
Vanessa P.O.V
"Permisi!!" kata seseorang saat aku sedang mencatat materi di buku tulis. "Iya, eh ada Dipta! Kenapa?" tanya Pak Riza, Guru Bahasa Indonesia ku. Aku langsung menengok dan melihat Dipta yang menatapku. "Ini pak, saya mau ngasih surat. Kebetulan hari ini keluarga saya dan Vanessa ada acara jadinya kami akan berangkat sekarang." kata Dipta seraya memberikan surat ke Pak Riza. "Oh begitu. Ya sudah, Vanessa silahkan kamu membereskan barang-barang kamu." kata Pak Riza yang ku jawab anggukan.
***
"Sorry ya gw tau lo pasti kecewa sama gw." kata Dipta seraya mengeluarkan sepeda ku. Aku hanya terdiam seraya menatap sepeda ku. "Nanti sahabat gw gimana kesananya?" tanya ku ketus. "Nanti bocah gw bawa mobil kok jadinya sahabat lo nanti dijemput sama mereka." katanya yang ku jawab anggukan.
Saat aku mau mulai mengayuhkan sepeda, Dipta menahan tanganku akupun langsung menatapnya dingin. "Percaya sama gw. Gw lebih milih lo dibanding Prisil." katanya yang membuatku menghempaskan tangan. "Lo pilih dia juga gapapa kok. Silakan aja." kata ku seraya mulai mengayuhkan sepeda ku.
"Dengerin gw bisa?" tanya Dipta yang ku jawab gelengan. "Kalo niat lo mau ngegombal, sorry deh gw ga minat." kata ku ketus. Saat aku mulai menjauh, aku mendengar suara Dipta berteriak. "VANESSA!!! GW CINTA SAMA LO!!!" Teriaknya yang membuat ku terdiam dan langsung menatapnya. Aku langsung memutar balik sepeda lalu langsung menghampiri Dipta.
"Masa lalu lo masih ada. Gw ga mau lo bilang begini karna takut gw ngejauh. Gw minta lo coba yakinin diri lo snediir siapa yang lo sayang. Gw akan terima apapun keputusan lo dan ga akan ngejauh dari lo." kata ku seraya menggenggam tangannya. "Apa nama gw ga ada di pikiran lo, Nes?" tanyanya yang ku jawab gelengan. "Selalu." jawabku. "Terus kenapa?" tanyanya. Aku langsung memeluknya dengan erat. "Masa lalu masih ngejar lo, Ta. Gw ga akan bisa ngelawan kalo lo sendiri ga ngelawan. Gw liat tadi lo diem aja di dempet segitu intimnya sama mantan. Gw pasti mikir kalo masa lalu lo belum selesai. Gw pernah dinasehatin untuk ngejauhin cowok yang ga berani ngelawan masa lalu nya. Dan itu yang gw tunggu dari lo. Gw ga ngelarang lo temenan sama dia tapi gw cuman bingung aja. Ada rasa nyesek pas gw liat lo tadi tapi gw ga bisa apa-apa. Tuh kan gw jadi ngomong panjang. Yaudah ayo kita balik!" ajak ku.
"Gw janji, gw kasih lo kepastian Nes walau bukan sekarang." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Gw tunggu." jawabku.
***
Ini sudah jam setengah tiga siang. Aku sudah siap dengan gaun merah yang kemarin aku beli bersama Dipta. Aku langsung menelfonnya untuk menanyakan keberadaannya sekarang.
"Hallo, Nes? Gw lagi ngeluarin mobil kok nanti gw klakson ya." kata Dipta. "Okay. Gw tunggu." kata ku. "Kakak lo udah pergi?" tanyanya. "Udah tadi duluan dia." jawabku. "Okay, nih gw udah digerbang lagi dibukain sama Mang Suryo." kata Dipta. "Okay gw otw ke depan rumah." kata ku seraya mematikan telfon.
Saat aku baru aja menutup pintu, aku melihat Dipta yang baru aja turun dari mobilnya. "Whoa!!!" katanya terkesiap. "Kenapa? Jelek ya? Apa aneh?" tanya ku bingung. "Gak kok. You're Perfect!" kata nya yang membuatku tersenyum. "Kita ketemuan dimana sama bocah?" tanya ku. "Didepan sekolahan. Mereka udah siap kok sekarang. Tadi ternyata mereka juga izin tapi di jam dua tadi." kata Dipta yang ku jawab anggukan.
***
"Yo girls!!!" sapa ku seraya berlari ke arah tiga sahabat ku. Cinta yang tampil feminim dengan One shooulder Dress berwarna biru pastel. Nanda yang tampil cantik dengan Sheath Dress berwarna abu-abu. Dan jangan lupakan Aira yang tampil elegant dengan balutan Maxi Dress berwarna abu-abu juga. "Wow! Gila lo cantik banget!!" kata Cinta memuji ku. "Makasih. Kalian juga loh." kata ku tersenyum.
