
Vanessa P.O.V
"Sayang! Astaga ini si Maria dapet nomor aku dari siapa sih? Gaje banget!!" kata Dipta lewat telfon. "Hah? Nomor? Dari grup kali, by." jawabku. "Dah lah aku left aja. Mau aku blok juga nomornya!" kata Dipta. "Eh jangan dulu. Kita harus kasih pelajaran ke dia." ujar ku. "Eh tapi Mbak Jihane?" tanya Dipta. "Itu dia, aku bakal omongin ini ke Mbak Jihane." jawabku. "Okay nanti aku ke kantor ya." jawab Dipta. "Iya yaudah aku mau lanjut ya. Mau meeting juga. Love you sayang!" ujar ku. "Love you too calon istri!" kata Dipta.
***
"Mbak Jihane, Vanes ga mau ngomong ini ke mbak tapi Vanes rasa mbak harus peringatin Maria supaya jauhin Dipta." kata ku singkat seraya mengetik dokumen di laptop ku. "Kamu itu kenapa sih? Sejak pernikahan mbak kok kamu jadi ngejauhin Maria? Kenapa kalian?" tanya Mbak Jihane.
Aku menatap Mbak Jihane seraya tersenyum kecil. "Tanya sama Dipta. Aku panggil dia kesini kok biasanya dia jemput aku." kata ku tersenyum. Mbak Jihane menganggukan kepala nya dan duduk di sofa ruangan ku.
"Mbak, aku tau kalo mbak pasti tau cara pemikiran orang bisnis tapi mbak juga harus tau kalau aku itu ga selalu punya pemikiran yang licik. Mbak nanti bakal tau kok yang terjadi antara aku sama Maria." kata ku. "Cukup ya Vanes! Mbak udah denger apa yang kamu omongiin waktu kita di ruang ganti dan mbak perjelas kalau mbak ga percaya!" kata Mbak Jihane.
"Terserah." jawabku singkat.
***
Aku menatap Dipta dan Mbak Jihane yang saat ini sama-sama saling menatap satu sama lain. "Okay jadi mbak tadi mau nanya kan masalah antara aku sama Maria? Tanya gih sama saksi mata nya!" kata ku.
"Dipta! Mbak tau kamu anak nya jujur. Mbak juga tau kamu cinta ke Vanes. Tapi coba kamu jujur ke mbak kalo yang dibilang sama Vanes itu bohong. Iya kan?" tanya Mbak Jihane. "Maaf, mbak. Tapi kenyataannya yang dibilangin sama Vanes itu beneran." kata Dipta. "Ga mungkin Maria ngegoda kamu. Mbak tau sifat dia. Dia itu polos." kata Mbak Jihane. "Mbak, tau kan peribahasa Serigala Berbulu Domba? Kayak nya itu yang ngegambarin sifat Maria. Dia berani ngegoda Dipta saat kita ambil bunga kemarin itu. Awalnya emang sih dia masangin bros bunga ke kerah jas. Tapi lama-lama dia berani meluk bahkan maksa Dipta cium dia. Dan gila nya, dia malah bilang kalo kami saling cinta." kata Dipta.
Mbak Jihane menatapku dan langsung menunduk. "Biar mbak tegur dia. Seenaknya ngadu domba kita!" kata Mbak Jihane. "Emang dia bilang apa?" tanya ku. "Dia bilang kamu ngancem dia karna kamu cemburu sama dia. Dia juga bilang kamu sempet tampar dia." kata Mbak Jihane. "Ogah banget cemburu sama dia. Lagian buat apa cemburu, toh aku sama Dipta udah sama-sama serius." kata ku.
"Mbak punya rencana." kata Mbak Jihane. "Apa?" tanya ku. "Kita wujudin apa yang dia omongin ke mbak. Nampar, ngancem. Kita wujudin aja." kata Mbak Jihane. "Maaf mbak tapi bukannya Nampar itu kalo nanti dia di visum bisa kena pasal ya?" tanya ku. "Mbak yang akan nampar dia. Kurang ajar banget berani ngadu domba. Dipta, kamu chat dia bilang mau ajakin jalan. Nanti bawa dia kesini." kata Mbak Jihane. "Okay." jawab Dipta.
