Stuck With You

Stuck With You
Tawuran?



Vanessa P.O.V


Aku membenarkan letak topi ku. Panas matahari cukup membuat keringat ku terus mengucur dengan deras. Aku beberapa kali menyeka keringat ku dengan tissu yang ku bawa. Sampai akhirnya saat pembaca acara upacara mengatakan "Upacara Telah Selesai" saat itulah aku merasa lega. Semester dua sudah di sah kan. Dan artinya ini mendekati saat-saat kami ujian dan lulus dari sekolah.


Aku langsung berjalan ke kantin bersama ketiga sahabat ku. Aku langsung duduk dikursi yang biasa diduduki Dipta dan ketiga sahabatnya. Dari kejauhan, aku melihat Dipta yang lagi asik mengobrol bersama ketiga sahabatnya juga. Mereka menghampiri kami. "Sayang!!!" sapanya seraya memeluk ku dari belakang. "Hmmm. Diem dulu okay, perut aku kram." kata ku seraya mengelus perut ku.


"Perut kamu kenapa? Kok bisa kram?" tanya Dipta panik. "Ga tau, by. Nyeri banget. Sebentar ya aku mau minta air anget dulu!" kata ku. Saat aku berdiri, Dipta memelototkan matanya. Aku pun menatapnya penuh rasa heran.


"Kenapa? Matanya bulet banget minta dicolok." kata ku."By, k-kamu lagi b-bocor?" tanya Dipta yang membuatku kaget. "Ih mampus! Gw ga bawa pembalut sama jaket lagi!" kata ku panik. "Tenang, by. Kamu tunggu sini ya, Sen tolong ambilin jaket gw deh di kelas ya!" kata Dipta yang ku jawab anggukan.


Disaat yang bersamaan, perut ku sangat nyeri. Aku merasa perut ku ini ditarik, dicubit dengan keras. Dan itu sukses membuat ku mulai menangis. Cinta menghampiri ku lalu langsung memeluk ku. "Nes, sabar nes. Sebentar lagi okay." kata Cinta. "Ta, sumpah Ta ini sakit banget! Argh! Cinta!!!!" kata ku seraya meremas ujung meja.


"Tenang okay, Nes. Dipta lagi beli roti jepang lo dulu. Tenang ya okay." kata Ivan seraya mengelus pundak ku seperti Cinta. Aku hanya menahan nyeri di perut ku lalu melepaskan elusannya. "Jangan, nanti Dipta salah paham. Aira aja yang elus." kata ku yang dijawab anggukan Ivan.


"Nih Nes pake dulu jaketnya Dipta!" kata Arsen menyerahkan jaketnya Dipta. Aku menganggukan kepala ku dan mengikatkan jaketnya di pinggangku. Sialan! Ini belum juga jam pertama belajar tapi udah bocor!


"Sayang, ayo aku anter ke toilet." kata Dipta yang ku jawab anggukan. Dia menggandeng tanganku dan menuntunku berjalan ke toilet yang ada di kantin. "Ka Vanes? Kenapa kak?" tanya salah satu siswi. "Dek, bisa tolong ga yah? Dia lagi dapet jadinya tolong dijagain dulu disini selama dia pakai roti jepangnya. Gw mau ambil air anget nya biar dia bisa kompres." kata Dipta yang dijawab anggukan siswi itu.


"Ayo kak, aku bantu." kata siswi itu.


***


Aku masih merasakan nyeri diperut ku. Cinta menepuk pundak ku dan tersenyum. "Kalo ga kuat nanti ke UKS aja ya, Nes." katanya yang ku jawab anggukan. "Gw masih kuat kok. Tapi emang ini agak nyeri." kata ku.


"Vanessa! Bisa kamu jawab soal nomor dua? Sebutkan alasan dari terjadinya peristiwa 98!" kata guru sejarah ku, Bu Liza. "M-menurut saya sshhh menurut saya alasan t-terjadinya peristiwa 98 karna pada saat itu terjadi krisis ekonomi ya bu sehingga pada saat itu masyarakat banyak yang berdemonstrasi termasuknya para mahasiswa. Dan jadilah peristiwa 98. Itu menurut s-saya bu." kata ku seraya menahan nyeri diperut ku.


