
Vanessa P.O.V
Dua hari setelah kepulangan kami dari Kupang, aku dan Dipta mulai sibuk mengurus persiapan pernikahan kami. Di mulai dari memilih seserahan untuk pernikahan kami nanti, souvenir, undangan, cincin pernikahan, dan mahar yang udah kami berdua diskusikan apa yang aku minta untuk jadi mahar. Aku hanya meminta apa yang bisa diberikan Dipta. Jadi untuk mahar nanti itu akan disiapkan Dipta tanpa aku tau apa mahar pernikahannya nanti.
Dan hari ini, kami akan memastikan semua persiapannya sekali lagi. Dari fitting pakaian yang akan kami pakai nanti saat pernikahan, melihat persiapan tenda, dan memilih bucket bunga yang akan kami bawa nanti saat pernikahan.
"Girls? Udah siap belum sih kalian? Asli ya ini kita nungguin lama banget weh!" kata Ivan. "Sabar napa lo. Biasain nunggu lama,kayak ga tau cewek deh." jawab Nanda yang membuat Ivan dan sahabat-sahabatnya terdiam. Aku menatap Dipta, dia hanya tersenyum dan menganggukan kepala nya.
"Guys agak buruan yuk! Kasian juga yang cowok nanti kelamaan. Udah nanti kalo lipstick mah disana aja. Yuk!" ajak ku. "Huft! Iya deh ayo guys!" ajak Cinta. "Okay deh yuk!" jawab Nanda yang diangguki Aira.
***
"Vanes!!!" sapa Mama Diana yang udah duduk santai didalam butiknya Kak Alisha bersama Mbak Jihane, Tante Maya, Papa Danial, Om Ahmad, Mas Kendra, Hiza, dan Faiz. "Mama!!!!" sapa ku kembali. "Hallo Vanes! Ini mereka nungguin kamu datang. Mereka mau liat kamu pakai gaun sama kebaya. Gih kamu ganti dulu. Kebaya sama gaun udah di ruang ganti ya. Biar Anna sama Bella yang bantu kamu. Anna! Bella! Sini dulu!!!" panggil Kak Alisha.
"Iya, bu!!" jawab dua perempuan yang aku kenal saat menolongku melihat bahan-bahan gaun. "Ini kalian tolong bantu Vanes untuk coba gaunnya ya! Saya bakal bantu yang lainnya." kata Kak Alisha. "Baik, ayo Vanes!!" ajak Ka Bella yang ku jawab anggukan. Kami langsung memasuki ruang ganti nomor dua dan melihat dua patung mengenakan kebaya dan gaun yang aku pesan. Aku sangat terkejut melihat gaun yang ku pesan. Ini sangat indah.
"Sorry, Nes!" kata Ka Anna saat membantuku memakai kebaya. "Nanti kalo warna putih berarti korset nya putih juga kan ya? Atau warna kulit?" tanya ku. "Kayaknya sih warna putih aja, Nes. Biar ga terlalu keliatan." kata Ka Anna. "Okay nanti deh beli." kata ku seraya tersenyum.
"Songket mau di pake sekarang, Nes?" tanya Ka Bella yang ku jawab anggukan.
Setelah memakai songket dan kebaya nya, aku segera keluar kamar ganti dan menghampiri Dipta. "Sayang? Gimana?" tanya ku meminta pendapat. "Bagus sayang. Ini kesempitan ga?" tanya Dipta seraya memegang pinggangku. "Enggak kok, pas. Nanti palingan aku minta di besarin bagian dada biar ga begitu ketat." jawabku seraya tersenyum.
"Wah! Bagus banget sayang!" kata Mama Diana yang keluar dengan gaun formal polos berlengan panjang dan ada sisi terbuka di bagian kanan. "Makasih, ma. Oh iya ini gimana baju nya? Mama suka?" tanya ku. "Suka banget jadinya kalo nanti papa kamu itu ada acara formal, mama bisa pake ini hehehe." kata Mama Diana.
