
Iren sudah berada di kantor setelah melakukan tugasnya sebagai istri... Menyiapkan sarapan walaupun sang suami tidak sarapan di rumah dan menyiapkan baju kerja, saat riko sudah berangkat kantor barulah iren juga berangkat bekerja.
"Hai ren... Sedang apa?" tanya leo
"Aku sedang memeriksa laporan yang diberikan pak sandy... Kau ada apa kesini?" tanya iren pada leo
"Aku ingin bertanya padamu... Apakah mila memiliki kekasih?" tanya leo
Iren memicingkan matanya...
"Ada apa dia menanyakan mila sudah memiliki kekasih atau belum" batin iren
"Ren... Apa kau dengar" sentak leo
"Hah...iya aku dengar" ucap iren
"Lalu?" tanya leo menunggu jawaban iren
"Dia tidak punya kekasih... Kenapa?" tanya iren memancing leo
"Tidak apa.. Aku hanya bertanya" ucap leo tersenyum penuh arti
"Kau kesini hanya untuk itu le?" tanya iren tak percaya.
Leo merasa malu "ya begitu ren... Maaf mengganggu pekerjaanmu" ucap leo
"Tidak masalah..." ucap iren
"Ren... Tolong bawa berkas yang kau periksa ke ruanganku" ucap sandy menyelipkan kepalanya keluar tiba tiba
"Astaga... Pak sandy mengagetkan saja" ucap leo mengelus dadanya
"Sedang apa kau disini?" tanya sandy melihat leo
"Tidak ada apa apa pak... Saya cuma sedang bertanya sesuatu" ucap leo sopan pada sandy
"Ohhh" sandy hanya ber oh saja, dan masuk kembali ke ruangannya.
"Bos datar banget wajahnya..ihhh serem" batin leo
Iren melihat itu menahan tawanya... Leo tidak tau saja jika sandy hanya bersifat seperti di kantor.
"Jika saja kau tau bagaimana aslinya pak sandy le... Aku yakin kau tidak akan percaya bahwa doa seorang boss" batin iren
"Aku mau keruangan pak sandy dulu le..." ucap iren.
"Aku juga mau lanjut bekerja... Semoga kau sanggup menghadapi pak sandy ren..." kata leo
Iren tersenyum menggelengkan kepalanya... Lalu masuk ke dalam ruangan sandy dengan membawa berkas laporan yang diminta
"Permisi pak... Ini laporan yang anda minta" ucap iren
"Sudahlah adik ipar... Kita hanya bedua.. Jangan terlalu formal" sanggah sandy
"Baiklah kaka ipar... aku ingin meminta ijinmu , Jam makan siang aku akan ke kantor riko, mungkin akan telat balik kantor... Tidak apa kan?" ucap iren meminta ijin
"Kau tau..!! kalau aku menolak... Suamimu itu akan murka denganku" ucap sandy dibalas senyuman oleh iren
"Makasih untuk berkasnya... Kau boleh pergi sekarang ke kantor riko ,tak perlu menunggu makan siang" ucap sandy memberikan ijin
"Baik kak... Aku permisi dulu" pamit iren dengan sopan pada sandy
"Iya...salamkan aku dengannya" ucap sandy
Iren keluar ruangan dan bersiap untuk ke kantor riko... Ia tidak menghubungi suaminya lebih dulu.. Karna ingin mengejutkan riko.
Saat melangkah menuju loby iren dikejutkan dengan teriakan zio sahabatnya.
"Irennnnnnn...." teriak zio diikuti mila di belakangnya
Iren membalikan badannya...
"Hoh...hoh kau ini tuli sekali, aku sudah teriak memanggilmu sedari tadi" ucap zio
"Iya... Kakiku pegal" ucap mila yang juga ngos ngosan
"Ada apa?" tanya iren
"Kita dapet undangan makan makan dari ciko..." ucap mila
Ciko adalah teman kampus mereka dulu... Sampai sekarang iren dan mila masih berhubungan baik dengan teman SMA maupun kuliah mereka.
"Kapan?" tanya iren
"Besok jam 7 malam" jawab mila
"Apa aku bisa dateng... Tapi sekarang aku mempunyai suami dan tidak sebebas dulu" batin iren
"Ren... Kau bisa kan?" tanya zio
"Emmmm... Lihat saja besok, aku tidak janji akan datang, tapi aku usahakan bisa dateng ke acara itu" sahut iren tersenyum
"Maaf... Aku sekarang banyak kerjaan, dan aku harus pergi hari ini.. lain kali kita makan sama sama, Aku duluan" pamit iren melambaikan tangannya dan bergegas pergi
Iren sudah memesan makanan lewat sang supir... Jadi ia tinggal berangkat langsung ke perusahaan dierja tempat sang suami.
