
Vanessa P.O.V
Waktu berjalan dengan cepat. Rasanya cepet banget sekarang usia kandungan ku udah masuk ke usia tujuh bulan. Ga nyangka sih sebentar lagi aku jadi mama!!!
"Sayang, mama bentar lagi nyampe nih!" kata Dipta. "Wah! Beneran by?! Akhirnya!!! Asli ya aku kangen sama mama!!!" kata ku seraya tersenyum dengan mata berbinar.
"Iya sayang, tau kok pasti anak mama yang satu ini kangen." kata seseorang yang membuatku kaget. Mama Diana!!
"Mama!!" sapa ku seraya berlari memeluk Mama Diana. "Gimana kabar kamu sayang? Gimana kabar cucu mama??" tanya Mama Diana yang membuat ku tersenyum dan tertawa. "Baik, ma. Cucu nya juga baik-baik aja." kata ku seraya tersenyum.
"Cewek atau cowok sih ini?" tanya Mama Diana. "Ga tau, ma. Sengaja hehehe biar spesial kayak martabak." kata Dipta yang membuat ku dan Mama Diana tertawa.
Kami langsung duduk di sofa dan kami mulai mengobrol. Mama Diana membawakan ku sambal cumi. Sesuai dengan kemauan ku beberapa hari yang lalu. Saat itu aku merengek ke Dipta karna ngeliat ada orang di IG, ASMR sambel cumi guys hehehehe.
Tanpa menunggu lama, aku langsung ke dapur dan mengambil nasi hangat. "Sayang, dikit-dikit makannya!!" kata Dipta yang membuatku tersenyum. "Sesekali, by. Ini tuh aku mau dari kapan tau kan. Makasih mama!!" ujar ku seraya mencium pipi mama mertua ku.
Mama Diana tertawa melihat tingkah ku dan menganggukan kepala nya. "Sebenernya papa mau ikut kesini tapi dia ada urusan mendadak. Makanya ga ikut. Oh iya, Vanes. Kan usia kandungan kamu tujuh bulan nih, gimana kalo kita adain syukuran??" Kata Mama Diana.
"Wah bagus tuh, Ma. Kalo Vanes sih terserah Dipta." kata ku seraya tersenyum. "Dipta juga setuju, ma. Mau kapan nih?" tanya Dipta. "Malam ini gimana??" tanya Mama Diana yang membuat ku kaget.
"Apa ga kecepetan, ma?" tanya ku. "Enggak, sayang. Perbuatan baik ga boleh di tunda." kata Mama Diana. "Kalo Vanes sih setuju, ma." jawabku seraya tersenyum. "Okay kalo gitu kalian tenang aja. Ini biar mama yang urus. Kalian tinggal ganti baju sama duduk manis." kata Mama Diana yang ku jawab anggukan.
Mama Diana langsung mengelus perut ku yang sudah membesar dan tersenyum. "Cucu Oma, sehat selalu ya. Nanti oma janji deh kalo kamu udah lahir, oma yang bakal ajarin kamu, yang bakal ngejagain kamu." kata Mama Diana yang membuat ku tersenyum.
"Oh iya, ma. Bang Sahdan gimana kabarnya?" tanya Dipta. "Abang kamu yang satu itu ya. Bikin mama pusing tau ga. Sifatnya ga ketebak. Waktu itu dingin banget sama calon istrinya. Eh sekarang nempel mulu kayak amplop sama perangko." kata Mama Diana. "Maklum lah, ma. Kan pengantin baru." jawabku seraya tertawa.
"Iya bener. Terus kabarnya Ka Mika gimana? Dia beda tiga bulan kan ya sama Vanes hamil nya??" tanya Dipta yang dijawab anggukan mama. "Iya, jadinya nanti anak dia lahir abis itu anak kalian deh. Bagus kalo gitu mama bisa dapet langsung dua cucu deh." kata Mama Diana yang membuatku tersenyum.
"Udah lama ya keluarga kita ga kumpul." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Iya makanya nanti pas Vanes tujuh bulanan, bisa deh kita kumpul keluarga. Oh iya itu gimana kabar temen-temen kalian??" tanya mama.
"Baik, ma. Tuh si Cinta kan disebelah ya jadinya kalo Dipta ke kantor, Cinta nemenin Vanes." mata ku seraya tersenyum. "Oalah iya juga ya. Eh iya kantor kamu gimana??" tanya mama.
