Stuck With You

Stuck With You
Special guest



Vanessa P.O.V


Aku memijat kepala ku yang mulai terasa pusing. Damn! Rasanya aku mau membanting laptop yang ada didapanku saat ini. "YA ALLAH INI BOLEH GA SIH NGELEMPAR LAPTOP KE MUKA DOSEN?! SAYA TUH STRESS YA ALLAH!!!" Teriak ku kesal.


Aku sudah berada di situasi penyusunan skripsi. Aku rasa ini cukup membuat ku pusing karna ditambah dengan pekerjaan kantor, dan tugas dari kuliah ku di UT. ****! Rasanya kepala ku mau pecah!


Tok! Tok! Tok!


Aku menghela nafas kasar lalu berjalan ke arah pintu dan membuka nya. Ternyata ada Arsen. "Ngapain?" tanya ku. "Gw disuruh Dipta ngajak lo ke unit sebelah. Dia beli makanan." kata Arsen yang ku jawab anggukan. Aku langsung mencabut charger laptop ku dan mulai berjalan ke unit Dipta seraya membawa laptopku.


"Sayang!!" sapa Dipta seraya berjalan ke arah ku. "Huft! Kadang aku kesel banget ngeliat laptop itu di kamu ish! Kamu ga bisa ngelepasin laptop itu dulu by?" tanya Dipta. "Enggak, by. Ini kalo bisa cepet selesai pasti langsung aku selesaiin. Ini pelan-pelan kok." jawabku tersenyum. "Lepas laptop lo dulu, Nes. Kita makan dulu! Ayo!" ajak Cinta yang ku jawab anggukan.


"Tapi nanti aku ngerjain disini ya sayang!" kata ku yang dijawab anggukan Dipta. "Iya nanti kita barengan kerjainnya." kata Dipta. "Iya." jawabku singkat.


Kami berempat mulai memakan makanan yang Dipta pesan. Sesekali kami membahas perihal skripsi yang sedang kami susun, terkecuali Arsen tentunya karna dia berbeda semester dengan kami. "Nes, lo udah coba chat Nanda sama Andre?" tanya Cinta. "Andre udah gw chat tapi dia off. Ya karna kan hp nya ga dimainin dulu ya kan. Kalo Nanda kayaknya off juga." kata Dipta.


Tok! Tok! Tok!


"Nah siapa tuh? Sen, coba lo buka!" kata Dipta. Arsen menganggukan kepala nya dan menghampiri pintu unit. Saat di buka tiba-tiba..


"Surprise!!!!" teriak banyak orang. Aku menengok dan melihat Nanda yang masih memakai seragam taruni nya berdiri bersama Aira. "Oh my god! Guys!!! Kalian disini!!!" ujar ku heboh. Aku langsung berlari dan memeluk kedua sahabatku itu. "Gila! Kalian kenapa ga bilang ke kita kalo kalian balik! Kan bisa ada persiapan!!!" kata ku heboh.


Kedua sahabat ku itu langsung tertawa dan memeluk ku. "Sorry, Nes. Ini rencana nya cowok-cowok kita. Sebenernya kemaren Dipta udah ngechat gw sama Andre. Dia cerita kalo lo lagi stress makanya dia minta kita dateng. Ini juga kita dibayarin sama laki lo." kata Aira yang membuatku menatap Dipta dan tersenyum lebar. Aku langsung berlari ke pelukannya dan mencium pipi nya. "Makasih sayang!!!" ujar ku tersenyum.


"Okay jadi gw rasa disini ga ada yang kangen sama gw. Okay fine, kita balik!" kata seseorang. Saat aku menengok ternyata ada Andre dan Ivan. Aku langsung tersenyum dan memeluk mereka. "Gila! Kalian makin kurus ish! Ayo! Kalian harus makan yang banyak. Ga tega gw!" kata ku seraya tersenyum.


"Iya nih, Nes. Gw juga kangen banget sama masakan lo!" kata Ivan memeluk ku. "Ekhem!" deheman Dipta membuat Ivan melepaskan pelukanku. "Hmmm gw tau sih lo kangen sama adek lo. Tapi jangan kelamaan peluknya. Gw cemburu." kata Dipta yang membuat kami semua tertawa. Aku langsung memeluk nya dan mencium pipi nya berkali-kali. "Cemburu kok sama Ivan. Sama guling lah!" ujar ku meledeknya.


"Oh iya, guys! Masuk sini! Yang cewek kalo mau ganti baju, bisa di unit sebelah. Yang cowok di unit ini." kata Cinta. "Tau aja lo gw gerah hehehe. Eh iya anyway kita nginep disini boleh kan?" tanya Aira yang ku jawab anggukan. "Boleh banget!" jawabku tersenyum.


