
Vanessa P.O.V
Saat ini, aku melihat ada banyak makanan di meja makan. Aku tersenyum seraya menatap suamiku. Sejak kemarin, aku memang merengek karna aku mau memakan bakso dengan lumeran keju mozarella. Hmmm! Aku sangat menginginkannya. Pagi ini, aku dikejutkan dengan kedatangan satu mobil. Ternyata mobil itu membawa banyak bakso dan ada keempat sahabat ku juga yang lagi di masa libur.
Ternyata ini rencana Dipta. Dan sekarang ini, meja makan ku sudah dipenuhi berbagai jenis bakso. Ada satu bakso dengan ukuran yang besar. Udah kayak bola basket guys bakso nya. Dan ada banyak varian bakso lainnya di meja makan. Aku sangat bahagia. Aku mengelus perut ku terus-terusan seraya tersenyum. "Emang ya nak, rejeki anak baik pasti ada aja. Ga percuma ya kan papa kamu tajir melintir tujuh turunan." kata ku seraya tertawa.
Dipta tertawa lalu mengelus rambutku. "Iya deh gapapa dah uang gw abis yang penting buat bini sama anak mah." kata Dipta yang membuat keenam sahabat kami ikutan tertawa. "Demi anak ye kan." kata Nanda. "Anak bingits!!!" ledek Aira yang membuat Dipta tertawa dan mengelus perut ku. "Yaudah yuk makan!" ajak ku seraya tersenyum.
"Yang lagi mau nih harus ambil duluan." kata Ivan. "Iya bener. Gih, Nes. Ambil dulu! Yang banyak ya! Biar keponakan gw sehat didalem perut!!" kata Andre. "Hooh nih bener. Tapi inget, sambelnya jangan kebanyakan. Didalem baksonya udah ada cabe nya, Nes." kata Arsen yang ku jawab anggukan.
Ketiga sahabatku langsung menghampiri ku dan mereka pun langsung mengelus perut ku. "Hallo keponakan aunty!!! Sehat terus ya disini. Nanti kalo kamu udah lahir, nanti aunty beliin deh rumah-rumahan." kata Cinta seraya tersenyum. "Kalo Tante Nanda sih bakalan ajarin kamu pake senjata ya. Makanya kamu sehat terus. Kan seru tuh kalo nanti tante ajarin kamu pake tembakan. Pasti menggelegar!!" kata Nanda yang mmbuat ku tertawa. "Kalo Tity Aira nanti ajarin berenang aja deh ya. Pasti nanti kamu bisa jadi perenang yang handal. Eh atau jadi atlet renang aja? Gimana?" kata Aira yang membuat kami tertawa.
"Jadi kalian udah punya panggilan ya buat anak gw. Cinta dipanggil aunty. Nanda dipanggil tante. Terus Aira dipanggil tity nih ya. Kalo om nya udah ada belom nih?" tanya Dipta yang membuat ketiga sahabatnya tersenyum. "Karna kita tau ya Ta nanti pasti anak lo bakalan riweuh kalo kebanyakan panggilan yang beda. Jadi kita dipanggilnya Om aja." kata Ivan yang membuat kami semua tertawa.
Aku mulai mengambil pisau dan mulai membelah bakso sebesar bola basket ini. Saat dibelah, banyak sambel, cabai, dan bakso kecil yang keluar dari bakso ini. "Buset! Puas banget dah ini mah." kata Andre.
***
Setelah kami selesai memakan bakso nya, kami duduk di tempat untuk menonton film. Dipta mulai membatasi ruangan ini dengan tirai. "Gila sih kalian kreatif. Bisa aja kepikiran buat pake tirai." kata Andre. "Hooh. Btw kita mau nonton apa nih?" tanya Aira. "Hmmmm apa aja deh. Gw juga palingan nanti ketiduran." kata ku seraya tersenyum. "Gapapa, Nes. Wajar sih karna setau gw kalo ibu hamil bawaannya pasti ngantuk." kata Cinta yang ku jawab anggukan.
Tiba-tiba aku merasakan nyeri di perut ku. Aku langsung meremas tangan Cinta dan membuatnya menatapku. "Lo kenapa, Nes?" tanya Cinta. "T-ta, perut gw s-sakit banget." kata ku seraya meringis. "Dipta! Dipta! Bini lo, Ta!!!" kata Cinta panik. Aku mulai mengatur nafas ku dan melihat Dipta yang panik.
