SUDDEN MARRIAGE

SUDDEN MARRIAGE
QAREL JULIAN DIERJA



seminggu sudah iren tidak sadarkan diri, seminggu pula riko tak pernah lelah untuk menjaga istri tercinta. sedangkan anak mereka sudah diperbolehkan untuk pulang dan dijaga oleh mommy dan juga kakanya luna.


riko dengan sabar menjaga iren yang masih belum membuka matanya, di pandangnya wajah iren yang terlihat pucat, di kecupnya telapak tangan iren dengan penuh cinta.


"kapan kau akan sadar sayang, apa kau tidak ingin melihat jagoan kita hmmm.... merawatnya adalah impianmu bukan?, sadarlah sayang.. aku dan anak kita membutuhkanmu, sangat butuh" ucap riko dengan tangisan. setiap hari riko mengajak iren untuk berbicara.


riko yakin iren mendengarnya, karna terkadang iren pun mengeluarkan air mata jika dirinya bercerita tentang anak dan juga dirinya yang kesepian.


tanpa riko sadari iren mengercapkan matanya...


"rik......o" ucap iren hampir tidak terdengar sama sekali. namun riko bisa mendengar suara walaupin tidak jelas.


riko yang menidurkan kepalanya di lengan iren langsung mendongakan kepalanya.


dilihatnya iren sudah membuka mata walaupun terlihat sangat lemah...


"sayang kamu sadar..., ya tuhan syukurlah, terimakasih tuhan" ucap riko langsung menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.


dan tak lama dokter serta suster datang membawa alat untuk memeriksa iren.


saat sudah selesai memeriksa seluruh kesehatan iren. barulah dokter angkat bicara.


"syukurlah nyonya iren sudah sadar... perkembangan yang sangat bagus ,tapi kondisi istri tuan masih sangat lemah.. biarkan dia istirahat lebih dulu.." ucap dokter


"baik dok terimakasih" ucap riko


"nanti saya akan kemari lagi tuan... untuk memantau kesehatan nyonya, permisi" pamitnya. riko hanya menganggukan kepalanya.


"sayang... akhirnya kau sadar, aku merindukanmu" ucap riko memeluk iren yang masih terbaring lemah.


"a....anak kita mana" ucap iren dengan suara pelan


"anak kita di rumah sayang... dia sangat tampan sepertiku, cepatlah sembuh dan rawat anak kita bersama" ucap riko mencium kening iren.


"aku ingin melihatnya rik...sangat" ucap iren dengan nada memohon pada riko.


"aku selalu menyempatkan diri untuk memfotonya... lihat ini" ucap riko memberikan ponselnya pada iren


air matanya menetes dengan derasnya.. membuat riko juga menitikan air mata ,namun ada rasa bahagia di hatinya melihat sang istri sudah sadar dari komanya


"jangan menangis emmm... nanti aku akan menyuruh mom mengajaknya kemari" ucap riko mengusap air mata iren.


"jangan... dia masih terlalu kecil untuk kesini, biarkan dia di rumah... aku akan bersabar sampai sembuh" ucap iren


"sayang... jangan pernah meninggalkanku, aku tidak bisa hidup tanpamu" ucap riko


"maaf sudah membuatmu hawatir dan menangis" ucap iren tersenyum


"kau berhasil membuatku menjadi pria cengeng sayang..." kata riko sambil terkekeh geli.


"aku sangat mencintaimu rik... terimakasih sudah menemaniku di saat aku koma tak sadarkan diri" ucap iren mencium bibir riko sekilas


"jangan katakan itu.. karna sudah kewajibanku sebagai suamimu untuk mejaga dan melindungi istriku" ucap riko


"apa kau sudah makan?, kau juga belum menghubungi keluarga kita" ucap iren


"aku sudah makan sayang... dan aku hampir lupa memberitahu keluarga kalau kau sudah sadar... tunggu sebentar aku akan menghubungi mom dan kak luna" ucap riko


"iya... dan tolong bilang pada mom, buatkan aku nasi goreng cumi, aku sangat rindu masakan mom" ucap iren


"apapun untuk istriku tersayang" riko mencium kening serta bibir iren dengan sayang.


tidak ada hal yang paling bahagia selain melihat orang yang dicintai bahagia dan selalu berada disisinya dan mendukungnya.


"sayang... siapa nama anak kita?" tanya iren


"sesuai nama yang kau minta jika laki laki diberi nama QAREL JULIAN DIERJA, panggilannya qarel sayang" ucap riko


"makasih ya sayang... ternyata kau ingat keinginanku" ucap iren yang tak percaya jika naka sang anak adalah nama yang memang akan ua berikan nantinya


"aku akan selalu membuatmu bahagia sayang, bahkam jika aku harus kehilangan nyawaku sekali pun" ucap riko