Stuck With You

Stuck With You
Official



Vanessa P.O.V


Dipta memeluk ku begitu erat. "Kita ke kelas gw ya. Kenalan sama nyokap!" kata Dipta yang ku jawab anggukan. Dia langsung menggandeng tangan ku dan kami berjalan bersama ke kelas nya. Banyak pasang mata yang tersenyum melihat kami. Aku bahkan mendengar ada beberapa anak yang heboh. Mereka ngedukung banget hubungan kami.


Aku tersenyum dan melambaikan tangan ku pada anak-anak yang menatap kami. Mereka tersenyum dengan lebar. "Akhirnya mereka baikan." kata salah satu anak.


Kami sampai didepan kelas. Aku ngeliat ada satu ibu-ibu dengan penampilan yang modis. Dia menatapku dan tersenyum. "Nona Bramantyo. Senang bertemu dengan anda." katanya dengan senyum penuh hangat. Ada rasa nyaman saat ngeliat senyuman mamanya Dipta.


"Ma, kenalin ini Vanessa. Dia calon mantu mama." kata Dipta yang membuatku kaget. "Ta!" kata ku dengan muka merah.


"Akhirnya mama punya anak cewek!!!!!" kata mamanya Dipta heboh. Dia langsung memeluk ku dan tersenyum. "Kenalin, nama saya Hinamasa Diana. Saya, mamanya Dipta." kata mamanya Dipta yang membuat ku tersenyum. "Vanessa Zahirah Bramantyo, tante." kata ku tersenyum. "Eits! Jangan panggil saya tante! Panggil saya mama!" kata mamanya Dipta yang ku jawab anggukan.


***


"Vanessa!!!" panggil Mbak Jihane saat dia menemukan ku di kantin. "Eh iya lupa ke kelas hehehe. Kenapa, mbak?" tanya ku. "Nih dari guru kamu. Selamat ya, kamu ranking satu!!! Bangga mbak sama kamu." kata Mbak Jihane yang membuatku tersenyum dan langsung memeluknya.


"Ekhem! Mbak, Dipta mau izin ya nanti malam mau ajak Vanes jalan boleh?" tanya Dipta. "Oh kalian udah baikan toh. Boleh banget kok. Monggo!" kata Mbak Jihane. "Nah gw udah izin. Nanti gw jemput jam tujuh gimana?" tanyanya yang ku jawab anggukan. "Yaudah kalau gitu gw pergi duluan ya. Pakai gaun formal ya sayang. Mbak, pamit duluan ya. Assalamualaikum!" pamit Dipta yang dijawab anggukan Mbak Jihane. "Ya, okay." kata Mbak Jihane. "Kok ga bales salamnya?" tanya Dipta. "Kamu lupa saya nonis?" tanya Mbak Jihane yang membuat Dipta menepuk jidat nya. "Lupa saya. Maaf ya mbak." kata Dipta yang dijawab tawaan Mbak Jihane.


***


Mbak Jihane sedang menyetir. Kami menuju ke kantor karna hari ini aku akan menghadiri rapat. "Nanti kita liburan yuk, Nes! Ke Bali aja gimana?" tanya Mbak Jihane. "Boleh tuh mbak. Tapi kayaknya Vanes mau liburan sendiri aja deh. Mau self healing." kata ku. "Bukannya kamu udah baikan sama Dipta?" tanya Mbak Jihane. "Iya emang udah tapi kan self healing bukan kalo lagi sakit hati doang." kata ku.


"Hmmm kalo mbak ajak Dipta sama sahabat-sahabat kalian gimana?" tanya Mbak Jihane. "Kalo bareng, mau deh hehehehe." kata ku tertawa. "Dasar bocah bucin." kata Mbak Jihane tertawa. "Emangnya gapapa kalo aku ajak sahabat-sahabat aku, mbak?" tanya ku. "Iya gapapa dong biar berpasangan." kata Mbak Jihane. "Pasangan? Mbak bawa siapa emang?" tanya ku. "Ya pacar mbak lah Ya kali mbak jomblo." kata Mbak Jihane yang membuat kami tertawa berdua.


***


Aku melihat ke jam di tanganku, udah jam lima sore. Aku masih memperhatikan presentasi di depan yang dilakukan perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan ku. Kami akan membahas pembangunan yang akan dilakukan di Bandung. Sesuai dengan pemikiran ku sewaktu ke Bandung waktu itu, aku rasa ga ada salah nya deh kalo ngebangun hotel atau villa disana.


"Iya jadi saya rasa dengan kita mendirikan apartment yang ada didaerah Bandung, kita bisa menghasilkan banyak keuntungan." kata ku seraya menjelaskan project yang mau ku buat. Salah satu perwakilan dari perusahaan kontruksi di Jakarta. "Saya bingung, kenapa harus apartment? Kenapa kita tidak mendirikan Villa atau hotel?" tanya nya.