"Kamu kenapa?" tanya Bu Liza. "S-s-sakit bu. Hari pertama." jawabku. "Ya ampun kenapa ga bilang dari tadi? Biar ibu tanya yang lain aja. Kamu tidur aja sekarang nanti ibu ngomong sama guru yang ngajar hari ini." kata Bu Liza yang ku jawab anggukan.


Aku menundukan kepala ku di meja dan mulai tertidur dengan mengelus perut ku.


***


"Nes!" panggil Cinta yang membuatku terbangun. "Dipta nyariin lo tuh." kata Cinta. "Bilang aja, Ta. Perut gw masih nyeri, gw ga mau jalan kemana-mana." kata ku malas. Aku kembali menundukan kepala ku dan memilih memejamkan mata "Gw sama bocah mau ke kantin dulu ya, Nes." kata Nanda yang ku jawab anggukan.


"WOY ITU GANTUNG DISITU BEGO!!!" Teriak salah satu cowok dikelasku. Aku memilih mendiamkannya walau kepala ku mulai pusing. "DIH JANGAN NANTI KENA ORANG BODOH!!!!" Teriak cowok lainnya. "IH BERISIK BEGO! DIEM NAPA KALIAN! KALO MAU TERIAK SONO KE HUTAN! GA BISA BANGET LIAT ORANG MEREM! PUYENG PALA GW!!!!" Kata ku kesal.


"S-sorry, Nes! Si kecot nih dodol banget jam mau di taro diatas pintu udah tau paku atas pintu ga kenceng. Sorry ya! LO SIH COT!!" Kata cowok yang tadi teriak. Namanya, Ikki. "Hmmmm. Diem ya gw ga mau ngomel. Mood gw lagi serba berubah-ubah. Ya kali gw ngomel mulu." kata ku yang dijawab anggukan Ikki dan satu cowok yang dipanggil Kecot.


"I-iya. Yaudah kita mau cari tempat gantung jam dulu ya, Nes." kata Kecot yang ku jawab anggukan.


***


"Sayang, bangun dulu. Makan ya. Nih aku udah bawain kamu sereal." kata Dipta yang ku jawab gelengan. Perut ku yang masih nyeri membuat ku memilih diam walau Dipta mengelus rambutku. "Sakit banget, By!" kata ku seraya memeluk nya. "Makan dulu okay siapa tau bisa berkurang nyeri nya." kata Dipta yang ku jawab anggukan. Dia tersenyum dan langsung menyuapiku secara perlahan.


Saat suapan kedua, Dipta mendapatkan telfon. Dia mengangkatnya dan terlihat raut muka nya yang tegang. "Iya kalo gitu kalian tunggu di parkiran nanti gw susul. Suruh yang cewek-cewek ke kelas. Yang di kantin, cowoknya jaga-jaga. Nanti biar ketos yang izin ke guru. Gw bakal chat ketos nya." kata Dipta yang membuatku menata nya.


"By? Kenapa?" tanya ku. Dia terlihat tegang dan menatapku. "Sayang? Kenapa?" tanya ku lagi. "Ada yang mau dateng, By. Kamu disini aja ya janagn kemana-mana. Cinta, Nanda, Aira udah otw kesini kok. Nanti abis aku pulang kita makan siang bareng okay." kata Dipta yang ku jawab anggukan.


"Hati-hati sayang." kata ku yang dijawab anggukan Dipta. Dia mencium kening dan ujung hidungku lalu segera pergi.


***


Aku merasakan tepukan pada pundak ku. Aku langsung mengangkat kepala ku dan melihat ketiga sahabatku yang terlihat panik. "Kenapa? Nan? Kenapa, Nan?" tanya ku. "P-pihak musuh udah mulai deket ke pager, Nes. Kita harus cari tempat sembunyi dulu." kata Nanda. "Ga ah kalo pun itu emang bener, pasti Carberus udah pada jaga juga dideket pager, Nan." kata ku. "Nes, nurut sama kita. Seenggaknya jangan bikin Dipta khawatir kalo dia denger lawan udah mulai deket sama pager. Ayo!" kata Nanda.