"Yaudah yuk otw!" ajak Ivan. "Okay." kata ketiga sahabat ku. van langsung membukakan pintu dan ga lama kemudian Nanda masuk ke mobilnya. Begitu juga dengan Cinta yang masuk ke mobilnya Andra dan Aira yang masuk ke mobilnya Arsen. "My lady, it's your turn!" kata Dipta yang ku jawab anggukan.
"Lo cantik." katanya yang membuat ku tersipu. "Lo juga ganteng." kata ku yang membuatnya tersenyum dan langsung menatap ku.
Lama-kelamaan wajah kami saling berdekatan, saat aku melihat mata Dipta yang mulai menutup tanpa sadar aku juga menutup mata ku. Wajah kami semakin mendekat bahkan aku bisa merasakan kalau saat ini hidung kami saling bersentuhan.
Tin! Tin!
Kami langsung tersadar, aku juga langsung kembali bersandar ke kursi. "Sorry." katanya yang ku jawab anggukan.
***
Dipta langsung membuka pintu dan itu sukses membuat beberapa wartawan langsung mengepung mobilnya. Dipta keluar dan tersenyum. Dia terlihat berjalan kearah ku lalu membuka pintu mobil seraya mengulurkan tangannya. Aku tersenyum dan menerima uluran tangannya itu.
"Dipta, apa anda datang dengan kekasih anda?" tanya beberapa wartawan. "Dipta hanya tersenyum dan mengangkat tangan kami yang salingg berpegangan. "Kami no comment dulu ya semua. Tolong, kami mau masuk dulu karna acara akan segera dimulai." kata Dipta. "Oh iya iya baik. Woy! Kasih jalan woy!" kata salah satu wartawan.
Dipta menggenggam tangan ku seraya menaiki tangga untuk menuju ke lobby hotel. Aku melihat ketiga sahabat ku yang berpegangan tangan dengan ketiga sahabatnya Dipta. Setelah kami berkumpul, Cinta langsung menarik ku yang membuat kami semua menatapnya. "Temenin gw dulu, Nes. Gw kebelet." kata Cinta. "Yaudah ayo. Kita bareng aja." kata Aira yang ku jawab anggukan. "Nes, gw tunggu disini ya sama curut." kata Dipta yang ku jawab anggukan.
***
Aku mulai memasuki ball room seraya berpegangan tangan dengan Dipta. Saat pengisian buku tamu, aku mengisi dengan menggunakan nama 'Vanessa Zahirah.B'.
"Oh jadi ini perempuan yang kamu ajak ke pesta ini? Cantik ya." kata seorang laki-laki seraya tersenyum. "Iya, pah. Oh iya kok papa ada disini? Katanya Dipta aja yang ngewakilin." kata Dipta. "Gapapa dong kan papa juga mau liat siapa yang kamu ajak. Lagian papa juga harus tau siapa direktur utama nya." kata laki-laki itu. "Pah, kenalin ini namanya Vanessa Zahirah. Calon mantu nya papa." kata Dipta yang membuat ku kaget. Aku langsung mencubit pinggangnya seraya menahan malu.
"Hahahaha! Perkenalkan nona, nama saya Wiratmo. Saya papa dari Dipta. Maafkan kelakuan anak saya yang kadang memang cukup usil." kata laki-laki ini memperkenalkan dirinya. "Hallo, om. Nama saya Vanessa. Gapapa kok Dipta emang jail hehehehe." kata ku seraya tertawa.
"Ya ampun Nessa! Gw nyariin lo sama Dipta. Disini ternyata. Eh ada Om Wira!!" sapa Arsen seraya salim ke papa nya Dipta. "Hallo Arsen! Ivan sama Andre mana?" tanya Papa nya Dipta. "Ada kok om. Biasa lah mereka pasti cari snack." kata Arsen yang dijawab anggukan papa nya Dipta.
"Baik! Dikarnakan ibu direktur sudah sampai, maka acara bisa kita segera mulai! Selamat sore, saya ucapkan terima kasih atas kehadiran saudara-saudara sekalian di sore ini dalam rangka perkenalan direktur utama dari Bramantyo Property Bussiness. Saya juga ucapkan terima kasih atas kehadiran ibu direktur utama, kehadiran Ibu Jihane Cristina, S.H selaku kuasa hukum dari perusahaan Bramantyo Property Bussiness. Dan juga kepada para hadirin sekalian. Kepada Ibu Jihane mungkin bisa menyampaikan sambutan kepada para hadirin disini. Kepada Ibu Jihane, dipersilahkan." Kata MC.
"Lha? Kakak lo kerja disana, Nes?" tanya Dipta yang ku jawab anggukan.
