
Vanessa P.O.V
"Nes! Bangun, Nes! Didepan ada Mas Dante. Katanya ada yang mau diomongin." kata Aira yang membuatku mengerjapkan mata dan melihat ke jam. Udah jam delapan ternyata. "Bilang ke dia, Ra. Gw mau mandi dulu." kata ku yang dijawab anggukan Aira. Aku langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai, aku langsung memakai baju tidur ku kembali dan ga lupa pakai outernya. Aku langsung keluar dari kamar dan melihat Mas Dante yang lagi minum teh. Dia lagi ngobrol sama Nanda. Mereka keliatan akrab. Aku tau sih ini emang jadi salah satu kelebihan Nanda. Dia supel.
"Ekhem!" dehemanku membuat Nanda dan Mas Dante menengok. "Okaylah mas yang dicari udah ada. Saya mau lanjut masak ya. Harap maklum, kelaperan." kata Nanda. "Sip." jawab Mas Dante.
"Ada apa ya, mas?" tanya ku. "Begini, neng. Jadi tadi saya abis diinfoin kalau inikan sudah mulai menjelang natal ya. Jadinya banyak jalan yang ditutup. Nah sekarang saya terserah neng Vanes. Mau lanjut di Bandung tapi kemungkinan bisa ga pulang sampai tanggal dua tujuh. Atau mau pulang hari ini juga neng?" kata Mas Dante.
"Memang kalau lewat jalan selain tol ga bisa ya mas?" tanya ku. "Bisa neng tapi macet nya itu bakalan abisin waktu." kata Mas Dante. "Oalah yaudah kalau gitu palingan hari ini aja deh ya pulangnya. Nanti palingan mampir beli oleh-oleh dulu ya." kata ku. "Nggih, kalau gitu mulai persiapan pulang ya neng. Nanti kalo udah siap, langsung telfon saya aja." katanya yang ku jawab anggukan.
***
"Jadi kita hari ini pulangnya?" tanya Cinta yang ku jawab anggukan. "Nanti kita beli oleh-oleh dulu kok." kata ku tersenyum. "Iya, Nes. Kita ngerti kok. Lagian kita juga tau pasti Mas Dante kasian sama kita kalo kena macet." kata Nanda yang ku jawab anggukan.
Aku langsung masuk ke kamar dan mulai packing baju-baju ku. "Nes, ini bahan-bahan mau dibawa pulang apa gimana?" tanya Aira. "Yang bisa di bawa mah bawa aja. Telor kita rebis aja ya guys. Set timer ke sepuluh menit! Biar ga ada yang ketinggalan, semua hp kita cas dideket tv. Jangan ada yang ditempat lain!" kata ku.
"Semuanya cek barang elektroniknya juga ya. Powerbank, earpods, atau apalah itu yang penting. KTP, dompet, daleman! Jangan ada yang ketinggalan!" kata Cinta. "Make up juga jangan lupa! Nanti semester dua kalo kita ada yang lolos SNMPTN, SBMPTN atau Jalur Mandiri kita rayain barengan!!" kata Nanda. "Ashiyappppp!!!" kata kami bertiga semangat.
***
"Waduh padahal saya harap, Mbak Vanes bisa lebih lama loh di Bandung. Tapi ya gapapa deh ya menjelang akhir tahun dari pada kena macet kan ya. Ditunggu ya mbak kedatangannya dilain waktu." kata pemilik apart yang ku jawab anggukan.
Aku langsung menuju mobil dan melihat ketiga sahabat ku sudah masuk, koper aku juga udah ga ada. "Lain kali kita trip aja deh ya pake mobil ginian! Gimana Mas Dante? Siap ga nih?" tanya ku. "Wah siap selalu, neng!" kata Mas Dante semangat.
Aku langsung mengambil notes kecil didalam tas ku lalu mulai menuliskan apa aja yang mau aku beli. Aku langsung menulis, satu dus keripik Maicih level 10, satu dus basreng maicih, empat brownis kartika sari, aku juga mau beli beberapa tas, satu kaca mata, dan enam aksesoris kepala kayak bando, kunciran, jepitan.
