
Vanessa P.O.V
Aku dan Dipta memasuki unitku dan melihat Cinta yang tertidur seraya berpelukan dengan Arsen. "Kamu mandi dulu gih, aku mau pesen makanan sama pesen tiket pesawat dulu buat besok." kata ku. "Iya deh sayang. Yaudah aku mandi dulu ya!" kata Dipta seraya mencium keningku. Aku langsung mengganti pakaian ku dengan daster rumahan lalu mencuci muka ku.
Aku langsung masuk ke kamar ku dan memesan pizza untuk makan malam kami. Aku memesan dua pizza, delapan pasta, dan delapan lemon tea. Setelah memesannya, aku langsung mengecek pesawat yang bisa menuju ke Nusa Tenggara Timur. Aku memesan tiket menuju Bandara Internasional El Tari, Kupang. Aku memesan tiket salah satu maskapai berinisial CI sebanyak delapan tiket untuk berangkat dan pulangnya nanti.
Aku membooking empat kamar di hotel Sylvia Hotel Premiere Kupang. Setelah itu aku langsung mandi. Setelah selesai, aku langsung memakai baju dan mendengar ketukan pintu. Aku membuka nya dan ternyata ada abang pengantar makanan gguys. Setelah membayarnya, aku langsung membawa makanan itu masuk ke dalam.
"Sayang, makan dulu!" ujar ku seraya mengetuk pintu kamar Dipta. Setelah itu aku langsung kembali ke unit untuk membangunkan Cinta dan Arsen yang masih tidur.
"Cinta! Arsen! Bangun woy! Makan dulu!!!" ujar ku. "Lah lo kapan balik nya?" tanya Cinta seraya mengucek mata nya. "Tadi setengah jam yang lalu." jawabku. "Sayang, makanan aku mana yang?" tanya Dipta seraya membuka plastik makanan. "Yang mana aja by bebas kok. Btw ini ada empat pasta buat besok kita sarapan ya. Besok kita berangkat ke Kupang. Kita bakalan tiga hari dua malem disana. Jadi bersiapin. Yang cowok kalo mau bawa backpacker bag boleh. Cinta kalo mau bawa backpacker juga boleh. Kalo gw bakal bawa koper. Atau mau satu koper sama pasangannya juga gapapa kalian atur. Tapi kalo emang mau di gabung, khusus dalaman, pakein wadah sendiri kayak plastik atau apa gitu biar dipisah." kata ku.
"Sayang? Kita nyatu aja kali ya buat koper? Nanti buat dalaman bisa aku akalin." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Nanti aku kan bakal pake koper yang satu set itu loh. Jadi nanti kita bisa bawa keperluan kita juga. Cinta? Arsen? Kalian gimana?" tanya ku. "Gw ada kok yang satu set juga, Nes. Nanti gw bawa itu aja biar nyatu sama Arsen." kata Cinta. "Sip deh." jawabku seraya tersenyum.
Kami mulai memakan makanan kami seraya mengobrol. "Berarti nanti kamu langsung siapin abju ya sayang. Nnati langsung taro aja di sofa sini! Aku tunggu sampai eeuumm jam sepuluh deh." kata Cinta. "Iya abis ini aku langsung ambil baju nya kok." kata Arsen. "Good." jawab Cinta. "Sayang, aku berarti bawa baju yang kemarin kita beli itu ya?" tanya Dipta yang ku jawab anggukan. "Jangan lupa passport kalian!" kata ku. "Sip." jawab kedua sahabatku.
Setelah selesai memakan makanan ku, aku langsung ke kamar. "Sayang, aku tunggu baju-baju nya. Inget! Dalaman di pisah!" ujar ku. "Iya cinta ku! Yaudah gih kamu duluan!" kata Dipta yang ku jawab anggukan.
Aku langsung membuka lemari ku dan mengeluarkan beberapa pakaian termasuk abaya yang akan ku pakai nanti saat pemotretan. Aku menyiapkan beberapa pakaian seperti sweater rajut abu-abu dan rok pasangannya, gaun selutut berwarna hitam, daster batik, gaun satin berwarna hitam, bikini putih dan baju renang merah.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" ujar ku. Pintu terbuka dan ada Dipta yang sudah membawa beberapa pakaiannya. "Sayang, ini baju-baju aku ya. Dalaman aku udah disini." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Sini biar aku masukin!" kata ku. Dipta langsung menyerahkan pakaiannya ke aku. Akupun langsung menata pakaian itu di dalamkoper. "Pantofel kamu mana? Atau mau sepatu biasa aja?" tanya ku. "Pantofel aja sebentar ya." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Sayang! Sepatu sama sendal ya! Masukin ke plastik! Jangan lupa aksesoris kamu!" ujar ku yang dijawab anggukan Dipta.
