SUDDEN MARRIAGE

SUDDEN MARRIAGE
kediaman keluarga dierja



Riko akhirnya menuju ke kantin kantor, ekor matanya menelusuk keliling kantin sehingga sosok yang ia cari cari ternyata sedang makan, sudut bibir riko terangkat... Namun saat ekor matanya semakin jelas melihat bahwa iren tidak sendiri melainkan dengan seorang pria yang tidak dikenalnya sama sekali.. Senyumnya menghilang digantikan rasa kesal. enyah kenapa dia harus kesal.. padahal dia belum dekat dengan iren.


Riko melangkahkan kakinya mendekat ke meja tempat iren duduk dengan seorang pria itu.


"Ternyata kau disini... Aku mencarimu sedari tadi" ucap riko merangku pundak adel yang sedang makan.


Iren terkejut bukan main... untung dia sudah selesai mengunyah makanannya.  Lalu menoleh ke kiri dan melihat riko yang sudah duduk di sampingnya dengan tersenyum.


"Apa apaan pria ini... Kenapa dia sok kenal denganku" batin iren


" Bisa kita bebricara sebentar?" tanya riko masih dengan senyuman


"Aku sedang makan"ucap iren cuek


"Baiklah aku tunggu kau selesai makan" ucap riko


"Terserahmu saja"  cuek iren


"Hmmmm... Aku tau kau marah, tapi jangan seperti ini sayang" kata riko memulai bakat aktingnya.


Leo yang duduk bersebrangan dengan iren merasa canggung, ia merasa menjadi obat nyamuk di tengah tengah riko dan iren.


ia merasa bahwa riko adalah kekasih dari iren...dan mereka sedang bertengkar.


"Benar ren.. Lebih baik kau menyelesaikan masalahmu dengan kekasihmu dulu, aku pamit lebih dulu, semoga kalian cepat baikan" pamit leo tersenyum


"Le....." belum iren berbicara riko sudah berdehem keras menahan tawanya.


"Selesaikan makanmu dulu, terus ikut aku bertemu mommy" ucap riko


"Untuk apa aku ketemu tante farah?" tanya iren menatap curiga riko.


"Ikut saja... Nanti kau akan tau"


"tapi aku harus ijin dengan pak sandy"


"tidak usah... aku sudah bipang padanya kalau meminjam-mu" kata riko


"dia pikir aku barang... pake dipinjam" gerutu iren


Selesai dengan makannya iren dan riko pergi meninggalkan kantor sandy, iren hanya diam tidak berniat mengeluarkan suara. bukan karna malu atau tidal berani.. tapi karna iren sudah merasa malas dan kesal terhadap riko.


"Maaf soal dipesta axel" ucap riko memulai pembicaraan


"Lupakan saja... Aku tidak ingin mengingatnya" iren masih enggan menatap ke arah riko


"Baiklah.. Aku anggap kau sudah memaafkanku" sahut riko


"Kemana kita akan pergi?" tanya iren


"Ke rumahku... bukannya aku sudah bilang kita akan bertemu mom" jawab riko


"APA... jadi kita benar bertemu tante farah" teriak iren


"Tidak pake teriak nona.."


"Untuk apa aku ke rumahmu?... dan untuk apa aku ketemu tante farah?.. kalau soal kejadian itu.. kau bilang saja aku sudah memaafkannya" ucap iren


"Ini kemauan mommy-ku dan daddy,  jadi diamlah... lagi pula tidak ada hubungannya dengan kejadian di pesta itu... emmmm ada sedikit.. tapi biar nanti mom yang bicara padamu" ucap riko


Menghela nafas kasar "huuuffhhhh apa aku punya kesalahan sehingga mereka mengajakku bertemu" gumam iren yang bisa di dengar riko


"Kau tidak ada kesalahan apapun.. Hanya saja ini menyangkut masa depan kita" ucap riko


"Apa maksudmu?" tanya iren yang masih belum paham


"Kau akan mengerti saat di rumahku nanti"


Akhirnya mereka sampai dikediaman dierja... Disana sudah ada luna dan orang tuanya, semakin dibuat bingung.. iren menjadi bodoh dan tidak bisa berfikir.


"Mom...aku sudah membawanya" ucap riko menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul.


farah langsung tersenyum dan menyambut kedatangan iren...


"Iren..kemarilah nak, duduk disini" ucap farah tersenyum namun iren hanya diam seperti sedang berfikir.


"Ren... Mom menyuruhmu duduk" ucap luna menghentikan lamunan iren


"ehhh....(terkejut), Iya tante maaf" ucap iren menunduk


"Duduklah..." pinta farah kembali


"Mungkin kau merasa bertanya tanya kenapa aku menyuruhmu datang kesini, sesuai perkataanku di pesta, aku ingin kau menikah dengan riko putraku..." ucap farah menatap iren dengan serius, dan penuh harap.


iren hanya diem membisu...


