
Vanessa P.O.V
Aku melihat ke depan ku, ada Mbak Jihane yang sedang berpegangan tangan dengan Mas Kendra. Dia mengucapkan sumpah pernikahan. Aku tersenyum melihat pancaran kebahagiaan di muka Mbak Jihane. Dia terlihat sangat bahagia. Senyumannya ga pernah luntur dari muka nya.
"Dengan ini, saya menyatakan kalian telah resmi menjadi pasangan suami-istri! Silakan perlihatkan kebahagiaan kalian kepada para tamu disini! Perlihatkan ikatan kalian yang sudah sah kepada para tamu!" kata pendeta. Mbak Jihane dan Mas Kendra pun berciuman dan disambut sorak-sorai para tamu disini.
Acara pernikahan ini digelar diluar ruangan sehingga saat mereka berciuman, aku merasakan angin yang berhembus seperti ikut bahagia atas pernikahan ini.
***
"Nes! Foto lagi!!" kata Arsen yang memanggil ku saat aku sedang memakai lipstick. "Iya iya tunggu bentar. Oh iya laki gw mana?" tanya ku. "Dipta lagi nemenin Mas Kendra." kata Arsen. "Okay. Yaudah lo duluan aja ke depan. Ini kita foto nya persiapan buat resepsi kan?" tanya ku. "Hooh. Yaudah gw sama yang lain tunggu di luar ya. Oh iya tadi Mbak Jihane pesen buat bawain satu gelas air putih. Dia haus kali." kata Arsen. "Sip." jawabku.
Aku langsung merapihkan penampilan ku lalu mengambil segelas air dan segera keluar dari kamar ganti. "Mbak, nih air nya. Minum dulu!" kata ku. "Pas banget mbak tadi haus. Makasih, Vanes!" kata Mbak Jihane yang sudah melepas veil nya. "Mbak, yang lain pada kemana?" tanya ku. "Pada ambil bunga. Dipta sama Arsen nemenin Mas Kendra ambil bunga. Cinta sama Maria juga lagi bantu-bantu. Kamu disini aja temenin mbak!" kata Mbak Jihane. "Aku ikut mereka aja deh, mbak. Sekalian bantu-bantu." kata ku tersenyum. "Masa kamu bos besar malah jadi bantu-bantu dinikahan mbak sih, Nes. Ga! Jangan!" kata Mbak Jihane.
"Gapapa mbak ih. Okay ya tunggu disini." kata ku tersenyum.
Aku langsung berjalan menghampiri Cinta yang lagi masangin bunga di kerah Arsen. Aku melihat sekelilingku karna aku mau mencari Dipta. Tatapan ku jatuh pada seorang laki-laki yang lagi membelakangi ku. Aku kayak kenal jas itu! Itu Dipta!
"Makasih ya udah di pasangin!" kata nya. "Iya sama-sama. Euummm anyway, kamu udah berapa lama pacaran sama Vanes?" tanya Maria_sepupu Mbak Jihane.
"Sejak kami sama-sama kelas tiga SMA." jawab Dipta. Tunggu! Nada nya kayak dingin. Aku memilih berdiam ditempat karna aku mau melihat apa yang dilakukan mereka. Aku melihat Maria berusaha memeluk Dipta. Sedangkan Dipta langsung menolaknya. Damn!
"Jaga kelakuan lo! Seenggaknya ga usah jadi cewek murahan didepan gw!" kata Dipta. "Ck! Gw udah tertarik sama lo dari awal. Apa yang gw ga bisa dapetin, orang lain juga ga bisa dapetin!" kata Maria. "Sakit dasar!" kata Dipta sinis. Maria semakin merapatkan tubuhnya ke Dipta.
Aku langsung menghampiri mereka saat aku melihat Maria semakin memaksa Dipta. "Ekhem!" deheman ku membuat mereka berdua kaget. Maria hanya tersenyum kecil dan aku bisa melihat senyuman itu penuh kelicikan.
"S-sayang a-aku bisa jelasin kok. I-ini gak kayak yang kamu liat. Aku cuman--" kata Dipta gelagapan. "Kita saling suka, Nes. Tadi Dipta sendiri yang melukin gw." kata Maria dengan senyum liciknya. "Apaan sih lo! Gw ga meluk lo ya!" kata Dipta seraya mendorong Maria sampai tersungkur.