Dia langsung menggendongku dan membawa ku ke garasi. "Kalo ada yang mau ikut, ayo. Gw mau ke rumah sakit. Gw takut ini saatnya Vanes lahiran. Tahan sayang, aku bawa kamu." kata Dipta yang ku jawab anggukan.
***
Mobil yang dikendarai Dipta melaju dengan kencang. Ivan dan Andre juga berada didepan mobil kami seraya meminta pengemudi dijalan untuk memberikan jalan. Nanda dan Aira berada dibelakang mobil kami untuk mengawal. Sedangkan Cinta dan Arsen ada dimobil kami. Cinta menenangkan kami seraya mengelus perut ku. Sedangkan Arsen menenangkan Dipta seraya mengelus keningku.
"Tahan, Nes. Lo pasti bisa. Tarik nafas, buang. Tarik nafas, buang." kata Cinta. "Ta, sakit banget, Ta. Rasanya bakso yang tadi kayak mau keluar lagi, Ta!" kata ku seraya menangis. "Anjir lo, Vanes! Bisa-bisa nya mau lahiran malah mikirin bakso anjir!!! Woy, Ta! Buruan weh!!! Ini bini lo mau brojol!!!!" kata Cinta. "Ih kalian jangan bikin gw ketawa bisa gak sih! Ini lagi tegang woy!!" kata Arsen yang membuat ku langsung menjewer Arsen.
"Diem anjir!!! Gw mules!!!!!" kata ku seraya menjewer Arsen. "VANES! INI KUPING GW MAU COPOT KALO LO GINIIN!!!" Kata Arsen heboh.
"Sayang, tahan. Kita udah mau sampai. Okay, ini tinggal belok kiri dan okay!! Sen, lo tolong parkirin mobil ini. Gw bakal bawa Vanes ke dalem." kata Dipta yang dijawab anggukan Arsen. Dipta langsung keluar dari mobil dan langsung menggendongku.
"Suster!!! Tolong!! Dokter! Suster! Istri saya mau brojol!!!" kata Dipta seraya menggendongku. Aku yang merasakan nyeri langsung menepuk pundak suamiku dan meringis. "By, melahirkan yang bener. Brojol itu buat hewan." kata ku seraya meringis. "Sorry, by. Lupa aku. Woy! Ini dokter mana sih anjir!!! Ini bini gw mau melahirkan weh!!!" kata Dipta.
"Sebentar, pak. Saya akan mengambil bankas dulu." kata suster yang dijawab anggukan Dipta. "Tolong segera!" kata Dipta.
Ga lama kemudian, bankas datang dengan beberapa suster dan satu dokter. Dipta menidurkan ku di atas bankas dan aku pun dibawa ke satu ruangan. Setelah dicek, dokter tersenyum dan mengelus perut ku. "Bu, pak. Ini memang tanda-tanda akan melahirkan. Tapi ini bisa dibilang pembukaan. Karna itu apa ibu mau melahirkan secara normal atau caesar?" tanya dokter. "Normal dok." Jawabku.
"Baik kalau begitu kita bisa menunggu sampai pembukaan terakhir." kata dokter. "Memang ada berapa pembukaan?" tanya Dipta. "Ada sepuluh, pak. Bu Vanessa ini baru mencapai ke pembukaan ke enam. Saya minta bapak tenang dan mulai mengurus administrasi nya ya. Saya akan disini dengan ibu Vanessa." kata dokter.
***
"Sayang, aku mau ke rumah dulu ya. Aku mau ambil perlengkapan bayi sama baju buat kamu juga. Gapapa kan??" tanya Dipta. "Jangan, Ta. Lo disini aja sama Dipta. Biar gw sama Arsen yang ke rumah." kata Cinta. "Sumpah thanks banget, Ta! Sen!" kata Dipta yang dijawab anggukan Cinta. "Gw pinjem motor lo aja ya, Van." kata Arsen yang dijawab anggukan Ivan.
***
Dipta mengelus perut ku. Aku masih meringis karna sesekali aku merasa nyeri di rahim ku. "Bu Vanessa sudah memasuki pembukaan ke sembilan, pak. Sebentar lagi dia bisa melahirkan." kata dokter yang membuat ku meringis seraya meremas tangan Dipta.
"Sakit ya by?" tanya Dipta. "Itu pertanyaan terkonyol by. Kamu liat sendiri aku ngeringis masih aja nanya kayak gitu." kata ku seraya meringis. "I-iya deh maaf lah by kan aku ga tau." kata Dipta yang ku jawab anggukan.
