Stuck With You

Stuck With You
New House



Vanessa P.O.V


Aku sudah siap dengan crop tanktop putih dan celana jeans ku. "Sayang, aku langsung cuss ya!!" ujar ku seraya mencium pipi Dipta. "Pake outer! Jangan terlalu terbuka!!" kata Dipta. Aku menganggukan kepala ku dan memakai jaket warna biru pastel. Setelah siap, aku mencium bibir Dipta dan langsung mengetuk pintu kamar Cinta. Cinta pun keluar kamar dengan memakai tanktop merah, celana jeans, dan topi di kepala nya.


"Anjay! Yuk lah kita otw! Oh iya udah bawa totte bag kan lo?" tanya ku. "Bawa dong. Nanti kalo masih kurang, kita pinjem aja trolli mall bentar." kata Cinta. "Sip lah kalo begitu. Yuk!!" ajak ku seraya tersenyum.


"Sayang, aku pergi dulu ya. Bye!!" pamit Cinta.


***


Kami sudah memasuki Margocity. "Kita cari apa dulu nih, Nes?" tanya Cinta. "Beli yang makanan pokok dulu aja mendingan, Ta. Sama perlengkapan rumah. Yuk!!" ajak ku.


Kami langsung mengambil lima belas mie goreng dan sepuluh mie kuah, pasta, gula, bumbu-bumbu bubuk, tepung, makanan frozen kayak nugget, sosis, bakso, lalu kami juga mengambil empat susu berukuran satu liter, empat botol jus, empat kardus es krim cone, empat tempat es krim untuk roti, dan delapan yogurt.


"Nes, ini mah kita bakalan bawa trolli nih kayaknya." kata Cinta. "Iya, yaudah lah gapapa. Nanti kalo bisa malahan gw beli sekalian troli yang bisa dilipet itu loh." kata ku. "Sultana bebas ya bund." kata Cinta yang membuat ku tertawa.


Aku melihat sekeliling dan tersenyum. "Baru inget. Kita harus beli beras. Yuk!!" ajak ku. "Sekarung? Seriusan lo?" kata Cinta. "Yaiyalah. Yuk!" kata ku. "Iya deh hayuk!!!" kata Cinta.


Kami langsung ke bagian beras dan mengambil satu karung beras. "Ambil ager gih Ta!" kata ku. "Sip. Nes, lo juga ambil daging ya biar bisa diolah." kata Cinta yang ku jawab acungan jempol.


Setelah semuanya selesai, kami langsung membayar barang yang kami beli. "Mbak, ini bisa ga ya troli nya saya bawa dulu ke apartment di sebelah? Saya ga yakin bisa bawa berasnya." kata ku. "Duh, maaf banget ini mah mbak. Tapi ga bisa dipinjam mbak." kata kasir. "Yaudah, Nes. Lo minta tolong aja sama suami lo buat kesini sama si Arsen bawain apa kek buat bawa nih beras. Pinjem dulu kek ke food court bawah." kata Cinta. "Iya juga ya. Yaudah mbak ini kalo di bawa sampe ke area mall sini gimana? Saya mau makan dulu di Bakmi GM." kata ku. "Bisa mbak kalo masih di area sini." kata kasir yang membuat ku tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Okay makasih ya, mbak." jawabku tersenyum.


***


Aku dan Cinta menunggu di depan store Bakmi GM seraya menunggu makanan yang kami pesan. "Sayang?" panggil seseorang dari belakang. Ternyata Dipta. Arsen langsung memeluk Cinta dan duduk disebelah nya. Dipta juga duduk di sebelah ku. "Nih aku udah bawa troli barangnya." kata Dipta. "Oh minjem dimana by?" tanya ku. "Minjem? Apa itu minjem? Beli lah." kata Dipta yang membuat ku bingung. "Hah?! Demi ape lo?!" kata ku seraya tertawa. "Serius, Nes. Laki lo gila tadi pas lewat kayak toko perabotan dia malah beli ginian. Nih liat coba!" kata Arsen memperlihatkan satu troli lipat dengan beberapa bagian didekat pegangannya. Itu bisa meletakan beberapa barang. Di bagian bawahnya itu ada tempat untuk meletakan satu barang besar kayak galon, dan beras.


