
Mereka sudah berada di dalam kamar, riko berbaring sambil melihat laptop untuk mengecek pekerjaannya untuk besok.
Tak lama iren keluar dari kamar mandi sudah menggunakan piyama tidurnya.
"Sudah malam begini masih bekerja... Dasar gila kerja" gumam iren
"Ekhem... Apa pekerjaanmu belum selesai juga?" tanya iren berbasi basi
"Ini pekerjaan untuk besok... Aku akan lembur dikantor besok, mungkin akan pulang sangat malam" ucap riko
"Apa ada sesuatu yang serius terjadi?" tanya iren hawatir
Melirik iren "tidak ada, kau jangan hawatir, meskipun aku ada masalah dikantor.. Kita tidak akan jatuh miskin" riko tersenyum melihat reaksi iren mendengar ucapannya
"Aku tidak peduli soal itu.. Kenapa kau mengatakan seolah aku takut miskin dan seperti wanita matre" kesal iren mengambil selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya
Riko yang sadar jika iren sedang merajuk berusaha membuka selimutnya... namun ditahan oleh iren.
"Jangan menutupi wajahmu begitu"
"Terserahku... Jangan ganggu aku" ucap iren sinis
"Nanti kau bisa mati" ucap riko bercanda
"Biarkan saja... Biar kau jadi duda" ucap iren tersenyum dibalik selimutnya.
"Tidak apa.... aku bisa menikahi jessy, jika kau tiada dan menjadikanku duda" ucap riko.
tanpa berfikr dengan ucapannya... riko tak tau kalau setiap katanya itu membuat iren menjadi salah paham......
"Jadi dia masih mengharapkan kekasihnya itu..heh" sinis iren dalam hatinya
"Kenapa diam?" tanya riko yang melihat iren hanya diam.
"Hmmmmm... Aku ngantuk, selamat malam" ucap iren membelakangi riko.
"Sepertinya dia menganggap serius ucapanku..." riko menutup laptopnya dan mendekati tubuh iren yang terbungkus dengan selimut lalu mendekap tubuh iren dari belakang.
Iren menengang merasakan pelukan riko, suaminya itu selalu melakukan hal hal secara tiba tiba padanya.
"Jantungku..." ucap iren spontan
"tidurlah... sudah malam" seru riko yang mendengar suara iren
"Kau memelukku begitu erat..aku susah tidur" ucap iren mencari alasan
"Kau kesal padaku kan? hmmm..." riko mencium rambut iren
"Tidak..."
"Iya kau kesal padaku karna jessy" kata riko pasti
"Untuk apa aku kesal padamu... Wajar kau ingin menikah dengannya, dia kekasihmu"ucap iren
Riko tersenyum mendengar perkataan istrinya itu, sangat jelas jika iren terlihat tidak rela jika ia dengan jessy
"Jangan salah paham... Aku dan jessy tidak ada prasaan apapun, tadi aku hanya bercanda menyebut namanya" ucap riko membalikan tubuh istrinya
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri.. Kalau aku akan menikah sekali seumur hidupku" ucap riko lagi
iren menatap mata riko untuk mencari kebohongan.. namun yahg dilihat adalah tatapan kejujuran dari sang suami
"Maaf... Karna aku kekanakan" ucap iren memeluk riko
"Kau baru sadar jika bersikap kekanankan hmmm" riko tersenyum mencium kening sang istri
"Aku akan berubah... Janji" ucap iren
"Tidak apa... Sebelum kita punya anak, aku akan menerima sifat kekanakanmu ini" ucap riko mencubit hidung iren
"Haissss ... Kau ini, ya sudah kita tidur, besok akan bekerja lagi" ujar iren menyembuyikan wajahnya didada bidang riko, mencari kenyaman disana.
Riko dengan setia memeluk tubuh istrinya... Mereka terlelap dengan saling berpelukan.
Jam 06.00 iren sudah lebih dulu bangun dalam dekapan sang suami... Dilihatnya riko yang masih terlelap sambil memeluknya dengan erat. Rasa nyaman dirasakan iren saat berada di dekapan sang suami. Pantas saja tidurnya nyenyak semalaman.