Ga lama kemudian. rasa nyeri nya semakin sakit. Aku langsung mengambil bantal dan mulai menggigitnya. "Argh!!! Sakit!!!" kata ku seraya berteriak. Aku mulai menangis. Dokter mengecek area ************ ku dan tersenyum. "Ini memang yang akan terasa di pembukaan sembilan, bu. Okay sekarang kita akan ke ruang persalinan. Suster, segera bawa!" kata dokter.
***
Rasa sakit di rahim ku semakin terasa bahkan terasa berkali lipat dibanding yang tadi ku rasakan. Aku langsung mencengkram tangan Dipta dan mulai menangis. Dipta memeluk ku dengan erat seraya mengelus punggungku. "Kuat sayang." katanya yang ku jawab anggukan.
"Dok! Saya rasa ini sudah saatnya!!" kata suster yang dijawab anggukan dokter. "Segera persiapkan semuanya. Bu Vanessa, tarik nafas lalu dorong bu!!" kata dokter yang ku jawab anggukan. Aku mulai merebahkan tubuh ku dan membuka kaki ku. Aku mulai mengatur nafas dan mulai mengejan.
"Aaaaaaa!!!" teriak ku seraya mendorong janin ku agar segera keluar. Sesekali aku mencengkram tangan Dipta. "Ya! Ayo sayang! Dorong!!" kata Dipta. "Gara-gara lo anjir gw sakit DIPTA!!!!!!!" Teriak ku seraya mengejan dan menjambak rambut Dipta. "Lah kan emang gw laki lo, Nes." kata Dipta. "Ya makanya. Adududuh!!!! Sakit!!!!!!" kata ku seraya mengejan.
"Terus bu. Ayo! Pasti bisa. Atur nafas nya bu!!!" kata suster yang ku jawab anggukan. Dipta mengelap keningku yang dipenuhi keringat dan tersenyum lalu mencium keningku. "Ayo sayang! Anak kita akan lahir! Ayo! Aku yakin kamu pasti bisa!!!" kata Dipta.
Aku merasa energi ku kembali pulih. Aku tersenyum dan mulai mengatur nafas ku. "Bismillah, aaaaaaaa!!!!!" teriak ku seraya mengejan. "Sedikit lagi, bu!!!" teriak dokter. "Ayo sayang dikit lagi by!!! Bisa pasti!!!" kata Dipta. Aku langsung menarik kerah baju suami ku dan mencengkramnya. "ALLAHUAKBAR!!!" Teriak ku dan ga lama kemudian, aku merasa ada kelegaan dan sesuatu keluar dari area privasi ku.
"Alhamdulillah!" ujar dokter seraya menggendong sesuatu. Itu bayi!!!
Dokter menepuk pelan bokong bayi ku dan ga lama kemudian, tangisan bayi yang tadi ku lahirkan beberapa menit yang lalu menggema di ruang persalinan.
"Alhamdulillah, selamat pak, bu. Anak kalian laki-laki!" kata dokter yang membuat Dipta langsung memeluk ku. Dia menangis. "Makasih sayang. Makasih." kata Dipta yang ku jawab anggukan.
Dokter langsung membersihkan bayi ku setelah itu dia langsung memberikan anak ku ini kepada ku. "Silahkan bu, dicium dulu anak nya." kata dokter yang membuatku tersenyum. Aku mencium bayi ku dan mulai menangis bahagia.
"Hallo anak mama. Ya ampun ganteng banget ish. Tapi dok, kok ini malah mirip ke papa nya ya dari pada ke mama nya?" tanya ku. "Emang gitu, bu. Biasanya fisik anak bakal mirip kayak papa nya." kata dokter. "Ih parah deh. Mama yang ngandung kamu kok kamu malah mirip papa sih nak." kata ku seraya tersenyum. Dipta tertawa dan mencium kening ku dan pipi bayi ku.
"Pak, anaknya di adzanin dulu!" kata dokter yang dijawab anggukan Dipta. Dipta mulai menggendong anak kami dan mulai melantunkan adzan. Aku menangis terharu begitu juga dengan suami ku. Dia menangis selama melafalkan adzan didekat telinga anak kami.
Setelah adzannya selesai, Dipta tersenyum dan menggendong anak kami. "Abryan Dinessa Bahran! Nama anak kita Abryan Dinessa Bahran!" kata Dipta yang membuat ku tersenyum dan menganggukan kepala ku. "Aku suka." jawabku seraya tersenyum. "Dokter, kira-kira kapan saya sudah bisa berjalan?" tanya ku. "Nanti setelah jahitan di area privasi sudah kering baru deh bisa jalan ya." kata dokter yang ku jawab anggukan seraya tersenyum.