduk di lantai nampak menghela napasnya berkali-kali, rasanya ia masih belum percaya jika Aril tega berbuat sejauh itu padanya dan kini ia membenci pria itu.
Beberapa saat kemudian setelah merasa lebih baik, Sofia segera beranjak lalu melangkah mendekati cermin yang berada tak jauh dari sana. Menatap penampilannya yang begitu berantakan lantas ia segera merapikannya kembali.
Lalu saat merapikan ikat rambutnya yang hampir terlepas Sofia nampak memicing ketika melihat beberapa bercak merah keunguan di kulit lehernya, pasti itu bekas perbuatan pria itu tadi.
Tak ingin ada yang melihatnya Sofia segera melepaskan tali rambutnya dan membiarkan mahkotanya itu terurai indah menutupi lehernya, setelah memastikan penampilannya kembali rapi gadis itu segera berlalu keluar dari sana.
Namun tiba-tiba matanya tak sengaja melihat botol minuman di atas meja, lantas ia segera mendekatinya. Sebuah botol minuman yang masih menyisakan separuh isinya sepertinya baru saja di bawa dan ia tahu siapa pelakunya.
Kemudian Sofia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tersebut, ia baru menyadari jika ada beberapa foto yang terpatri di sana. Foto-foto Aril dan para sahabatnya saat kuliah dulu lalu pandangannya jatuh ke sebuah tumpukan bingkai di atas meja.
Karena penasaran gadis itu langsung mengambilnya dan seketika nampak tersenyum sinis saat melihat banyak sekali foto kebersamaan Aril dan mantan kekasihnya tersebut, bahkan kenangan mereka pun masih tersimpan rapi dan itu membuatnya semakin bulat dengan keputusannya.
Sofia segera meninggalkan ruangan tersebut setelah memastikan tak ada orang yang melihatnya, ia nampak melangkah cepat menuju mobilnya dan segera meninggalkan kampusnya itu.. Namun tanpa gadis itu sadari Aril terlihat menatap kepergiannya.
Keesokan harinya....
Pagi itu Sofia enggan keluar dari kamarnya, rasanya kejadian kemarin masih menyisakan sedikit trauma baginya.
"Sayang, boleh Mommy masuk ?" teriak Anne dari luar dan itu membuat Sofia segera merapikan sweaternya terutama bagian lehernya agar tertutup.
"Kamu baik-baik saja sayang ?" Anne yang baru membuka pintu langsung melangkah mendekati putrinya yang sedang duduk di atas ranjangnya tersebut.
"Hm, sepertinya pagi ini udara terasa sedikit lebih dingin." ucap Sofia sembari mengulas senyumnya.
"Benarkah? baiklah ayo bersiap-siap, sebentar lagi waktunya sarapan." ujar Anne, karena tak biasanya putrinya itu bangun kesiangan padahal biasanya sering ikut membantu beberapa pelayannya menyiapkan makanan di dapur.
"Sepertinya aku merasa sangat letih hari ini, bisakah aku beristirahat saja di rumah ?" timpal Sofia dengan nada memohon.
"Kau sakit, sayang ?" Anne langsung menyentuh dahi gadis itu, namun tidak terasa panas atau mungkin hanya kelelahan saja mengingat akhir-akhir ini putrinya itu membantu sang ayah di kantornya.
"Baiklah, tidak apa-apa. Nanti biar bibi yang membawakan mu sarapan ke sini dan ku harap besok kamu merasa lebih baik karena malamnya adalah pesta penyambutanmu sayang." ucap Anne mengingatkan yang langsung di angguki oleh putrinya tersebut.
"Oh ya apa lebih baik kamu melakukan perawatan lagi ke salon ?" ucap wanita itu lagi yang sepertinya menginginkan acara putrinya besok berjalan dengan sempurna.
"Kau sudah sangat cantik sayang, baiklah jika kau tak ingin pergi." Anne nampak mengusap puncak kepala putrinya itu lantas segera berlalu pergil.
"Pesta penyambutan ?" gumam Sofia setelah sang ibu berlalu keluar dari kamarnya, gadis itu nampak berpikir sejenak kemudian segera beranjak dari ranjangnya.
...----------------...
"Ini apa Sofia ?" Adams nampak mengernyit saat gadis itu memberikannya sebuah undangan siang itu ketika mereka bertemu di sebuah cafe.
"Itu undangan syukuran kecil-kecilan yang di adakan oleh ibuku di rumah nanti malam dan ku harap kamu bisa hadir Dams, bagaimana pun juga selama ini kamu banyak membantuku." ucap Sofia.
"Hm, tentu saja. Baiklah kalau begitu terima kasih banyak atas undangannya." sahut Adams lantas segera menyimpan undangan tersebut.
"Ngomong-ngomong apa kamu baik-baik saja? wajahmu sangat pucat." imbuhnya lagi saat menatap gadis yang sedang duduk di hadapannya itu.
"Aku baik-baik saja, mungkin hanya kurang tidur semalam." sahut Sofia dengan mencoba mengulas senyumnya, namun sepertinya masih belum mampu meyakinkan Adams sepenuhnya.
"Aku bisa menjadi pendengar yang baik jika kamu mau cerita Sofia, kebetulan pekerjaanku sedang tidak banyak di kantor." tukas Adams kemudian.
Sofia nampak menatap ketulusan di mata pria itu, kemudian gadis itu menghela napasnya sejenak. Ia memang sedang butuh teman bicara dan rasanya tidak mungkin ia berbicara dengan sang ibu karena masalahnya akan menjadi semakin besar.
Kemudian Sofia mulai menceritakan semuanya pada pria itu, bagaimana perkataan George padanya dan juga perbuatan Aril di kampusnya kemarin.
"Aril tega melakukan itu padamu ?" Adams nampak geram setelah mendengar cerita gadis itu.
"Hm, aku tidak tahu apa yang dia inginkan. Dia mendekatiku tapi sekaligus juga mendekati mantan kekasihnya itu." timpal Sofia.
"Mereka dahulu memang saling mencintai sebelum isu perselingkuhan Helena dengan Daniel mencuat, tapi aku tidak tahu dengan jelas kebenarannya karena setelah itu Helena pergi ke Paris dan selama itu pun sepertinya Aril masih menunggunya karena banyak perempuan yang menyukainya ia tolak mentah-mentah." tukas Adams.
Sofia nampak mengangguk kecil. "Maukah kamu membantuku ?" ucapnya kemudian.
"Membantumu ?" Adams nampak tak mengerti.
"Hm." sahut Sofia lantas menjelaskan rencananya tersebut.
Beberapa saat kemudian mereka nampak keluar dari restoran tersebut, namun saat hendak menuju parkiran tiba-tiba berpapasan dengan seseorang.
"Adams ?" sapa nyonya Margaret yang sepertinya baru turun dari mobilnya.
"Hai tante bagaimana liburannya apa menyenangkan ?" tukas Adams dengan ramah.
"Tentu saja walaupun lumayan lelah, oh ya mampir ke rumah ada sedikit oleh-oleh untuk ayahmu." sahut nyonya Margaret menimpali, lantas pandangannya beralih ke arah Sofia yang nampak berdiri tak jauh dari pemuda itu.
Nyonya Margaret terlihat menatap gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut, sungguh penampilannya sangat berbeda dengan terakhir mereka bertemu saat di pedesaan waktu itu.
"Kau? ck, pria mana lagi yang kau goda hah hingga bisa membuat penampilanmu berubah seperti ini dan lihatlah bahkan pakaian yang kamu kenakan sangat bermerk." cibirnya menatap ke arah Sofia.