
Vanessa P.O.V
Pagi ini, seseorang membunyikan bel rumah ku. Aku langsung membukanya dan melihat Dipta yang udah pakai seragam. "Lo belom siap?" tanyanya yang ku jawab anggukan. "Iya belom. Semalem gw begadang ngerjain kerjaan." kata ku seraya menguap. "Mau sekolah apa enggak?" tanyanya yang ku jawab anggukan. "Mau." jawabku. "Yaudah gw tungguin lo. Lo siap-siap." kata Dipta yang ku jawab anggukan.
***
Dipta memarkirkan motor nya di parkiran. Aku melihat ada banyak anak yang menatap ku. Ada yang tersenyum dan ada yang terlihat sedang berbicara dengan temannya seraya melirik ku. "Ta? Ada yang salah ga sih sama pakaian gw?" tanya ku. "Ga ada deh. Emang kenapa?" tanya Dipta. "Gapapa, ayo!" ajak ku seraya menarik tangan Dipta.
"Eh liat deh itu direktur perusahaan Bramantyo kan? Gila sih ini mah gampang dijatohinnya." kata beberapa siswa yang membuat ku menatapnya. "Pantesan aja dia ga matre, dia nya duit banyak." kata beberapa gadis eraya menatapku seraya tersenyum. "Gw makin ngedukung sih kalo Ka Dipta pacaran sama Ka Vanes. Cocok gitu loh." kata beberapa gadis. "Iya gapapa deh gw mundur buat dapet perhatian Ka Dipta asal ceweknya Ka Vanes mah." kata salah satu gadis.
"Diemin aja, Nes." kata Dipta yang ku jawab anggukan. Dia menggenggam tangan ku seraya kami berjalan melewati lorong. Dia mengantar ku sampai di kelas. Aku langsung masuk tapi tangan ku ditahan sama Dipta. Alhasil kami jadi pusat perhatian. Dipta tersenyum dan langsung mencium keningku. Setelah itu dia langsung pergi.
***
"Nes, lo sama si Dipta tuh jadian apa enggak sih?" tanya Cinta pelan. Saat ini kami sedang mendengarkan guru kami yang lagi membahas materi dari pelajaran ekonomi. "Sssttt! Dengerin materi dulu nanti kita kena hukuman." kata ku pelan. "Duh, Nes. Banyak tau yang nanya ke kita tentang hubungan lo sama Dipta." kata Cinta. "Jawab aja itu urusan pribadi." kata ku. "Mereka ga percaya." kata Cinta. "Biarin aja elah." kata ku tersenyum.
"VANESSA! CINTA! KELUAR KALIAN!" Kata guru ku yang bernama Bu Tri berteriak yang membuat aku dan Cinta terkejut. Kami langsung menganggukan kepala dan langsung keluar dari kelas. "Mau kemana nih Nes? Bentar lagi kan istirahat." kata Cinta. "Perpus aja yuk!" ajak ku. "Mau ngapain lo?" tanya Cinta. "Mau baca buku lah. Udah lama gw ga cium bau buku perpus." kata ku yang dijawab acungan jempol Cinta.
'Gw di perpus ya. Nanti kalian ke perpus aja kalo udah beres belajar nya.' ketik ku ke grup yang berisikan aku dan ketiga sahabat ku.
"Jadi, Nes. Lo tuh pacaran ga sih sama Dipta?" tanya Cinta seraya berjalan disebelah ku. "Enggak." jawabku tersenyum. "Tapi lo suka sama dia?" tanyanya yang ku jawab anggukan. "Kalo dia nembak, lo terima apa enggak?" tanya Cinta yang ku jawab gelengan. "Lho? Kenapa?" tanyanya. "Masa lalu nya belom beres. Gw ga mau berurusan sama masa lalu nya." kata ku. "Masa lalu? Maksud lo, Prisila?" tanya Cinta yang ku jawab anggukan. "Gw tau mereka mantan tapi gw ga siap kalo urusannya sama cewek freak kayak dia. Kagak balikan aja udah bilang calon tunangan." kata ku tertawa.
Kami menaiki tangga dan mulai membuka pintu perpus. Whoa!!! Wangi buku nya enak banget guys!
Lama-kelamaan aku malah mulai merasa ngantuk dan akhirnya, aku tertidur.
***
"Sayang, bangun yuk!" kata seseorang membangunkan ku. Aku mulai mengusap mata ku dan melihat Dipta yang duduk disebelah ku. "Lo kok disini?" tanya ku. "Gw dikasih tau sama Cinta kalo lo tadi sama dia ke perpus terus lo ketiduran. Dia ga tega mau bangunin lo, dia bilang lo tadi tidur nya nyenyak banget makanya dia ga tega. Dia nyuruh gw kesini nemenin lo." kata Dipta yang ku jawab anggukan.
"Makan dulu yuk! Muka lo pucet banget." kata Dipta yang ku jawab anggukan.
Baru aja aku berdiir, aku merasa pusing dan itu membuat ku merasa mau jatuh. Dipta langsung menahan tubuh ku dan dia langsung membuat ku kembali duduk ke kursi. "Lo gapapa? Nes? Nessa?" panggil Dipta yang membuat ku tersadar dan menganggukan kepala ku lemah. "Tolong, Ta. Bilang ke guru piket gw mau izin ya. Gw rasanya pusing banget." kata ku seraya memijat keningku. "Okay, okay. Bentar ya lo tunggu disini jangan kemana-mana." katanya yang ku jawab anggukan.
Ga lama kemudian, aku ngeliat ada tiga cewek dengan syal kuning bertuliskan PMR. Mereka menghampiri ku dan langsung memeriksa ku. "Kakak kurang tidur ya?" tanya salah satu dari mereka yang ku jawab anggukan lemah. "Kakak udah makan?" tanya salah satu gadis dengan botol ditangannya. Aku menggelengkan kepala ku. "Sekarang, kakak ngerasanya apa?" tanya gadis dengan kerudung bergo nya. "Pusing, kram di perut karna aku lagi dapet. Boleh ga ya kalian jangan banyak nanya ke aku dulu, aku pusing, dek." kata ku seraya tersenyum. Ketiga gadis itu tersenyum dan menganggukan kepala ny. "Yaudah kak, ini botol isinya air hangat. Kompres ke perut nya ya. Ini obat nya bisa diminum. Oh iya tadi Ka Dipta udah minta izin ke guru piket dan diperbolehin nanti Ka Dipta kesini untuk antar kakak pulang." kata gadis dengan kerudung begro. Aku hanya menganggukan kepala ku.
Tok! Tok! Tok!
Dipta langsung membuka pintu perpus dan langsung menghampiri ku. Dia langsung melepaskan jaketnya dan memberikanya ke aku. "Lilit di pinggang, lo tembus tadi." katanya yang membuat ku kaget. Aku langsung melihat ke arah rok ku yang ternyata udah ada lingkaran merah. Oh damn!
Aku langsung melilit jaketnya dipinggangku setelah itu dia langsung menggenggam tangan ku keluar dari perpus. "Gw udah nelfon kakak lo. Dia udah dirumah." katanya yang ku jawab anggukan.
Kami langsung berjalan melewati lorong. Banyak yang menatap kami penuh tanya. "Eh itu Ka Vanes kenapa? Ya ampun pucet!!" kata salah seorang gadis. "Ya ampun mereka sweet banget sih! Ka Dipta, itu tas nya Ka Vanes kebuka kak!!" kata seorang siswa yang membuat Dipta menengok dan langsung mengambil tas ku. Dia membawanya seraya menggenggam tangan ku.