
Vanessa P.O.V
Waktu berjalan dengan cepat, sampai aku tidak menyadari kalau sudah memasuki semester lima di dunia perkuliahan ku di UI dan semester empat di UT.
Saat ini aku berada di kantor. Walaupun ini hari libur, tapi aku sengaja ke kantor. Aku butuh waktu sendiri untuk membuat satu desain rumah ku di Bogor. Sebenarnya ini hanya akan aku ubah tata letak barang dan merenovasi dinding serta atap yang sudah bocor.
Aku melihat ke denah ruangan di rumah ku itu. Rumah ku itu memiliki empat kamar tidur, satu ruang kerja, empat kamar mandi, satu dapur, satu ruang keluarga dan satu ruang tamu.
Aku melihat kalau masih ada space di halaman belakang. Karna paviliun untuk para pelayan memang dibelakang. Aku melihat denah paviliun itu. Ternyata hanya ada satu kamar dengan banyak tempat tidur.
Aku mulai membuat rencana desain ku. Aku merencanakan untuk membuat paviliun dengan dua kamar tidur, dan dua kamar mandi. Aku juga akan membuat dapur minimalis dipaviliun itu. Setiap kamar akan aku fasilitasi tv kecil di dinding. Dan jangan lupakan kipas angin di semua ruangan. Karna sebelumnya aku lihat mereka menggunakan kipas angin kecil. Itu akan mengganggu mereka.
Aku berencana akan membelikan kipas angin berukuran sedang yang bisa berdiri diatas lantai.
Aku mulai melihat halaman belakang dan teras belakang rumah ku. Hmmmm aku rasa akan bagus kalau aku menambahkan kolam renang, gazebo, dan beberapa kursi bersantai di pinggir kolam renang nanti. Ya! Aku rasa itu cocok!
Aku juga akan membuat dapur kecil di halaman belakang khusus untuk barbeque party!
"Sayang? Aku boleh masuk?" tanya Dipta di pintu ruanganku. "Masuk lah, by." jawabku tersenyum. Dia menghampiri ku dan mengelus kepala ku. "Lagi mikirin apa hmm?" tanya nya. "Ini desain rumah." jawabku. "Boleh aku kasih saran?" tanya Dipta yang ku jawab anggukan. "Kenapa kamu ga bikin dapur kotornya diluar aja? Kayaknya itu lebih bagus deh jadinya kalo misal kamu masaknya gosong mungkin bau nya ga akan sampe depan." kata Dipta meledek ku. Aku langsung tertawa dan menjewer kupingnya. "Gosong hmmm? Okay nanti siap-siap aja aku masakin kamu makanan gosong." ujar ku.
"E-eh! Ampun yang ampun!!" kata Dipta yang membuatku tersenyum. "Tapi ide kamu bagus juga sih yang. Okay berarti dapur kita oper ke teras belakang, terus ruangan bekas dapur kita jadiin ruang penyimpanan makanan aja gimana? Kayak bahan makanan disana semua sama dapur bersih juga." kata ku. "Iya bener banget." jawab Dipta.
Aku mulai melihat denah ruang kerja, dan langsung menggambar letak-letak barangnya. Akan ada rak buku di dinding, meja kerja yang akan ada dua di ruangan itu, lalu kursi sofa di tengah nya. "Gimana? Setuju gak?" tanya ku. "Kenapa ada dua?" tanya Dipta. "Ga mungkin kalo kita nanti sama-sama kerja kita di meja yang sama." jawabku tersenyum. "Sip deh ya." jawab Dipta.
"Nah buat ruang tv nih yang. Kayaknya kita bisa ambil tema bohemian deh. Biar kayak nyaman gitu loh yang." kata Dipta. "Iya sih kalo modern menurut aku kayak agak gimana gitu." kata ku tersenyum. "Tapi buat ruang tamu menurut kamu modern atau bohemian juga?" tanya Dipta. "Aku bakal pilih bohemian." jawabku. "Kenapa ga modern?" tanya Dipta. "Come on babe. Udah banyak rumah yang pakai tema itu tapi kalo bohemian, jarang-jarang. Lagian siapa tau nanti tamu kita bisa nyaman ya kan?" ujar ku. "Iya ya. Okay." jawabnya.
Aku menatap ke arah kamar-kamar. Aku memilih menunjuk salah satu denah kamar yang berukuran paling luas. "Kamar kita?" tanya ku. "Deal!" jawabnya. "Okay, how about kita tambahin kelambu diatas tempat tidur?" tawar ku. "Good Idea!" jawab Dipta. "Kita pakai pallet aja lah ya yang. Biar ga usah terlalu ribet mikirin kalo misal mau ganti ranjang." kata Dipta yang ku jawab anggukan.
"Tema bohemian juga ya by." ujarku. "Iya sayang pokoknya dekorasi semau kamu nanti urusan dana, aku yang keluarin." kata Dipta yang ku jawab anggukan seraya tersenyum. Aku mulai menata semua ruangan. Pokoknya kami akan memakai tema bohemian di rumah Bogor.
***
Aku meminum es yang Dipta belikan untuk ku. Dia tersenyum dan menatapku penuh kehangatan. "Mama bilang okay. Kita disuruh ukur baju. Oh iya sayang, ayo kita ketemu Mbak Jihane, sama keluarga om kamu!" ajak Dipta. "Iya, ayo sayang!" jawabku tersenyum. "Desainnya udah beres kan?" tanya Dipta. "Udah kok." jawabku.
