
sebelum membaca author ingatkan ya.. ini ceritanya itu agama mereka non muslim. dan author sendiri agamanya islam..
tidak ada maksud untuk lebih mementingkan agama orang lain dari pada agama sendiri. karna dalam cerita ini author sudah mikirin matang matang untuk memakai agama non muslim untuk mereka.
mohon jangan berfikiran negatif ya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
®®®®®®®®®®
Mereka sudah berada di taman belakang rumah dierja, dengan duduk di sebuah kursi kayu yang panjang menatap jernihnya air kolam renang.
Sebelum berbicara banyak hal yang dipikirkan oleh iren maupun riko... hingga akhirnya riko yang mulai angkat bicara lebih dulu.
"Bicaralah" ujar riko
iren menarik nafas perlahan "Aku tau kau terpkasa menerima pernikahan ini... Sama sepertiku, aku melakukan ini karna orang tuamu, karna aku menghormati mereka seperti aku menghormati kedua orang tuaku, aku tidak akan mengusik urusan pribadimu saat kita menikah nanti, jadi kau tenang saja...aku juga tidak akan melarangmu bertemu dengan kekasihmu atau pun dengan siapapun teman kencanmu, karna pernikahan ini kita lakukan tanpa cinta satu sama lain. Kapanpun kau ingin mengakhirinya aku akan siap" ucap iren panjang lebar
riko merasa hatinya tertusuk ribuan jarum... dipikirannya tidak ada sama sekali kata mengakhiri sebuah pernikahan, apa lagi akan menyakiti istrinya kelak... karna ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan hidup bahagia bersama.
ia sama sekali tak menyangka jika iren akan berfikir seperti itu tentang dirinya.
"Ternyata kau pintar membaca pikiran orang nona... Aku setuju dengan semua ucapanmu, karna aku tidak bisa hidup tanpa kekasih kekasihku di luar sana" ucap riko dingin dan tersenyum masam.
"Apa dimatanya aku sejahat itu, heh...kenapa hatiku merasa sakit saat mendengar ucapannya itu... " batin riko
•••
Setelah obrolan itu mereka sepakat untuk menikah. Dan hari ini adalah hari pernikahan mereka yang sudah di tunggu tunggu oleh keluarga riko, tidak banyak tamu yang datang, hanya keluarga dan sahabat riko, itu adalah permintaan keduanya.
Disinilah mereka sekarang... Disebuah gereja besar, tempat dimana mereka akan melakukan pemberkatan, dimana status mereka akan berganti sebagai suami dan istri... Dimana tanggung jawab mereka akan bertambah.
Iren yang menggunakan gaun putih yang begitu mewah membuatnya seperti putri kerajaan, riko benar benar di buat terpesona oleh calon istrinya itu..
Iren berjalan pelan didampingi oleh omnya.. Adik dari mama kandungnya sendiri. Riko dengan senyum merekah mengulurkan tangannya untuk mengambil iren dari omnya.
Mereka mengucapkan janji suci dengan sungguh sungguh di depan pendeta dan juga banyak saksi.
Riko tersenyum menatap iren di depannya, seolah pernikahan mereka adalah bentuk sebuah cinta yang begitu tulus dari keduanya... Tak lama riko mendekatkan wajahnya ke arah iren dan meciumnya cukup lama dengan sedikit lumatan. Sorak dan tepuk tangan terdengar jelas di telinga mereka berdua.
"Akhirnya mereka nikah juga" ucap farah merasa terharu
"Iya mom... Luna juga terharu dan senang" ucap luna
"Tak menyangka sekretarisku menjadi adik iparku" ucap sandy terkekeh
"Putraku beruntung mendapatkan gadis cantik dan baik seperti iren" ucap daddy
•••
Acara pernikahan sudah dilaksanakan... Mereka juga menunda resepsi karna ingin melakukannya belakangan... Keluarga dierja sempat menolak namun dengan bujuk dan rayuan yang diberikan riko dan iren mereka menjadi setuju.
"Kalian istirahatlah..." ucap farah
"Ya mom..." sahut iren tersenyum
"Jangan lupa buat keponakan yang lucu untukku" ucap luna membuat pipi iren merona
"Ekhem... Tunjukan perkasamu bro" bisik sandy menggoda
"Siap..." ucap riko lalu menggenggam tangan iren, membawanya ke kamar yang ia tempati sendiri.