"Ayo pak..." ucap iren pada sang supir
"Baik nona" pak supir langsung membukakan pintu mobil untuk iren
Dalam perjalanan iren selalu tersenyum... Dan ingin sampai ke tempat riko untuk memberikan suprise.
Dan tak lama mobil yang membawa iren telah sampai di pelantaran gedung mewah yang menjulang tinggi... Bertuliskan dierja company.
"Pak aku masuk dulu... Jika ingin istirahat.. Silahkan" ucap iren tersenyum
Semua mata karyawan menatap iren... Ini kali ke 2 iren mendatangi kantor riko.
Tak ada yang berani mengeluarkan suaranya... Hanya tatapan sinis dan kagum yang terlihat.
Iren berjalan melangkahkan kakinya ke ruangan riko... Didepan ada meja sekrearis ,yang iren sudah kenal walaupun tidak terlalu akrab.
"Siang mbak dini.." sapa iren tersenyum
"Sssss...si....siang nyonya" ucap dini terbata bata
"Mbak dini kenapa?..." tanya iren yang merasa aneh dengan dini
"Hah... Tidak apa nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya dini yang sudah merasa was was
"Ohh.. Tidak mbak ,aku ingin membawakan riko makan siang... Apa riko ada didalam?" tanya iren
"Aaaa...ada ta...." belum selesai dini berbicara iren langsung menyela.
"Baiklah... Aku langsung masuk ya mbak" iren dengan cepat melangkah ke ruangan riko.
Dannnnn ceklek...
Riko membelalakan matanya saat mendengar suara pintu terbuka..
Disana ia melihat istrinya berdiri kaku di pintu ruanganya yang sudah terbuka lebar itu.
"Sa....sayang" pekik riko dan mendorong jessy menjauh darinya
Iren tak bergeming... Matanya hanya menatap riko dan jessy di depannya. Iren tak bisa berfikir apapun setelah apa yang ia lihat. Hatinya merasa hancur dan kecewa.
"Sayang kau salah paham" riko mendekati iren namun selangkah iren malah menjauh dari riko
"Sayang..." ucap riko
"Benar dugaanku selama ini... Kau tidak mungkin bersungguh sungguh dengan hubungan kita" lirih iren tersenyum sinis
Jessy yang tak senang merasa kesal dan marah...
"Iya memang benar... Selama ini riko hanya mencintaiku... Dia tidak bahagia dengan hubungan barunya denganmu apa lagi karna desakan orang tuanya... jadi jangan mimpi untuk menjadi nyonya riko" ucap jessy lantang
"Diam kau jessy.... Kau jangan banyak bicara.. Pergi kau dari sini" teriak riko mengusir jessy
"Riko sadarlah... Aku mencintaimu dengan tulus.. Hanya aku yang pantas untukmu.. Bukan dia" ucap jessy
"Diam ku bilang" teriak riko
"Pergi kau dari ruanganku.. Jangan banyak biacara" ucap riko menyeret jessy keluar ruanganya
"Riko dengarkan aku...." namun riko tidak peduli, ia menyeret dan mendorong jessy keluar.
Iren diam membisu di tempatnya...
Setelah jessy pergi riko menutup pintu ruangannya...
"Ren... Itu tidak benar, kau salah paham sayang, jangan dengar jessy" ucap riko menarik iren dan mendekapnya erat
"Kau salah paham" hanya itu yang riko ucapkan pada iren
Iren menahan air matanya agar tidak terjatuh... Hatinya begitu sakit melihat sang suami bercumbu mesra di depan matanya sendiri.
"Semua yang kau lihat tidak benar sayang... Percayalah padaku" ucap riko
Iren melepas dekapan sang suami...
"Ini makan siangmu.. Makanlah, aku ada pekerjaan, semoga kau suka dengan makanannya" ucap iren berusaha menahan dirinya agar tidak lemah dimata riko
Dengan rasa kecewa iren masih mau menyiapkan makanan untuk riko. Menata makanannya di meja sofa.
"Jangan seperti ini ren... Dengarkan aku, maafkan aku ren maaf" ucap riko lirih. Ia tahu kalau istrinya kecewa
"Aku harus balik ke kantor... Pekerjaanku sangat banyak, habiskan makanan ini, kau harus makan" iren menatap riko datar
"Aku antar"
"Tidak perlu... Aku kesini dengan supir.. Selamat makan" iren dengan cepat keluar dari ruangan riko.