"Hallo semua!!!" sapa Tante Maya yang baru aja keuar dari ruang ganti dengan gaun formal bertangan panjang potongan lebar, dan potongan dada yang rendah. "Tante! Gimana tan? Tante suka?" tanya ku. "Suka, Nes." jawab Tante Maya seraya tersenyum. "Hallo!! Jangan tinggalin Jihane dong!!" sapa Mbak Jihane yang baru aja keluar dari ruang ganti dengan gaun formal berlengan panjang juga. "Gimana mbak? Bagus?" tanya ku. "Iya, Nes. Gila sih emang kalo hasil dari butiknya Lisha ga pernah salah." jawab Mbak Jihane yang ku jawab anggukan.
"Oh iya mbak, ini yang jadi pagar ayu nya mana ya? Kan Hiza itu pagar ayu, tapi harus ada tiga orang lagi." tanya ku. "Oh itu, temennya Hiza tadi kena macet. Jadinya sebentar lagi mereka pasti sampai kok. Mereka udah pilih gaunnya juga." kata Tante Maya. "Oh gitu okay lah, tan. Emangnya siapa ya?" tanya ku. "Sahabat-sahabatnya Hiza itu lho, Nes. Si Ajeng, Aletha, sama Caya." kata Tante Maya. "Oalah yang itu. Okay deh." jawabku seraya tersenyum.
"Hai!!" sapa tiga sahabat ku dan Hiza yang baru aja keluar dari ruang ganti. Cinta dengan gaun one off shoulder, Nanda dengan gaun bertali spagetti dan potongan dada yang cukup rendah, dan Aira yang mengenakan gaun dengan potongan dada rendah. Dan Hiza dengan gaun off shoulder mermaid dress. "Nes, lo ganti gih pake gaun. Kita mau liat gaun yang lo maksud!" kata Aira. "Iya deh bentar ya!" jawabku seraya tersenyum.
"Hai semua!!" sapa ku seraya keluar perlahan dari kamar ganti. "Buset! Cantik ya bund gaun nya!!" kata Aira memuji. "Iya, Nes. Lo cantik banget! Jadi mau nikahin deh." kata Andra. "Hmmm awas lo ambil bini gw. Gw kebiri lo." kata Dipta yang membuat ku tertawa dan menghampirinya lalu memeluk calon suami ku ini.
"Kebiasaan deh ga bisa bercanda." kata ku seraya tersenyum.
Aku melihat Hiza dan ketiga sahabatnya menghampiri ku. Ajeng, Aletha, dan Caya. Mereka sahabat Hiza sejak kelas sepuluh. Aku tau itu karna dulu mereka sering mengunjungi rumah Om Ahmad dan kami cukup dekat.
"Vanes!!!" sapa Aletha yang membuat ku tersenyum. "Letha!!! Ajeng! Caya!! Gimana kabar kalian?" tanya ku seraya memeluk mereka. "Alhamdulillah baik!!" jawab Ajeng dan Caya. "Puji tuhan baik, Nes!" jawab Aletha. "Oh iya kalian berarti udah request model gaun kan ya?" tanya ku. "Iya, Nes. Udah kok waktu seminggu yang lalu." kata Letha. "Okay langsung fitting lagi aja. Gih ke ruang ganti! Eeuumm Kak Lisha, ini kalo mereka di kamar ganti nomor berapa ya?" tanyaku seraya tersenyum. "Ini tiga-tiganya di ruang ganti nomor lima, Nes. Bentar ya biar Ka Ampi yang bantu. Ampi!!!" panggil Kak Alisha. "Dalem, bu!" jawab seorang perempuan dengan penampilan yang sangat sederhana tapi manis.
"Ampi, kenalin ya ini itu Vanessa dan Hiza. Nah kalo tiga perempuan ini, sahabat mereka. Mereka akan jadi pagar ayu di pernikahan Vanes nanti. Tolong kamu bantu mereka di kamar ganti nomor lima ya!" kata Kak Alisha. "Oh iya bu baik. Ayo mbak!" ajak Kak Ampi.