"Alhamdulillah, ma. Masih berjalan lancar. Walau Vanes kerja dari rumah tapi Vanes beberapa kali kontrol ke kantor kok." kata ku seraya tersenyum.
"Alhamdulillah kalo begitu." kata Mama.
***
Aku tercengang melihat karpet yang digelar di lantai satu rumah ku. Dan beberapa dekorasi. Aku tersenyum saat melihat mama mertua ku yang lagi asik mengarahkan beberapa laki-laki untuk mendekorasi.
"Mama, jangan kecapean ya. Istirahat dulu." kata ku seraya tersenyum. "Tenang aja sayang. Dipta lagi keliling buat bagiin undangan. Kamu naik aja keatas. Persiapan buat nanti." kata Mama yang ku jawab anggukan.
Aku melihat ke pintu rumah, disana ada Hiza dan Tante Maya. Aku langsung menghampiri mereka dan memeluknya.
"Eh ada Jenk Maya! Ayo, jenk! Kita dekorasi rumah anak kita! Hiza, kamu naik gih temenin Vanes ya. Cinta juga udah otw kesini kok." kata Mama Diana yang membuatku tersenyum. "Dia pasti lewat lorong. Yuk, Za!!" ajak ku seraya menarik tangan Hiza.
Saat aku menaiki tangga, aku melihat pintu lorong penghubung rumah ku dan Cinta terlihat bergerak. Pasti Cinta ngetok nih.
Aku langsung membuka pintunya dan melihat Cinta yang tersenyum. "Hola fans!!" sapanya yang membuat ku dan Hiza tertawa.
"Lah, Za? Lo ga kerja nih?" tanya Cinta. "Kagak, gw libur. Lumayan lah gw bisa istirahat." kata Hiza.
Kami bertiga langsung masuk ke kamar ku. Kami sesekali mengobrol dan tertawa bersama.
"Eh iya, Nes. Berarti selama kalian tinggal disini, pembantu yang di rumah Bogor lo oper kesini?" tanya Hiza yang ku jawab anggukan. "Kan ada empat sekarang. Salah satunya ada yang udah hamil. Makanya dua orang di rumah gw, satu orang di sebelah. Satu lagi di rumah Bogor." kata ku.
"Pake dua?" tanya Hiza yang ku jawab anggukan. "Nanti abis gw lahiran, bakalan satu gw pindahin ke Bogor. Udah mulai banyak yang mau nyewa jadi villa." kata ku seraya tersenyum. "Oh iya, bagus juga sih. Alhamdulillah ini rejeki si bayi." kata Hiza.
"Aammiinn!" ucap ku seraya tersenyum.
"Nah okay, sekarang kita perlu perawatan. Gimana??" kata Cinta yang ku jawab anggukan. "Slow guys gw abis restock masker kok. Wait!" kata ku seraya membuka laci yang ada dibawah tempat tidur.
Kami bertiga akhirnya memakai masker bersama.
***
Ini udah jam enam sore. Setelah Magrib, syukuran ini akan dimulai. Aku sudah siap dengan gaun lengan panjang ku yang berwarna gold dan juga tudung untuk menutupi rambut ku dengan warna yang senada.
"Perfect!" kata seseorang dari pintu kamar. Aku menengok, ternyata ada Dipta dengan baju yang biasa dia pakai kalau mau sholat jum'at. Baju berwarna putih dan celana hitam.
Dia tersenyum dan memeluk ku. "Sayang, jangan pake high heels ya!" kata Dipta yang ku jawab anggukan.
"Iya sayang." jawabku seraya tersenyum.
***
Acara berjalan dengan lancar. Ada beberapa anak yatim disekitar yang diundang. Aku dan Dipta menyiapkan amplop dan membagikannya kepada anak-anak itu.
Selama pembacaan surat-surat suci tadi, aku merasakan keteduhan. Aku selalu mengelus perut ku dan tersenyum pada Dipta.
"Nes, lo makan dulu!" kata Cinta seraya memberikan ku sepiring nasi dengan beberapa lauk yang ada. Aku tersenyum dan menganggukan kepala ku.
"Sini, aku suapin." kata Dipta seraya duduk disebelah ku dan mulai menyuapi ku.