"Kita jangan cuman berempat. Kita sekelas harus barengan. Semuanya, ayo kita ke rooftop!!" ajak Aira. "Saran gw jangan di rooftop. Terlalu bahaya. Kita sembunyi dideket pintu keluar aja." kata Fauziah. "Pinter juga lo. Ayo!!!" kata Cinta.


"Tunggu! Beberapa anak cek ke tempat pensil kalo ada yang bisa dijadiin senjata, bawa. Handphone, duit, kartu identitas. Bawa semua!" kata ku. Aku langsung mengeluarkan tas kecil dan memasukan gunting yang aku temukan didalam tas, cutter, pulpen, ktp, dan dompet ku.


Setelah semuanya siap, kami para perempuan dikelas langsung berjalan keluar dari kelas dengan berpegangan tangan. Aku melihat kelas lain yang kebanyakan panik. Aku langsung melepaskan tanganku dari rombongan kelas. "Loh, Nes?" kata Cinta. "Kalian duluan aja gw nanti nyusul. Gw pastiin gw bakalan baik-baik aja. Kalian duluan. Pintu keluarnya dimana?" tanya ku. "Di lantai dua. Ada kelas yang punya balkon kearah luar biasanya kita atur pakai tirai biar bisa turun satu orang. Abis itu baru deh pakai tangga. Kita bakal tunggu lo disana ya." kata Aira yang ku jawab anggukan.


Aku langsung berlari memasuki kelas satu persatu. "Kalian jangan panik! Sekarang gw minta, kalian sembunyi. Usahain rooftop jadi pilihan terakhir. Uang, KTP, sama barang yang bisa dijadiin senjata langsung dibawa aja. Usahain jangan yang terlalu ribet!" kata ku. Aku langsung berlari ke kelas lain dan memberitahukan hal yang sama.


Aku berlari ke ruang guru dan melihat ruangan yang udah kosong. Aku memilih masuk ke dalam dan melihat para guru yang bersembunyi di dapur kantor guru. "Ibu, bapak. Tolong untuk keluar dari sini. Segera ikuti murid dua belas ips empat untuk menuju ke pintu keluar ya! Jangan ngumpet di lantai satu. Kalau masih ada yang mau sembunyi disini silahkan sediakan senjata ya untuk jaga-jaga." kata ku.


"Vanessa! Nak! Kamu mau kemana? Disini aja sembunyi sama ibu!" kata Bu Liza. "Enggak, bu. Vanes harus ngasih tau semua kelas. Vanes pamit, Assalamualaikum!" ucapku seraya keluar.


Saat melewati lapangan, aku melihat ada murid dengan seragam yang berbeda memanjat pagar kami. Aku langsung ke lapangan dan mengambil batu-batuan yang ada di dekat lapangan. Aku mulai mendekati mereka dan langsung melemparkan batu-batuannya. "WOY ANJING! CEWEK YANG NYERANG WOY!!!" Kata salah satu murid itu. Aku yang menyadari kalau mereka memanjat menggunakan tali tambang. Aku langsung mengeluarkan cutter dan langsung berusaha memotong talinya.


Saat aku sudah setengah memotong, salah seorang murid menginjak tanganku. "BANGSAT! SAKIT BEGO!!" Kata ku seraya menusukan cutter ku di kakinya. Itu sukses membuat dia dan orang dibawahnya terjatuh. Aku langsung dengan cepat memotong talinya.


Aku melihat beberapa murid lain yang mulai sampai ke atas pagar. Aku langsung melepaskan rok ku dan menyisakan legging. Aku langsung menendangi murid-murid itu yang langsung terjatuh. Aku merasakan seseorang menggenggam tanganku. Aku menengok ternyata satu cowok. Aku langsung memelintir tangannya dan itu sukses membuat dia kesakitan.


Aku langsung membuat dia berdiri di dekat pagar lalu langsung mendorongnya.


"MAMPUS!" Ucapku. Aku langsung berlari ke dekat lapangan untuk mengambil batu-batu. Saat aku menengok, seseorang menonjok ku. "SIALAN! MALU LAH BEGO NGELAWAN CEWEK. BANCI LO YA?!" Umpat ku seraya mengusap hidungku yang mengeluarkan darah.