Perlahan iren menyingkirkan tangan riko di tubuhnya... Dengan begitu hati hati, karna iren tak ingin membangun riko lebih dulu.
selesai menjalankan ritual mandinya , iren melangkah menuju dapur untuk mulai memasak untuk sarapan. Biasanya ia akan bertemu dengan sang mertua.. Namun kali ini hanya ada pembantu.
"Selamat pagi.." sapa iren
"Selamat pagi nyonya" ucapnya membalas sapaan iren
'Jangan panggil aku nyonya... Panggil saja aku iren" pinta iren
"Maaf nyonya... Kami mana mungkin berbicara lancang dengan anda" ucap bi sumi diangguki pembantu lainnya
"Hmmm... Ya sudah panggil aku nona saja bi... Jangan nyonya, aku masih muda dan belum keriput" iren menyahuti dengan sedikit bercanda agar akrab.
"Ekhem... Apa berarti mom sudah tua dan keriput karna di panggil nyonya disini" ucap farah yang sejak tadi mendengar interaksi menantu dan juga pembantu rumahnya
"Mom... Maafkan, bukan begitu maksudku, aku hanya sedikit bercanda dengan bi sumi" iren merasa tidak enak hati dengan ibu mertuanya itu.
"Hahahaha... Mom hanya bercanda sayang, mom senang kau bisa dekat dengan mereka... kita masak apa hari ini?" tanya farah
"Kita masak nasi goreng buat sarapan mom... Riko harus bekerja pagi, kalau kita masak banyak takut nanti dia tidak sempat sarapan" ucap iren yang memperlihatkan perhatiannya pada sang suami
farah begitu senang mendengar iren yang begitu peduli pada putranya... dirinya merasa tidak salah pilih menantu.
"Haduhhhh menantuku begitu perhatian.. Tidak salah aku menikahi riko denganmu"
"Iya benar nyonya... Nona iren sangat baik dan pintar memasak" puji bi sumi
"Kalian jangan begitu... aku adalah istri riko jadi wajar bukan" iren merasa malu
"Ya sudah ayo masak...sudah itu kita bangunkan para suami" ujar mommy yang langsung menyiapkan bahan bahannya.
Sudah selesai memasak... Iren segera menuju kamarnya untuk membangunkan riko.
Dilihatnya sang suami yang masih bergelut dengan guling, itu terlihat begitu menggemaskan. Iren akui kalai wajah sang suami begitu tampan, namun yang tak disukainya adalah sifat playboy riko yang dulu.
Walaupun mereka belum kenal sebelumnya.. Iren bisa melihat dari kejadian di pesta waktu itu, dari sana ia sudah tau kalau riko adalah pria yang memiliki banyak wanita.
"Aku tau wajahku sangat tampan dan menggoda sayang" ucap riko yang memang sudah bangun dari tidurnya
Iren yang mendengar itu terkejut.. iya kepergok sedang memandang suami sendiri... betapa malunya iren.
"Sejak kapan kau bangun?" tanya iren gugup
"Sejak tadi..." sahut riko tersenyum
"Ya sudah , lebih baik kau mandi dan siap siap ke kantor... Aku sudah memasak untukmu" ucap iren mencoba bersikap biasa
"Baiklah... Tapi aku tidak bisa sarapan di rumah sayang... Sudah telat, nanti biar aku pesan makan dikantr" seru riko mengambil handuknya
iren sedikit kecewa karna riko tidak bisa sarapan bersamanya.. padahal ia sudah masak.
riko menyadari ada raut sedih di wajah sang istri, namun apa boleh buat... ia harus mengejar waktu agar bisa cepat cepat pergi bulan madu.
"jangan sedih begitu... maafkan aku, tapi aku janji setelah ini kita akan sering makan bersama" ucap riko begitu yakin
"hmmm..... baiklah" ucap iren lirih
"aku mandi dulu"
"iya" sahut iren
riko benar benar tak bisa melihat wajah istrinya sedih ataupin kecewa...
"Chuppppp... Morning kiss beby" riko ingin menggoda istrinya itu agar tidak sedih lagi
"RIKO......" pekik iren
namun riko sudah lebih dulu lari terbirit birit ke kamar mandi...