"Begini, pak. Apartment itu biasanya akan menyediakan banyak tempat di basement yang bisa dipakai orang-orang untuk berjualan. Kita juga bisa mendapatkan keuntungan jika ada yang menyewa perunit. Biasanya orang-orang akan mencari tempat penginapan yang bisa dipakai untuk memasak, comfy untuk keluarga, bahkan kalau bisa untuk menetap selama bertahun-tahun. Kita bisa aja nanti menyediakan sarana untuk menuju perunit dari ruang marketing. Selain itu nanti akan dibangun ruang gym, ruang kesenian kalau memang diperlukan, kolam renang. Pasti bisa kita bangun jika kita rencanakan dengan matang." kata ku seraya menjelaskan lebih detail.


"Baik, saya sangat puas dengan penjelasan anda. Saya rasa kita harus memulai membahas pengeluaran yang akan dilakukan selama masa pembangunan. Bagaimana nona?" tanya perwakilan perusahaan kontruksi yang ku jawab anggukan.


***


Setelah menandatangani kontrak kerja sama, aku langsung berjabat tangan dan tersenyum. "Terima kasiha tas persetujuan kerja samanya, pak." kata ku. "Suatu kehormatan bagi kami." katanya.


Aku langsung keluar dari ruang meeting dan langsung masuk ke ruang kerja ku. Aku langsung mengambil ponsel dan melihat ada empat panggilan dari Dipta. Dan aku langsung menelfonnya.


"Hallo sayang!" sapa Dipta yang membuatku tersenyum dengan pipi yang memerah. "Apaan sih lo ah. Kenapa tadi nelfon?" tanya ku. "Kata Mbak Jihan lo di kantor ya? Jangan kemana-mana. Nanti gw kesana!" Kata Dipta. "Oh gitu tapi gw belom ganti baju, Ta." kata ku. "It's okay. Lo cantik dimata gw." kata Dipta. "Gombal dasar. Yaudah buruan. Gw bakal urus berkas dulu berarti." kata ku. "Iya sayang." katanya. Sambungan telfon akhirnya terputus dan aku pun tersenyum.


"Dasar sinting!" kata ku serya tersenyum.


***


Tok! Tok! Tok!


Terdengar ketukan pintu ruangan ku. Aku langsung bersender di kursi kerja dan meminum segelas air. "Masuk!!!" ucapku. Pintu terbuka dan aku melihat seseorang mengenakan jas. "Gimana? Udah siap?" tanya orang itu. Aku langsung menengok dan ternyata itu Dipta!


"Gw mau selesaiin make up dulu." kata ku. "Ga usah. Sini ikut gw!" katanya. Aku berdiri dan menghampirinya. Dia memeluk ku dan mengelus punggung ku yang setengah tertutup oleh korset. Jas nya ga aku pakai guys lagi gerah hehehe.


"Pake jas lo sebelum gw lepas kendali nya." kata Dipta yang membuat ku menatapnya. Kami saling bertatapan dan itu membuat ku gugup. "B-bentar!" kata ku seraya berlari ke kursi dan memakai jas ku. Dia langsung memakaikan penutup mata ke wajah ku. Dia langsung menggenggam tangan ku. Aku menyadari kalau saat ini, kami masih diruangan ku. Aku meraba ke depan ku, kayak ada dinding.


Penutup mata terbuka secara perlahan, Dipta langsung menarik dagu ku sampai mata kami saling bertatapan. Lama-kelamaan, hidung kami mendekat, aku yang langsung tersadar segera menahan badan Dipta biar ga mendekat. "Jangan berlebihan." kata ku. Dia tersenyum dan menganggukan kepala nya. "Liat ke belakang lo!" katanya.


Aku menengok dan melihat di taman kantor ada foto aku. Hah? Foto aku? Ga lama kemudian, ada drone yang terbang dengan membawa kain bertuliskan 'Find Me!'.


Aku melihat diatas laptop ku, ada kertas. Aku langsung mengambilnya dan membaca. 'Tangkai bunga' begitulah tulisannya. Aku langsung meneliti diruangan ku. Ga ada bunga disini. Aku langsung keluar dari ruangan dan melihat ada kertas ditangkai bunga yang ada dimeja Om Ahmad.


'Ruangan lo ngobatin gw!' begitulah tulisannya.


Hah? UKS gitu? Setau aku disini adanya klin---- wait! Aku tau!


Aku langsung berjalan ke klinik kantor yang ada didekat kamar mandi. Saat aku buka, ada kertas dipintunya guys!


'Find me! Clue berikutnya, benda ini itu biasanya dipake lo buat kompres lebam. Cepetan!!'


Aku langsung masuk dan mencari handuk kecil. Saat aku menemukan tumpukan handuk kecil, aku ngeliat ada kertas. Aku langsung membacanya. 'Lift Nomor 2!' Aku langsung berjalan keluar ruangan dan masuk ke lift yang diberi tau. Baru aja masuk, udah ada satu kertas dengan tulisan:


...'Tanpa...


