
Vanessa P.O.V
Kehamilan ku sudah memasuki usia enam minggu. Masih belum keliatan sih perut ku yang akan membesar. Ga sabar deh nunggu saat itu. Aku mengelus perut ku seraya tersenyum. "Hallo kesayangan mama! Kamu sehat kan ya sayang? Mama ga sabar deh nunggu kamu makin besar sayang." kata ku seraya mengelus perut ku.
Ga lama kemudian, aku ngerasain ada elusan di perut ku. Ternyata Dipta yang mengelus dengan senyuman di wajahnya. "Ga sabar ya makin besar perut nya. Aku ga sabar mau ngegendong dia hehehe. Hallo anak papa! Sehat selalu ya sayang. Nanti kalo kamu udah lahir, papa janji bakal ajak kamu main ke kantor." kata Dipta yang membuat ku tertawa.
"Sayang, kan rumah udah mau jadi nih. Gimana kalo kita mulai cari perabotannya? Ajak Arsen sama Cinta juga." kata Dipta yang membuat ku tersenyum dan menganggukan kepala ku. "Okay. Yuk by!!" jawabku seraya tersenyum.
***
Saat ini kami udah didalam mobil Dipta. "Emang rumah kalian udah jadi ya?" tanya Cinta. "Udah, cuman tinggal di isi doang. Makanya ini mau kita beli dulu buat isinya. Nanti kalian bantuin milih ya." kata ku seraya tersenyum. "Buset cepet juga. Baru beberapa bulan kan ini ya. Bisa cepet juga ya jadinya." kata Arsen. "The power of doku ya gitu, Sen. Si Vanes ngerahin banyak pekerja buat bangun nih rumah makanya cepet." kata Dipta. "Oalah pantesan." jawab Arsen seraya tersenyum.
"Kita mau liat rumah nya dulu apa gimana by?" tanya Dipta. "Euummm kayaknya liat rumah nya dulu aja by biar kita tau ruangan-ruangannya." kata ku.
***
Kami sudah sampai di depan dua rumah dengan ada satu bagian yang menyambungkan dua rumah itu. "Buset! Keren banget! Btw ini kok ada dua rumah ya?" tanya Cinta. "Oh ini buat nanti kalo anak-anak gw udah gede. Biar mereka ga jauh-jauhan." kata ku seraya tersenyum.
"Yaudah yuk masuk!" ajak Dipta seraya merangkul pinggang ku. Kami langsung masuk ke salah satu rumah. Hmmm kayaknya ini bakalan jadi rumah ku karna di kunci yang Dipta pegang ada inisial nama kami berdua. Sedangkan di kunci satu lagi ga ada apa-apa alias polosan.
Kami langsung masuk ke ruangan dengan banyak besi seperti penyangga untuk tirai. Nah! Bener berarti ini rumah ku. "Ini kayaknya bisa kita pakai by. Ini jadi ruang tamu by. Terus nanti tirai nya tinggal kita tutup. Kita bisa nih ngeletakin tv disini. Berarti eeuumm kita bakal isi pake warna biru, emas, putih, sama nanti kita beli tanaman ya by!" kata ku seraya tersenyum. "Iya deh sayang." kata Dipta.
Kami langsung berjalan ke ruangan di tengah. "Ini kayaknya seru kali ya by kalo kita bikin bioskop sendiri. Pake aja audio visual sama nanti kita tinggal gelar ranjang kecil deh." kata Dipta. "Iya by nanti kalo layar sama ranjang tipisnya bisa kita rapihin terus disimpen dibawah tangga deh." kata ku seraya tersenyum.
"Sayang! Nih ruang pantry!" kata Dipta yang membuat ku tersenyum dan langsung menarik tangan Cinta. Kami memasuki satu ruangan dengan cat putih. "Okay yuk lanjut aja ke lantai dua!" ajak Arsen. Kami berempat langsung menaiki tangga dan melihat ke sekitaran lantai ini. Ada banyak pintu. "Ke ruang yang ini dulu aja lah yuk!" ajak ku.
Kami langsung memasuki satu ruangan dengan cat putih. Ada pintu di ruangan ini. Saat dibuka ternyata kamar mandi dan bisa menembus ke ruangan di sebelah. Ternyata ini kamar kedua. "Okay ini bisa jadi kamar anak, By." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Okay lanjut ayo! Ini ruangan apa ya?" kata Arsen seraya membuka pintu ruangan. Hmmm ini cukup unik sih. Kayaknya ini kamar utama melihat dari ukuran ruangannya yang lebih besar. "Ini bakal jadi kamar kita by!" kata ku seraya tersenyum.
Kami melanjutkan mengelilingi lantai dua. aku melihat ada ruangan dengan pembatas kaca didalam nya. Ini bisa jadi ruang kerja. "Kita bisa nih by kerja disini." kata Dipta seraya merangkulku. "Iya by." jawabku seraya tersenyum.
"Eh ini pintu sambungan dua rumah itu ya?" tanya Cinta yang ku jawab anggukan. "Yuk! Gw mau liat nih rumah buat ponakan gw!" kata Cinta semangat. Kami melewati lorong yang terlihat elegant dan Dipta langsung memuka pintu yang menyambung ke rumah kedua. "Kalian duluan yang masuk." kata ku seraya tersenyum.
Kami langsung masuk ke dalam rumah kedua. Rumah ini akan menjadi rumah Cinta dan Arsen. "Ini lantai dua guys." kata Dipta seraya tersenyum. Kami memasuki mulai mengelilingi rumah ini dan menjelaskan setiap ruangan sampai selesai.
***
Setelah tadi kami melihat rumah, kami pun akhirnnya mulai mengunjungi IKEA. "Ta, lo bantuin gw pilih perabotan buat rumah kedua ya. Rumah pertama mah gw udah tau isinya." kata ku seraya tersenyum.
Kami mulai memasuki ruangan yang dipenuhi berbagai macam kursi. Sofa nya bagus-bagus guys. "Yang ini ga sih, Nes? Kayaknya ini sepaket gitu. Bisa nih buat di rumah kedua. Gw suka banget sama perpaduan warna nya." kata Cinta yang ku jawab anggukan. Aku melihat sekeliling dan terkesima dengan satu paket perabotan ruang tamu dengan sofa doubleseat berwarna putih dan ada dua single sofa berwarna biru. Karpet yang terlihat terbuat dari rotan, meja berwarna putih, dua lampu yang bisa berdiri dan ada lampu gantung yang terlihat elegan.
Kamipun mulai mencari perabotan yang lain seperti kitchen set, perabotan kamar untuk dua ruangan, perabotan kamar bayi, pantry, laundry, perpustakaan, meja kerja, dan kamar mandi.
***
"Gimana by? Puas?" tanya Dipta yang ku jawab anggukan. "Banget. Nanti awal tahun baru kan si Cinta udah nikah. Nah kita bisa deh tuh pindah ke rumah baru kita." kata Dipta yang membuat ku tersenyum. "Kebayang ga sih by seru nya kita tetanggaan sama mereka. Seru sih ini pasti." kata ku seraya tersenyum. "Iya by aku juga ga sabar nanti kita bisa deh tuh main sama mereka terus-terusan." kata Dipta yang ku jawab anggukan dengan semangat. "Nanti anak-anak kita pasti sahabatan ya kan." kata ku serya tersenyum. "Pasti. Mereka bakalan lanjutin persahabatan kita." kata Dipta.