Stuck With You

Stuck With You
Office Baby



Vanessa P.O.V


Aku menimang-nimang Abryan, anak ku yang saat ini udah berusia lima bulan. Pipi nya gembul guys. Dia tumbuh jadi anak yang lucu. Bahkan ga jarang, keenam sahabat ku dan Dipta sangat gemas sama dia.


Sejak kelahiran Abryan, Nanda dan Aira jadi sering main ke rumah untuk melihat keponakannya ini. Mama Diana hampir seminggu sekali pasti menginap di rumah kami untuk menjaga cucu nya. Cinta dan Arsen hampir setiap hari sebelum mereka bekerja, mereka selalu mendatangi rumah kami dan menciumi pipi anak ku itu.


Mereka sayang sama Abryan dan aku bersyukur karna artinya Abryan ga akan ngerasa kekurangan kasih sayang.


"Hmmmm, jadi anak mama yang satu ini udah ganteng nih ya. Gimana ganteng? Siap ikut mama ke kantor???" tanya ku seraya tersenyum. Abryan yang udah ku mandikan, dan udah aku pakaikan kaos putih, jaket berwarna coklat, dan celana kain berwarna coklat senada dengan jaketnya.


Aku menciumi pipi anak ku dan meletakannya di kamar bayi saat melihat Abryan yang mulai tertidur.


Aku langsung ke kamar dan segera mandi.


***


Aku udah siap dengan tanktop, celana, dan jas yang berwarna cream. Aku mengambil high heels dan tas putih ku lalu segera memasukan beberapa barang pribadi yang harus ku bawa.


Aku langsung ke kamar Abryan dan mengambil stroller. Aku juga memasukan pampers, alat untuk memompa susu, dot bayi, dan beberapa mainan anak ku. Setelah semuanya siap, aku langsung menata di beberapa tas kecil untuk nanti aku simpan di bawah stroller.


Aku langsung membawa semua barang yang tadi ku ambil ke garasi dan memasukannya ke mobil ku di kursi penumpang bagian belakang.


Setelah siap, aku ke dapur dan membuat beberapa makanan untuk nanti ku makan. Sejak aku melahirkan, Dipta menyuruhku untuk memakan makanan yang sehat dan ga sembarangan. Makanya sekarang aku lebih suka bawa bekal.


Aku membuat jus apel, nasi daun jeruk, dan telur rebus. Setelah semuanya selesai, aku memasukan ke mobil dan menempatkan bekal ku di dekat stroller bayi.


Setelah aku rasa semuanya siap, aku langsung ke kamar Abryan dan menggendongnya seraya berjalan menuruni tangga.


"Neng Vanes, udah mau berangkat??" kata Bi Darsih. "Iya, bi. Vanes mau berangkat ya. Oh iya tolong bersihin kamar Bryan ya, bi." ujar ku seraya menggendong Abryan.


Bi Darsih tersenyum dan mengelus kepala Abryan. "Eleuh-eleuh! Gagah pisan ini anak satu. Sehat terus atuh ya ganteng!" kata Bi Darsih yang membuat ku tersenyum.


"Yaudah, bi. Berangkat duluan ya. Assalamualaikum!" pamit ku seraya tersenyum.


"Iya neng, waalaikumsalam!!" jawab Bi Darsih.


Aku menggendong Abryan keluar rumah dan melihat Mang Suryo yang lagi membersihkan halaman rumah ku. "Pagi Mang Suryo!" sapa ku seraya membuka pintu mobil. "Pagi neng! Wah Den Bryan udah berangkat aja ini pagi!" kata Mang Suryo seraya tertawa.


"Iya, mang. Duluan ya!" pamit ku seraya memasuki mobil.


Bayi kecil ku ini yang masih tertidur, terlihat nyaman digendongan ku walau saat ini posisi nya itu aku lagi mengemudi.


Aku memang sengaja ga mau ninggalin anak ku di rumah. Seenggaknya aku jadi bisa tenang kalo Abryan ikut dengan ku ke kantor. Pasti makannya bisa terjaga.


***


Aku memarkirkan mobil ku di basement dan mengeluarkan stroller dan menata semua barang ku. Dan yang terakhir, aku menidurkan Abryan ke dalam stroller serta menutup penutup strollernya agar anak ku ga terlalu kena debu. Penutup stroller yang ga bisa nutupin semua bagian stroller membuat Dipta saat pertama kali membeli langsung mengakali nya dengan jaring-jaring yang bisa menyaring udara dan kain yang menutupi nya. Jadi Abryan akan aman.


Aku mulai mendorong stroller seraya berjalan memasuki area kantor. Para karyawan tersenyum seraya menyapa ku. Akupun menyapa nya kembali.