***
Aku langsung menutup mulut ku dan tersenyum kecil. "Lo liat kan, Nes? Gw bisa dapetin Dipta. Ga ada yang gak mungkin bagi seorang Maria." kata Maria dengan penuh bangga. "Nama lo bagus tapi gw ga tau kenapa kelakuan lo kayak ******!" ujar ku santai.
"Sayang liat tuh aku di katain ***** sama Vanes!" adu Maria. "Ga usah alay deh. Kayak apaan tau lo." kata Dipta dingin. "Liat kan, Nes? Dipta belain gw!" kata Maria. "Dih! Siapa juga yang belain lo? Gw mah mau belain bini gw!" kata Dipta yang membuat ku tertawa terbahak-bahak.
"Malu nya bukan maen!!!!" ujar ku seraya tertawa. "Welcome to our game, Maria!" ujar ku dengan senyum licik. "Sialan lo!" umpat Maria seraya mencoba menghindari ku. Tapi aku dengan cepat langsung menarik tangannya. "Mau kemana lo, *****?! Lo inget kan apa omongan gw ke lo? Kalo lo maish berani ngedeketin Dipta, hidup lo taruhannya. Inget kan?! Gw akan lakuin apa yang gw omongin dan ga akan lakuin hal yang ga pernah gw omongin. Kalo gw udah ngomong A artinya gw akan lakuin hal A itu. Dan lo udah berani ngegoda calon suami gw!!" kata ku sinis.
"Mbak Jihane ga akan maafin lo, Nes!!!" kata Maria. "She will! Dia pasti bakal tau apa yang dilakuin sepupu nya ini." kata ku sinis. "Cih! Gw bahkan bingung kok Mbak Jihane punya sepupu ***** kayak lo!" kata Dipta. "Dia ga akan percaya sama kalian. Dia sayang sama gw! Hahaha! Kalo gw bbisa dapetin Dipta, gw pasti bisa dapetin Kendra. Bodo amat mau dia laki sepupu gw juga selama gw mau dan bakal diturutin, kenapa enggak? Hahaha!" kata Maria seraya tertawa.
"Kata siapa?" tanya Mbak Jihane seraya menutup pintu ruangan ku. Aku dan Mbak Jihane bertatapan seraya tersenyum licik. "Kak Jihane, mereka ngejebak Maria kak! Tolongin Maria!" kata Maria memelas. Mbak Jihane memalingkan wajahnya sebentar. Dan Maria pun tersenyum. "Vanessa itu licik, mbak! Jangan mau dengerin apa yang dia bilang!!!" kata Maria.
Plak!!
"Mampus!" umpat Dipta saat melihat Maria di tampar. "Kamu bilang Vanes nampar kamu kan? Bodoh! Saya tau yang sebenarnya!" kata Mbak Jihane seraya mencekik Maria. "Seenaknya mau rebut suami saya. Memangnya kamu siapa hah?! ******! *****!" Kata Mbak Jihane. Aku yang kaget melihat Mbak Jihane mencekik langsung menahan tangannya. "Jangan, mbak! Bahaya!" ujar ku memperingati nya.
"Heh, Maria! Asal kamu tau ya! Mau gimanapun usaha kamu, apa yang dipersatukan oleh tuhan tidak akan bisa dipisahkan kalau bukan dari kehendak tuhan. Tuhan pun tau hal apa yang akan membuat umat nya bahagia. Kalau kamu mau merebut Kendra dari saya, langkahi dulu mayat saya!" kata Mbak Jihane dengan tatapan tajam ke Maria.
"Hmmm disatukan tuhan ya? Berarti kalo Dipta masih bisa diambil dong! Kan belum bersatu." kata Maria dengan senyuman licik.
Aku yang mendengarnya hanya tersenyum sinis dan menatap Maria tajam. "Sorry aja, lo ga bisa rebut bapak dari anak di kandungan gw!" kata ku yang membuat Dipta dan Mbak Jihane menatapku kaget. Sedangkan aku mengedipkan mata ku untuk memberi tanda kalau ini hanya omongan.
"Gw peringatin sama lo. Sekali lagi lo masih berulah, siap-siap aja gw sendiri yang bakal lempar lo dari gedung ini." ancam Dipta. "Saya akan memberi tau mama mu. Agar dia tau kebusukan anaknya." kata Mbak Jihane.