Stuck With You

Stuck With You
Rumah Sakit



Vanessa P.O.V


"Nona Vanessa, saya rasa anda harus banyak-banyak istirahat. Setelah ini saya menyarankan anda untuk bedrest. Saya akan memberikan surat keterangan agar anda bisa izin. Saya rasa anda harus istirahat selama satu minggu ini. Bagaimana?" tanya Dokter yang membuat ku kaget. "Lama banget, dok. Memang pacar saya sakit apa?" tanya Dipta. "Nona Vanessa menunjukan gejala tifus. Ditambah lagi ada maag yang kambuh. Itu membuat kondisinya semakin melemah." kata Dokter yang ku jawab anggukan.


Setelah dokter keluar dari ruang rawat, Dipta langsung duduk disebelah ku seraya menggenggam tangan ku. "Lo pasti bakalan sehat ya kan. Lo harus istirahat. Nanti perusahaan biar diurus sama om lo dulu." kata Dipta yang ku jawab anggukan lemah. "Lo mau makan apa sekarang? Gw beliin ya?" tanya nya yang ku jawab anggukan. "Mau bakso mercon boleh?" tanya ku yang dijawab gelengan. "Gila, lagi sakit makanin gituan. Lo kan ada maag tadi kata dokter maag lo lagi kambuh. Jangan aneh deh, Nes." kata nya. "Yaudah apa aja deh, Ta. Gw mau tidur dulu ya." kata ku yang dijawab anggukan Dipta.


***


"Eh jangan berisik nanti si Vanes bangun!" kata seseorang yang membuat ku terbangun. Aku langsung mengerjapkan mata ku dan melihat ada ketiga sahabat ku duduk di sofa dekat pintu. "Lha? Kalian disini?" tanya ku yang dijawab anggukan ketiga sahabat ku. "Dipta mana?" tanya ku. "Dia tadi sih disini pas kita dateng. Tadi dia pergi sama sahabat-sahabat nya katanya mau nyari makanan dulu." kata Nanda yang ku jawab anggukan.


"Gimana keadaan lo, Nes?" tanya Aira. "Ya gitu deh gw disuruh bedrest dulu seminggu." kata ku seraya tersenyum. "Lo tadi emang kenapa deh, Nes? Tadi kayaknya waktu kita di perpus lo ga kenapa-napa." kata Cinta. "Dokter tadi bilang gw ada gejala tifus. Tadi gw emang sih udah ngerasa ga enak badan pas berangkat. Tapi gw paksain." kata ku seraya memijat kepala ku.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar rawat ku terbuka, ternyata Dipta yang masuk. "Nes, nih gw bawain nasi goreng buat lo. Lo duduk dulu okay." kata nya seraya mengelus keningku. Aku menganggukan kepala ku dan berusaha duduk dibantu Cinta. "Eh curut-curut yang berakhlak. Nih kita juga bawain makanan. Yuk makan!" ajak Ivan memperlihatkan satu kantong plastik besar. Ketiga sahabat ku menganggukan kepala nya dan mereka berenam duduk di lantai.


Dipta menyuapi ku seraya tersenyum. "Kenapa lo?" tanya ku. "Gapapa lucu aja gitu biasa nya lo yang nyuapin gw. Sekarang gw yang nyuapin lo." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Lo udah makan?" tanya ku. "Udah tadi di sekolah kan." kata Dipta. "Lo juga makan. Tadi jam istorahat kan jam 12. Sekarang udah jam 5." kata ku. "Iya nanti gw makan kok." kata nya yang ku jawab senyuman.


"Bentar lagi kita UAS loh. Kalian udah persiapan?" tanya Arsen. "Tumben lo lebih perhatian ke mapel biasanya bodo amatan." kata Dipta. "Harap maklum, dia ngegebet cewek pinter ya jadinya begini lah." kata Andra yang membuat kami semua menatap Arsen. Aku juga memperhatikan tatapan Arsen yang ga lepas dari Cinta. "Biar gw tebak. Cinta ya crush lo?" tanya ku yang membuat Arsen salting dan langsung tertawa.


"Ah gila sih lo, Nta. Kok mau sih sama Arsen? Mending sama gw aja." kata Ivan yang membuat Arsen menatapnya dengan tatapan membunuh. "Peace bro." kata Ivan yang membuat Andra menertawakannya. "Jangan maen-maen sama pawang nya Cinta." kata Andra seraya merangkul Ivan.


***


"Nes? Gimana keadaan kamu?" tanya Mbak Jihane yang baru aja masuk ke dalam kamar rawat ku. "Baik mbak ini udah mendingan kok. Tapi ya gitu tadi kata dokter harus bedrest dulu seminggu." kata ku seraya memijat keningku. "Si Dipta ga kesini?" tanya Mbak Jihane. "Tadi dia kesini kok tadi jam setengah enam dia pulang. Kan dia juga besok sekolah." jawab ku. "Iya juga ya. Yaudah deh. Mbak disini ya jaga kamu." kata Mbak Jihane yang ku jawab anggukan.


Mbak Jihane mengeluarkan laptop dari tas nya. Dia langsung menelfon seseorang kayaknya kliennya. "Sebentar ya, Nes. Mbak mau ngurus klien dulu." katanya yang ku jawab anggukan. Aku duduk secara perlahan lalu melihat ponselku. Aku mengecek IG dan melihat ada vidio saat tadi Dipta menggendongku. Seperti biasa, diakun gosip sekolah vidio itu ada.


Ponselku bergetar dan ada nama Dipta. Dia menelfonku.


"Hallo, Nes? Lo udah bangun? Gimana keadaan lo?" tanya Dipta. "Lebih baik kok, Dip. Lo tadi balik jam berapa? Sorry ya gw ngeribetin lo." kata ku. "Ga kok Nes. Lo tuh ga ngeribetin gw sama sekali." kata Dipta yang membuatku tersenyum. "Dipta! Kamu telfonan sama siapa sih?" tanya seseorang yang ku dengar dari Dipta. "Euumm, Vanes nih Sil." kata Dipta. Dan disaat inilah aku baru sadar, mereka lagi ketemuan. "Lo lagi sama Prisil?" tanyaku. "I-iya tadi dia minta tolong dianterin pas gw lewat deket minimarket. Yaudah karna searah jadinya bareng deh." kata Dipta. "Oh." jawabku singkat.


***


Tok! Tok! Tok!!


Mbak Jihane membuka pintu kamar rawat ku lalu melihat ada seporsi makanan khas rumah sakit. Ada nasi goreng, telur mata sapi, ada juga buah yang udah dipotong kayaknya sih itu melon.


"Nah nih udah ada makanannya. Ayo makan dulu ya!" kata Mbak Jihane yang ku jawab gelengan. "Belom laper." jawabku. "Ayo lah, Nes. Masa iya kamu ga makan. Nanti kamu malah lama sembuhnya loh." Kata Mbak Jihane. "Vanes belum laper mbak. Vanes mau pinjem laptop boleh? Mau ngirim email ke klien Vanes." kataku. "Jangan, kamu lagi sakit juga masih aja kerja. Udah sitirahat dulu!" kata Mbak Jihane. "Please." ucapku singkat. "Hmmm yaudah tapi harus janji nanti kalo matanya capek, langsung berhenti." kata Mbak JIhane yang ku jawab anggukan.


Aku langsung mengirimkan beberapa email sampai aku merasa capek, akupun berhenti dan mulai memakan makananku.