"Makan dulu aja ya by. Laper hehehe!" kata ku seraya tersenyum. "Iya sayang. Yuk, Sen pesen dulu!" kata Dipta yang dijawab anggukan Arsen.


"Sayang, bentar lagi orang yang bagian bangun rumah kita bakalan dateng ya. Kami ganti baju dulu pakai yang tertutup!" kata Dipta yang ku jawab anggukan.


"Nes, ada yang mau gw omongin. Bisa ngomong empat mata?" tanya Arsen yang ku jawab anggukan. "Yaudah berarti gw sama Dipta tunggu di pintu masuk apart nih ya!" kata Cinta yang ku jawab anggukan. Dipta dan Cinta berjalan terlebih dahulu keluar mall sedangkan aku masih duduk satu meja dengan Arsen.


"Jadi ada apa nih?" tanya ku. "Nanti di hari kelulusan gw bakalan ngelamar Cinta." kata Arsen yang membuat ku tersenyum dengan mata berbinar. "Nah! Terus?" tanya ku. "Gw mau bangun rumah juga. Tenang aja dana nya udah ada kok. Makanya ini gw mau omongin sama lo. Boleh ga ya nanti gw beli sebagian tanah yang bakal lo beli juga. Gimana, Nes?" tanya Arsen. "Lo itu udah gw anggep keluarga. Ngapain coba ikutan patungan. Udah tenang aja nanti bahas aja mau rumah yang kayak gimana. Sisanya biar gw sama Dipta yang urus." jawabku seraya tersenyum. "Iya deh, Nes. Thanks ya gw janji pasti gw bakal ikut bantuin pas pendanaan rumah gw sama rumah lo juga." kata Arsen. "Urusan dana mah lo omongin aja sama Dipta, Sen. Karna rumah gw bakal di beli sama Dipta." kata ku. "Udah, tadi kata dia kalo mau nanya ke lo aja buat minta persetujuan." jawab Arsen. "Oalah okay." jawabku.


***


"Hallo Nyonya Wiratmo! Perkenalkan, saya Carlos Davega. Saya arsitek yang akan mendesain rumah nyonya dan Tuan Wiratmo." kata laki-laki berpenampilan rapih dengan jas formal nya. "Saya Vanessa Zahirah Bramantyo. Senang berkenalan dengan anda. Oh iya jangan panggil saya Nyonya Wiratmo. Cukup panggil Vanessa saja, bang. Apakah anda baru menjadi arsitek atau gimana?" tanyaku seraya tersenyum. "Kalau gitu panggil saya Carlos saja. Saya masih baru sih termasuknya. Saya baru lulus dua tahun yang lalu dan bekerja menjadi seorang arsitek juga mungkin sekitar satu tahunan ini." jawab nya yang ku jawab senyuman.


"Baik maaf Vanessa. Jadi sekarang kita akan membahas mengenai pembangunan rumah kalian. Jadi? Bagaimana rumah impian kalian?" tanya Carlos. "Saya mau rumah ini bisa memberikan kenyamanan untuk istri saya jadinya biar dia yang menjelaskan desainnya." jawab Dipta. "Saya mau rumah ini kayak Menara Petronas di Malaysia. Jadi dua rumah modern yang disambungin lewat lorong. Jadi nanti saya harap bisa ya." ujar ku seraya tersenyum.


"Tenang aja Vanessa, saya hanya mendesain. Untuk pembangunannya kan anak teknik yang bergelud disana hehehe. Okay kalo gitu mau ada berapa ruangan ya?" tanya Carlos. "Sebenarnya akan ada sebelas ruangan. Kayak ruang tamu, ruang keluarga, dapur, ruang laundry, dan pantry di lantai satu. Saya harap selain Pantry dan ruang laundry tidak ada ruangan yang di sekat oleh dinding ya. Kalaupun memang harus di sekat, maka akan pakai tirai. Lalu di lantai dua, saya mau ada satu kamar utama, dan dua kamar lainnya. Lalu ada ruang kerja yang di gabungkan dengan perpustakaan kecil. Selain itu saya mau dua kamar mandi di lantai dua salah satunya itu akan menjadi toilet dua kamar itu. Dan satu toilet di lantai satu. Udah sih kalo saya sih itu aja request nya." jawabku tersenyum.


