Stuck With You

Stuck With You
Second Day in Bandung



Vanessa P.O.V


"Sayang! Liat deh ada yang nonton live aku nih. Eh dia toh yang nonton. Hai Vanes! Gimana akhirnya ga bisa dapetin Dipta? Sedih dong ya pastinya." Kata Prisila di Live IG nya. Aku hanya tersenyum kecut melihat Dipta yang diam saja seraya melihat ponselnya.


"Ngapain lo nontonin orang bego kayak gitu?" tanya Nanda. "Gw ga liat muka dia. Yang gw liat, orang disebelahnya." kata ku seraya tersenyum miris. "Nes, gw rasa lo harus dengerin ini deh." kata Aira seraya memberikan ponselnya pada ku. Ternyata vn dari Ivan.


"Jadi lo lagi ngomongin si Vanes nih ceritanya?" Aku mendengar suara Ivan. "Iya. Gw bingung deh Van. Gw sayang sama dia tapi gw ngerasa dia sekedar suka doang sama gw. Cewek bisa aja baper karna kita kasih perhatian kan? Makanya gw ngerasa kalo Vanes cuman suka doang sama gw." Aku mendengar suara Dipta.


Aku langsung menatap Aira dan dijawab anggukan Aira. "Jadi menurut lo, gw harus apa? Apa gw harus mundur aja? Atau gimana?" Tanya Dipta. "Gw rasa lo berjuang aja deh. Gw ga tega kalo Vanes ternyata sayang beneran sama lo." kata Ivan. "Tapi kayaknya dia sekedar suka doang, Van. Lo pasti pernah kan ngebaperin cewek dan dai baper nya sebentar doang?" kata Dipta. "Iya gw emang pernah ngebaperin cewek tapi seenggaknya gw bakal kasih ke jelasan sama dia. Sekarang gw tanya sama lo. Lo udah nembak Vanes belom hah?!" tanya Ivan. "Belom sih dia bilang dia ga mau kalo gw masih kepikiran masa lalu gw." kata Dipta. "Terus jadi nya gimana?" tanya Ivan.


"Kayaknya gw mundur aja deh." kata Dipta yang membuatku langsung berkaca-kaca.


"Gila lo! Sinting!! Banci! Lo ga berani ngaish kejelasan ke Vanes tapi langsung mundur tanpa pamitan ke dia. Banci!!!!" kata Ivan. "Terserah lo." kata nya.


Vn selesai. Aku langsung mengembalikan ponsel Aira dan mulai menangis. Ketiga sahabat ku langsung memeluk ku begitu erat. "G-gw sayang sama dia, Nan." kata ku seraya menangis. "Ssssttt! Udah, Nes. Sabar. Mungkin ini yang terbaik buat kalian." kata Nanda. "Ra, gimana lagi gw harus jelasin ke dia. Bukannya gw minta dia berjuang lebih buat gw. Gw cuman minta dia selesaiin masa lalu nya. Sesusah itu ya?" kata ku seraya menangis. "Lo ga salah, Nes. Lo cuman minta ke dia. Tapi dia mungkin nanggapin kemauan lo itu jadi sesuatu yang rumit. Udah ayo lo pasti bisa kok." kata Cinta seraya memeluk ku.


***


Aku sudah siap dengan jaket kulit hita, top hitam, dan celana jeans biru ku. Aku saat ini sedang menyisir rambut seraya mencatoknya agar lurus. "Nes, gw pinjem catokan lo dong. Kalo udah, mau gw pinjem ya." kata Aira yang udah siap dengan ripped jeans hitam, baju oversize hitam putih, dan sepatu booth. "Sip deh." jawabku tersenyum.