***
"Vanes!!!!" panggil Hiza, sepupu ku. Dia berlari dan langsung memelukku dengan erat. "Ya ampun, Nessa! Gw kangen banget sama lo!!!" katanya. "Gw juga cuy! Eh gimana nih? Lo lanjut kuliah kan?" tanya ku. "Eeuuummm untuk itu, enggak." kata Hiza yang membuatku terkejut. "Kenapa enggak?" tanya ku. "Kata nyokap nanti keuangan makin kekuras." kata Hiza. "Gila! Nyokap lo gila! Lo tinggal sama gw aja sekarang! Ga mau gw liat sepupu gw diginiin!" kata ku kesal. "Ga, Nes." jawab Hiza. "Yaudah gini aja, lo kuliah biar gw yang biayain. Anggep aja beasiswa dari om lo. Kan bokap gw itu om lo, Za." ujar ku. "Iya, Nes! Gw mau! Makasih ya Nes. Nanti gw sambil kerja di kantor lo deh buat bantu-bantu ya!" kata Hiza yang ku jawab anggukan.
"Hiza, ada siapa, nak?" ujar seseorang. Suaranya Om Ahmad! "Ini Vanessa, om! Vanes dateng sama Dipta!" ujar ku tersenyum. "Oh ini Dipta. Hola! Gw Hiza!" kata Hiza memperkenalkan dirinya. "Dipta!" kata Dipta seraya menjabat tangan Hiza. "Eh ada Vanes! Masuk, Nak!" kata Om Ahmad.
Kamipun masuk dan duduk di sofa ruang tamu. "Ngapain kalian datang ke rumah ini?!" tanya Tante Maya. "MAYA! DUDUK KAMU!" Kata Om Ahmad. "Begini, nyonya dan tuan. Kami datang untuk meminta restu. Kami akan bertunangan secepatnya." kata Dipta dingin. "Tidak saya restui." kata Tante Maya. "Ga nanya sama anda, nyonya. Anda tidak ada hubungan darah dengan calon istri saya." kata Dipta yang membuatku menahan tawa. Skakmat!!
"Begini, nak Dipta. Saya dengan hormat merasa tersanjung atas sikap Nak Dipta yang sangat baik pada saya dan anak saya. Saya sebagai Om nya Vanes, selaku walinya setelah kakak saya meninggal merestui hubungan Nak Dipta dan Vanessa. Tapi ada beberapa hal yang akan kita bahas disini. Pertama, apa Nak Dipta akan mengizinkan Vanessa untuk bekerja setelah kalian menikah?" tanya Om Ahmad. "Tentu. Itu sudah hak dia." kata Dipta.
"Ck! Bilang aja males kerja!" kata Tante Maya sinis. "Diam kamu, Maya! Saya sedang bicara!" kata Om Ahmad.
Aku dan Dipta saling berpegangan tangan dan tersenyum satu sama lain. "Pertanyaan kedua, apakah Nak Dipta ini sudah memiliki pekerjaan tetap?" tanya Om Ahmad. "Saya sudah memimpin perusahaan keluarga saya, om. Jadi insyaallah dalam urusan keuangan saya bisa mencukupi kebutuhan kami." kata Dipta tersenyum.
"Pertanyaan ketiga, apakah Nak Dipta sudah yakin untuk menjadikan Vanessa sebagai seseorang yang selalu bersama Nak Dipta?" tanya Om Ahmad. "Saya sudah yakin, om. Hubungan kami sudah berjalan sejak kami kelas dua belas. Sejak itu saya sudah tau akan memilih Vanessa meskipun dia tidak memiliki semua yang ada pada dirinya." kata Dipta.
"Baik, saya restui." kata Om Ahmad tersenyum.
Om Ahmad dan Dipta pun berpelukan. Mereka saling tersenyum satu sama lain. "Akhirnya sepupu gw nikah!" kata Hiza heboh. "Om, Hiza kuliah dimana sekarang?" tanya ku. "Ga usah kuliah dia mah nanti pasti dapet suami orang kaya!" kata Tante Maya. "Dih ga nanya." jawabku. "Hiza tidak diperbolehkan kuliah sama mamanya, Nes." kata Om Ahmad. "Begini saja, om. Hiza itu sepupu nya Vanes. Vanes tau kita sama-sama lulusan SMA. Vanes ga mau Hiza jadi perempuan yang bergantungan sama suaminya nanti. Jadi kalau Vanes mau ngaish beasiswa ke Hiza gimana?" tanya ku.
"Ya Allah, makasih Vanes! Hiza? Bagaimana nak?" tanya Om Ahmad. "Hiza mau, pah!" jawab Hiza. "Alhamdulillah, kalo gitu om nanti di semester baru, Hiza tolong ya di daftarin kuliah. Uang kuliah biar nanti diurus Vanes." kata ku tersenyum. "Emang, Za. Lo mau kuliah dimana nih?" tanya Dipta. "Eummm gw sih mau nya di IPB. Gw mau ambil Sekolah Bisnis." kata Hiza. "Nah cakep dah tuh." kata ku tersenyum.
"Nes, nanti kalo Hiza mau magang di tempat kamu apa boleh? Om ga enak kalo dia di kasih beasiswa tapi dia ga bantuin kamu." kata Om Ahmad. "Boleh kok, om. Tapi Hiza jadi sekertaris Vanes aja ya. Jadinya nanti bisa sama Vanes aja ketemu nya." kata ku tersenyum. "Terus om gimana?" tanya Om Ahmad. "Om bakalan Vanes percayain urus perusahaan kalo Vanes sama Hiza masuk kuliah." kata ku tersenyum. "Oh okay." jawab Om Ahmad.