Aku langsung menata semua pakaian. Karna aku membawa koper satu set yang ada juga tas berukuran sedang, dan tas kecil. Aku memasukan satu set bulu mata dan beberapa make up ku. Jangan lupa sisir dan sabun pencuci muka. Setelah aku rasa semua nya sudah siap, aku tinggal menunggu Dipta memberikan sepatu dan sendalnya lalu tertidur.
***
Aku turun dari mobil bersama dengan Cinta. Kami berdua sama-sama memakai baju off shoulder dan celana pendek. "Nes, kita nanti didalem sarapan ya pake pasta yang semalem. Gw laper hehehe!" kata Cinta. "Beres!" jawabku. "Sayang, kamu check in duluan aja nanti biar aku yang bawa koper!" kata Dipta yang ku jawab acungan jempol. "Yuk, Ta!" ajak ku.
Kami langsung masuk ke dalam dan mulai melakukan check in. "Cpba lo tunggu sini bentar. Gw mau chat Mas Angga dulu!" kata ku. "Sip." jawab Cinta.
"Hallo, Vanes! Bentar ya ini kita pada ambil koper dulu." kata Mas Angga. "Oh iya iya. Segera ya mas!" ujar ku. "Iya nes!" jawabnya.
Seseorang memeluk ku dari belakang. Ternyata Dipta. "KTP, sama Passport kumpulin ke aku. Arsen, KTP sama passport ya gc!" ujar ku. Mereka langsung memberikan passport dan ktp kepada ku. "Kalo Mas Angga udah sampe langsung suruh kumpulin passport sama ktp ya!" ujar ku. "Iya." jawab Dipta.
Aku langsung menghampiri Cinta dan melihat antrian didepan ku. Masih cukup panjang. "Sabar ya, Ta. Kita berdua kok yang antri." ujar ku. "Iya, Nes." jawab Cinta.
***
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya kami sampai di Bandara El Tari, Kupang. Panas nya cuaca sudah menyambut kami saat baru aja keluar dari bandara. Di parkiran bandara, aku udah liat ada banyak supir taksi. "Dua mobil ya pak!!" panggil ku yang dijawab anggukan dua supir taksi.
***
Aku melihat ke jam di ponsel ku. Waktu udah menunjukan jam dua siang. Aku sudah siap dengan abaya hitam dan kain dupatta hitam ku. Aku juga sudah memakai aksesoris ku untuk nanti berfoto. Dipta menggandeng tanganku untuk membantuku berjalan. "Kuda nya mana ya, mas?" tanya Dipta. "Tuh disana. Itu kuda yang paling jinak disini!" kata Mas Angga.
Mbak Wifza membantu ku berjalan. Sampai kami sampai di tengah gurun. Sebenarnya ini itu gurun tapi ada pantainya juga guys. Jadi kayak perpaduan yang bagus gitu.
"Okay siap-siap ya!" kata Mas Angga. "Berapa shoot nih mas?" tanya Dipta. "Lima!" jawab Mas Angga. "Okay! Siap ya!" kata Dipta. Aku langsung naik ke atas kuda berkulit hitam. Begitu juga dengan Dipta.
Pose pertama, aku dan Dipta sama-sama duduk di atas kuda. Pose kedua, tanpa sengaja kuda kami saling bersentuan wajahnya. Sepertinya mereka mengerti kalau ini foto romantis hahahaha!
Pose ketiga, aku dan Dipta turun dan membimbing kuda kami seraya saling tersenyum dan menatap satu sama lain. Pose keempat, kami menaiki kuda yang tadinya aku naiki. Kami berpose seperti sedang bersama-sama menaiki kuda.
"Pak? Ini gimana sih cara nunggangin kuda?" tanya ku. Bapak-bapak didekat ku yang kebetulan pemilik dua kuda ini menjelaskan cara-cara nya lalu aku mulai mencoba menunggangi kuda ini. Aku secara perlahan mulai membuat kuda ini berjalan, berlari, dan berhenti. Aku langsung mengelus kuda ini. Duh! Coba aja nih kuda di jual. Aku beli deh. Gemes banget!
"Mas Angga, foto terakhir siap ya!" ucapku yang dijawab acungan jempol Mas Angga. Aku berpose sedang tiduran diatas punggung kuda ini. Sedangkan Dipta sedang mengelus kuda nya.