"Nes, Ra! Menurut kalian lebih bagus pakai atasan yang ini atau yang ini?" tanya Nanda memperlihatkan dua tanktop berwarna hitam dan putih. "Kayaknya yang item deh. Biar ga terlalu nyeplak. Kita bakalan panas-panasan sekarang." kata ku. "Eh tapi kalo putih bisa lebih cerah." kata Aira. "Kayaknya lebih cocok yang item sih. Karna celana dia abu-abu tua. Nnati aklo baju dia tanktop putih malah ga terlalu kontras." kata ku. "Nah iya kan Nan. Apa kata gw, cocoknya tuh yang item." kata Cinta yang udah siap dengan celana pendek jeans dan baju oversize berwarna putih dengan garis-garis biru. Dia juga memakai topi dan kacamata.


"Gw udah siap nih guys!!" kata Nanda yang udah siap dengan celana pendek abu-abu dan tanktop hitam. "Widih! Ga pake outer lo?" tanya Aira. "Pake tapi pas turun nanti gw buka." kata Nanda. "Sip deh kalo begitu." kata ku.


"Nes, si Mas Dante itu udah siap belom? Bilang aja kita mau otw." kata Cinta. "Tadi gw udah nelfon dia kok. Palingan dia sekarang udah di lobby." kata ku yang dijawab anggukan ketiga sahabatku. "Yaudah yuk jangan lama-lama. Kita langsung turun!" kata Nanda yang ku jawab anggukan.


***


"Okay! Sekali lagi, neng! 1! 2! 3! Ya! Okay!!" kata Mas Dante seraya mengambil foto ku. Aku tersenyum melihat hasilnya. "Widih!! Bagus juga! Kalo gitu fotoin saya sama sahabat-sahabat saya ya, mas!" kata ku yang dijawab anggukan Mas Dante. "Guys! Ayo foto!!" ajak ku. "Sip!" jawab ketiga sahabat ku.


Hari ini, kami menghabiskan waktu kami di The Ranch Bandung setelah sebelumnya kami pergi ke Kebun Teh Sukawana.


"Besok kita mau kemana lagi nih?" tanya Cinta. "Kayaknya besok kita ke Upside Down mau ga? Bagus juga tuh!" Ajak Nanda. "Hmmm ide bagus! Nanti balik dari sana kita bisa ke Farmhouse gimana? Dulu seinget gw ya kita bisa sewa kostum tuh disana!" kata Aira. "Neng, boleh saya kasih saran?" tanya Mas Dante yang ku jawab anggukan. "Saran saya sih ya mendingan kalo wisata yang ga terlalu capek tuh di akhir aja. Jadinya besok ke wisata alam dulu lusa sama hari berikutnya baru ke tempat yang ga terlalu capek. Jadinya pas nanti pulang, bisa langsung pulang tanpa rasa capek." kata Mas Dante.


"Betul juga ya." kata ku. "Yaudah berarti kita besok full wisata alam nih ya." kata Nanda yang ku jawab anggukan. "Udah omonginnya nanti aja di apart. Nanti baru infoin ke Mas Dante." kata Cinta yang ku jawab anggukan.


***


"Okay jadi kita besok bakalan ke Stone Garden Park, Glamping Lakeside, Dago Dream Park." kata Nanda. "Lusa nya, kita bakalan ke Lereng Anteng Panoramic Cofee Place, Upside Down, terus malemnya kita ke Ciwalk ya." Kata Aira. "Hari keempat, kita bakal ke Cina Town, Farmhouse, sama ke Chingu Cafe nih ya." kata Cinta yang ku jawab anggukan. "Dan setelah semuanya beres, besoknya kita langsung balik ke Bogor." kata ku tersenyum.


"Gw ga sabar sih buat beli oleh-oleh. Gw mau beli baju sama mau beli kue kartika sari!!" kata Aira. "Gw malah mau nya itu yang kayak pastry isinya daging. Enak buat ganjel laper." kata Nanda. "Kalo gw sih palingan mau beli nya baju. Tapi ga tau deh gimana nya." kata Cinta. "Nanti kita temenin." kata ku.