"Sayang!" panggil ku. Dipta langsung menghampiri ku dan memeluk ku. "Aku percaya sama kamu. Aku udah awasin kalian dari tadi." bisik ku.
Dari awal aku bertemu dengan Maria, tepatnya saat kami akan menginap kemarin. Aku udah liat tatapan Maria ke Dipta. Kayak tatapan cewek yang suka. Dan ternyata bener!
Aku langsung mengelus pipi Dipta dan menatapnya. Aku langsung mencium ujung bibirnya. Tapi mungkin kalau orang lain liat, aku mencium bibir nya Dipta. "He's Mine!" ujar ku seraya tersenyum sinis.
***
Dipta memberikan ku buket bunga yang memang dipesan untuk dibawa para bridesmaids. Aku tersenyum dan memeluknya. "Makasih kamu percaya sama aku." katanya. "Selalu. Aku percaya karna aku nyaksiin saat dia ngegoda kamu." kata ku tersenyum. Aku merasakan seseorang menggenggam tanganku. Saat aku menengok ternyata Mbak Jihane.
"Ikut mbak! Ada yang mau mbak omongin!" kata Mbak Jihane. Aku menganggukan kepala dan ikut Mbak Jihane masuk ke kamar ganti. "Kamu apain Maria sampai dia nangis ke mbak?" tanya Mbak Jihane. "Hah? Nangis? Baru tau kalo dia bisa nangis. Dikirain bisa nya ngegodain laki orang doang." ujar ku.
"Maksud kamu?!" tanya Mbak Jihane. "Urusan percaya ga percaya ya terserah mbak ya. Tapi yang pasti tadi Vanes itu nyaksiin sendiri Maria maksa Dipta buat meluk dia. Dan Vanes juga denger perkataan dia. Yang ga akan ngebolehin apa yang ga bisa dia milikin di milikin orang lain. Dia tadi juga nyatain kok perasaannya ke Dipta. Sekedar saran ya mbak, hati-hati nanti Mas Kendra diambil." ujar ku.
"Mbak ga percaya." kata Mbak Jihane. "Terserah. Vanes udah bilang apa yang Vanes lakuin. Urusan percaya atau enggaknya silahkan terserah mbak." jawabku seraya keluar dari kamar ganti.
***
Aku melihat tatapan mata Maria yang masih menatap ku dan Dipta. Aku menggenggam tangan Dipta dan tersenyum. "Kita hadapin barengan. Dia macem-macem ke hubungan kita, awas aja." kata ku tersenyum. "Iya sayang. Aku cuman takut dia nyakitin kamu." kata Dipta. "Ga akan." jawabku tersenyum.
Saat ini resepsi baru aja di mulai. Karna ini tipe nya perjamuan, alhasil aku, Dipta, Arsen, Cinta, Maria, dan satu sepupu Mas Kendra duduk di satu meja yang sama. Dan untung nya posisi Aku dan Dipta jukup jauh dengan posisi Maria.
"Sayang, nih kamu harus banyak makan kentang. Kamu tadi makan nasi nya dikit banget. Maag kamu nanti kambuh." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Kamu juga makan ayamnya ih. Masa dari tadi nyuapin aku doang. Kamu juga makan!" kata ku tersenyum. "Iya deh iya." jawab Dipta.
Ting! Ting! Ting! Ting! Ting!!
Terdengar bunyi gelas kaca yang di ketuk dengan sendok. Saat aku menengok ternyata ada Mas Kendra yang udah berdiri dengan senyumannya. "Saya selaku mempelai pria mengucapkan terima kasih atas kehadiran kalian semua! Vanessa, yang menyempatkan waktu nya untuk menjadi bridesmaid bagi istri saya. Dipta yang menyempatkan hadir menjadi groomsman saya juga. Dan para tamu yang meluangkan waktu nya. Saya ucapkan terima kasih! Kepada Vanessa dan Dipta, semoga kalian segera menyusul ya!" kata Mas Kendra yang membuat ku dan Dipta saling tersenyum.