"Mas Dante, ini uang oleh-oleh ya. Kurang kah?" tanya ku seraya memberikan tiga lembar uang seratus ribuan. "Wah kelebihan malah neng." jawabnya. "Kalo nanti ada lebih, masukin aja ke saldo e-Tol ya." kata ku. "Nggih, matur suwon neng!" kata Mas Dante yang ku jawab anggukan.
Aku langsung masuk ke pusat perbelanjaan, dan aku langsung mencari barang-barang yang akan aku beli. Saat aku melewati stand keripik, ada satu keripik yang menggugah selera, keripik kaca! Aku langsung membelinya enam bungkus. Aku juga melihat ada makanan yang baru kali ini aku dengar. Cirembay? Cirembeuy? Itulah pokoknya. Aku melihat cara memasaknya yang simpel. Akupun membeli nya.
Setelah aku rasa udah semua, aku langsung memasukan barang-barang yang aku beli ke troli. Aku sekarang mulai melihat-lihat baju. Hmmm, ada gaun tidur ternyata disini. Aku melihat beberapa gaun tidur dengan outernya yang panjang berwarna putih. Aku mengambil baju itu dan mulai mencoba, ternyata muat. Aku langsung mengambil beberapa baju tidur yang ku suka.
Setelah cukup, aku langsung ke kasir dan membayarnya.
***
"Mas Dante, ini ya uang antar-jemputnya. Makasih loh udah di antar jemput." kata ku seraya memberikan amplop putih. Mas Dante tersenyum dan menggelengkan kepala nya. "Ga usah neng. Kan selama ssaya di Bandung, uang penginapan, uang bensin, uang makan, uang oleh-oleh udah ditanggung sama neng." kata Mas Dante. "Ya gapapa dong mas. Ini, diterima ya. Anggap aja rejeki buat ibu nya." kata ku tersenyum. "Alhamdulillah, makasih ya neng. Semoga rejeki nya lancar." kata nya yang ku jawab anggukan seraya tersenyum. "Aammiinn." jawabku. "Baik, kalau begitu saya pamit ya neng. Ini mobilnya perlu saya bawa balik ke kantor atau disini aja?" tanya Mas Dante. "Di bawa ke kantor aja." jawabku.
Aku langsung masuk ke dalam dan melihat Mang Suryo yang lagi dipijitin sama Bi Darti. "Bibi! Mang Suryo!!!" sapa ku. "Eh neng Vanes! Kapan pulangnya?" tanya Mang Suryo. "Baru aja sampe nih mang. Oh iya ini kalo Vanes minta tolong bawain barang didepan bisa ga ya? Tangan Vanes penuh sama koper sama beberapa totte bag hehehe." kata ku.
***
"Eleuh! Eleuh! Si eneng, beli banyak banget ini keripik pedesnya." kata Bi Darti. "Iya, Bi. Inikan Vanes suka banget. Jadinya sekalian deh beli. Oh iya nanti pekerja suruh kumpul ya, Bi. Vanes mau bagiin oleh-oleh." kata ku. "Siap atuh neng." kata Bi Darti.
Aku langsung berjalan ke kamar dan segera mandi lalu mengganti pakaian ku dengan baju tidur piyama berwana peach yang terbuat dari kain satin. Saat aku keluar kamar, aku melihat kalau pelayan dirumah ku lagi ada yang bikin jus. Akupun menghampiri nya, ternyata Layla.
"Kak?" panggilku. "Eh non. Sebentar ya, saya lagi bikin jus jambu. Tadi Bi Darti nyuruh saya katanya biar non lebih seger." katanya yang ku jawab anggukan. "Tolong ya kak bikin jus nya yang manis." kataku. "Siap atuh non." katanya.
***
"Mang Suryo, Bi Darti. Vanes mau ngomong deh." kata ku. "Oh iya neng ada apa ya?" tanya Mang Suryo. "Vanes baru ada rencana sih buat dekorasi kamar. Jadi kalo dideket rumah Mang Suryo sama Bi Darti ada yang bisa jadi tukang buat ngecat kamar, tolong suruh dateng ya! Biar nanti Vanes bisa ngobrol sambil ngomongin desainnya. Vanes mau lima tukang aja." kata ku. "Oh iya baik, neng nanti bibi cariin ya." kata Bi Darti. "Iya, bi. Bilang aja sekali kerja dapat sejuta perorang." kata ku yang dijawab anggukan Bi Darti.