Aku langsung menodongkan cutter ku dan mulai melemparkan batu ke arah mereka. "AMBIL NIH! HA! HA!" kata ku seraya melemparkan batu-batu. Aku sesekali terkena pukulan di wajah dan perut dan langsung menusukan cutter ku di beberapa tangan. Ya sekedar membuat luka sayatan kayaknya cukup.


Saat aku mulai merasa kewalahan, aku melihat beberapa guru laki-laki mendatangi ku dan membantuku. Aku langsung merasa terbantu dan energi ku kembali pulih. Akhirnya aku memilih membuat beberapa lawan itu cedera seperi beberapa ada yang ku buat terjatuh hingga tidak bisa bangkit lagi. Udah kayak lagu ya. 'Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi..' hehehehe.


"Vanes, kamu dan Pa Riza langsung ke tempat yang lain. Mereka biar bapak yang urus. Kamu amanin cewek-cewek! Kalau dalam waktu sepuluh menit kami ga ada yang datang, kalian naik ke atas!" kata Pa Tio yang ku jawab anggukan. "Siap!" ucapku. Pa Riza langsung menarik tanganku dan kami mulai menjaga tangga yang menjadi jalan ke lantai dua.


"Tadi saya dengar perut kamu kram?" kata Pa Riza yang ku jawab anggukan. "Sekarang udah enggak?" tanyanya yang ku jawab gelengan. "Kenapa kamu milih ngelawan? Kenapa kamu ga sembunyi aja?" tanya nya. "Pengecut bagi saya kalau saya sembunyi." kata ku. "Tapi apa yang harus kami sampaikan ke Bu Jihane nanti?" tanyanya. "Tenang aja, pak. Kakak saya tau kok cara berpikir saya." kata ku.


"Kebanyakan sembunyi dimana?" tanya Pa Riza. "Di kelas balkon, pak." jawabku. "Kamu naik ke atas. Cek apa masih ada yang di kelas atau enggak. Saya kasih waktu lima menit. Nanti abis itu kamu intip lapangan. Kasih tau saya kalau masih ada musuh." kata Pa Riza yang ku jawab anggukan.


Aku yang merasakan nyeri diperut ku akibat tadi terkena pukulan beberapa kali langsung berhenti sebentar dan mengelusnya pelan.


'Tahan! Kita bakalan menang!' batinku.


Aku langsung berlari menaiki tangga dan mengecek semua kelas. Aku secara perlahan mengendap-endap melihat ke arah lapangan. Ternyata kebanyakan musuh sudah tumbang. Aku melihat guru-guru ku yang udah berjalan keluar lapangan. Aku langsung berlari menuruni tangga dan tersenyum. "Stabil pak. Guru-guru udah mengarah kesini. Semua kelas udah kosong." kata ku.


Ga lama kemudian, guru-guru ku yang tadi menolongku dilapangan sudah menghampiri kami. "Vanes, kamu ga mau sembunyi saja?" tanya Pa Tio. "Enggak, pak. Udah nanggung." kata ku. Aku langsung membenarkan ikatan jaket Dipta di pinggangku dan menatap guru-guru ku. "Guru yang perempuan dimana, pak?" tanya ku.


"Mereka sudah ke kelas yang ada balkonnya." kata Pak Widi.


Setelah keadaan mulai sunyi, aku memilih mengendap-endap berjalan untuk melihat situasi. "Vanessa mau kemana kamu?" tanya Pa Tio. "Liat situasi." jawabku. "Saya temenin. Yang lain ada yang jaga ditangga dekat ruang guru. Ada yang jaga disini. Kalau saya dan Vanes tidak balik dalam waktu eeuuuummm lima menit. Kalian siaga." kata Pa Tio.


Kami berdua langsung mengendap-endap berjalan melewati kelas-kelas di lantai satu. "Jadi kamu ga takut kalau luka?" tanya Pak Tio. "Ya!" jawabku singkat. "Saya guru tapi dulu saya beberapa kali mengikuti bela diri." kata Pak Tio. "Ga nanya. Diem dulu, pak!" kata ku.


Aku meneliti situasi sekitar. "Pak, jaga depan UKS saya usahain bawa alat kesehatan. Ada beberapa guru yang luka." kata ku yang dijawab anggukan Pak Tio.