"Okay. Lalu untuk rumah satu lagi?" tanya Carlos. "Sayang, kamu panggilin Arsen ya. Kan ini bakalan jadi rumah dia sama Cinta. Panggil Arsennya aja." kata ku seraya tersenyum. "Iya, sebentar ya by!" kata Dipta yang ku jawab anggukan.


"Saya masih gangerti, Vanes. Jadi kamu mau bikin rumah yang nyambung sama rumah sahabat kamu gitu?" tanya Carlos yang ku jawab anggukan. "Ya! Ini kalo bisa bikin empat rumah juga pasti saya bikinnya empat rumah tapi sayangnya dua sahabat saya yang lain itu akan punya rumah dinas sendiri jadi saya rasa mereka tidak perlu rumah seperti ini." kata ku tersenyum. "Tapi rumah dinas itu bukannya hanya untuk anggota ya? Kalau nanti mereka sudah berhenti atau pensiun, mereka tidak akan tinggal di rumah itu." kata Carlos. "Ya, saya tau. Tapi mereka pasti akan memilih rumah yang lebih sederhana. Saya tau gaya hidup keempat sahabat saya." jawabku seraya tersenyum. "Empat?" tanya Carlos. "Iya, dua sahabat Dipta itu pacaran sama dua sahabat saya. Jadi saya ga tau sih ya ini itu bisa dibilang circle relationship karna ya kami itu memiliki hubungan antar circle." kata ku seraya tersenyum.


Ga lama kemudian, connecting door unit ku terbuka dan terlihatlah Arsen dan Dipta. "Okay Carlos, kenalkan! Dia Arsen. Sahabatnya Dipta dan pacar dari sahabat saya, Cinta. Sen, kenalin ini Carlos." ujar ku seraya tersenyum. "Okay jadi saya sudah diberitahu konsep rumah ini. Jadi kamu mau ada berapa ruangan di rumah ini?" tanya Carlos. "Sebelumnya ini dua lantai atau satu lantai?" tanya Arsen. "Dua." jawab ku.


"Kalau gitu saya rasa sebelas ruangan aja. Jadi di lantai satu, akan ada ruang tamu, dapur, ruang laundry, pantry, dan satu kamar mandi kalau bisa sih di bawah tangga ya." kata Arsen. "Yaps. Okay lantai dua nya?" tanya Carlos seraya mencatat. "Lantai dua saya mau ada tiga kamar. Salah satunya jadi kamar utama dan itu saya harap ada space untuk walk in closet. Lalu ada kamar kedua dan kamar ketiga. Ada dua kamar mandi yang salah satunya itu di kamar utama. terus saya mau ada perpustakaan kecil yang saya satuin sama ruang kerja. Dan kalau bisa nih ya di dekat tangga di lantai dua ada space buat quality time gitu ya." kata Arsen.


Carlos menganggukan kepala nya dan menulis semua ruangan yang kami mau. "Tuan Wiratmo memang sudah memberitahu keadaan tanah yang dia miliki. Memang saya akui itu sangat luas. Kira-kira mau ada apa aja ya di halamannya?" tanya Carlos. "Eeuumm karna saya dan istri suka renang saya rasa kita bisa membuat satu kolam renang dengan space untuk bersantai di bagian tengah nya ini. Jadinya disini akan ada sofa dan tempat menyalakan api unggun. Ini pasti akan sangat keren." kata Dipta.


"Iya bener banget sayang. Sama satu lagi di ujung sini, akan ada jacuzy." kata ku yang dijawab anggukan Carlos.


"Perfect!" kata Dipta tersenyum.