
Vanessa P.O.V
Setelah seminggu semenjak kejadian penyerangan, kondisi sekolah mulai membaik, penjagaan disekolah sudah mulai stabil kembali. Ya! Setelah kejadian penyerangan kemarin, sekolah yang bersangkutan akhirnya meminta maaf dan berunding untuk menyelesaikan masalah. Karna dari pihak sekolah ku ini mengancam apabila masih terulang mereka tidak akan segan membawa perkara ini ke jalur hukum. Ditambah dengan kehadiran Mbak Jihane kemarin cukup membuat pihak sekolah lawan gentar. Akhirnya mereka memilih untuk meminta maaf dan memberikan sanksi kepada anak-anak yang ikut penyerangan kemarin. Kayaknya sih banyak ya karna kan bisa sampai nembus pagar loh itu.
"Anak-anak ku yang ibu cintai. Seminggu yang lalu kita baru saja mengalami penyerangan. Dan ibu mengucapkan terima kasih kepada para anggota yang bahkan sering membela sekolah ini. Semua anggota diharapkan maju ke depan untuk menerima penghargaan!" kata ibu kepala sekolah. Dipta menatapku seraya tersenyum. Aku menganggukan kepala ku dan menyuruhnya berdiri.
Tiga angkatan sekaligus langsung maju ke depan. Bahkan itu membuatku tersenyum melihat Dipta sedang mencium tangan Bu Kepsek. "Ibu baru ingat, ada satu anak perempuan yang menurut saksi para guru, dia ikut bertarung. Pak Tio, bisa tolong panggilkan siswi itu?" tanya Bu Kepsek. "Vanessa, murid dua belas IPS 4! Silahkan maju ke depan!" kata Pak Tio. Aku yang masih merasakan nyeri diperut ku menganggukan kepala ku. Dipta tersenyum dan langsung menghampiri ku. Kami berjalan bersama ke depan.
Bu Kepsek tersenyum dan langsung memeluk ku. "Perempuan yang pintar, berani, kuat, disiplin. Saya harap tidak akan disia-siakan di masa depan." kata Bu Kepsek yang ku jawab senyuman. "Siap, tidak akan saya sia-siakan bu!" kata Dipta yang dijawab anggukan Bu Kepsek. "Sebagai penghargaan atas jasa kalian, kalian akan mendapatkan lencana yang harus di gunakan selama kalian bersekolah disini. Dan kalian akan mendapatkan beasiswa selama sekolah disini sampai berakhirnya semester dua." kata Bu Kepsek yang membuat semua siswa dilapangan bersorak gembira. "Selain itu teruntuk para guru yang ikut membantu, kalian akan mendapat bonus di akhir tahun." Kata Bu Kepsek.
Pemakaian lencana dimulai. Kami mulai dibariskan. "Sayang, kamu disebelah aku sini!" kata Dipta. "Enggak. Yang lain aja yang duluan. Aku belakangan." kata ku tersenyum. "Kenapa?" tanya Dipta. "Aku bukan anggota kamu. Udah tugas aku ikut ngelawan kalau sekolah dalam bahaya. Udah kamu disini biar aku pindah okay." kata ku. "Enggak." jawab Dipta.
Saat pemakaian lencana mau di mulai, Dipta menahan tangan ibu kepala sekolah. "Lho? Kenapa Dipta?" tanya Bu Kepsek. "Saya ketua mereka, bu. Sudah kewajiban saya berada didepan mereka saat melakukan perlawanan dan sudah hak saya untuk berdiri dibelakang mereka saat perdamaian. Jadi saya rasa ibu bisa mulai dari anggota-anggota saya dulu saja. Saya akan pakai dipaling akhir bersama Vanessa." kata Dipta.
"Kamu ketua yang baik. Kalian cocok jadi pasangan semoga kalian langgeng ya." kata Bu Kepsek. "Aammiinnn!" ucap kami berdua.
Pemakaian lencana di akhiri dengan dipakaikannya lencana diatas kantung seragam ku dan Dipta.
***
Bel istirahat pertama berbunyi. Aku dan ketiga sahabatku berjalan ke kantin dan melihat Dipta yang melambaikan tangannya. Kami langsung duduk di tempat mereka. "Nanti siang ada pengumuman yang bakal ikut SNMPTN ya?" tanya Arsen. "Iya nih duh deg-deg an." kata Aira.
Dipta mengelus pipi ku dan tersenyum. "Semoga kita bisa masuk ya." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Ammiin! Ga sabar sih nunggu nya!" kata ku tersenyum.
"Guys, kalian makan gih gw traktir deh. Bokap gw abis deal kontrak." kata Ivan. "Asik!!!" teriak Dipta heboh. "By? Kamu mau apa? Biar aku bawain." kata Dipta. "Apa aja deh, by." jawabku tersenyum. "Nasi Ayam Geprek mau?" tanya Dipta yang ku jawab tatapan tanya ku. "Emang boleh?" tanyaku. "Boleh dong sayang. Udah lama kan kamu ga makan itu. Aku pesenin okay." kata Dipta yang ku jawab anggukan seraya tersenyum. Biasanya dia akan melarang ku kalau selalu makan ayam geprek katanya ngaruh ke maag ku.
Ketiga sahabat Dipta langsung beranjak dari meja. Aku tersenyum melihat ketiga sahabatku sama-sama blushing. "They treat us like a queen. So, kalian harus hormatin mereka. Seenggaknya mereka pasangan kalian, walau belum sah sih." kata ku. "Andre tuh ga bisa ditebak, Nes. Dia itu penuh kejutan." kata Nanda tersenyum.
