SUDDEN MARRIAGE

SUDDEN MARRIAGE
kebahagiaan dan kehancuran



riko sedang bersiap siap untuk berangkat ke kantornya, dibantu oleh iren yang menyiapkan berkas berkas dan juga memakaikan riko dasi dengan rapih.


setiap hari mereka melakukan hal seperti ini... sungguh riko benar benar senang dan sangat bahagia mendapatkan perhatian dari istirnya.


"sayang apa kau jadi untuk berkunjung ke rumah lamamu?" tanya riko melingkarkan tangannya di pinggang iren


"tentu... aku sangat merindukan rumah itu" ucap iren yang masih memasangkan dasi riko


"sudah selesai" sambung iren tersenyum


"terimakasih istriku sayang" ucap riko mencium kening istrinya


"jangan bilang terimakasih, ini sudah kewajiban istri melayani suami" ucap iren memeluk riko


riko mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh kelembutan...


"kapan kau akan memeriksa kandungan sayang?" tanya riko


"seminggu lagi... aku harap kau bisa menemaniku sayang" ucap iren memelas pada riko. sungguh istrinya sangat menggemaskan jika memelas seperti ini.


"tentu... setiap periksa aku akan menemanimu dan melihat perkembangan anak kita"


"benarkah..?, tapi jika kau banyak pekerjaan tidak apa apa, aku bisa memaklumi suami" ucap iren tersenyum


riko menggelengkan kepalanya "istri dan anakku lebih penting dari pekerjaanku, lagi pula sudah ada mario yang bisa mengurusnya"


"baiklah... sebaiknya sekarang kau berangkat bekerja, nanti telat... aku akan berangkat lebih siangan" ucap iren


iren masih bekerja sebagai sekretaris riko di perusahaan, awalnya riko tidak mengijinkan istrinya itu untuk bekerja kembali.. namun iren begitu kekeh untuk tetap bekerja.


akhirnya riko mengalah dan memberikan ijin ,namun ada syaratnya... iren akan bekerja di jam siang agar tidak terlalu lelah.


"aku akan menunggumu sayang, baiklah aku ke kantor dulu" ucap riko


"aku akan mengantarmu sampai di depan" pinta iren


"nanti kau kelelahan menaiki tangga sayang. jadi tidak perlu mengantarku ke depan, aku berangkat dulu... sampai ketemu nanti" ucap riko mengecup bibir istrinya


iren hanya membalas dengan senyuman melihat kepergian suaminya...


"waktunya bersiap...!! pa ,ma aku akan pulang ke rumah kita" gumam iren menitikan air matanya.


•••


luna dan juga mommy sudah menunggu di ruang tamu...


"kenapa kau tidak mengajak axel pergi... kasian cucu mom kau tinggal terus lun" ucap farah kepada putrinya


"mana mungkin aku mengajak axel mom... kita akan ke rumah wanita jahat, aku tidak mau jika anakku melihat sesuatu yang tidak pantas nantinya" ucap luna


"apa kau sudah ijin pada sandy?, jangan sampai kau pergi begitu saja tanpa memberitahunya" kata mommy


"jelas aku sudah ijin mom... mana berani aku pergi tanpa pamit dengan suami tercintaku, lalu apa mom sudah ijin pada daddy" luna tersenyum membalas perkataan farah


"heh kau ini... mom tanpa ijin pun pasti daddy mu mengijinkan" kata farah


"benarkah?... aku tidak percaya"


"ck... terserahmu saja , yang jelas mom tidak perlu ijin dad, asalkan mom tidak pulang telat ke rumah" kata farah


"akhirnya yang di tunggu tunggu muncul juga... lama sekali kau ini" decak luna


"maafkan aku kak... apa kita berangkat langsung?" tanya iren


"memangnya siapa lagi yang akan kesana selain kita?" tanya mommy


"tidak mom... hanya kita ber 3x " ucap luna


"ayo berangkat ,mom udah gak sabar ketemu mama tiri kamu yang neyebelin itu" kata farah dengan gemasnya


"ayo mom"


tak butuh lama untuk sampai ke rumah iren, cukup menempuh parjalanan 1 jam... walaupun dekat tapi iren sudah tidak pernah pulang... saat insiden pengusirannya itu.


"rumahmu sangat besar ren..."ucap luna


"iya kak... mamaku yang mendesainnya sendiri" kata iren saat memasuki perkarangan rumahnya


tidak ada yang berubah sama sekali... semua masih sama seperti dulu batin iren


rumah yang memberinya kebahagiaan dan juga kehancuran. begitu banyak kenangan di rumah ini bersama kedua orang tua iren, sebelum kedua ibu tiri dan saudra tirinya masuk ke rumah membuat semuanya kacau balau.


ting..nong


ting..nong


ting..nong


iren menekan bel rumahnya beberapa kali...


"iya sia...." belum selesai berucap wanita paruh baya tersebut langsung menutup mulutnya dan menangis haru. merasa tak percaya siapa yang dilihatnya.


iren pun tak kuasa menahan tangisnya saat melihat pembantu rumah tangganya dulu..


"bibi.." lirih iren menangis


"nona iren... ya tuhan ini benar nona iren" ucapnya memeluk iren sambil menangis


"iya bi ini iren..."


"bi nah.... siapa yang datang" teriak seseorang dari dalam rumah yang akan segera keluar


"nyonya.." ucap bi nah merasa takut melihat majikannya


"kau..." tunjuk wanita paruh baya yang sedikit glamor


"ya aku...!! ternyata kau masih ingat padaku bibi yulia" ucap iren menatap tajam mama tirinya


"untuk apa kau ke rumahku hah... pergi kalian" ucap yulia dengan marahnya


"hai nyonya.. jaga ucapanmu itu , kau belum tau siapa aku, jangan coba coba berteriak kepada di depanku" kata farah yang sudah geram


"aku tidak pernah takut padamu.. siapa dirimu hah, apa kau orang yang memungutnya di jalan?" tanya yulia terkekeh sinis


PLAK......