...Alasan mencintaimu...


...Mungkin...


...Aku hanya tinggal...


...Nama'...


Begitulah isi nya. Aku langsung bingung guys karna ya apa hubungannya sama clue selanjutnya?


Aku mulai meneliti clue ini. Dan aku tersenyum. Aku tau pasti yang dimaksud taman. Penulisannya berbeda. Ada yang memakai satu kata dan ada yang memakai dua dan tiga kata untuk membuat satu kalimat. Kalau disingkat jadinya TAMAN.


Aku tersenyum dan langsung menekan tombol lift huruf L. Setelah itu, aku menggunakan ponsel ku mulai bercermin.


Pintu lift terbuka, Aku melihat Lobby yang udah gelap. Aku langsung keluar dari kantor dan melihat taman. Aku menemukan taman yang sudah di hias dengan sangatttttt indah.


Aku langsung berjalan perlahan dan melihat ada seorag anak menghampiri ku. Anak ini memberikan setangkai bunga mawar putih. Aku tersenyum dan mengambil bunganya. Aku mengelus pipinya.


Ga lama kedengeran ada lagu yang diputar. Ini lagu Judika dengan judul 'Sampai Kau Jadi Milik ku'. Aku melihat ke sekitar, pohon-pohon di taman ini sudah memiliki tali penyambung. Banyak foto-foto polaroid yang digantung. Aku pun melihat ada satu bagian ditaman dengan karpet kecil bertuliskan 'Start From Here!'.


Aku langsung melihat foto yang ada diatas karpet. Ada tulisannya guys!


Ada foto Dipta dengan aku yang lagi ga sengaja lewat. Ada tulisan 'Jangan marah sayang, ini pertama kalinya aku liat kamu dan jujur saat itu, aku ngerasain jatuh cinta dipandangan pertama.'


Aku melanjutkan ke foto disampingnya. Kebanyakan foto Dipta yang ga sengaja ada aku didalamnya. Ada banyak juga cerita kondisi Dipta pas dia balikan sama Prisil. Aku mulai menangis pas liat ada foto tangan Dipta yang penuh lebam dengan tulisan dibawah fotonya 'Aneh bukan? Aku yang salah tapi aku juga yang nyesel hehehe. Di foto ini, aku sadar, Nes kalo aku ternyata cinta sama kamu.'


Lama-lama aku sampai diakhir foto. Foto yang diambil kemarin kayaknya. 'Akhirnya hubungan kita membaik. Dan ini saat nya aku ungkapin semua nya. Liat ke pintu kantor ya!' begitulah tulisannya.


Aku langsung menengok ke pintu kantor dan melihat ada tayangan vidio dipintunya. Vidionya ada Dipta ternyata. Dia senyum dan menunjuk ku. "Liat dibelakang lo, Nes!" katanya di vidio itu.


Aku menengok dan melihat ada Dipta yang lagi berdiri. Dia tersenyum dan langsung menghampiri ku.


"Kenal lo itu suatu kebahagiaan bagi gw, Nes. Banyak hal yang bikin gw ragu sebelumnya. Bahkan gw sendiri bingung sama perasaan gw ke lo. Apa rasanya itu sekedar sayang? Suka? Atau bahkan gw jatuh cinta sama lo. Tapi sekarang gw udah dapet jawabannya. Gw jatuh cinta sama lo, Nes." kata Dipta menatapku.


"Ngeliat lo nangis karna gw, rasanya itu bikin gw benci diri gw sendiri. Dan gw sadar, kalo gw mau jadi sosok yang selalu ada buat lo. Gw mau jadi cowok yang bisa ngejagain lo dan gw mau jadi pasangan lo. Kayak Nabi Muhammad yang cinta sama Siti Khadijah, itu yang gw rasain ke lo. Selayaknya Krishna yang ga akan lengkap tanpa Radha, gw juga begitu yang ga akan lengkap kalo lo ga ada disamping gw. Dan selayaknya Zafar yang berkorban demi nyelamatin Roop di film Kalank, itu juga yang akan gw lakuin demi keamanan lo, Nes. Dan sekarang, di malam ini. Di hari, menit, dan detik ini juga. Gw mau nanya sesuatu ke lo. Will You Be Mine?" tanyanya yang membuatku terharu. Aku yang dari awal udah nangis, malah makin kejer gara-gara terharu dan akhirnya aku meluk dia dan menganggukan kepala ku.


"SURPRISE!!!!!!!!" Teriak banyak orang. Aku menengok dan kaget ngeliat ada Mbak Jihane, orang tua Dipta, Om Ahmad, Hiza, keenam sahabat kami, dan ada satu laki-laki yang ga aku kenal. Dia ngerangkul pinggang Mbak Jihane dengan sangat erat.


"Gimana surprise gw? Berhasilkan?" kata Dipta. Aku tertawa dengan suara sumbang dan langsung mencium pipi nya. "Jail." kata ku tersenyum.