"Ini pertama kalinya gw pacaran dan langsung ditreat like a queen. Gw harap Arsen bisa jadi pilihan terakhir gw di percintaan. Pertama dan terakhir." kata Cinta seraya tersenyum lebar. Aku melihat Aira yang asik bengong. Aku langsung menyadarkannya. "Lo kenapa?" tanya ku. "Gw lagi mikirin kalo misalkan gw lolos, gw belom siap kepisah sama kalian." kata Aira. "Tenang aja, Ra. Kita cuman kepisah tempat kok. Bukan kepisah alam ya kan." kata ku tersenyum. "Iya, Nes. Gw ga tau gimana gw nanti kalo ga sama kalian. Gw harus keluar dari zona nyaman gw." kata Aira. "Semua orang pasti keluar dari zona nyamannya Ra. Mereka cuman beda cara adaptasinya." kata Nanda. "Betul tuh." kata ku tersenyum.
"Nes, kalo lo gimana kesan selama lo sama Dipta? Are you falling in love with him or just like him?" tanya Cinta. "Awalnya gw deket sama dia sejak dia selalu ngejailin gw. Dia ngebikin gw terbiasa sama kehadirannya. Gw udah jatuh cinta sama dia sejak gw ngeliat Prisil nempelin dia. Sejak itu gw sadar kalo hati gw milih dia. Dan sekarang gw udah sama dia, dia ngejaga gw. I'm so lucky." kata ku tersenyum.
Ga lama kemudian, Dipta datang seraya membawa dua piring ayam geprek. Dia tersenyum seraya mencium keningku. "Ayo dimakan dulu." kata Dipta yang ku jawab anggukan dan senyum lebar ku. "Sayang! Uwuu!! Ayo kita makan!!!" kata Arsen heboh. Cinta hanya tertawa dan menganggukan kepala nya. Setelah itu Andre dan Ivan datang bersamaan.
"Boleh nanya ga?" tanya Cinta. "Boleh sayang. Mau nanya apa?" tanya Arsen. "Kalian bisa dibilang pentolan sekolah. Kalian ga malu kalo diliat orang kayak pelayan? Ngambilin makanan, semuanya serba kalian. Apa kalian ga risih?" tanya Cinta. "Gini ya, Ta. Pertama, gw sama tiga sahabat gw itu tau yang mana cara ngetreat pasangan dan yang mana dimanfaatin. Kedua, kalian itu anak orang tua kalian, mereka ngerawat kalian kayak putri. Sialan banget kalo kita ngetreat kalian kayak pembantu. Kalau ada yang bilang kalian jadiin kita pelayan, mereka berhadapan sama kami bertiga." kata Dipta yang dijawab anggukan ketiga sahabatnya.
***
"GUYS! DI MADING ADA PENGUMUMAN YANG IKUT SNMPTN!!!" Kata salah satu murid. Kericuhan mulai terjadi di kantin. Banyak anak yang keluar secara bersamaan. "Kita nanti aja ya belakangan. Gw mager kalo desek-desekan." kata Arsen. "Iya sip lah." jawab Andre.
Aku melihat di ponsel ada notifikasi dari WA. Ternyata Mbak Jihane ngeWA aku. Aku membukanya dan melihat data-data nama yang ikut SNMPTN. Aku melihat nama ku di urutan pertama untuk anak IPS disusul dengan Nanda di urutan ke lima, Aira di urutan ke sepuluh, dan Cinta di urutan ke sebelas. Aku mengecek ke bagian anak IPA dan menemukan nama Dipta di urutan kelima, Arsen di urutan ke enam, Andre di urutan ke tujuh, dan Ivan di urutan ke delapan.
"Congrats!!!" ucapku tersenyum. Keenam sahabat ku dan Dipta menatapku bingung. "Selamat kenapa, Nes?" tanya Ivan. "Kita dapet kesempatan SNM!!!!" Ucapku heboh. Ketiga sahabatku kaget dan langsung mengambil ponselku. Mereka terlihat kaget dan langsung berteriak girang. "Kalian juga guys. Sayang!!! Kamu masuk daftar yang ikut SNM!!!!" Kata ku heboh. Aku dan Dipta langsung berpelukan seraya tersenyum lebar.
"Berarti kita pilih nya dimana aja nih?" tanya ku. "Gw bakal undur diri. Biasanya kalo ikut SNMPTN ga boleh nolak kalo keterima." kata Andre. "Iya gw juga. Kayaknya kita-kita yang mau daftar kedinasan bakalan undur diri dari SNMPTN ini. Gw mau ambil SNMPN." kata Arsen yang ku jawab anggukan.
"Nes, lo mau dimana?" tanya Cinta. "Gw mau ambil di UI aja. Biar deket." kata ku. "Lo, Ta?" tanya Cinta ke Dipta. "Gw kayak Vanes, ke UI. Kita bakal ambil satu prodi yang sama." kata Dipta tersenyum. "Asik! Makin lengket nih!" kata Ivan. "Yaudah kalo gitu gw bakal sama kalian juga. Palingan nanti gw ambil pendidikan vokasi atau mungkin Kriminologi." kata Cinta. "Sip deh. Semoga aja ya kita lolos." kata ku tersenyum. "Kalo pilihan kedua kamu dimana sayang? Kan pilihan kedua kalo emang mau itu harus di area Jawa Barat." kata Dipta.
"IPB sayang. Kan ada sekolah bisnis kalo ga salah mah. Jadinya disana aja." jawabku tersenyum. "Wah pas banget disana juga ada vokasi jurusan Akuntansi. Viks! Kita bisa bareng!" kata Cinta yang ku jawab anggukan.