"Abryan!!" sapa salah satu karyawati seraya tersenyum. Dia langsung tersenyum menatapku dan menundukan kepala nya. "Maaf, bu. Saya hari ini lupa mau ngasih file ini ke ibu. Tadi saya mau ke ruangan tapi ternyata masih di kunci." katanya.


Aku tersenyum dan menepuk pundaknya pelan. "Tenang aja, nanti kamu bisa kasih file itu ke saya. Saya tunggu ya di ruangan." kata ku seraya tersenyum.


Aku menekan tombol lift dan saat lift terbuka, beberapa karyawan ku yang tadinya mau masuk langsung berdiam di tempat. Aku langsung masuk ke dalam lift dan menatap mereka yang masih berdiam di luar.


"Kalian ga mau masuk??" tanya ku. "Eeuummmm nanti aja bu. Biar ibu sama Abryan yang duluan." jata salah satu karyawanku. "Udah gapapa, beberapa masuk aja. Saya juga bakal ngebiasain Abryan biar dia kebiasaan di keadaan begini. Ayo, lima orang aja gapapa." kata ku seraya tersenyum.


"Yang kurus aja woy! Kasian anaknya bu bos. Yang laki belakangan!" kata salah satu karyawan yang membuat ku tersenyum.


Akhirnya beberapa karyawati memasuki lift.


"Bu, kenapa stroller nya di tutup banget bu?" tanya salah satu karyawati. Kayaknya dia berusaha memecah keheningan.


"Di basement kan banyak debu. Kasian juga kalo dia kena. Jadi sama suami saya di akalin." jawabku seraya tersenyum.


Aku membuka kain dan menyisakan jaring tipis. Terlihat anak ku yang masih tertidur dengan pulas. Aku tersenyum dan menatap karyawati ku.


"Ya ampun lucu banget ya!" kata beberapa dari mereka.


Ting!!!


Lift menunjukan kami sudah sampai di lantai tiga. Kelima karyawati ku langsung keluar dari lift.


Setelah lift kembali tertutup, lift kembali naik ke lantai atas. Ke lantai tempat ruangan ku berada.


Di ruanganku memang ada baby hammock, semacam ayunan bayi. Aku membeli nya dan menempatkannya di ruangan ku.


Aku juga membeli hammock untuk di kamar ku dan di ruang lantai satu rumah ku.


Aku langsung menggendong anak ku dan meletakannya di hammock. Aku langsung mematikan cctv ruangan ku dan mengunci pintu. Dengan segera, aku mengeluarkan alat memompa susu dan mulai memompanya.


Aku melakukan ini agar nanti sewaktu Abryan terbangun dan dia mau nyusu, aku bisa memberikan susu itu. Sementara itu, aku akan meletakan susu ini di kulkas kecil yang ada di ruanganku.


Kebayang ga sih yang tadinya kulkas ini aku isi sama cemilan dan minuman, sekarang aku isi sama cemilan dan beberapa asi di dalamnya.


Asi nya ya cukup lah buat sehari nya Abryan.


***


Aku mengerjakan beberapa dokumen sembari menatap anak ku yang masih tertidur di atas hammock. Setelah tadi dia bangun dan nangis gara-gara haus. Dia sekarang tidur nyenyak guys. Tirai ruangan ku, aku tutup dibagian yang menghadap ke arah dia.


"Bu, nanti jam dua ada meeting sama Pa Condro ya!" kata sekertaris ku yang menggantikan Om Ahmad, setelah dia pensiun.


Aku menganggukan kepala ku dan kembali mengerjakan dokumen di laptop.


***


Aku melihat jam di jam tangan ku. Udah jam dua kurang. Aku langsung membuka pintu dan memanggil sekertarisku.


"Tolong nanti selama saya meeting, kamu jagain Abryan ya. Saya akan tetap awasi lewat cctv. Semisal dia bangun, langsung cek pampers nya. Kalo aman, langsung gendong dan samperin saya." kata ku.


"Baik, bu." jawabnya.


Aku langsung menata dokumen-dokumen yang ku perlukan dan segera membawanya. Sebelum keluar ruangan, aku mencium kening anak ku dan aku pun tersenyum.


"Selama saya meeting dan anak saya tidur, kamu santai aja. Ga usah kerjain apa-apa." ujar ku seraya tersenyum. "Makasih, bu." jawab sekertarisku.


Aku langsung berjalan ke arah lift dan menekan tombolnya. Lift pun terbuka dan aku langsung turun ke lantai dasar.