Ketiga sahabat Hiza langsung mengikuti Kak Ampi. "Ini kita mau foto-foto dulu apa gimana ya, Nes?" tanya Mbak Jihane. "Yang cewek-cewek kayaknya foto dulu deh bareng-bareng. Abis itu yang cowok langsung tunggu di mobil atau motor masing-masing. Vanes lanjut urus keperluan yang lainnya kalian bisa kembali ke rumah atau ke kantor masing-masing." ujar ku seraya tersenyum. "Oh okay berarti abis ini kita udah ga ada pertemuan nih ya?" tanya Mama Diana. "Iya, ma. Nanti pertemuan lagi palingan antara panitia aja sama pagar ayu nya." jawabku seraya tersenyum. "Okay sayang!" jawab Papa Danial.
Beberapa menit kemudian, ketiga sahabat Hiza keluar dari ruang ganti dengan gaun V neck yang dikenakan oleh Aletha, gaun berlengan panjang dengan model Mermaid dress yang dikenakan oleh Ajeng, dan Caya yang mengenakan gaun panjang dengan cape di bagian pundak yang menutupi area dada nya. Kami pun mengambil foto kami bersama-sama.
***
Saat ini aku sedang berada di ruang pribadi kantor ku bersama Mbak Jihane, Mas Kendra, Hiza, Faiz, Aletha, Ajeng, Caya, Dipta, dan keenam sahabat ku. Setelah kami semua duduk, aku mulai melihat ke arah papan tulis yang ada di ruangan ini.
"Okay, saya rasa ini saatnya kita mulai menyusun panitia ya. Mas Kendra? Tolong nanti koordinasiin mereka. Hiza? Lo gw percaya jadi kepala pagar ayu. Jadi nanti lo yang bakal koordinasiin. Jadi gini, biar ga ada penumpukan tamu di meja pagar ayu, ada baiknya dijadiin dua rute. Rute masuk bisa di lakuin sama Hiza dan Caya yang tugas nya itu menyambut tamu yang baru datang. Nah kalau Ajeng sama Aletha, kalian gw percaya di bagian rute keluar ya. Jadi nanti di dalam undangan ada kupon bagian souvenir dan photobooth. Nah nanti tolong ya kalian kasih souvenir ke mereka saat mereka tukerin kupon itu. Ada pertanyaan?" tanya ku.
"Nes, ini kalo misalkan emang ada kupon nih ya. Gimana cara nya kita tau kalo ini sesuai sama jumlah undangan?" tanya Aletha. "Pertanyaan bagus. Langsung kasih tanda aja jadinya kalo nanti semisalkan ada yang mau pake kupon itu dua kali, ga bisa." jawabku seraya tersenyum. "Okay lanjut, Nes!" kata Cinta. "Sayang, bisa kamu lanjutin? Aku mau ambil minuman dulu masa iya ini tamu ga dikasih minum." kata ku seraya tersenyum. "Iya sayang." jawab Dipta.
Aku langsung ke sudut ruangan mengambil minuman yang ada didalam kulkas kecil. Aku langsung mengambil lima belas minuman yang memang selalu aku sediakan di kulkas. "Nih minum dulu!" ujar ku seraya menyerahkan minuman.
"Nah okay lanjut ya. Faiz, lo gw percaya buat urus bagian photobooth ya. Lo yang bakalan awasin tamu yang foto. Usahain selalu kondusif ya suasana nya. Kalo bisa malahan lo suruh aja mereka antri jangan berkerumun. Nah buat bagian pengawasan di ballroom pas resepsi, tolong Mbak Jihane yang handle ya." kata Dipta menjelaskan. "Kita berenam jadi gimana nih Ta?" tanya Ivan. "Yang cowok jadi groomsman yang cewek jadi bridesmaid. Nah karna kita acara nya itu akad nya jam sembilan dan resepsi baru kita mulai jam tiga. Ambil kesempatan buat istirahat." kata Dipta.