"Gw bikin dumpling rice paper mau gak?" tawar ku. "Mau!!!" jawab Dipta seraya memeluk ku. "Woy! Vanes nanya nya ke gw!" kata Ivan yang dijawab anggukan Andre. "Tau ya mentang-mentang udah calon suami jadi posesif banget." kata Andre. "Bodo yang penting gw bisa makan. Gih sayang bikin. Bikin yang enak ya!" kata Dipta yang ku jawab anggukan.


***


"Makanan jadi!!!!" teriak ku heboh. Keenam sahabatku langsung berlarian dan masuk ke unit ini lewat connecting door. "Weh! Gw duluan weh gw calon suaminya!" kata Dipta saat mau memasuki connecting door. "Ga! Gw kan tamu nya masa iya gw di belakangin!" kata Ivan. "Duh ilah buruan kek lo lo pada keluar! Gw laper nih!" kata Andre. "Vanes, liat nih laki lo!" kata Arsen.


Aku yang merasa pusing langsung meletakan makanan yang ku buat lalu langsung berdiri didepan Dipta. "Kalian mau masuk atau enggak?" tanya ku dengan muka datar. "I-iya." jawab Dipta dan ketiga sahabatnya. "Yaudah. Tertib. Kalian itu padahal udah dididik supaya disiplin, tertib, bisa tau aturan. Lah kok ini malah keluar dari zona ajaran. Tertib!" ujar ku. Dipta dan ketiga sahabatnya terdiam dan menatapku. Dipta tersenyum penuh kemenangan. "Kamu jangan senyam-senyum sayang! Kamu harus push up sekarang! Ayo push up! Kamu kebiasaan tamu disuruh belakangan. Bikin ribut aja. Yang lain, masuk!" kata ku.


"Makasih Vanes! Ih sayang Vanes banyak-banyak!" kata Ivan. "Hmm duduk! Gw sajiin di meja!" kata ku pelan.


***


Aku menatap Dipta dan sahabat-sahabat ku. Mereka makan dengan lahap. Aku hanya tersenyum dan langsung berjalan ke washtafel untuk mencuci perabotan bekas aku memasak tadi. "Gila sih, Nes! Tangan lo emang ya cocok banget jadi ibu rumah tangga! Masakan lo enak!" kata Ivan.


"Ibu rumah tangga? Emang siapa yang mau jadi itu?" tanya ku yang membuat mereka terdiam. Dipta menatapku seraya tersenyum. "Gw ga akan ngebiarin Vanes megang kerjaan rumah kecuali urus kebutuhan gw sama anak-anak nanti. Dia juga bakal tetep kerja." kata Dipta yang membuat senyumku melebar. "Yups!" jawabku.


"Berarti nanti lo gimana kalo mau ngurus suami sama anak lo, Nes?" tanya Andre. "Ya bisa lah. Tanggung jawab gw ke Dipta itu kan ya sebagai istri. Ngelayanin dia. Tanggung jawab gw ke anak gw juga ya sebagai ibu yang ngedidik mereka. Gw yakin kok gw bisa. Lagian kan kodrat cewek itu cuman dateng bulan, mengandung, melahirkan, menyusui. Jadi selama gw bisa berlaku sewajarnya kenapa enggak? Iya kan by?" ujarku yang dijawab anggukan Dipta.


"Eh udah jangan bahas itu. Mendingan kita bahas yang lain. Gimana kemaren pertunangan kalian? Sorry banget ya gw ga bisa dateng. Tapi gw usahain di pernikahan kalian pasti gw dateng!" kata Nanda. "Tenang aja, bentar lagi kalian juga udah lulus kan? Kita semua udah bakalan lulus. Pasti kita bisa!" kata ku tersenyum.


"Lo tau ga sih Ra? Nan? Si Vanes ya cakep bener pake tuh gaun merah. Gw sampe ngiranya ini tuh nikahan bukan pertunangan." kata Cinta. "Iya bener. Dan yang ga bisa gw lupain tuh ya makanannya. Gila sih gw suka banget sama makanan pembuka nya!" kata Arsen.


"Ah kita ga dateng sih yah! Padahal kalo kita-kita dateng gw yakin ih bakal ada kehebohan." kata Andre. "Dan untungnya kemaren kalian ga heboh. Kalo ga, gw ga bakal ekspetasi sih muka kolega gw pada kayak gimana." kata ku tertawa.


Hari ini pun kami habiskan untuk mengobrol dan akhirnya kami menjalani aktifitas kami seperti biasanya bersama.