
9 bulan sudah usia kehamilan iren, namun dokter bilang bahwa iren akan melahrirkan sekitar seminggu ini, dan harus sering berjalan jalan agar melancarkan persalinannya nanti.
dengan setianya riko selalu mendampingi iren berjalan jalan keliling komplek rumahnya, tanpa alas kaki.
terkadang riko tidak tega melihat istrimya meringia menahan sakit akibat berjalan tanpa alas kaki. tapi dengan begitu gigihnya iren memaksakan diri demi kelancaran sanh buah hati.
"sayang jika lelah kita istirahat dulu saja..." ucap riko sambil mengusap keringat di dahi iren.
"aku tidak apa apa sayang... bentar lagi kita sampai rumah kan" ucap iren
"tapi kau kelelahan..."
"aku kuat...ayo rik, " ucap iren
sampainya si rumah.. iren dan riko langsung merebahkan dirinya di teras rumah mereka, walaupun hanya berjalan, namun rasa lelah pasti ada.
iren menoleh pada sang suami yang juga ikut merebahkan dirinya diaamping.
"kamu capek juga sayang..?" tanya iren
"lumayan sayang... kita masuk ke dalam yuk, mandi terus makan"ucap riko
"ayo sayang.."
riko langsung membantu iren bangun dengan sangat hati hati... karna keadaan istrinya yang sedang hamil tua tersebut.
saat sudah sampai di dalam kamar, iren lebih dulu memasuki kamar mandi dan riko duduk sambil memeriksa email dari asistennya itu.
riko memutuskan tidak berangkat kerja sampai iren melahirkan, karna takut jika sewaktu waktu iren akan melahirkan.
dddrrrtttt...dddrrrttt...ddrrrrrrrttttt
dering ponsel riko berbunyi dengan cepat riko mengangkatnya..
"ada masalah penting apa yo..?" tanya riko pada mario
"------------------"
"kalau tidak terlalu rumit.. kau selesaikan saja masalah itu, aku tidak bisa ikut meeting itu sekarang.. kau tau sendiri kondisi istriku harus sangat dijaga sekarang.., aku tidak bisa meninggalkannya" ucap riko
"----------------"
belum riko menyahuti ucapan mario.. tiba tiba ada tangan yang melingkar di perutnya, siapa lagi kalau bukan kelakuan sang istri yang memeluknya dari belakang.
"yo nanti aku hubungi lagi..." ucap riko mematikan ponselnya dan berbalik menghadap iren.
"tentu saja... aku baru selesai mandi, siapa yang tadi menelponmu?" tanya iren
"istri ke 2 ku..." ucap riko
iren hanya diam dan memandang datar suaminya... ia tau jika suaminya hanya bercanda, tapi iren tidak suka jika suakinya bercanda tentang hal hal yang seperti ini.
iren melepas pelukannya dan meninggalkan suaminya...
namun belum iren membuka pintu kamarnya.. riko sudah lebih dulu memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
mencium leher istrinya tanpa memberikan tanda..
"aku bercanda sayang... hanya kau istriku, tidak ada yang lain.. dan tidak akan pernah ada" ucap riko menaruh wajahnya di ceruk leher iren.
"aku tau kau bercanda... tapi aku tidak suka, bercandamu itu membuatku sakit" ucap iren
riko merasa bersalah karna ucapannya yang memang tidak sengaja dan keluar begitu saja dari mulutnya.
"maaf..maaf..maaf, jangan berfikir yang tidak tidak.. inget di dalam sini masih ada kita" ucap riko mengelus perut oren dengan sayang.
"hmmm.. ya" ucap iren
"bagaimana jika kita pergi ke mall... kita beli baju baju bayi lagi hari ini.." ucap riko
"tidak mau... kau sudah membelinya sangat banyak rik, jangan melakukan hal hal lain lagi, itu sudah cukup" ucap iren
"tidak akan pernah cukup sayang... anakku harus punya banyak pakaian.." ucap riko
"tidak usah.. aku ingin di rumah saja" ucap iren memelas pada riko
"baiklah baiklah... sekarang aku akan mandi dulu, nanti kita nonton bersama kesukaanmu di bawah" ucap riko membuat iren sumringah
"oke... aku tunggu dibawah saja.."
"tidak boleh... harus tunggu aku, tangga kita sangat tinggi.. nanti kau lelah" ucap riko melarang iren keluar kamar tanpanya
"ck.. oke, cepatlah mandi, jangan lama lama" ucap iren
"baik sayangku... tunggu daddy" ucap riko mencium perut buncit istrinya.
giliran iren yang menunggu riko di sofa kamar mereka, dengan membaca majalah majalah korea yang sangat disukainya, apa para idoalnya yang begitu sangat dikagumi iren sedari dulu, sampai sampai membuat riko cemburu jika iren lebih memilih melihat idolanya dari pada dirinya.