"Hallo semua! Selamat sore! Terima kasih atas kehadiran kalian di sore ini untuk menyambut dan mengenal Direktur Utama dari perusahaan Bramantyo Property Bussiness. Saya juga ucapkan terima kasih atas kehadiran ibu direktur disini, dihari ini yang sudah bela-bela meluangkan waktu nya dari kesibukan aktivitas kesehariannya. Kalau begitu tanpa menunggu lama-lama saya selaku kuasa hukum dari perusahaan Bramantyo akan memperlihatkan sebuah vidio yang berisikan pesan dari almarhum bapak Bramantyo." Kata Mbak Jihane yang tampil cantik dengan pakaian formalnya berbentuk jas dan celana panjang berwarna hitam.
Mulai ada vidio yang terlihat diatas panggung. Itu vidio papa. Aku langsung menundukan kepala ku dan mencoba tersenyum. "Saya, Adam Bramantyo hari ini telah menyerahkan satu surat warisan yang mana berisikan nama pewaris harta dan perusahaan yang saya miliki. Dan saya, Adam Bramantyo menyerahkan posisi Direktur Utama dari perusahaan yang saya bangun, Bramantyo Property Bussiness kepada putri tunggal saya, Vanessa Zahirah Bramantyo. Posisi ini akan resmi ia duduki tepat di usianya yang berumur tujuh belas tahun. Selain itu saya mempercayakan tanggung jawab perusahaan kepada Bapak Ahmad Bramantyo selaku adik saya untuk mengurus perusahaan sampai Vanessa siap menjalankannya. Vidio ini direkam tanpa adanya ancaman dan paksaan dari luar maupun dalam. Demikian vidio yang saya buat. Sekian dan terima kasih." Begitulah bunyi vidionya. Aku hanya menundukan kepala ku seraya menggelengkan kepala ku.
"Maka dengan ini saya memanggil Ibu Vanessa Zahirah Bramantyo selaku direktur utama perusahaan Bramantyo Property Bussiness keatas panggung. Kepada beliau, dipersilahkan." kata Mbak Jihane. Aku langsung melepaskan genggaman tangan ku dengan Dipta dan segera naik ke atas panggung. Aku melihat raut terkejut dari Dipta dan keenam teman ku.
"Selamat sore!" sapa ku. "Sore!" jawab para tamu. "Terima kasih kepada Mbak Jihane atas penyambutannya.Saya berdiri disini sebagai seorang anak yang akan segera memegang tanggung jawab perusahaan. Perkenalkan, nama saya Vanessa Zahirah Bramantyo. Saya putri tunggal dari Adam Bramantyo. Semoga dengan saya memimpin perusahaan, saya bisa memajukan perusahaan milik keluarga dan perusahaan yang bekerja sama tentunya. Saya tau saya memang masih menjadi seorang pelajar tapi saya berjanji saya akan memegang tanggung jawab ini dengan penuh keyakinan. Dengan begitu saya rasa cukup perkenalan ini, kurang lebihnya mohon maaf. Selamat sore." kata ku seraya tersenyum.
Aku segera turun dari panggung dan langsung menghampiri Mbak Jihane dan memeluknya. Aku melihat Om Ahmad yang tersenyum menatapku, dia langsung memeluk ku begitu erat. "Gimana kabar kamu, Vanes? Om kangen banget sama kamu. Tapi sekarang om seneng karna setiap hari kita bisa ketemu di kantor!" kata Om Ahmad yang ku jawab anggukan. "Om, Vanes ke sahabat-sahabat Vanes ya. See you di kantor!" pamit ku seraya tersenyum dan kembali memeluknya.
Aku langsung berjalan menghampiri Dipta. Dia tersenyum seraya memberikan ku sebuket bunga yang aku sendiri ga tau kapan dia ambilnya. "Selamat atas penyerahan jabatannya ibu Dirut!" kata nya seraya memeluk ku. Aku pun tersenyum dan memeluknya begitu erat.
"Gw boleh minta tolong?" tanya ku. "Boleh, Nes." jawab Cinta. "Jangan ada yang kasih tau berita ini ya. w ga mau satu sekolah tau identitas gw." kata ku. "Loh kok gitu? Nanti lo diremehin loh." kata Ivan. "Buat apa dihormatin karna harta?" tanya ku yang dijawab tatapan bingung dari keenam teman ku.
"Gw ga aneh sih kalo lo keturunan pengusaha. Otak lo aja encer nya udah kayak pengusaha yang asli." kata Nanda tertawa. "Iya bener. Gw kaget loh." kata Aira. "Pokoknya cukup kalian aja yang tau." kata ku yang dijawab anggukan keenam teman ku. Dipta tersenyum dan langsung merangkul pinggangku. "Mau dansa?" tanya nya yang ku jawab anggukan.
Kami langsung ke tengah ball room dan mulai berdansa bersama pasangan yang lain. Aku menatap mata Dipta yang penuh kasih sayang. Aku langsung terkesima dan tanpa sadar, kami bertatapan selama kami berdansa.