Aku menghampiri meja resepsionis dan melihat resepsionis yang waktu itu aku pindahkan dari kantor Dipta ke kantor ku. Dia sudah mematuhi peraturan.


"Siang, bu!" sapa nya yang ku jawab anggukan. "Pa Condro udah dateng??" tanya ku. "Saya belum melihat Pa Condro, bu." jawab wanita ini.


"Anda mencari saya? Bu Vanessa??" kata seseorang. Saat aku membalikan badan, ada Pa Condro yang sudah berdiri seraya tersenyum. "Ah! Iya Pak! Selamat datang di kantor saya! Mari kita ke ruang meeting!" ajak ku seraya berjabat tangan dengan Pa Condro.


Kami langsung berjalan ke ruang meeting dan meeting pun segera di mulai.


***


Aku memperhatikan presentasi dari pihak Pa Condro. Sesekali aku melihat jam tangan yang menunjukan jam tiga. Hmmm, udah sejam. Kira-kira Abryan udah bangun belom ya??


"Baik, saya rasa selesai sudah presentasi kali ini. Apa bila ada yang mau dipertanyakan, dipersilahkan!" kata salah satu perwakilan Pa Condro.


Rapat kali ini membahas mengenai kerjasama perusahaan kami dalam pembangunan satu hotel yang saat ini baru mau kami tetapkan lokasi pembangunannya.


"Okay saya mau bertanya. Apa kamu selaku pembuat presentasi memiliki ide dimana akan di bangun hotel ini??" tanya ku.


"Untuk saat ini, saya rasa di Banten akan menjadi tempat yang cocok bu untuk pembangunan hotel ini." kata perwakilan itu.


"Saya rasa tidak. Banten itu rawan tsunami. Kalau kita tidak mau rugi, kita harus mencari zona aman. Kalau banjir masih mending. Lah kalo longsor atau tsunami? Rugi banyak kita." kata ku.


"Kalau di area Nusa Tenggara gimana?? Saya rasa disana itu eksotik. Summer, ada pantai yang indah." kata Pa Condro. "Saya rasa itu ide yang bagus, pak. Tapi kita harus memikirkan bagaimana lahan disana yang bisa kita bangun hotel. Dan jangan lupakan, antisipasi agar warga disana tidak akan komplain dengan pembangunan." kata perwakilan.


"Saya rasa, kita harus memikirkan konsep hotel ini. Nusa Tenggara itu daerah yang bisa dibilang indah. Kalau tiba-tiba kita membangun hotel yang menjulang tinggi, itu akan merusak sedikit keindahannya. Kita harus memikirkan konsep ini. Mungkin kalau kita ubah jadi perkamar dengan konsep gubuk, itu tidak akan terlalu merusak keindahannya." ujar ku memberi saran.


"Ide bagus! Saya setuju dengan ide satu itu." kata Pak Condro. "Hmmmm, setau saya sih yang pantainya bagus itu di Lombok. Tapi kalau yang jarang diketahui orang, ada di NTT. Bagus, saya pernah foto disana." kata ku tersenyum.


"Baik, itu bisa kita pertimbangkan. Saya rasa kita harus mulai mencari lahan ini, Bu Vanessa!" kata Pak Condro seraya tersenyum. Kamipun berjabat tangan. "Ya saya setuju! Saya rasa kita harus mulai mengutus perwakilan pak!" kata ku tersenyum.


Kami pun setelah selesai, langsung keluar dari ruang meeting. Dan di lobby, aku melihat sekertarisku bersama Abryan sedang berdiri menunggu ku.


"Bu Vanessa! Abryan menangis bu tadi. Sudah saya berikan susu tapi dia masih menangis. Kayaknya dia tadi cariin ibu makanya saya bawa ke bawah." kata sekertarisku.


Aku tersenyum dan menggendong Abryan. "Makasih ya, udah jagain anak saya. Oh iya kalau begitu kamu kan belum makan siang ya? Ini ambil untuk kamu beli makan siang." kata ku seraya memberikan lima lembar uang seratus ribu ke sekertarisku.


"Wah! Banyak banget inii mah bu. Makan saya ga sampe segini kok." kata nya yang ku jawab gelengan. "Anggep aja ini bayaran kamu udah jagain anak saya." jawabku seraya tersenyum.


"Bu Vanessa, saya rasa saya masih ada jadwal lain. Kalau begitu saya akan pamit ya! Salam untuk Pak Dipta." kata Pa Condro seraya menjabat tangan ku. Kamipun bersalaman. "Baik, pak. Terima kasih atas kepercayaannya. Lain kali saya rasa meeting nya akan membahas mengenai persetujuan lahan nya ya." kata ku seraya tersenyum.