"Untuk apa kau ikut kemari?" tanya iren
"Tentu saja untuk istirahat... Memang kenapa?" tanya balik riko
"Apa kau juga akan tidur di kamar ini?, bukankah ini kamarku" ucap iren
"Tapi...."
"Kita sudah menikah... Dan tidak ada namanya pisah kamar atau tidur terpisah... Aku menikahimu secara sah dimata hukum dan agama... Walaupun sekarang kau belum mencintaiku sebagai suamimu... Aku pastikan suatu saat kau akan takut kehilanganku" ucap riko panjang lebar. Dan itu berhasil membuat iren tercengang
"Apa maksud semua ucapannya itu... Bukannya kita sudah sepakat" batin iren
"Dengarkan aku iren... Kita memang menikah karna mommy, tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu..." ucap riko meninggalkan iren untuk berganti pakaian
Iren yang bingung dengan sikap riko mencoba mengabaikannya dengan duduk di depan meja rias untuk membersihkan wajahnya.
Tak lama riko keluar keluar dari kamar mandi dan hanya memakai bokser...
"Ya tuhan..." teriak iren langsung menutup matanya.
"Ada apa... Kenapa kau terkejut begitu?" tanya riko yang sudah berdiri di depan iren
"Kenapa kau tidak memakai bajumu... Apa kau tidak malu, tubuhnmu itu tidak menarik jadi jangan sok pamer padaku" ucap iren masih menutup kedua matanya
Riko tersenyum "benarkah kalau tubuhku tidak menarik?" tanya riko
"Iiiii...ya, jadi cepat pakai bajumu"
"Pakaikan..."ucap riko
"Apa.." teriak iren langsung membuka matanya dengan lebar
"Aku bilang pakaikan sayang.." ucap riko menekankan kata pakaikan pada iren
"Tidak mau... Kau punya tangan ,pakai saja sendiri" tolak iren mentah mentah
"Aku ingin istriku memakaikan baju untukku" manja riko
"Kenapa denganmu... Kenapa kau berubah begini.. Ingat pacarmu di rumah sedang mondar mandir menunggu kau membalas setiap chatnya... Jangan mengangguku" kesal iren mengambil baju tidurnya
"Dasar tidak berbakti pada suami" desis riko
"Kau bilang apa?" tanya iren
"Kau tidak berbakti pada suami" kata riko mengulang kata katanya
"Aku akan berbakti pada suami sungguhanku" seru iren
Riko mencekal tangan iren "suami sungguhan?... Lalu aku ini suami bohongan begitu maksudmu hah" kesal riko menarik tubuh iren agar merapat padanya
"Aku tidak bilang begitu... Maksudku itu jika suatu saat nanti kau menemukan wanita yang kau cintai ,pasti akan menikahinya lalu menceraikanku bukan?... Jadi aku juga akan mencari suami yang benar benar mencintaiku" jelas iren
Entah kenapa riko begitu tidak suka dengan perkataan iren dengan kata cerai... Ia tidak pernah berfikir untuk cerai dalam pernikahan ini.
"Terserahmu saja" riko melepas kasar tangan iren yang di cekalnya
"Kenapa dengan dia" batin iren
Riko sudah berbaring di ranjang dengan membelakangi iren, dan iren pun menuju ranjang juga dengan membelakangi riko.
Malam pertama mereka hanya tidur tanpa melakukan hal romantis selayaknya pengantin baru lainnya.
Riko yang belum tidur hanya diam, Ia masih kesal dengan ucapan iren tadi.
"Apa aku menyukainya secepat ini... Tapi kenapa bisa... Kenapa dia bisa membuat aku menjadi sakit hati begini dengan perkataannya" batin riko
Iren yang juga belum memejamkan mata hanya diam tanpa berkata apapun... Ia merasa riko sedang marah padanya, pikiran iren mengatakan kalau riko belum tidur sekarang.
Lama saling bertaut dengan pikiran masing masing membuat mereka mengantuk dan tertidur entah kapan.