Aku masuk secara perlahan dan melihat dua murid di UKS. "Lho? Kalian kenapa ga ngumpet??" tanya ku. "Eh eeuuummm emang ngumpet dimana?" tanya murid-murid itu. "Ditempat sembunyilah." kata ku. "Eh emang ada ya?" tanya murid-murid itu yang membuatku menatap mereka penuh curiga. Aku ngerasa asing sama muka mereka. Kayaknya mereka bukan anak sekolah ku.


"Ayo keluar. Disini ga aman!" kata ku. Aku meneliti sekitar dan melihat ada beberapa murid dari sekolah lain mengintip. Aku juga melihat kerah baju seragam lawan didalam seragam yang mereka pakai.


Aku keluar dari UKS dan melihat Pak Tio yang kaget. "Lho, Nes? Mereka ngapain sembunyi disini?" tanya Pak Tio yang ku jawab pelototan mataku. Aku memberikan kode untuk memberitahu kalau mereka bukan murid sekolah ini. Syukurlah Pak Tio paham kode ku dan dia menganggukan kepala nya. "Yasudah kamu antar mereka ke tempat sembunyi. Biar saya disini jaga." kata Pak Tio yang ku jawab anggukan.


Aku dan dua murid itu berjalan secara perlahan. "Kita harus sembunyi. Oh iya kalian anak IPA ya?" tanya ku memastikan. "Iya." jawab mereka. "Wah kita satu jurusan ya berarti." kata ku yang dijawab anggukan mereka. Aku langsung ke tengah lapangan dan mengambil tali tambang.


"Lah? Ga jadi ke tempat sembunyi?" tanya salah satu dari mereka. Aku langsung menarik kerah baju salah satunya dan memukul wajahnya sampai tersungkur. Aku anjut mengikat tangan satu murid lainnya dan membuatnya terikat di tiang bendera. Aku melepaskan sepatuku dan melemparkannya tepat dikepala siswa satu lagi yang tadi ku pukul wajahnya. Dia langsung tersungkur. Aku langsung mengikat tangan dan kakinya.


Ga lama kemudian, Pak Tio datang dengan membawa murid lawan yang tadi mengintip di UKS. Mereka sudah keadaan di ikat pergelangan tangannya.


Aku melihat ke jam tangan ku, udah jam dua belas siang ternyata. Aku mengendap-endap ke arah pagar. Banyak anggota Carberus yang terluka. "Pst! Kalian!" panggilku. Mereka menengok dan menghampiri ku. "Eh Ka Vanes. Kenapa kak?" tanya salah satunya. "Kalian ke tangga. Ada guru laki-laki disana. Biar di obatin dulu." kata ku. "Siap, kak!" kata mereka yang ku jawab anggukan.


Aku duduk di tangga keluar seraya bersembunyi dibalik pohon-pohon yang ditanam. Aku melihat beberapa anak dengan seragam sekolahku. Salah satunya aku sangat mengenalinya. Dia, Dipta!


Aku langsung berlari dan membuka pagar. Aku menghampirinya dan langsung memeluknya. "S-sayang? Kok kamu?" tanya Dipta yang terpotong dengan pelukan ku. "Ssstt! Are you okay?" tanya ku. "I'm okay." jawabnya. Dia mengelus pipi ku dan kaget melihat lebam di pipi dan dagu ku.


"Ini kenapa? Kok kamu ga sembunyi? Yang lain kemana?" tanya nya. "Panjang ceritanya. Ayo!" ajak ku. "Eeeuummm, Nes?" panggil seseorang. Ternyata Ivan. "Yo, kenapa?" tanya ku. "Cewek yang lain dimana?" tanyanya. "Mereka udah ditempat aman kok." jawabku. "Ayo, kamu harus kompres dulu lebam kamu!" kata Dipta yang ku jawab anggukan seraya tersenyum.


***


"ASTAGA VANES!!!! LO KENAPA YA ALLAH NESSA!!!" Kata Cinta panik. Ketiga sahabatku langsung memeluk ku. Aku yang terluka akan nyeri akibat pukulan diperut tadi sontak terkejut dan berteriak. "ADUDUH! JANGAN DISITU!!" kata ku. "E-eh iya sorry. Kenapa perut lo?" tanya Cinta.


"Gapapa cuman tadi kena pukul doang. Yuk balik ke kelas!" kata ku.