"Okay!" ujar Mas Angga.
Aku langsung turun dari kuda dan menghampiri Mas Angga. "Mas? Bisa ga ya fotoin aku sama Dipta? Satu-satu jadinya jangan berdua." kata ku. "Bisa kok, Nes. Tapi nanti nambah ya karna ini kan diluar paket." kata Mas Angga. "Atur aja itu mah." jawabku seraya tersenyum.
Aku langsung menghampiri kuda yang ku tunggangi sebelumnya dan mengelusnya. "Ini betina atau jantan ya pak?" tanya ku. "Ini betina, nona." jawab bapak yang memelihara kuda ini. "Namanya?" tanya ku. "Manise." jawab bapak itu. "Kalo nanti dia sudah punya anak, hubungi saya. Akan saya pelihara anak nya." ujar ku seraya tersenyum. "Puji tuhan, baik nona! Segera saya kabarkan!" ujar bapak itu. Aku langsung memberikan kartu nama ku ke bapak ini. "Manise! Ayo kita foto ya!" ujar ku seraya mengelus kepala kuda betina ini.
"Ini berarti Vanes dulu ya. Dipta tunggu aja!" kata Mas Angga.
Pose pertama, aku berpose sedang menatap kamera seraya mendekatkan tubuhku ke kuda ini. Pose kedua, aku duduk santai dengan mengangkat satu kaki ku di atas tunggangan kuda. Dan pose ketiga, aku berpose sedang menunggangi kuda ini. Setelah selesai, aku langsung mengelus kuda ini. "Pak, saya mau coba tunggangi lagi boleh?" tanya ku. "Boleh nona silahkan!" kata bapak pemilik kuda ini. Aku yang sangat senang langsung menunggangi kuda ini secara perlahan seraya mengelus kepala kuda ini.
***
Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Aku sudah siap dengan gaun satin hitam ku. Kami akan berfoto prewedding lagi. "Mas Angga, tadi kuda nya dibawa kemana?" tanya ku. "Ke kandang nya dong, Nes!" kata Mas Angga. "Ah nanti pokoknya kalo rumah udah siap, aku mau pelihara ah. Kayaknya seru deh." kata ku seraya tersenyum. "Jangan aneh-aneh deh, Nes. Mendingan kalo emang kamu mau punya kuda, lo pelihara nya di peternakan jangan segala kandang di rumah deh." kata Cinta. "Huft! Iya deh iya." jawabku.
Kami mulai berpose. Pose pertama, kami berdansa. Pose kedua, Dipta menarik ku sampai hidung kami saling bersentuhan. Pose ketiga, kain yang ada di bagian lengan gaun ku ini kebetulan panjang secara tiba-tiba tertiup agin sampai berkibar-kibar.
"Okay! Coba Vanes sama Dipta pilih!" kata Mas Angga. "Ini yang baju abaya mas!" kata Dipta memperlihatkan satu foto saat kami berdua menunggangi kuda dan kuda yang kami tunggangi menempelkan wajah mereka. "Okay. Kalo pas kalian prewed kedua?" tanya Mas Angga. "Yang ini." tunjuk ku ke satu foto saat Dipta menarik ku hingga membuat hidung kami saling bersentuhan. Aku suka melihat foto itu karna gaun ku terlihat sangat bagus.
"Nah sekarang foto kalian yang sendiri. Yang mana nih?" tanya Mas Angga. "Coba sayang, kamu pilihin buat aku. Aku pilihin buat kamu!" kata Dipta yang ku jawab anggukan dengan senyuman lebar. "Okay Vanes dulu. Pilihin satu foto Dipta!" kata Mas Angga.
Aku langsung memperlihatkan satu foto Dipta saat sedang mengelus kuda. Kamera memotretnya di jarak dekat sehingga aku bisa melihat ekspresi Dipta yang memberikan kesan misterius. Dia sangat tampan!
"Ini!" ujar ku seraya tersenyum. "Okay, Dipta? Pilihin satu foto Vanes!" kata Mas Angga.
Dipta menatapku seraya tersenyum lalu mulai melihat foto-foto ku. Setelah itu dia menatapku lagi lalu tersenyum. "Ini." ujar nya memperlihatkan satu foto saat aku mendekatkan kepala ku dengan kepala kuda dan mata ku menatap ke kamera.
"Okay berarti ini udah beres ya. Semua foto bakal ada di softcopy. Nanti foto-foto pilihan kalian bakalan saya cetak dan saya bingkai." kata Mas Angga yang ku jawab anggukan.