Luna yang mengerti dengan kebingungan dan rasa bimbang di dalam diri iren ikut angkat suara.


"Kalau kau tidak setuju tidak apa ren... Jangan merasa tidak enak atau terpaksa setuju... Kami semua tidak akan memaksamu" ucap luna tersenyum


Iren masih terdiam...dengan fikirannya sendiri


"Dengarkan aku nak... Kami memang baru bertemu denganmu sekali ,tapi dari cerita putriku luna, kami yakin bahwa kau pantas menjadi menantu keluarga dierja, pikirkanlah dulu... " ucap tuan dierja


"Maaf tante...maaf om dan kak luna, bagaimana bisa aku menjadi istri atau menantu dari keluarga yang begitu terpandang seperti kalian... Aku hanya wanita biasa, hanya seorang pekerja kantoran, dan riko masih bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih dari segalanya dariku" ucap iren merendahkan diri


Riko hanya bisa diam... Ia sedikit kecewa dengan perkataan iren.


"Apa dia berfikir aku melihat wanita dari segi kekayaan" batin riko


"Ren... Kami keluarga dierja tidak pernah memandang drajat seseorang entah dia kaya, entah dia miskin, itu semua sama dimata kami, menurutku kau gadis yang hebat, pekerja keras, cantik... Justru kami sangat bersyukur jika mendapatkan anggota keluarga sepertimu" ucap luna tersenyum


"Tapi... Bukankah riko sudah memiliki kekasih... Kenapa kalian tidak memilih kekasihnya untuk menjadi istri??" tanya iren berani


"Karna dia bukan wanita baik baik...dia hanya wanita yang mengincar kedudukan semata dan uangku" ucap riko ankat bicara


"Kenapa kau menjelekan kekasihmu sendiri..., kalau kau tau dia hanya mengincar uangmu , lalu kenapa kau mau dia menjadi kekasihmu" sinis iren. perkataan iren membuat riko berfikir dan mulai berbicara lagi.


"Dia bukan kekasihku... Kami hanya sebatas teman kencan" sahut riko tenang


"Iya ren.. Riko memang seperti itu... Dia hanya berkencan tanpa memberi kepastian pada setiap wanita yang ia kencani" sambung luna menatap tajam adiknya


"Bagaimana ren... Apa kau bisa memenuhi permintaan om dan tente?" tanya farah lirih


Sedikit rasa kasihan di hati iren melihat wajah sendu tante farah yang sangat mengharapkannya.


Namun ia takut tidak bisa menjadi istri yang baik nantinya.


"Aku yakin kau akan memilih pilihan yang baik untukmu" bisik luna


Dengan tekad yang kuat, dengan begitu yakin dengan hatinya "iya aku setuju untuk menikah dengan putramu tante" ucap iren dengan satu tarikan nafas


Semua tercengang mendengar persetujuan iren, termasuk riko yang melototkan matanya tak menyangka kalau iren akan menerimanya lebih tepatnya menerima tawaran mommy-nya.


"Kau serius?" tanya riko senang ,namun ia pintar menyembunyikan rasa senangnya itu.


"Kenapa?... Apa kau tidak setuju?" tanya balik iren


"Aku setuju..." ucap cepat riko


"Aku tidak tau bagaimana prasaanku, tapi aku akan berusaha menjadi suamimu sebaik mungkin" batin riko


"Kalian akan menikah seminggu lagi.." ucap mommy


"Apa" teriak iren, luna, riko sedangkan daddy hanya diam dengan tenang karna ia tau apa yang akan istrinya lakukan.


"Lebih cepat lebih baik" ucap mommy


"Tapi itu terlalu cepat tante" ucap iren


"Jangan menolak sayang... Tante yakin riko akan membuatmu bahagia" ucap farah penuh dengan keyakinan


"Mom... Jangan terlalu memaksa" tegur luna


"Jika tidak dipaksa mana mungkin iren mau dengan pria brengsek seperti adikmu itu" ucap farah melirik putranya


"laki laki brengsek ini adalah putra kandungmu mom.." batin riko kesal


"Sudahlah mom... Aku sudah mengikuti semua kemauan mom" ucap riko kesal


"Jadi dia mau menikah denganku karna paksaan mommy-nya" batin iren.


"Bagaimana ren... Apa kau setuju?" tanya mommy


"Apa aku boleh berbicara berdua dengan riko tante?" tanya iren


'Tentu... Kalian memang harus berbicara agar lebih dekat" ucap daddy


"Dan kau... Jangan membuat iren kesal atau mom akan  membatalkan pernikahan ini" ancam momny


"Iya mom"